
"Apa Kakakmu masih tetap pada pendiriannya?"
Laretta mendesah pelan. "Saat ini Kakakku sudah berbaikan dengan Devita. Tapi untuk mengizinkanku menikah denganmu, aku rasa aku juga tidak tahu, Angkasa. Sifat Kakakku sangat keras. Apa yang sudah dia putuskan, akan sulit untuk di ubah,"
"Aku akan tetap berusaha mencari cara supaya membuat Kakakmu mempercayakanmu padaku. Kau tenanglah, Laretta."
"Ya, Angkasa. Aku selalu percaya padamu,"
"Kakakmu pasti akan segera mengizinkan kita menikah,"
"Aku berharap demikian,"
"Ya sudah, aku harus tutup dulu. Aku akan menghubungimu lagi nanti,"
"Ya Angkasa."
Panggilan tertutup, Laretta meletakkan kembali ponselnya. Setidaknya Laretta bersyukur, jika Angkasa masih ingin bertanggung jawab pada apa yang mereka lakukan. Padahal Laretta tidak pernah meminta pertanggung jawaban dari Angkasa.
Saat kejadian itu, terjadi karena sebuah kesalahan. Ketika Laretta tahu dirinya hamil. Dia pernah berpikir untuk menggugurkan kandungannya. Tapi dia tidak tega untuk melakukan itu. Dia tidak ingin menambah kesalahan dengan membunuh anaknya sendiri. Hingga akhirnya, Angkasa tahu, Laretta hamil kemudian memaksa akan bertanggung jawab. Laretta sudah mengatakan tidak perlu, tapi Angkasa tetap memaksanya. Setidaknya Laretta tahu, Angkasa adalah pria yang baik.
Laretta beranjak dari tempat duduknya. Dia melihat ke jam dinding kini sudah pukul satu siang. Dia memilih untuk ke studio lukisnya. Menghabiskan waktu dengan melukis, membuat hatinya sangat nyaman dan tenang.
...***...
Brayen kini sedang fokus dengan MacBooknya. Dia membaca setiap email masuk dari Albert dan beberapa laporan dari direktur perusahaan cabangnya. Saat dirinya tengah membaca email yang masuk, terdengar suara ketukan pintu, Tanpa mengalihkan pandangannya, Brayen langsung menginterupsi untuk masuk.
"Tuan," sapa Albert sambil menundukkan kepalanya saat masuk ke ruang kerja Brayen.
"Kau disini? Lalu bagaimana dengan perusahaan?" Brayen langsung mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara Albert.
"Perusahaan semuanya berjalan dengan baik, Tuan. Saya meninggalkan perusahaan dan datang kesini langsung, karena ada hal yang penting yang harus saya katakan pada anda, Tuan." ujar Albert.
Brayen menautkan alisnya. "Apa yang ingin kau katakan?"
"Ini tentang Nyonya, Tuan." jawab Albert.
"Kenapa dengan istriku?" Brayen menatap serius Albert, kala asistennya itu ingin membicarakan tentang istrinya.
"Maaf Tuan. Apa anda suda tahu jika dua hari lagi Nyonya berulang tahun?" tanya Albert hati - hati.
Brayen tersentak, "Ulang tahun? Kau jangan bercanda, Albert."
"Tidak Tuan. Saya tidak mungkin bercanda. Saya juga baru mengingatnya. Saat tadi saya membaca dokumen Nyonya dan tertulis tanggal ulang tahun Nyonya," jawab Albert.
"Damn it! Kenapa aku bisa melupakannya. Kau juga kenapa bisa, kau baru memberitahuku sekarang? Harusnya kau sudah mengetahui ini sejak awal!" Tukas Brayen dingin.
"Maaf Tuan," Albert menundukkan kepalanya.
"Tuan, apa orang tua anda dan mertua anda tidak memberikan kabar hari ini?" tanya Albert kembali.
Brayen membuang napas kasar, " Hari ini aku tidak melihat ponselku, terlalu banyak pekerjaanku yang tertunda. Aku juga tidak melihat ponselku karena aku tahu, istriku sudah berada di rumah."
"Albert, siapkan restoran yang terbaik, aku ingin makan malam berdua bersama dengan istriku." tukas Brayen dingin.
Albert mengangguk patuh. " Tuan bagaimana hadiah untuk Nyonya? Apa anda sudah memikirkannya?"
Brayen tersenyum. " Ya, sebuah kado yang akan aku berikan kali ini pasti sangat sempurna untuknya,"
Kini Brayen sudah tahu, hadiah apa yang akan di berikan untuk istrinya. Brayen memastikan hadiah yang akan di berikan untuk istrinya adalah hadiah yang terbaik.
"Ya, bagaimana dengan keadaan mereka?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, seraya menatap Albert yang masih berdiri di hadapannya.
"Nakamura Group dalam keadaan yang sangat baik, Tuan. Setiap bulannya keuntungan perusahaan mereka selalu meningkat. Bahkan baru - baru ini Angkasa Nakamura menambah perusahaan cabangnya di Asia," jelas Albert, yang melaporkan informasi yang dia dapatkan tentang Nakamura Group.
"Awasi perkembangan perusahaan mereka. Aku ingin tahu, sebesar apa kemampuan yang di miliki pria yang menginginkan adikku. Aku tidak ingin seorang pria yang sembarangan menikahi adikku. Laretta hamil, bukan menjadi sebuah alasan bagiku untuk memilih pria buruk untuk adikku. Tidak akan pernah aku membiarkan adikku yang keras kepala itu, jatuh pada pria yang salah," tukas Brayen dingin.
"Tuan, saya juga sudah menyelediki tentang Angkasa Nakamura. Dia memiliki catatan yang bagus, dia tidak pernah bermain dengan wanita dari kalangan biasa. Dia juga tidak pernah berselingkuh. Dia memang juga sering berganti pasangan, tapi dia akan memilih mengakhiri hubungannya lalu memulainya lagi dengan yang baru. Angkasa terkenal sangat pekerja keras saat perusahannya hampir bangkrut." Albert kembali melanjutkan informasi yang dia dapatkan tentang Angkasa Nakamura.
"Aku masih ingin mencari tahu lebih dalam tentang siapa pria itu. Paling tidak aku ingin tahu, sebatas mana kesabarannya dia untuk menunggu. Sekarang aku sudah menutup aksesnya untuk bertemu dengan adikku. Aku ingin lihat, kemampuan apa yang dia miliki," balas Brayen dengan seringai di wajahnya.
"Kau boleh kembali ke perusahaan Albert, kerjakan pekerjaanmu," tukas Brayen dingin.
"Baik Tuan," Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari ruang kerja Brayen.
Brayen menyadarkan punggungnya di kursi kerjanya. Dia masih ingin mencari tahu tentang Angkasa. Sebagai seorang Kakak, Brayen ingin yang terbaik untuk Laretta, adiknya. Tidak mungkin Brayen dengan mudahnya melepas Laretta. Terlebih Angkasa adalah pria dari bagian masa lalu istrinya.
...***...
Keesokan paginya, Devita sudah bersiap. Seperti biasanya, Devita sudah kembali ke aktivitas kesehariannya yaitu menyiapkan pakaian yang di pakai oleh suaminya hari ini. Rasanya sudah lama sekali Devita tidak menyiapkan ini untuk Brayen.
Devita melangkah mendekat ke arah Brayen yang kini tengah mengancingkan kemejanya. Devita langsung mengambil alih, dia membantu suaminya. Mengancingkan kemeja untuk Brayen. Memasangkan dasi, hingga membantu Brayen memakai jas. Terakhir Devita memilihkan arloji untuk suaminya. Pilihannya jatuh pada Rolex berwarna silver.
"Brayen, kita sarapan di ruang makan saja, tidak enak dengan Laretta makan sendiri di ruang makan," kata Devita.
Ya, Devita merasa tidak enak, jika harus sarapan di kamar. Sedangkan adik iparnya akan makan di ruang makan sendirian.
"Ya, kita akan makan di ruang makan." jawab Brayen sembari mengecup kening istrinya.
Kemudian Devita dan Brayen meninggalkan kamar, biasanya Brayen sering meminta Devita untuk sarapan di kamar. Tapi, untuk sekarang itu tidak mungkin. Karena Laretta sedang berada di rumahnya. Dan tidak mungkin mereka sarapan di kamar.
"Morning," sapa Laretta ketika melihat Devita dan Brayen masuk kedalam ruang makan.
"Morning, Laretta," Devita duduk di samping Brayen.
Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan Hashbrown (Pancake kentang) dan susu kacang untuk Laretta dan juga Devita. Sedangkan Brayen lebih memilih untuk minum kopi espresso dan muffin blueberry.
"Devita, malam ini aku akan pulang terlambat, kau tidurlah lebih awal," tukas Brayen sambil menyesap kopi yang baru saja di antarkan oleh pelayan.
Devita mengangguk, "Apa pekerjaanmu terlalu banyak?"
"Ya, aku banyak pekerjaan yang tertunda. Minggu depan kau bersiaplah, pasti Ayahmu akan memintamu untuk belajar bisnis. Karena Minggu depan aku memiliki jadwal meeting dengan perusahaan Ayahmu," jawab Brayen.
Devita mencebikkan bibirnya. "Apa tidak bisa di tunda sampai aku lulus?"
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.