
Kemudian Jenifer mendekat ke arah Brayen. Saat Brayen melihat sosok wanita cantik mendekat ke arahnya, dia langsung tersenyum. " Kau cantik sekali, kau harus menemaniku pulang. Aku ingin menunjukkanmu di depan Istriku."
"Kau sudah kehilangan akal sehatmu, Brayen! Rupanya kau ingin membuat Istrimu cemburu! Benar - benar kekanakan." Seru Felix.
"Bawalah sepupuku pulang. Tapi kau harus ingat Jenifer apa yang ku katakan tadi," tukas Felix dengan tatapan penuh peringatan.
"Ya, aku mengerti." balas Jenifer dengan raut wajah yang terlihat kesal mendengar ucapan Felix.
Jenifer langsung membantu Brayen berdiri, kemudian mereka berjalan meninggalkan klub malam itu. Sehingga Felix, dia hanya menggelengkan kepalanya mengingat Brayen hanya membuat Devita cemburu.
...***...
Devita terbangun dari tidurnya. Tubuhnya benar - benar merasakan pegal dan sakit. Devita melirik ke arah jam dinding kini sudah pukul tiga pagi. Devita melihat kesamping, tapi Brayen belum datang. Namun kini Devita mendengar suara mobil memasuki rumah. Dengan cepat dia beranjak dari ranjang, menahan sakit di tubuh bagian bawahnya. Lalu memakai gaun tidur dan mengikat rambutnya asal. Kini Devita berjalan meninggalkan kamar. Tubuhnya masih terasa begitu remuk, tapi tidak ada waktu lagi
Setidaknya Devita harus berbicara pada Brayen.
Saat Devita turun kebawah, dia terkejut melihat Brayen mabuk dan membawa seorang wanita. Ini pertama kalinya Brayen membawa seorang wanita masuk kedalam rumah.
"Kau siapa?" suara Devita bertanya pada sosok wanita cantik yang ada di hadapannya dengan nada dingin dan menahan emosinya.
"Aku Jenifer, kau istrinya?" jawab Jenifer dengan nada angkuh.
"Berikan suamiku padaku," tukas Devita dingin. Dia langsung mengambil alih Brayen. Namun Brayen masih dalam keadaan yang setengah sadar, dia langsung menepis tangan Devita. "Aku akan di antar Jenifer, kau jangan menggangguku!" Seru Brayen dia merengkuh pinggang Jenifer.
"Jenifer! Aku peringatkan padamu tinggalkan suamiku. Atau kau akan tahu akibatnya, karena berurusan denganku," Devita melayangkan tatapan tajam pada wanita yang bernama Jenifer itu.
Jenifer tersenyum sinis. "Suamimu yang menginginkanku bukan aku yang menginginkannya. Jadi kau harus mengalah, Nyonya,"
"Dengarkan aku. Suamiku sedang dalam keadaan mabuk. Jangan mencari masalah padaku, atau kau akan berurusan denganku!" Seru Devita. Dia masih berusaha untuk mengendalikan emosinya. Tatapannya tak lepas menatap Jenifer tajam.
Jenifer tertawa. " Rupanya kau bukan wanita yang lemah. Pantas saja bisa menjadi Istri dari suamimu yang kaya ini."
"Lebih baik kau segera pergi. Sebelum aku meminta pengawalku untuk mengusir dirimu dengan cara paksa!" Tukas Devita dengan penuh ancaman.
"Well baiklah. Aku pamit. Brayen aku pulang, istrimu mengusirku," bisik Jenifer dengan nada menggoda di telinga Brayen.
Tiba - tiba Brayen menarik tangan Jenifer lalu mencium dan ******* bibir Jenifer tepat di hadapan Devita. Devita terkejut, suaminya mencium wanita lain di hadapannya. Kini matanya memerah, Devita berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Bahkan kini Devita melihat langsung Brayen dan Jennifer saling berciuman.
Dengan penuh emosi Devita langsung menarik rambut Jenifer dengan kasar
dan langsung mendorong tubuh Jenifer hingga tersungkur ke lantai. " Apa kau ini sudah tuli? Aku sudah memperingatkan mu, tapi kau masih tidak pulang juga! Jangan salahkan aku, jika aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu!" Seru Devita meninggikan suaranya. Kali ini dia sudah tidak mampu untuk menahan emosinya.
Jenifer mengumpat kasar lalu bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Brayen dan juga Devita. Saat tubuh Brayen hsmpir ambruk, Devita memapah tubuh Brayen. Membawanya masuk kedalam kamar. Devita berusaha untuk tidak menangis, dia mengingat Brayen mencium seorang wanita hatinya terasa begitu sakit.
Kemudian Devita membaringkan tubuh Brayen di ranjang, membantu Brayen melepaskan jas dan juga sepatu Brayen.
Tatapan Devita kini menatap Brayen yang sudah terlelap. " Jika bukan karena kau mabuk, saat aku melihatmu berciuman dengan wanita lain. Aku sudah meninggalkanmu, Brayen. Tapi meskipun kau mabuk, hatiku tetap sangat sakit dengan apa yang kau perbuat. Bahkan kau tidak mau mendengarkan penjelasan Istrimu sendiri. Aku berbohong karena aku tahu, kau memiliki emosi yang tinggi. Meski aku berbohong padamu, aku tidak pernah melakukan hal serendah yang kau pikirkan," mata Devita berkaca - kaca, air matanya berlinang membasahi pipinya. Namun dengan cepat dia menghapus air matanya, dan segera beranjak meninggalkan Brayen. Dia tidak mungkin tidur satu kamar dengan Brayen. Hatinya masih terlalu sakit dan terluka.
...***...
Benar saja, saat Devita masuk kedalam kamarnya, Brayen sudah berangkat. Jika mengingat kejadian tadi malam, rasanya Devita ingin sekali pergi jauh. Tapi bagaimanapun ini terjadi karena Devita yang tidak jujur pada Brayen. Devita berjalan menuju kearah kamar mandi. Dia memilih untuk berendam air hangat. Aroma madu dengan milk membuat kulitnya semakin halus.Tidak hanya itu, berendam bisa merilekskan tubuh Devita dan membantu dirinya dalam melupakan sesaat hal yang membebani pikirannya.
Tidak lama kemudian setelah Devita sudah selesai berendam dan sudah mengganti pakaiannya. Hari ini dia lebih memilih untuk tetap dirumah. Devita duduk di sofa kamar sambil membaca Novel kesukaannya. Dia berusaha melupakan sejenak masalahnya dengan Brayen.
Terdengar suara ketukan pintu. Devita langsung mengalihkan pandangannya, ke arah pintu dan menginterupsi untuk masuk.
"Devita," panggil Laretta yang kini sudah berjalan masuk ke dalam Devita.
"Laretta? Kemarilah..." Devita menepuk sofa di sampingnya.
Devita tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Devita. Dia duduk tepat di samping Devita. "Aku tidak melihatmu breakfast di ruang makan,"
"Ya, aku sedang tidak ingin breakfast di ruang makan. Tadi pelayan sudah mengantarkan susu untukku," jawab Devita.
"Apa tadi malam Kakakku menyakitimu? Maafkan Kakakku, Devita. Dia memang memiliki sifat yang sangat keras. Tapi di balik itu, dia sangat baik," ujar Laretta meyakinkan. Sejak tadi Laretta melihat wajah muram Devita.
Devita tersenyum. "Aku tidak apa - apa. Ini semua hanya salah paham. Aku mengerti sifat Brayen."
Laretta menyentuh tangan Devita, lalu menepuk pelan punggung tangan wanita itu. "Kau memang istri yang sangat baik Devita. Kakakku benar - benar beruntung memilikimu."
"Jangan berlebihan Laretta, ini memang sudah menjadi tugasku untuk mengerti suamiku," jawab Devita. "Laretta, ada hal yang ingin aku katakan kepadamu."
Laretta mengerutkan keningnya, "Ada apa Devita?"
"Sebelumnya aku minta maaf padamu. Ada hal yang aku sembunyikan. Aku ingin menceritakannya pada Brayen. Tapi ternyata Brayen sudah lebih dulu tahu. Dia marah dan tidak mau mendengarkan penjelasanku," ujar Devita dengan menghela nafas berat.
"Katakan ada apa, Devita? Apa yang sudah kau sembunyikan?" Laretta menatap serius Devita.
"Ini tentang Angkasa Nakamura," Devita kini menatap lekat Laretta. Dia memilih menceritakannya pada Laretta.
"Angkasa? Memangnya kenapa dengan Angkasa?" Laretta menautkan alisnya, dia tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Devita.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.