Love And Contract

Love And Contract
Pergi Berbulan Madu



"Tuan," sapa Albert saat melangkah masuk ke dalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin. Tatapannya tetap menatap layar MacBook.


"Pagi ini Tuan William datang ke Apartemen Nona Elena. Mereka bertengkar, saya sudah meletakkan CCTV di ruang tamu. Terdengar dengan jelas percakapan mereka," ujar Albert.


Brayen mengalihkan pandangannya, dia menatap Albert yang berdiri di hadapannya. "Apa yang mereka bicarakan?"


"Nona Elena masih yakin jika Tuan belum mengetahui hasil di test DNA yang asli. Besok Tuan William akan membawa Nona Elena ke rumah sakit untuk test DNA. Sepertinya Nona Elena tidak tahu siapa Ayah dari bayi yang di kandungnya," jawab Albert.


Brayen tersenyum sinis. "Bagaimana aku bisa memiliki kekasih seperti dia? Bahkan sudah empat tahun aku bersamanya tapi aku tidak mengetahuinya. Dia sungguh ******. Biarkan saja Elena berpikir aku tidak mengetahui hasil test DNAnya. Aku ingin melihat permainannya. Jika dia berani, maka aku dengan mudah akan menghancurkan karirnya,"


Albert mengangguk, "Baik Tuan,"


"Besok aku akan pergi ke Turki. Masalah pekerjaan aku serahkan semuanya padamu. Minta direktur pemasaran dan direktur operasional untuk menggantikanku dalam meeting dengan Mr. Lee. Aku akan kembali ke kota B dalam waktu dua minggu. Aku harap kau bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik. Aku tidak ingin ada masalah." tukas Brayen dingin.


"Baik Tuan, saya akan mengerjakannya dengan baik," jawab Albert.


"Kau boleh pergi sekarang. Kembalilah bekerja dan selesaikan pekerjaanmu."


Albert menunduk, lalu ia undur diri meninggalkan ruang kerja Tuannya.


Kini Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, dia tersenyum sinis. "Permainan apa yang kau mainkan Elena,"


...***...


Pagi hari Devita dan Brayen sudah bersiap untuk menuju bandara, Kemarin Ruby, asisten Devita sudah datang. Beruntung ada Ruby yang membereskan semua keperluan Devita dan juga Brayen. Namun, tidak sepenuhnya di siapkan oleh Ruby. Beberapa barang pribadi Brayen, di siapkan langsung oleh Devita.


Kini Devita melangkah keluar dari walk on closet miliknya. Hari ini penampilan Devita sungguh menawan. Dengan mini skirt dan crop top berwarna merah membuatnya sangat cantik. Lipstik merah dan rambut yang tergerai indah membuat Devita terlihat sangat seksi. Serta high heels 12 cm membuat kaki jenjangnya semakin indah.


"Brayen, kau sudah siap?" tanya Devita dan mendekat ke arah Brayen yang tengah duduk di sofa. Kemudian dia duduk di samping suaminya itu.


Brayen mengalihkan pandangannya ke samping, dia tersenyum saat melihat Istrinya sudah duduk di sampingnya. Dia langsung memeluk pinggang Devita dan mengecup bibir Devita. " Kenapa hari ini kau sangat cantik dan seksi, hm? Ini membuatku tidak bisa meninggalkan kamar" bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.


Devita memutar bola matanya malas. " Kau jangan merayuku! Aku memang sejak bayi sudah cantik. Kenapa kau baru menyadari kalau aku cantik sekarang? Kemana saja dirimu? Memangnya matamu tidak berfungsi dengan baik?"


Brayen mengulum senyumannya, " Ya, kau benar. Memang kemarin mataku tidak berfungsi dengan baik. Tapi sekarang mataku sudah berfungsi dengan baik."


Devita mendengus, " Sudahlah kita berangkat sekarang,"


Brayen tersenyum dan mengangguk. Kemudian Brayen menggenggam tangan Devita dan meninggalkan kamar dan segera masuk ke dalam mobil. Ruby juga ikut di mobil Brayen yang kini sudah menjadi asisten pribadi Devita. Brayen tidak membawa Albert, karena Albert harus mengurus perusahaannya. Selama Brayen tidak ada, dia memang meminta Albert untuk menangani segala pekerjaannya.


...***...


Brayen dan Devita kini sudah tiba di private airport milik keluarga Mahendra. Tentu Devita tahu, Brayen tidak akan menggunakkan pesawat komersil. Bahkan rasanya Brayen tidak pernah menggunakan pesawat komersil. Brayen lebih memilih pesawat private jet miliknya.


Brayen dan Devita turun dari mobil. Kilatan kamera memotret Devita dan Brayen. Devita membuka kaca mata hitamnya dan meletakkan di atas kepala. Devita berusaha tersenyum pada paparazi yang memotret dirinya dan Brayen. Devita memang sudah biasa dirinya di potret. Semenjak bersama dengan Brayen, dia memang sudah terbiasa dengan kilatan yang memotret dirinya.


Brayen menggenggam tangan Devita melangkah masuk ke dalam pesawat.


"Good morning Mr. Mahendra dan Mrs. Mahendra. I am Capt Mark," sapa kapten Mark.


"Good morning Capt Mark." jawab Devita dengan senyumannya. Sedangkan Brayen hanya mengangguk membalas dengan anggukan singkat di kepalanya.


Kemudian Devita dan Brayen masuk ke dalam. Devita lebih memilih untuk duduk di dekat jendela. Brayen duduk di hadapan Devita.


"Brayen, apa kau mengganti pilotmu?" tanya Devita yang penasaran.


Devita tersenyum, lalu dia menjawab dengan santai. "Tentu saja aku mengingatnya, dia adalah pilot yang tampan. Hem. Sebenarnya Capt. Mark juga tampan. Mereka berdua mengingatkan aku pada Idol Korea."


Brayen menatap tajam ke arah Devita. "Kau berani melirik pria lain. Besok aku akan menggantikannya dengan pilot wanita!" Geram Brayen.


Devita mencebikkan bibirnya. "Brayen, kau sangat cemburuan. Tenanglah, meskipun pilot itu tampan, kau jauh lebih tampan darinya. Lagi pula, mereka juga tidak akan berani dekat dengan Istri Brayen Adams Mahendra. Aku rasa mereka juga masih ingin hidup di dunia ini. Jadi simpan kecemburuanmu itu. Sekarang kau terlihat begitu menggemaskan,"


Brayen mengumpat di dalam hatinya, Istri kecilnya ini sepertinya sengaja sedang menggodanya. Dia sengaja memancing kemarahan dirinya.


Tidak lama kemudian Pilot memberikan instruksi bahwa pesawat akan segera take off.


Dua puluh menit setelah pesawat take off, pramugari mengantarkan wine untuk Brayen. Sedangkan Devita dengan mango juice dan sirloin steak dan tidak lupa dessert Devita harus ada ice cream.


"Brayen, makanlah. Kenapa kau ini sangat suka sekali minum minuman beralkohol!" Seru Devita kesal.


"Aku belum lapar," ucap Brayen sembari menyesap wine yang ada di tangannya.


"Buka mulutmu. Kau harus makan, jika tidak aku tidak akan makan!" Tukas Devita. Dia mengarahkan steaknya ke arah mulut Brayen. Tentu Brayen tidak memiliki pilihan lain, dia akhirnya membuka mulutnya dan memakan steak yang di suapi oleh Devita.


"Sekarang kau habiskan makananmu. Kau sangat kurus," ujar Brayen mengingatkan.


Devita mendelik kesal, kenapa Brayen selalu mengatakan jika dirinya kurus. "Aku tidak kurus Brayen!" Geram Devita yang tidak terima di katakan kurus.


"Ya, kau tidak kurus. Hanya kurang berisi saja," jawab Brayen dengan santai.


"Kau cari saja wanita yang menurutmu berisi jika aku ini kurus!" Ucap Devita ketus.


Brayen mengulum senyumnya. " Jadi aku boleh mencari wanita lain?" tanya Brayen yang sengaja menggoda Devita.


"Ya, kau carilah. Dan aku bersumpah wanita itu tidak akan memiliki rambut. Aku akan gunting rambutnya dan mencakar wajahnya. Dan kau, aku akan menuntut setengah dari hartamu!" Seru Devita dengan kesal.


Brayen mengedikan bahunya. " Ternyata istriku sungguh mengerikan,"


Devita mendengus.


Tanpa di duga Brayen menarik tengkuk Devita. Kemudian mencium dan ******* bibir Devita dan berbisik, " Sayangnya aku tidak bisa memilih wanita lain. Mataku hanya melihatmu. Hatiku akan tetap memilihmu. Meski aku tahu, kau ini ceroboh dan berisik tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu."


Pipi Devita merona malu mendengar ucapan Brayen. " Hentikan Brayen, jangan menggodaku lagi,"


Brayen mengelus pipi Devita. " Kau ini begitu menggemaskan,"


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.