Love And Contract

Love And Contract
Kemarahan Brayen



"Pengawal Brayen mengusirmu?" tanya Devita sambil menautkan alisnya, dia sedikit terkejut mendengar ucapan Angkasa.


Angkasa mengangguk, "Ya, mereka mengusirku. Aku tidak bertemu dengan Laretta,"


"Aku akan membantumu, kau tenang saja. Kau pasti bisa bertemu dengan Laretta," balas Devita meyakinkan. Jujur saja dia kasihan kepada Angkasa yang mengalami kesulitan bertemu dengan Laretta. Dia bahkan tidak menyangka, Brayen meminta pengawal di rumah untuk melarang Angkasa menemui Laretta.


"Devita!" Suara bariton berteriak begitu kencang dan menggelegar hingga membuat Devita terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.


"B... Brayen?" Devita menatap Brayen yang menatap tajam dirinya. Seketika wajah Devita menegang, terlihat jelas wajah Devita yang tengah menahan emosinya.


Tanpa di duga Brayen menghampiri Angkasa, dia menarik kasar kerah baju Angkasa dan langsung memukul pelipis Angkasa.


BUGH


BUGH


Brayen terus memukul hidung, pelipis Angkasa, hingga membuat pria itu kini tersungkur di lantai.


"Astaga Brayen! Apa yang kau lakukan!" Teriak Devita begitu histeris melihat Brayen menghajar Angkasa.


Dengan cepat Devita berlari dan langsung memeluk Brayen dari belakang, "Brayen hentikan, kau bisa membunuhnya!"


"Aku peringatkan padamu jauhi adik dan istriku! Jika kau masih ingin hidup, lebih baik kau pergi dari sini!" Seru Brayen menyalang menatap tajam Angkasa yang tersungkur di lantai.


"Kau ini kenapa menyerangku? ingat, aku tidak membalasmu karena kau adalah Kakak dari Laretta." Angkasa kini menatap Brayen dengan penuh permusuhan.


Brayen tersenyum sinis. "Kau ingin mencoba melawanku? Mari buktikan kemampuanmu!"


"No, Brayen. Jangan!" Devita langsung berdiri di hadapan Brayen, dia merentangkan kedua tangannya mencegah Brayen berkelahi dengan Angkasa. "Please, dont do that." Devita berusaha menenangkan suaminya itu.


Tanpa menjawab Brayen langsung menarik paksa tangan Devita meninggalkan Angkasa. Namun Angkasa melihat Brayen yang menarik kasar tangan Devita, Angkasa langsung berlari menyusul Brayen. "Brayen jangan sakiti Devita!" Tukas Angkasa dengan tatapan tajamnya menatap Brayen.


"Kau berani padaku? Rupanya benar kau bosan hidup!" Seru Brayen dengan tatapan peringatan.


Saat Brayen hendak Kembali menyerang Angkasa. Devita langsung memeluk erat lengan Brayen. " No Brayen, jangan! "


"Angkasa, kau pergilah jangan ikut campur masalahku dengan suamiku," ucap Devita seraya melihat ke arah Angkasa.


"Aku tidak menghabisimu sekarang. Tapi percayalah. Aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri," seru Brayen dia menghunuskan tatapan tajam dan penuh peringatan pada Angkasa. Dia langsung menarik tangan Devita, berjalan meninggalkan Angkasa yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Brayen, dengarkan penjelasanku dulu," rintih Devita menahan rasa sakit, karena Brayen mencengkram kuat pergelangan tangannya.


"Penjelasan apa yang harus aku dengar! Katakan padaku!" Bentak Brayen menyalang menatap tajam Devita. Dia terus menarik paksa tangan Devita dan memaksa Devita untuk masuk ke dalam mobil. Brayen tidak memperdulikan rintihan Devita. Akibat dirinya mencengkram kuat pergelangan tangan Devita.


...***...


Saat mobil Brayen sudah tiba di mansion, Brayen langsung menarik kasar tangan Devita turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Dia tidak memperdulikan rintihan kesakitan Devita. Amarahnya kini benar - benar membuat matanya menggelap. Terlebih Brayen datang ke kampus Devita. Dia sudah tidak bisa lagi menahan diri, istrinya berani menutupi sesuatu hal besar padanya.


"Brayen, lepas. Aku akan menjelaskannya." ucap Devita yang mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Brayen. Namun, Brayen semakin kuat mencengkram tangan Devita.


"Kakak, apa yang kau lakukan!" Suara teriakan Laretta ketika melihat Brayen menarik kasar tangan Devita.


"Kau jangan ikut campur, Laretta! Pergi dan masuk ke dalam kamarmu!" Bentak Brayen menyalang menatap tajam Laretta.


"Tidak! Kakak jangan lukai Devita!" Seru Laretta dengan penuh peringatan.


"Laretta, aku tidak apa - apa," Devita berusaha tersenyum ke arah Laretta. Dia tidak ingin Laretta terkena masalah karena membela dirinya.


Laretta menggeleng cepat, " Tidak Devita. Kakakku melukaimu."


"Iya Tuan," jawab Ruby yang berlari menghampiri Brayen.


"Bawa paksa adikku ini. Pastikan dia tidak ikut campur masalahku!" Tukas Brayen dingin.


"Baik, Tuan." jawab Ruby.


"Nona Laretta, mari ikut saya," Ruby menarik tangan Laretta. Dengan cepat Laretta menepisnya. Tapi,tenaga Laretta tidak cukup kuat hingga membuat Laretta mau tidak mau mengikutinya.


Brayen kembali menarik paksa Devita masuk kedalam kamarnya. Dia tidak memperdulikan jeritan Devita, bahkan saat Devita ingin menjelaskan dia tetap tidak memperdulikannya.


Brukkkk.


Brayen membanting Devita ke ranjang. Amarahnya kini sudah tidak bisa lagi di tahan oleh dirinya. Brayen tidak memperdulikan jeritan dan rintihan Devita.


"Kau berani menutupi ini semua dariku, Devita! Katakan, mau sampai kapan kau menutupi ini! Hah?! Katakan!" Suara bentakan Brayen begitu kencang. hingga membuat Devita terkesiap. Bahkan ini pertama kalinya Brayen membentaknya dengan kencang.


"B... Brayen, aku ingin menjelaskannya hingga waktu yang tepat," jawab Devita gugup. Dia tidak menyangka Brayen begitu marah.


Brayen tersenyum sinis. " Waktu yang tepat? Katakan kepadaku kapan waktu yang tepat? Sepuluh tahun lagi? Itu maksudmu waktu yang tepat?"


"Tidak seperti itu Brayen dengarkan penjelasanku dulu," ujar Devita yang berusaha menenangkan amarah Brayen.


"Penjelasan apa? Oh, maksudmu penjelasan tentang pria sialan itu adalah pria yang selama ini kau tunggu, bukan?" seru Brayen dengan penuh kemarahan. Tatapannya menatap tajam Devita.


Wajah Devita langsung menegang ketika mendengar ucapan Brayen. Dia tidak menyangka Brayen akan lebih dulu mengetahui ini. Terlihat sorot mata Brayen penuh dengan kemarahan. Devita berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk tidak gugup dan takut.


"Kenapa sekarang kau diam? Kau terkejut karena aku sudah mengetahui ini?" tukas Brayen tajam.


"Tidak, tidak, Brayen. Kau hanya salah paham. Sudah tidak ada lagi yang tersisa di antara kami. Sungguh dia hanya sahabat masa kecilku, Brayen." jelas Devita dia berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Devita. Meski Devita tahu, raut wajah Brayen masih penuh dengan kemarahan. Tapi Devita akan terus mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini.


"Hentikan omong kosong mu, Devita! Kau berani menipuku? Bahkan kau dulu sangat mencintainya, bukan? Kau selalu menunggu dia kembali ke kota B? Sekarang dia sudah kembali dan kau ingin bersama dengannya? Kau ingin berselingkuh di belakangku?" seru Brayen dengan tatapan yang semakin tajam. Matanya menggelap, dirinya sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Tidak Brayen, aku bersumpah aku tidak mungkin berselingkuh darimu," Devita menyela cepat. Dia tidak menyangka Brayen akan menuduhnya berselingkuh.


Brayen tersenyum sinis. "Saat kemarin kau mengatakan padaku kau pergi berbelanja, kau pergi kemana? Kau pergi berbelanja atau menemui pria sialan itu? Katakan yang sejujurnya Devita! Atau kau akan tahu akibatnya karena sudah menipuku!" Desis Brayen tajam.


"M... Maafkan aku, Brayen." Devita menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.


"Maaf? Kau minta maaf? Artinya kau bertemu dengan pria sialan itu!" Geram Brayen, tatapannya semakin tajam, rahangnya semakin mengetat tangannya terkepal dengan kuat.


"Aku bisa menjelaskannya, Brayen. Kau tenangkan dirimu, kau hanya salah paham," ucap Devita yang berusaha menenangkan amarah Brayen.


"Diam kau! Beraninya kau menutupi ini dariku! Kemarin kau pergi kemana?! Sudah lama kalian tidak bertemu, apa kau sudah berciuman dengannya? Katakan Devita!" Bentak Brayen.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.