Love And Contract

Love And Contract
Lomba Renang



Olivia dan Laretta mengangguk setuju. Kemudian mereka berjalan keluar menghampiri Brayen, Felix dan Angkasa. Saat Devita, Olivia dan juga Laretta keluar, sejak tadi para pria terus menganggu mereka. Meski mereka tidak memakai bikini, tapi pakaian renang yang mereka pakai saat ini sungguh seksi.


Devita menatap suaminya yang tengah menjadi pusat perhatian para wanita. Mereka terus melirik ke arah Brayen. Bagaimana tidak,


Brayen membiarkan dada bidang dan otot perutnya yang menggoda itu menjadi tatapan gratis para wanita. Devita mendengus, dia langsung berjalan menghampiri Brayen.


"Apa kau itu merasa senang karena tubuhmu itu di tatap oleh para wanita cantik yang ada di sini Tuan Brayen Adams Mahendra?" sindir Devita dengan tatapan dingin pada Brayen.


Brayen tersenyum, dia menatap istrinya yang terlihat sangat cantik. Brayen langsung memeluk pinggang Devita dan membawa Devita langsung duduk di pangkuannya. "Kenapa pakaian renang mu itu sangat seksi, hm? Kau sengaja menggodaku kan?"


Devita mencebik. "Kau ini yang benar saja Brayen! Kita ini sedang berenang dan tidak mungkin juga aku memakai baju panjang dan celana panjang."


Brayen mengeratkan pelukannya, lalu mengecupi leher istrinya. "Tapi aku rasa, kau itu memang sengaja menggodaku, Nyonya Mahendra."


Devita menggeleng pelan dan tersenyum, dia menangkap kedua pipi Brayen dan memberikan kecupan di bibir suaminya itu. "Aku tidak perlu menggodamu Tuan Brayen Adams Mahendra. Kau memang selalu tergoda padaku." bisik Devita.


"Cerdas," Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ********** dengan lembut bibir Istrinya itu. "Kau rupanya sangat tahu."


"Kita berenang sekarang, Laretta dan Olivia pasti sudah menunggu kita." balas Devita.


Brayen mengecup singkat bibir istrinya, lalu membantu Devita beranjak berdiri. Kemudian bergabung dengan Laretta dan Olivia. Tidak ingin menyia - nyiakan moment. Devita langsung mengambil gambar berdua dengan suaminya. Tidak hanya berdua tetapi Devita juga mengabdikan moment berfoto bersama dengan Laretta, Olivia, Angkasa dan juga Felix.


Devita menatap Laretta dan Olivia yang tengah berlomba berenang. Devita tahu, Olivia jauh lebih hebat darinya untuk urusan berenang. Namun ternyata, Laretta adik iparnya terlihat sangat hebat.


Hingga kemudian, Olivia lah yang menjadi pemenangnya. Felix berteriak saat kekasihnya memenangkan perlombaan. Dan Laretta terlihat kesal karena kalah. Kemudian Felix langsung menggendong Olivia dan memberikan kecupan di bibirnya. Meski Laretta kalah, tapi Angkasa juga langsung memberikan kecupan di bibir Laretta. Ini benar-benar pemandangan yang sangat indah di mata Devita.


Sedangkan Devita sejak tadi berenang dan berpelukan dengan suaminya itu. Brayen memang terlihat lebih posesif. Terlebih sejak tadi banyak sekali pria yang tidak berhenti menatap Devita. Begitu pun dengan Devita, dia langsung memeluk dan memberikan kecupan di bibir Brayen saat banyak wanita yang melihat suaminya.


"Banyak sekali wanita yang melihatmu," bisik Devita.


Brayen tersenyum, dia mengeratkan pelukannya, "Kalau begitu, buktikan kepada mereka jika aku hanya milikmu."


"Buktikan?" Devita menatap Brayen bingung.


"Ya, seperti ini." Brayen menarik tengkuk leher Devita, dia mendekatkan bibirnya pada bibir Devita lalu mulai menyatukan bibirnya ke bibir istrinya itu. Brayen ******* dengan lembut bibir Devita. Kini bibir mereka saling mencecapi, lidah mereka saling berpagutan. Devita mengaitkan tangannya di leher Brayen, dia memejamkan matanya menikmati setiap ******* yang di berikan oleh suaminya itu.


...***...


Devita, Laretta dan Olivia duduk di tepi kolam sembari menikmati orange juice. Brayen, Angkasa dan Felix tengah berenang. Dan seperti biasa, Felix selalu menantang Brayen. Devita sudah tidak heran lagi, ini memang sifat Felix. Terlihat beberapa kali Brayen sudah bisa mengalahkan Angkasa dan juga Felix. Tapi beberapa kali Angkasa dan Felix juga menang dari Brayen.


"Felix sepertinya harus lebih banyak belajar lagi. Beberapa kali Felix sudah kalah." keluh Olivia kesal.


Devita terkekeh kecil. " Kau jangan seperti itu, tadi Felix juga menang."


"Ya, hanya beberapa kali saja." Olivia mendengus.


Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Kakakku itu memang hebat. Aku juga hampir tidak tahu apa kekurangannya. Banyak sekali teman - temanku yang menyukai Kakakku itu. Mereka selalu mengatakan, jika Kakakku itu sempurna. Hanya ada satu sifat yang tidak aku suka darinya. Sifat arrogantnya itu yang sering membuatku kesal padanya."


"Apa dari banyaknya temanmu itu, tidak ada yang Brayen sukai?" tanya Devita sambil menatap Laretta.


"Tidak," jawab Laretta. "Aku memiliki teman dekat, namannya Selena. Dia begitu menyukai Kakakku. Tapi apa kau tahu, apa respon dari Kakakku setelah dia berusaha mengejar Kakakku?"


"Apa?" Devita mengerutkan keningnya.


Olivia menatap Laretta tak percaya. "Brayen sungguh seperti itu?"


Laretta mengangguk, "Ya, Kakakku memang seperti itu. Tapi meski Kak Brayen mengancam Selena, tetap saja tidak pernah membuat Selena menyerah. Sampai terakhir kali Selena mencoba kembali mendekat Kak Brayen, dan semua sia - sia. Kak Brayen membuat Selena kehilangan banyak pekerjaannya."


"Brayen melakukan itu?" Devita sedikit terkejut mendengar perkataan Laretta.


"Kau pasti tidak percaya." balas Laretta, "Karena memang, Kak Brayen terkenal sangat keras. Dan dia tidak suka jika ada wanita yang terlalu terobsesi dengannya."


Devita mengulum senyumannya. "Aku sedang memikirkan, bagaimana sifat anakku jika Daddynya seperti itu."


"Tidak masalah jika mirip Brayen. Bukannya nanti banyak sekali wanita yang akan tergila-gila pada putramu itu?" sambung Olivia.


"CK! Ini bukan masalah banyaknya gadis yang akan mengejar anakku!" Tukas Devita.


"Hi!" Suara seorang pria menyapa dari arah samping Devita.


Devita, Laretta dan Olivia menoleh ke arah suara itu. Devita menautkan alisnya menatap pria yang langsung duduk di sampingnya.


"Apa aku boleh berkenalan denganmu?" tanya pria itu dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Maaf, saat ini aku sedang bersama dengan keluargaku." Devita berusaha menolak dengan sopan.


"Sejak tadi aku sudah memperhatikan mu" balas pria itu.


"Raymond, namaku Raymond." pria bernama Raymond itu mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya. Namun, Devita tidak menyambut uluran tangan dari pria itu. Hingga kemudian Raymond kembali menarik tangannya karena wanita yang berada di sampingnya menolak untuk berjabat tangan dengannya.


Devita tersenyum, "Maaf, tapi lebih baik kau itu tidak menganggu ku."


"Apa aku sudah menganggu mu? Aku itu hanya ingin berkenalan denganmu." kata Raymond sambil menatap Devita.


"Hey! Jangan menganggu sahabatku, karena dia telah bersuami!" Seru Olivia yang sejak tadi hanya diam. Tapi kini dia sudah tidak tahan lagi untuk menahannya.


"Lebih baik kau berkenalan dengan wanita lain. Dia adalah Kakak Iparku." kata Laretta yang memberikan peringatan pada pria itu.


Raymond tersentak. "Kau sudah menikah?"


"Ya," jawab Devita singkat tanpa menoleh ke arah pria itu.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.