Love And Contract

Love And Contract
Akan Tetap Berjuang



"Aku dengar kesehatan orang tuamu sudah mulai membaik. Apa besok kita bisa menemui kedua orang tuamu?" tanya Angkasa.


Laretta terkesiap, dia bahkan tidak menyangka, jika Angkasa akan begitu berani. Sedangkan dirinya, hingga detik ini masih belum berani menemui kedua orang tuanya.


"A-Angkasa, kau sungguh ingin bertemu dengan kedua orang tuaku?" Laretta bertanya memastikan. Pasalnya Laretta sangat mengenal siapa Ayahnya. Sifat David, Ayahnya yang tidak berbeda jauh dengan Kakaknya.


"Apa di wajahku menunjukkan rasa takut?" balas Angkasa menatap lekat Laretta.


Laretta mendesah pelan, "Bukan seperti itu, Angkasa. Tapi kau tidak tahu, bagaimana sifat Daddyku? Dia sangat keras. Aku takut dia akan melukai perasaan mu."


Angkasa menggeleng pelan dan tersenyum, "Aku rasa jika seorang Alexander David Mahendra memiliki seorang anak seperti Brayen Adams Mahendra, akupun sudah tahu, bagaimana sifat Daddymu itu?"


"Kau tidak perlu takut, aku sudah terbiasa mengahadapi sifat Brayen. Dan aku pastikan aku tidak akan terluka dengan apa yang akan di katakan oleh Daddymu. Karena memang ini juga salahku," lanjut Angkasa.


"Memangnya kenapa dengan sifatku?" suara bariton berseru dari arah belakang. Laretta dan Angkasa menoleh ke sumber suara itu.


Seketika Laretta dan Angkasa tersentak melihat Brayen dan juga Devita ternyata sudah berada di hadapannya. "K-Kakak?" Laretta tidak berani menatap Brayen yang terlihat begitu marah.


"Brayen sudah, jangan begitu." Devita berusaha untuk mengelus Brayen berusaha untuk meredakan emosi Brayen.


Angkasa membuang napas kasar, "Dengarkan aku Brayen, besok aku akan bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku hanya berusaha untuk meyakinkan Laretta. Kalau aku tidak takut jika bertemu dengan Daddymu. Kau tahu alasannya, tentu karena aku sudah terbiasa menghadapimu."


Brayen melayangkan tatapan tajam pada Angkasa, "Bahkan kau itu belum tentu di terima di keluarga Mahendra! Meskipun kau sudah berhasil memimpin perusahaanmu itu!"


"Maka jika seperti itu, aku akan tetap berjuang lagi!" Ujar Angkasa yang tidak mau kalah. "Dan aku yakin, Daddymu pasti akan menerimaku. Jadi, persiapkan saja dirimu untuk menjadi Kakak Iparku."


"Kau pikir bisa dengan mudahnya untuk menjadi adik iparku!" Seru Brayen.


"Brayen, jangan seperti itu." tegur Devita pelan.


"Kak, hentikan ini." Laretta beranjak, dia berusaha untuk menengahi perdebatan Brayen dan juga Angkasa. "Aku sudah menyiapkan makanan untukmu dan Devita. Lebih baik kita makan."


"Aku setuju dengan Laretta.Lebih baik kita makan Brayen, karena aku sudah lapar." Devita merajuk, dia berharap Brayen bisa luluh.


Brayen melihat ke arah Devita. "Kau lapar?"


"Ya, aku lapar Brayen." jawab Devita berbohong. Padahal dia belum lapar. Tapi dengan ini, dia bisa menghentikan perdebatan Brayen dan juga Angkasa.


Brayen mengelus pipi Devita. "Baik, kita makan sekarang."


Devita tersenyum puas. Dia benar-benar berhasil. Sepertinya Devita menyukai dirinya hamil. Dengan hamil, Brayen akan menuruti semua keinginannya. Devita terkekeh dalam hati ia sudah tahu, pasti suaminya itu akan menuruti dirinya.


"Angkasa, Laretta aku sudah lapar. Lebih baik kita segera ke ruang makan." kata Devita. Lalu Laretta mengangguk.


Kemudian mereka berjalan menuju ke ruang makan. Devita berjalan di depan sambil memeluk lengan Brayen. Sedangkan Angkasa dan Laretta berada di belakang Devita dan juga Brayen. Tapi kali ini, Laretta tidak berani untuk memeluk lengan Angkasa. Tentu saja karena Kakaknya berada di hadapannya. Laretta tidak ingin, jika Angkasa akan mendapatkan pukulan dari Kakaknya itu.


"Laretta, kau yang menyiapkan semuanya ini?" Devita berseru menatap makanan yang begitu lezat sudah di hidangkan di atas meja.


"Ya, aku harap kau juga menyukainya, Devita" jawab Laretta, dia mendekat ke arah Devita dan langsung memeluk Devita. "Welcome home, Kakak Ipar."


Devita tersenyum, "Sambutan yang sangat indah, kau itu memang adik ipar yang terbaik yang aku miliki."


Angkasa menatap kedekatan antara Devita dan juga Laretta, senyum di bibirnya terukir. Hingga detik ini Angkasa masih tidak menyangka, wanita yang dulunya dia cintai akan menjadi Kakak Iparnya.


"Kita makan sekarang, karena Devita tidak boleh terlambat untuk makan." tukas Brayen dingin.


"Sudah kita makan sekarang." Devita menengahi, dia langsung mengambil tempat duduk di samping Brayen. Sedangkan Laretta, lebih memilih duduk di samping Angkasa. Kini mereka mulai menikmati makanan yang sudah di hidangkan di meja makan.


"Laretta, jadi besok kau akan kerumah Mom Rena dan Dad David." tanya Devita sambil menikmati makanannya.


"Ya, aku dan juga Angkasa akan bertemu dengan Mommy dan Daddy." jawab Laretta


"Brayen, besok kita juga ikutan datang ya? Aku merindukan Dad David?" pinta Devita dan Brayen mengangguk singkat.


"Kenapa kau itu makan sedikit sekali, Devita." tegur Brayen menatap piring Devita.


"Ah, iya. Aku makan harus sedikit - sedikit, Brayen." balas Devita.


Laretta mendesah pelan, Kakaknya itu terlalu bersikap overprotektif pada istri tercintanya. Tapi meski begitu, Laretta sangat bahagia akhirnya Devita bisa kembali ke rumah.


"Kak, jadi besok kau juga akan ke rumah Mommy dan Daddy?" tanya Laretta memastikan.


"Ya," jawab Brayen singkat.


Pandangan Brayen kini menatap Angkasa, yang jaraknya tidak jauh dari dirinya. "Setelah ini, aku ingin berbicara denganmu." suara Brayen terdengar begitu dingin.


Angkasa mengangguk. "Aku dengan senang hati berbicara denganmu, Brayen. Bukankah sebentar lagi, kau akan menjadi Kakak Iparku?"


Brayen tidak menjawab, dia tidak mempedulikan balasan dari Angkasa. Devita melirik ke arah Brayen yang terlihat menahan amarah, sebisa mungkin Devita menahan tawanya. Suaminya itu terkenal mudah sekali marah.


...***...


Angkasa melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen, dia langsung duduk di hadapan Brayen dengan menyilangkan kakinya. Kini Brayen dan juga Angkasa saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.


Angkasa mengambil botol wine yang ada di atas meja dan menuangkan ke gelas sloki yang biasa di hadapannya, "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?"


"Besok kau akan bertemu dengan orang tuaku, bukan? Dan apa yang membuatmu sangat yakin jika orang tuaku akan menerimamu?" Brayen mengambil gelas sloki yang sudah terisi wine dan mulai menyesapnya.


Angkasa menyadarkan punggungnya di kursi dan menatap lekat Brayen yang duduk di hadapannya. "Aku rasa, aku bisa menangani ini semua. Aku memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi dan kau itu tidak perlu cemas."


"Kalau begitu, aku akan melihatmu besok."Brayen tersenyum sinis. "Dan kau juga belum membuat adikku menyukaimu, bukan?"


"Memangnya kau itu bisa tahu apa yang ada di hati adikmu itu?" balas Angkasa tidak mau kalah.


....**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.