Love And Contract

Love And Contract
Mengawasi Devita



Kini Brayen dan Devita tengah bersantai di kamar. Ya, setelah perkelahian dengan Angkasa, dia menemani Devita menonton film. Sebelumnya, Angkasa sudah lebih dulu pulang. Jujur saja, Devita merasa kasihan, terlebih tadi Brayen meminta Angkasa untuk datang ke kantornya. Devita hanya takut Brayen akan memberikan persyaratan yang tidak masuk akal. Namun, Devita berusaha untuk percaya Brayen akan bertindak bijaksana dalam menyikapi masalah.


"Brayen, saat kelulusanku nanti, kau benar mengizinkanku untuk pergi berlibur dengan Olivia, kan?" tanya Devita sambil menatap suaminya.


"Memangnya kau sudah pasti yakin sebelum satu tahun, kau akan lulus?" tanya Brayen yang sengaja menggoda istrinya.


Devita mendengus, " Jadi kau berpikir aku tidak mampu? Bukannya kau sebelumnya yang menyakinkan diriku pasti bisa, sekarang kau yang menghinaku!"


Brayen menangkup kedua pipi Devita, lalu memberikan kecupan bertubi - tubi di bibir Istrinya. " Aku percaya sayang, aku sangat tahu, aku ini memiliki istri yang sangat cerdas."


Devita memutar bola matanya malas. " Jadi, kau mengizinkan aku berlibur bersama dengan Olivia?"


"Aku mengizinkanmu, tapi tidak bisa lama, Devita. Kau ini seorang wanita yang sudah bersuami. Tidak mungkin kau meninggalkan suamimu lama, bukan?" tukas Brayen mengingatkan.


Devita menghela napasnya. " Aku tahu,tapi aku berjanji tidak akan lama. Hanya beberapa hari saja, Brayen."


"Aku mengizinkanmu, asal kau harus di ikuti oleh pengawal dan harus naik pesawat pribadiku," ujar Brayen menekankan.


Devita tersenyum, dia langsung memeluk dan mengecupi pipi suaminya. " Ya, aku akan menurutimu."


"Apa kau sudah menentukan kemana kau ingin pergi?" tanya Brayen sambil mengelus lembut pipi Devita.


"Belum, nanti saja kalau sudah dekat aku dan Olivia akan menentukannya," Devita mengecup rahang suaminya


Suara dering ponsel terdengar, Brayen mengalihkan pandangannya menatap ponselnya yang terletak di atas meja. Dia hendak mengabaikan, namun ponselnya tak kunjung berhenti berdering.


"Brayen, jawablah siapa tahu itu penting," ucap Devita seraya melirik ponsel Brayen yang terus berdering itu.


Brayen membuang napas kasar. Dia mengambil ponselnya lalu menatap ke layar. Kening Brayen berkerut kala melihat nomor yang tidak di kenal menghubunginya. Dia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan di telinganya.


"Ya?" Brayen menjawab dengan nada dingin saat panggilan terhubung.


"Brayen, ini aku William," jawab William dari sebrang telepon.


Brayen terdiam sesaat, alisnya saling bertautan kala mendengar William menghubunginya.


"Ada apa kau menghubungiku?" tukas Brayen dingin.


"Aku juga tidak ingin menghubungimu jika bukan terpaksa. Elena menghilang, apa dia sudah datang padamu? Karena aku yakin, dia pasti akan menghampirimu."


"Jika dia berani datang padaku, maka aku akan mengusirnya. Aku tidak mungkin mau berbicara dengan wanita yang seperti itu."


"Kau tidak mengenal Elena dengan baik rupanya, Brayen. Dia sangat ingin memilikimu. Aku pun tidak perduli dengan wanita ****** itu. Aku hanya peduli dengan anak yang di kandung oleh Elena."


"William Dixon, kau memiliki kekuatan. Kau bisa mencarinya, aku yakin jika hanya menemukan wanita seperti dia, tidak mungkin kau kesulitan, bukan?"


"Aku sudah meminta anak buahku untuk mencari wanita ****** itu. Aku menghubungimu, karena aku pikir Elena langsung datang padamu!"


"Well, sayangnya jika dia datang padaku, maka aku akan meminta anak buahku untuk menarik paksa wanita itu. Aku tidak akan pernah mau menemuinya. Jadi kau tidak perlu mencariku hanya untuk bertanya, apa dia datang menemuiku atau tidak. Karena aku tidak akan pernah mau bertemu dengan wanita itu!"


"Brayen Adams Mahendra! Sejak dulu kau memang tidak pernah berubah."


"Jika kau sudah tahu, maka kau tidak perlu lagi membuang waktumu untuk menghubungiku." Brayen langsung memutuskan panggilan teleponnya dan mengembalikan ponselnya ke tempat semula.


Terlihat wajah Brayen yang terlihat begitu marah ketika menyelesaikan panggilan itu.


Brayen membuang napas kasar. " Elena menghilang, William bertanya padaku apa Elena menghampiriku atau tidak. Pertanyaan macam apa itu, karena jika Elena berani datang padaku. Aku akan meminta anak buahku untuk langsung mengusirnya!"


"Mungkin William mencemaskan Elena karena dia tahu, Elena adalah mantan kekasihmu. Jadi dia berpikir Elena menghampirimu. Aku yakin William sedang cemas karena Elena sedang mengandung anaknya." jawab Devita sambil mengecup rahang suaminya.


"Ya, tapi dia tidak perlu menghubungiku. Jika aku tahu dari awal itu dia, aku tidak akan pernah menjawab telepon darinya." tukas Brayen dingin.


"Brayen, setiap orang punya kesalahan. Jika bukan karena William pernah mengambil Veronica darimu mungkin kau saat ini tidak pernah bersamaku. Sudah, jangan terlalu membenci William," ujar Devita yang berusaha mengingatkan sang suami.


"Aku tidak ingin membahasnya, lebih baik kita beristirahat. Besok aku ada meeting pagi," balas Brayen yang enggan membahas tentang masa lalunya.


Devita mengangguk, " Ya, besok aku juga kuliah pagi. Lebih baik kita beristirahat."


...***...


Pagi hari, Devita sudah berada di kampus. Hari ini Devita pergi ke kampus jauh lebih pagi. Tidak hanya Devita, tapi Brayen juga berangkat ke kantor lebih pagi. Brayen ada meeting dengan rekan bisnisnya. Sebenarnya, tadi saat Devita ingin berangkat ke kampus. Brayen sudah meminta Ruby untuk ikut dengan Devita. Tentu saja Devita menolaknya dengan tegas. Devita tidak suka, jika dirinya menjadi pusat perhatian di kampus karena membawa asisten. Mau tidak mau, Brayen menuruti keinginan Devita. Karena jika tidak, Devita lebih memilih untuk tidak berangkat ke kampus


Devita melirik arlojinya kini sudah pukul sepuluh pagi. Devita tadi memang memiliki kelas pagi di jam tujuh. Itu kenapa sekarang dia bersantai. Sedangkan Olivia, seperti biasa dia ada kelas mengulang. Ada mata kuliah yang harus di ulang oleh Olivia. Devita sudah sering mengatakan pada Olivia untuk fokus pada kuliah, tapi Olivia memang sering menghabiskan waktunya untuk bermain games. Benar - benar membuat Devita geram padanya.


Devita duduk di taman sambil menunggu Olivia, dia lebih memilih membaca novel romance kesukaannya. Devita memang lebih memilih untuk membaca novel romance kesukaannya. Dan Devita memang lebih suka menunggu Olivia di taman dari pada di Kantin. Di kantin, terlalu banyak orang. Devita sering di ganggu oleh para senior yang datang mengunjungi kampus. Tidak hanya senior bahkan junior pun ada yang menganggu Devita. Beberapa dari mereka memang ada yang sudah tahu, jika Devita sudah menikah. Tapi ada beberapa yang tidak mengetahuinya. Terutama jika mahasiswa pindahan. Jelas mereka tidak mengetahui berita yang ada di sini.


Saat Devita tengah membaca novel, terdengar dering ponsel Devita. Ia langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan melihat ke layar ponselnya, tertera nama Laretta yang mengirimkan pesan padanya.


Laretta : Devita, kau hari ini pulang jam berapa?


Devita : Aku pulang jam tiga sore. Kenapa Laretta?


Laretta : Kau mau tidak menemaniku melukis? Aku merasa kesepian.


Devita : Aku akan pulang jam tiga sore nanti, setelah pulang nanti, aku akan langsung ke studio lukismu. Aku akan menemanimu.


Laretta : Great. Kau memang Kakak iparku yang terbaik. See you.


Devita : See you.


Setelah membalas pesan Laretta Devita kembali menyimpan ponselnya di dalam tas. Devita tahu, pasti Laretta merasa kesepian dan juga bosan. Bagaimana tidak, Brayen menjaga ketat Laretta. Bahkan Laretta, di kelilingi begitu banyak pengawal. Jika Devita menjadi Laretta sudah pasti Devita akan marah besar pada Brayen. Devita tidak suka dirinya harus di ikuti. Karena Devita sangat yakin, dirinya bisa menjaga diri dengan baik.


Tanpa Devita sadari. Sudah sejak tadi, ada sebuah mobil sport berwarna putih yang terus mengawasi Devita. Mereka mengawasinya dari jarak yang cukup jauh. Kaca gelap menutupi ada dua wanita cantik yang berada di dalamnya.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.