Love And Contract

Love And Contract
Rencana



STOP✋ YANG MAU CRAZY UP. JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENTARNYA DONG😭


Author tungguin loh....😁


Happy Reading....🤗


...******...


"Brayen, jangan seperti itu. Biarkan William berbicara." tegur Devita dengan suara yang pelan.


"Cepat katakan rencana apa yang kau maksud! Jangan membuang waktuku!" Tukas Brayen dingin.


"Aku ingin memancing Elena keluar dan hanya satu caranya," ujar Brayen.


"Cara apa yang kau maksud?" tanya Devita.


"Hanya dirimu yang Elena inginkan. Pastikan, untuk malam ini tidak ada orang yang berada di sekitarmu. Buat Elena datang menghampirimu. Aku yakin Elena tidak langsung mencelakaimu. Kau bisa mengulur waktu dan mengajaknya berbicara." jelas William.


"Apa kau sudah gila William Dixon! Kau mau membuat istriku sebagai umpan!" Seru Brayen.


"Aku setuju. Aku setuju dengan rencanamu, William," jawab Devita.


"Tidak Devita!" Tolak Brayen.


"Brayen, aku tidak akan terluka. Percayalah," ucap Devita.


"Brayen, kau tenang saja. Kau dan aku bersembunyi di suatu tempat. Aku yakin Devita bisa mengulur waktu hingga kita bisa menangkap mereka," balas William.


"Baik. Tapi ingat ini William, jika istriku sampai terluka meski hanya sedikit saja, kau akan tahu akibatnya!" Desis Brayen, ia terus menata William.


William tersenyum miring "Tenanglah, aku juga tidak akan membiarkan istrimu yang cantik ini terluka."


"Brayen sudah, aku yakin aku pasti tidak akan terluka." kata Devita ia mengelus rahang suaminya, menenangkan suaminya itu agar bisa mengendalikan emosinya. Devita tahu, pasti Brayen akan merasa cemas dan khawatir. Tapi paling tidak dengan cara ini, Elena bisa datang menghampirinya.


...***...


Devita turun dari mobil, ia melirik arlojinya kini sudah pukul sembilan malam. Tadi Brayen meminta sopir untuk mengantarkan Devita, karena Devita memang tidak membawa mobil. Devita melangkah masuk kedalam rumah. Ia melihat rumah dalam keadaan yang begitu sepi. Beruntung Laretta sudah berada di Apartemen Brayen.


Hingga detik ini, Devita berusaha untuk berpikiran tenang. Bagaimana mungkin Ruby ingin berniat jahat padanya, padahal Devita sangat menyukai Ruby. Bagi Devita, Ruby adalah gadis yang baik dan juga lembut. Tapi sejak mendengarkan perkataan Brayen dan juga William, ia kembali mengingat perkataan Edwin, Ayahnya yang selalu mengatakan terkadang semua orang bisa menunjukkan kebaikan dan kelembutan. Namun, itu tidak bisa menjamin orang tersebut baik. Karena banyak di dunia ini orang - orang menggunakan topeng kebaikan untuk menutupi jati dirinya.


Devita berusaha mengatur napasnya dengan baik. Meskipun dia tidak bisa berbohong, degup jantungnya kini berdegup dengan kencang. Bukan karena ia takut, tetapi karena ia berusaha menghadapi seorang wanita yang terobsesi pada suaminya sendiri.


"Nyonya," sapa Ruby saat Devita masuk ke dalam rumah.


Devita tersentak, "Ah, Ruby? Kau mengejutkanku." ucap Devita yang berusaha untuk bersikap seperti biasa.


"Maaf Nyonya," jawab Ruby menundukkan kepalanya.


"Tidak apa - apa, Ruby." balas Devita.


"Hem, Nyonya. Saya sudah membuat cake yang Nyonya minta," kata Ruby.


Devita mengangguk. "Terima kasih, kau bisa langsung membawanya ke kamarku. Aku sangat lelah hari ini."


"Baik Nyonya," jawab Ruby. Devita melangkah masuk ke dalam kamar. Ia berusaha melihat sifat Ruby yang terlihat begitu baik. Devita pun selalu mengingat perkataan Brayen, jangan memakan atau meminum yang telah di sediakan oleh Ruby.


Devita masuk kedalam kamar, keadaan kamarnya terlihat begitu gelap dan sunyi. Devita menghidupkan saklar lampu. Lalu ia melepaskan high heels dan duduk di sofa. Devita mengambil novel yang ada di dalam tas, ia lebih memilih untuk membaca novel yang sejak kemarin belum juga selesai ia baca.


Terdengar suara ketukan pintu, Devita langsung memintanya untuk masuk. Ia sudah tahu, itu pasti Ruby yang mengantarkan cake yang telah dia buat.


"Letakkan di meja,Ruby." kata Devita, ia menunjuk meja yang letaknya tidak jauh darinya.


"Baik Nyonya," jawab Ruby.


"Nyonya maaf, tapi apa ada lagi yang Nyonya inginkan?" tawar Ruby.


Devita menggeleng, "Tidak, aku hanya ingin sendiri."


"Apa Tuan akan pulang malam hari ini, Nyonya?" tanya Ruby hati - hati.


"Ya, Brayen akan pulang malam hari ini." jawab Devita yang berusaha untuk tetap tenang.


"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi " pamit Ruby. Ia menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari kamar Devita.


Devita melanjutkan lagi membaca novelnya, Devita melirik ke arah jam dinding kini sudah pukul sepuluh malam. Entah, rencana ini sudah berhasil untuk memancing Elena keluar atau tidak, tapi hingga detik ini Elena masih belum juga muncul. Devita memilih untuk melanjutkan kembali membaca novelnya dan itu lebih baik daripada dia harus memikirkan wanita gila yang terobsesi pada suaminya sendiri.


"Bagaimana kabarmu, Nyoba Mahendra?" suara seorang perempuan tiba - tiba masuk ke dalam kamar. Devita menoleh ke arah sumber suara itu, ternyata sosok yang ia tunggu muncul dari balkon kamar. Devita tersenyum, saat melihat sosok wanita yang sejak tadi dia tunggu melangkah mendekat ke arahnya.


"Kau di sini?" sapa Devita, ia tersenyum saat Elena melangkah mendekat ke arahnya.


Elena tersenyum sinis, "Apa kau tidak takut aku datang kesini? Di wajahmu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, Nyonya Mahendra?"


Devita meletakkan novelnya, ia menatap lekat Elena dan tersenyum. "Untuk apa aku takut padamu? Lagi pula, kau datang untuk bertamu, bukan?"


"Well, aku mengakui keberanianmu memang sangat hebat Nyonya Mahendra?" tukas Elena.


"Lalu jika aku tidak berani, aku harus merasa takut begitu? Aku rasa kau juga bukan monster yang harus aku takuti?" balas Devita


"Well, bagaimana jika aku berniat mencelakaimu, Devita Mahendra?!" Tukas Elena, dengan tatapan tajam pada Devita.


"Tadi kau menyebutku Nyonya Mahendra bukan? Seperti yang kau tahu, aku sudah menikah dengan Brayen Adams Mahendra. Nama belakang ku sudah menjadi Mahendra. Kau harus mengucapkan namaku dengan benar Elena?" jelas Devita.


Elena menggeram, rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. " Sialan kau Devita! Kau sudah merebut Brayen dariku! Dia itu milikku! Harusnya dari awal aku menghancurkanmu!" Seru Elena dengan penuh emosi.


"Aku tidak pernah merebut Brayen! Kau ingat, kau dulu hanya kekasihnya dan kau juga telah berselingkuh dari Brayen! Jika kau sungguh mencintainya, kau tidak akan pernah mungkin berselingkuh dari Brayen!" Tukas Devita.


"Diam kau! Tahu apa kau, tentang hubunganku dengan Brayen! Kau itu hanya orang baru yang sudah masuk di hubunganku dan juga Brayen. Kau datang dan mengambil Brayen dari hidupku! Kau adalah wanita yang tidak tahu diri! Kau pikir kau ini siapa?!" Sentak Elena, ia menatap tajam Devita yang berada di hadapannya.


Devita tersenyum tipis. "Kau masih bertanya, aku siapa? Harusnya kau yang berkaca Elena?


Kau bahkan bisa hidup mewah berkat suamiku! Apa kau tidak mampu untuk hidup mewah? Sungguh aku sangat kasihan padamu," balas Devita dengan penuh sindiran.


"Nikmati menjadi Nyonya Mahendra, karena sudah kupastikan, ini adalah malam terakhir mu yang menyandang status itu. Kau ingat selamanya Brayen akan menjadi milikku! Hanya aku yang akan memiliknya!" Seru Elena.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.