Love And Contract

Love And Contract
Jadi Kau Cemburu?



Kening Devita berkerut dalam, dia semakin di buat tidak mengerti. Devita pun berusaha untuk tetap berpikir positif dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Setelah Devita selesai mandi, dia membuka koper dan menatap isi koper. Devita mendesah kesal ketika isi koper sudah tidak ada lagi gaun tidurnya. Devita tidak memperhatikan jumlah gaun tidur yang dia bawa, jika seperti ini harusnya tadi dia membeli beberapa gaun tidur.


Devita mencoba mencari dress santai. Tapi seketika yang di ambil Devita adalah lingerie yang berwarna merah. Tidak ada pilihan lain dan tidak mungkin Devita memakai dress untuk pergi. Lagi pula di dalam kamar, hanya ada Brayen saja.


Devita pun langsung mengganti pakaiannya dengan lingerie yang berwarna merah. Kemudian dia melangkah menuju ke arah ranjang. Devita menatap Brayen yang tengah fokus pada ponsel di tangannya. Padahal tadi Brayen mengatakan ingin beristirahat.


"Brayen, kau belum tidur?" tanya Devita, saat membaringkan tubuhnya di samping Brayen


"Lebih baik kau beristirahat." jawab Brayen dingin tanpa menoleh ke arah Devita.


"Kau kenapa Brayen?" Devita mengernyitkan keningnya, menatap bingung suaminya itu. "Apa aku itu melakukan sesuatu kesalahan?"


"Tidak," Tukas Brayen. Dia masih terus melihat ke layar ponsel.


Devita mendengus kesal, dengan cepat Devita menarik ponsel milik suaminya dan menyembunyikan di belakangnya.


"Devita kembalikan!" Brayen kini melihat ke arah Devita. Seketika dia terkejut melihat Devita memakai lingerie tipis. Lingerie ini benar-benar memperlihatkan bentuk tubuh langsing milik istrinya.


Brayen segera menepis pikirannya. "Kembalikan ponselku!".


"Kau ini kenapa? Kau marah kenapa?" seru Devita kesal. Dia masih terus menyembunyikan ponsel milik Brayen di belakangnya.


"Aku bilang, lebih baik ku beristirahat. Besok pagi kita sudah pulang Devita!" Tukas Brayen memberikan peringatan.


"Aku tidak perduli!" Jawab Devita ketus. "Pesawat itu milikmu! Jika kita terlambat, kau bisa mengaturnya! Tidak ada yang bisa kau lakukan! Sekarang katakan padaku kau kenapa?"


"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Devita!" Balas Brayen berusaha untuk mengaturnya emosinya.


"Dan aku sedang tidak ingin mengajakmu bertengkar Brayen!" Devita tidak mau kalah, dia tidak suka jika Brayen mendiamkannya.


"Devita, kembalikan ponselku atau-"


"Atau apa? Kau mau apakan aku?" tantang Devita mendongakkan wajahnya.


Brayen mencoba mengambil ponselnya dari tangan Devita. Dan dengan mudahnya Brayen berhasil mengambil ponsel miliknya, namun tubuh Devita langsung ambruk di atas tubuh Brayen saat Brayen berhasil mengambil ponsel di tangannya.


"Aku sudah bilang padamu! Cepat beristirahat!" Brayen langsung menggeser tubuh Devita.


Devita mendesah kesal, tiba - tiba Devita langsung duduk di pangkuan Brayen dan menatap lekat wajah suaminya itu. "Katakan kepadaku, kau ini sebenarnya kenapa? Aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau hanya diam. Apa aku melakukan kesalahan?"


"Devita-"


"Kalau kau tidak bicara, maka aku juga tidak akan tidur!" Tukas Devita menekankan.


Brayen masih lebih memilih untuk diam, hingga kemudian dia menatap manik mata istrinya. "Apa dulu kau sering berkencan dengan Angkasa?"


"Berkencan dengan Angkasa?" Devita menautkan alisnya, dia tidak mengerti apa yang di katakan oleh suaminya itu.


"Ya, apa dulu kau sering berkencan dengan Angkasa?" tanya Brayen dingin.


"Kenapa kau membahas tentang Angkasa?" tanya Devita yang semakin di buat tidak mengerti dengan maksud pertanyaan dari Brayen.


"Jawab saja pertanyaanku Devita!" Tukas Brayen.


Devita mendengus tidak suka. "Kenapa kau selalu membahas masa lalu Brayen? Kau tahu, di antara aku dan juga Angkasa hanya teman masa kecil saja,"


"Kau tidak menjawab itu artinya kau itu sering berkencan dengannya?" Brayen sudah langsung menduga dari pertanyaan yang dia berikan.


"Kau ingin aku menjawab seperti apa Brayen? Kenapa kau ingin membahas tentang masa lalu?" Seru Devita kesal.


Devita mendengus tak suka. "Kenapa kau membahas tentang masa lalu Brayen? Kau tahu di antara aku dan juga Brayen hanya teman masa kecil."


"Kau tidak menjawab, itu artinya dulu kau sering berkencan dengannya?" Brayen sudah langsung menduganya dari pertanyaan yang dia berikan.


"Kau ingin aku menjawab seperti apa, Brayen? Kenapa kau ini membahas masa lalu?" seru Devita.


"Jawab saja Devita!" Tukas Brayen. Dia langsung melayangkan tatapan dingin ke arah


Devita menghela nafas dalam. Padahal Brayen sudah mengetahui tidak ada lagi yang tersisa di antara dirinya dan juga Angkasa. Tapi sekarang masih saja Devita mendengar pertanyaan itu yang terlontar dari Brayen.


Hingga akhirnya Devita memilih untuk menjawab pertanyaan dari Brayen. "Dulu, aku dan Angkasa pergi ke beberapa tempat. Tapi tidak terlalu sering. Alasannya karena Ayahku yang terlalu banyak mengawasi ku. Kau sangat tahu Brayen, Ayahku tidak memperbolehkan aku bersama dengan Angkasa. Aku memang pernah menonton film, ke mall dan ke beberapa kali ke pasar tradisional bersama dengan Angkasa."


"Jadi dia tahu segala tentangmu?" Brayen masih terus memberikan pertanyaan yang membuat kepala Devita langsung sakit. Bukannya tidak ingin menjawab, tapi Devita tidak suka membahas tentang masa lalu. Harusnya tanpa perlu bertanya, Brayen sudah tahu jika sekarang Devita dan Angkasa hanya teman masa kecil dan tidak lebih dari itu.


"Kau ingin jawaban apa dariku, Brayen? Lebih baik kau itu langsung menegurku? Jika ada yang kau tidak suka dariku," balas Devita.


"Aku hanya ingin kau jawab yang sejujurnya Devita. Apa Angkasa tahu tentangmu? Segala hobi dan makanan kesukaanmu itu?" seru Brayen.


"Tunggu," seketika senyum di bibir Devita terukir, "Jangan katakan padaku, kau marah pada Angkasa karena Angkasa tahu, aku suka makan - makanan di pasar tradisional?"


Brayen memilih diam dan tidak menjawab. Devita mengulum senyumannya, dia langsung menangkup kedua pipi Brayen. Memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir suaminya itu.


Devita masih menempelkan bibirnya pada bibir Brayen, "Jadi kau cemburu karena tadi, hm?" bisiknya.


"Lebih baik kau-"


Devita langsung ******* dengan lembut bibir Brayen. Dia tidak membiarkan Brayen melanjutkan ucapannya.


"Aku dan Angkasa hanya teman masa kecil. Aku tidak pernah bilang berkencan dengannya. Lebih tepatnya aku dan Angkasa hanya jalan bersama. Kami menghabiskan waktu untuk menonton film, ke mall dan mengunjungi beberapa pasar tradisional," jelas Devita. " Kau tidak perlu cemburu padanya, Brayen. Karena aku tidak memiliki kenangan seindah aku bersama denganmu."


Brayen masih diam tidak menghiraukan ucapan Devita.


Hingga kemudian, Devita mendekatkan bibirnya ke telinga Brayen dan berbisik. "Hanya kau yang aku cintai Brayen. Aku tidak pernah mencintai pria lain seperti aku mencintaimu."


Devita memberikan kecupan di telinga, hingga di leher suaminya. Devita tidak perduli jika di bilang sebagai wanita penggoda, lagi pula yang dia goda itu suaminya sendiri.


Tubuh Brayen meremang saat mendapatkan sentuhan dari istrinya. Brayen langsung menangkup pipi Devita dan menyatukan bibirnya pada bibir istrinya itu. ********** dengan lembut. "Kau sedang hamil, Devita. Jangan menggodaku." Brayen berbisik serak menahan geraman akibat istrinya yang menggodanya.


"****! Kau berhasil menggodaku, Devita!" Brayen menjatuhkan pelan tubuh Devita ke atas ranjang dia langsung ******* bibir Devita. Tangannya meremas gundukan kembar di dada istrinya.


Devita terseyum puas, dia memejamkan matanya dan membalas setiap ******* yang di berikan oleh Brayen. Devita membuka mulutnya, membiarkan lidah Brayen mengabsen rongga mulutnya. Bibir mereka saling mencecapi bergantian. Lidah mereka saling berpagutan. Hingga kemudian Brayen menurunkan tali spaghetti. Dan menyelipkan tangannya ke dalam. Meremas pelan gundukan kembar di dada Devita, hingga membuat wanita itu melenguh.


Dan dalam sekejap Brayen telah berhasil menanggalkan lingerie merah yang di pakai oleh Devita. Kini Brayen menatap tubuh polos istrinya. Kulit putih dan mulus milik istrinya membuat Brayen begitu memuja keindahan di depan matanya.


"Akh Brayen!" Devita mendesah, saat Brayen mulai menurunkan tangannya menyentuh inti tubuh Devita.


"Getting wet here," bisik Brayen serak.


"Brayen, please...." pinta Devita dengan wajah penuh permohonan. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahannya. Suaminya itu memang sangat hebat dalam menggodanya.


"Tell me, what do you want Devita?" Brayen sengaja menggoda istrinya itu.


"I want u, please....," rancau Devita.


Brayen mengecup leher Devita dan berbisik. "You want i put inside, hem?"


"Yess... yess please..."


Brayen menyeringai puas. "As your wish my wife."


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.