Love And Contract

Love And Contract
Nasehat Devita



Ke esokan hari, Devita sudah lebih dulu terbangun. Pagi tadi, dia melakukan yoga sebagai rutinitas. Dulu, ketika Devita baru saja melahirkan Sean dia selalu rajin berolahraga, demi mengembalikan tubuhnya seperti semula.


Devita melangkah keluar kamar. Tatapannya kini ke arah taman, di sana Olivia tengah duduk bersantai dengan cuaca yang begitu cerah. Devita langsung berjalan menghampiri Olivia yang ada di taman.


"Olivia, kenapa kau sendiri?" tanya dirinya saat sudah berada di taman.


Olivia menoleh dan tersenyum melihat Devita. "Kemarilah, Devita....."


Devita mendekat, lalu duduk di samping Olivia. "Kenapa kau sendiri, Olivia? Dimana yang lain?"


"Laretta dan Angkasa tadi pagi sebelum kalian semua bangun, dia harus pergi menjemput rekan bisnis mereka yang baru saja tiba di kota ini. Vania juga ikut dengan Laretta dan Angkasa. Sebelumnya Laretta menitip salam padamu dan Brayen. Mereka ingin berpamitan tapi kau dan Brayen masih tertidur," jelas Olivia seraya melihat kedepan. Sesaat dia memejamkan matanya kala hembusan angin menyentuh kulitnya.


Devita menggangguk paham. "Lalu dimana Felix dan Sean? Tadi Syifa mengatakan padaku, Sean bersama dengan Feiix."


"Felix mengajak Sean untuk menemaninya jogging." balas Olivia. "Bagaimana dengan Brayen? Aku rasa suamimu pasti sedang bekerja saat ini?"


Devita mengulum senyumannya. "Kau benar, saat bangun tidur Brayen langsung berolahraga, setelah itu sarapan dan kembali di sibukkan dengan MacBooknya. Kau sepertinya sudah mengenal suamiku, Olivia."


Olivia terkekeh. "Saat kita berlibur di Negara L, Brayen, Felix dan juga Angkasa selalu sibuk dengan pekerjaan mereka."


"Ya, kau benar. Aku juga tidak menyangka waktu berjalan dengan begitu cepat. Sekarang aku sudah menikah dan memiliki anak." ujar Devita dengan pikiran yang kini menerawang ke depan.


Olivia tersenyum, "Aku juga tidak menyangka, jika waktu berjalan begitu cepat, Devita. Rasanya aku baru memutuskan pindah dari negara I ke negara M."


Devita menoleh, menatap lekat Olivia. "Setelah ini, kau sungguh akan kembali ke negara I, kan?"


Olivia mengangguk. "Aku akan kembali.


Kasihan Felix, selama ini dia sering kembali ke negara I selama tinggal di sini. Perusahaan pribadi miliknya juga berada di sana. Rasanya, aku sangat egois, jika aku terus menetap tinggal di sini tanpa memikirkan Felix.


Devita menyentuh bahu Olivia, dan menepuk pelan. "Aku senang kau memikirkan Felix. Tapi, apa kau juga memikirkan Felix yang telah menunggumu lama, Olivia?Apa kau masih belum ingin menikah dengan Felix?"


Olivia menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. "Aku masih belum tahu Devita. Aku masih takut. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Felix. Selama ini dia terlalu setia padaku. Felix tidak pernah mengeluh sedikitpun, meski harus menunggu ku."


Devita terdiam sesaat, terlihat wajah Olivia yang tampak terlihat begitu muram. Kemudian Devita mengelus lengan Olivia dan berkata. "Tidak ada yang perlu kau takutkan. Sejak awal Felix sudah menunggumu. Dia yakin, kau adalah wanita yang terbaik untuknya. Jika tidak, untuk apa dia membuang waktu bertahun-tahun untuk menunggu seseorang yang tidak tepat untuknya? Kau lihat, dia begitu setia menunggumu. Itu artinya dia sudah yakin, kau adalah wanita yang paling tepat untuk menemani hidupnya."


"Sekarang, aku ingin bertanya padamu, apa kamu masih belum bisa memaafkan Felix?" Devita bertanya dengan tatapan yang begitu serius pada Olivia. Dia menatap mata Olivia mencari sebuah kebenaran di mata sahabatnya itu.


Olivia terlihat tampak ragu, dia masih diam membisu setelah mendapatkan pertanyaan dari Devita. Bukan tidak memaafkan. Tapi lebih tepatnya, Olivia masih butuh waktu. Meski dia tahu dirinya terlalu egois membiarkan Felix menunggunya terlalu lama.


"Aku bukan belum bisa memaafkannya. Hanya saja, aku masih ragu." jawab Olivia seraya menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca, dia merasa bersalah dengan Felix.


"Jika kau masih ragu kenapa tidak meninggalkan, Felix?" kali ini Devita mengajukkan sebuah pertanyaan yang membuat Olivia tidak bisa berkutik. Terlihat mata Olivia begitu sedih mendengar pertanyaan itu.


"Aku mencintainya, Devita. Aku tidak mungkin bisa hidup tanpanya," jawab Olivia dengan suara yang parau. Air matanya kini berlinang membasahi pipinya.


Olivia menggangguk lemah. "Terima kasih Devita, aku akan memikirkannya."


Devita mendekat, dia langsung memeluk erat tubuh sahabatnya itu, "Aku menyayangimu, Olivia. Aku juga menyayangi Felix. Aku ingin kalian bersatu."


"Mommy....." pekik Sean yang langsung berlari ke arah taman. Devita langsung mengurai pelukannya. Olivia yang melihat Sean datang dia langsung menghapus air matanya.


"Sayang, kau sudah pulang?" Devita kini melihat Sean dan Felix melangkah mendekat ke arahnya.


Sean langsung memeluk Olivia dan juga Devita, lalu duduk di pangkuan Devita. "Mommy, Paman Felix membelikanku Lego star wars." ucap Sean antusias.


Devita mendesah pelan, "Paman Felix sudah membelikanmu Golden Monopoly, sayang. Kenapa kau masih meminta Paman Felix untuk membelikanmu Lego? Itu tidak baik, Sean. Mommy sudah bilang padamu, di luar sana masih banyak anak yang kekurangan mainan."


Sean mengerutkan bibirnya. " Tapi tadi Lego star wars bagus, Mommy. Aku belum memilikinya."


"Devita tidak apa-apa. Aku yang ingin membelikannya untuk Sean." jawab Felix dengan senyuman di wajahnya.


"Maafkan Sean, sejak kecil dia selalu di manjakan oleh Brayen." ucap Devita merasa tidak enak pada Felix.


"Devita, tidak perlu meminta maaf. Aku menyayangi Sean seperti anakku sendiri." balas Felix.


Devita tersenyum. "Felix... Olivia.... Hari ini aku ingin pergi bersama dengan Brayen. Aku bisa menitipkan Sean pada kalian?"


"Mommy ingin pergi dengan Daddy? Kenapa aku tidak di ajak, Mommy?" Sean mengerutkan bibirnya, hingga membuat bibir mungil berwarna merah muda itu terlihat begitu menggemaskan. Devita langsung mengecup bibir mungil Sean. Mencium seluruh wajah Sean yang begitu menggemaskan hingga membuat Sean tertawa.


"Tidak apa-apa, Devita. Aku senang kau menitipkan Sean pada kami." jawab Olivia.


Felix menggangguk setuju. "Aku juga senang. Menghabiskan waktuku dengan Sean."


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.