
Hari ini Author udah Up 3 Bab sekaligus loh, jangan lupa kasih sajen votenya dong 😭😭😭 Jangan pelit juga dong tekan tombol likenya😁
Mau Up Satu Bab lagi yah?
Tapi....,
Ramaikan dulu yuk, kolom komentarnya. Biar author lebih semangat lagi buat nulis. Author maksa nih, hehehehe
Happy Reading 🌼
Devita mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, Olivia tengah berkutat dengan ponselnya. Mengurangi kebosanan Devita memilih mendengarkan lagu My heart Will Go On - Celine Dion.
"Lagu ini adalah lagu salah satu lagu kesukaanku," kata Devita saat mendengar lagi Celine Dion.
"Ya, siapa yang tidak mengetahui lagu ini? Celine Dion memiliki lagu yang sangat luar biasa," balas Olivia.
"Kau benar, andai aku bisa bernyanyi dengan bagus mungkin aku akan menjadi penyanyi yang terkenal," ujar Devita dengan senyumannya.
Olivia memutar bola matanya malas, "Kau ini sudah jangan aneh - aneh. Cukup menjadi pengusaha saja kau sudah kaya raya Devita!"
Devita berdecak pelan, "Sebenarnya, aku malas sekali meneruskan bisnis keluarga ku. Andai ku memiliki Kakak sudah pasti ku berikan kepada Kakakku,"
"Sudahlah, kau harus bersyukur bisa mewarisi bisnis keluargamu!" Balas Olivia mengingatkan.
"Lupakan, aku tidak ingin membahas itu!" Jawab Devita. "Menurutmu bagaimana Felix?"
"Felix?" Olivia mengerutkan keningnya menatap bingung Devita "Kenapa kau bertanya tentang Felix?"
Devita mengedikkan bahunya "Aku hanya bertanya saja, menurutmu bagaimana Felix?"
"Aku saja baru pertama kali bertemu dengan Felix, kau sudah meminta pendapatku tentangnya," jawab Olivia ketus.
"Tapi menurutmu, dia itu tampan atau tidak?" Devita kembali bertanya dengan nada yang menggoda pada Olivia.
"Tampan," jawab Olivia singkat.
Senyum di bibir Devita terukir mendengar ucapan Olivia. " Jadi Felix tampan? Apa kau menyukainya?" tanya Devita.
Olivia berdecak " Kau ini! Semua pria tampan tentu aku juga menyukainya. Sudah jangan tanya yang tidak - tidak," jawab Olivia.
Devita terkekeh, "Padahal aku melihat, jika Felix sepertinya tertarik padamu."
"Diamlah Devita!" Olivia menegur dengan nada kesal.
"Baiklah, hm tapi aku rasa lebih baik aku pergi ke kantor Brayen. Aku ingin menemuinya," ujar Devita.
"Kau ingin menemuinya? Maksudmu sekarang?" Olivia menautkan alisnya. Menatap lekat Devita.
"Ya, sekarang aku ingin makan ice cream dengan Brayen," jawab Devita dengan senyuman di wajahnya.
"Astaga Devita! Kau ingin pergi di jam kerjamu? Pekerjaanmu pasti akan di alihkan kepadaku! Aku tidak mau!" Seru Olivia kesal.
"Come on aku akan mengirimkan high heels Cristian Louboutin yang terbaru asal kau mengambil alih pekerjaanku," bujuk Devita.
Olivia terdiam saat mendengar tawaran Devita, kemudian dia menjawab, " Baiklah, aku akan membantumu, tapi kau harus mengirimkan high heels dari Cristian Louboutin tiga pasang. Aku tidak mau jika hanya satu."
Devita mendengus, "Kau ini giliran mendapatkan tawaran seperti itu baru kau mau. Benar - benar menyebalkan."
"Jadi bagaimana? Kau mau aku bantu atau tidak?" tanya Olivia tersenyum penuh kemenangan.
"Ya, ya aku akan menghubungi butik langgananku untuk mengirimkan sepatu padamu. Kau tunggu saja, malam ini sepatumu pasti sudah ada di rumah," balas Devita dengan nada yang sedikit kesal. Sahabatnya itu benar - benar menyebalkan. Padahal dia hanya ingin memberikannya satu pasang, tapi Olivia meminta tiga pasang.
"Great! Ini baru sahabatku!" Seru Olivia.
Tidak lama kemudian, mobil Devita sudah sampai di Dixon's Group. Devita meminta Olivia untuk cepat turun. Setelah Olivia turun dari mobil, dia mengendarai mobilnya meninggalkan Dixon's Group menuju perusahaan Brayen."
...***...
"Dimana Brayen?" tanya Elena pada Jessy, sekretaris Brayen.
"Tuan sedang ada di dalam, tapi lebih baik, Nona bisa kembali lagi nanti Nona. Tuan sepertinya tidak ingin di ganggu," jawab Jessy dengan sopan.
"Kau pikir kau siapa, berani melarangku?" seru Elena dengan tatapan menghunus tajam pada Jessy.
"Nona maaf, tapi Tuan Brayen sedang tidak ingin di ganggu," Jessy kembali menjawab dengan nada sopan.
"Menyingkirlah, aku ingin menemui Brayen!" Elena menerobos masuk ke dalam ruang kerja Brayen.
"Brayen!" Panggil Elena dengan suara keras. Dia masuk kedalam ruang kerja Brayen.
Jessy segera berlari mengejar Elena " T..Tuan Maaf, Nona Elena memaksa masuk,"
Brayen membuang napas kasar saat melihat Elena menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya. Kemudian dia mengibaskan tangan Pada Jessy untuk pergi. Jessy menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.
"Ada apa lagi Elena? Kenapa kau datang ke perusahaanku?" tanya Brayen dingin tatapannya tak suka jika Elena kembali ke perusahaannya.
"Kenapa seakan kau tidak perduli padaku? Kau bahkan tidak mencariku atau menanyakan kabarku!" Seru Elena dengan kesal.
"Apa yang kau inginkan Elena? Terakhir perkataanku sudah jelas bukan?" Brayen memilih mengalihkan pandangannya dan menatap layar laptopnya.
"Tinggalkan Istrimu! Aku tidak mau kau masih bersama dengannya Brayen! Tinggalkan dia!" Sentak Elena.
"Aku akan bertanggung jawab padamu jika kau memang benar mengandung anakku. Tapi untuk meninggalkan Devita jawabanku adalah tidak bisa! Aku tidak bisa meninggalkannya." tukas Brayen dengan nada menekan.
"Kenapa Brayen? Aku tahu kau masih mencintaiku! Bagaimana bisa kau melupakanku, kita sudah berhubungan lama Brayen! Tidak mungkin dengan mudahnya kau melupakanku hanya karena gadis kecil itu!" Seru Elena dengan geramanan tertahan. Tangannya terkepal kuat.
"Kau tahu Devita adalah Istriku! Aku tidak mungkin meninggalkannya!" Balas Brayen dengan tatapan yang menghunus tajam ke arah Elena.
"Kenapa dengan mudahnya kau melupakan aku Brayen? Kenapa kau tidak menepati janjimu! Kenapa!" Teriak Elena begitu keras, napasnya memburu. Air matanya mulai berlinang membasahi pipinya.
"Kendalikan dirimu Elena! Kau tahu aku tidak mungkin meninggalkan Devita! Aku sudah menikah, tidak mungkin aku meninggalkannya. Sekarang lebih baik kau pergi. Aku tidak memiliki waktu!" Seru Brayen.
"Tidak! Aku tidak akan pergi! Kau harus menceraikan Devita! Aku tidak akan pernah pergi darimu, Brayen!" Bentak Elena keras.
"Hentikan Elena! Aku bahkan tidak yakin kalau itu adalah anakku! Hentikan semuanya! Sudah ku katakan aku tidak ingin berdebat denganmu! Pergilah!" Seru Brayen meninggikan suaranya. Dia menggeram menahan emosinya. Dia tidak mungkin bertindak kasar karena Elena tengah mengandung. Albert belum memberikan bukti, hingga detik ini Brayen masih belum tahu bagaimana harus bersikap kepada Elena.
"Aku ini hamil Brayen! Kenapa kau tidak yakin! Ini adalah anakmu Brayen! Tinggalkan Istrimu!" Elena kembali membentak dengan penuh emosi.
Prangg.
Brayen mengalihkan pandangannya setelah mendengar benda terjatuh. Namun seketika wajah Brayen menegang. Melihat Devita yang berada di balik pintu.
Terlihat jelas mata Devita yang memerah, dia berusaha keras menahan air matanya. Dengan cepat Devita langsung meninggalkan Brayen. Hati Devita begitu sakit, Devita mendengar semua percakapan yang membuatnya terluka.
"No Devita tunggu aku, dengarkan penjelasanku!" Teriak Brayen kencang. Dia berlari menyusul Devita. Namun, saat dia mengejar Devita, pintu lift sudah lebih dulu tertutup. Brayen menekan tombo lift namun sia - sia pintu lift belum terbuka juga.
Brayen mengumpat kasar, kenapa Elena harus datang Brayen meremas rambutnya dengan kuat, dia melihat Devita menangis. Saat pintu lift terbuka Brayen langsung masuk.
Di lobby Devita berlari menuju parkiran, Devita masuk ke dalam parkiran mobil dan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh meninggalkan perusahaan Mahendra Tower.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.