Love And Contract

Love And Contract
Meminta Izin Dan Permintaan Maaf Brayen.



"Anak kita baik - baik saja." Brayen mengusap rambut Devita, "Mulai sekarang, setiap hari Dokter akan memeriksa kesehatanmu dan kandunganmu. Belakangan ini kau terlihat kurus, aku tidak ingin kau mengurangi porsi makanmu. Kau harus banyak makan. Ingat, kau makan bukan hanya untuk dirimu sendiri. Tapi juga untuk anak kita."


Devita bernafas lega, paling tidak anaknya tidak apa-apa. Belakangan ini, Devita memang tidak ingin makan. Setiap kali dirinya memaksakan untuk makan, pasti Devita akan selalu mual. Tidak seperti biasanya padahal kandungan Devita sudah memasuki bulan ketiga.


Devita hendak bangun, dia ingin menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Brayen langsung membantu untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Brayen.


"Tidak." Devita menggelengkan kepalanya. "Aku belum lapar. Kau tidak ke kantor?"


"Aku tidak ke kantor dalam beberapa hari ini." Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya. "Dalam beberapa hari ini, aku akan bekerja di rumah."


Tubuh Devita masih begitu lemas. Meski Devita masih merasa kecewa dengan sikap Brayen, tapi tidak bisa di bohongi hatinya begitu senang. Kini Devita menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. Devita memilih untuk diam, karena memang Devita masih begitu enggan untuk berbicara.


"Kenapa kau tidak pergi ke kantor?" Devita sedikit mendongak, akhirnya hanya ini perkataan yang terlontar dari Devita.


"Aku ingin menemanimu." Brayen mengecup puncak kepala istrinya. "Maaf sayang, maaf karena telah membuatmu terluka."


Devita masih memilih untuk tetap diam dan tidak bicara. Bukan tidak ingin memaafkan, hanya saja tubuh Devita masih begitu lemas. Tidak hanya itu, tapi Devita juga masih sedikit kecewa dengan sikap Brayen. Hatinya masih sakit dengan segala sikap suaminya itu.


"Apa kau masih marah padaku?" Brayen menarik dagu Devita, dia ******* lembut bibir Istrinya.


"Tidak," jawab Devita singkat. "Aku hanya masih lelah."


"Aku sungguh minta maaf, sayang..." Brayen menempelkan hidungnya pada hidung Devita dan menggeseknya pelan. "Aku mendiamkanmu, karena aku takut, kau akan terluka dengan perkataanku. Aku takut rasa marah di diriku membuatku lepas kendali dan mengambil keputusan yang menyakitimu."


"Tapi, dengan kau menjauh dariku membuatku semakin tersiksa. Aku bahkan lebih memilih kau menyakiti hatiku dengan perkataanmu, dari pada aku harus berjauhan denganmu. Karena aku tidak sanggup berada jauh darimu." mata Devita mulia berkaca - kaca, air matanya kembali berlinang membasahi pipinya.


"Sayang, jangan menangis. Aku di sini. Maafkan aku...." Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Istrinya itu.


Devita hanya diam dan tidak membalas. Air mata Devita tidak henti berlinang. Devita tidak bisa membohongi dirinya, dia begitu merindukan suaminya. Meski Devita masih kecewa, tapi Devita lebih memilih untuk diam.


...***...


Sinar matahari pagi begitu cerah. Suara kicauan burung saling bersahutan. Devita kini sedang duduk di balkon kamar sembari menikmati udara yang begitu menyejukkan. Devita memejamkan matanya sebentar, ketika hembusan angin menyentuh kulitnya. Hati Devita masih merasakan terluka. Tidak bisa di bohongi, meski Brayen sudah meminta maaf, tapi perkataan Brayen tidak bisa begitu saja di lupakan olehnya. Devita berusaha mengerti dengan kemarahan Brayen, hanya saja dia tidak bisa melupakan perkataan yang begitu melukai hatinya.


Seketika muncul sesuatu di pikirkan Devita. Dia membuka matanya dan mengambil ponsel miliknya yang terletak di atas meja. Devita mencari nomor Olivia di kontak list, dia langsung menekan tombol hijau untuk menghubungi sahabatnya itu.


"Olivia?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Ya Devita? Ada apa?" jawab Olivia dari sebrang telepon.


"Olivia, apa kau ada di rumah?"


"Kau ingin kerumahku? Tentu saja aku ada di rumah. Minggu depan kelulusan kita, jadi aku di rumah."


"Aku akan menginap di rumahmu untuk beberapa hari. Apa kau memperbolehkanku menginap di rumahmu?"


"CK! Kenapa kau bertanya. Kau boleh menginap atau pun tinggal di rumahku kapan pun yang kau mau. Tapi tunggu, apa Brayen mengizinkanmu? Terlebih kau itu sedang hamil?"


"Aku sedang ingin menenangkan diriku, Olivia. Aku ingin sekali menyusul kedua orang tuaku ke kota K. Tapi tidak mungkin, karena aku sedang hamil. Aku tidak mungkin melakukan perjalanan jauh."


Helaan nafas berat Olivia terdengar dari balik teleponnya. "Apa kau masih bertengkar dengan Brayen?"


"Tidak, aku tidak bertengkar dengan Brayen. Aku hanya ingin menenangkan diriku sebentar, Olivia. Terlalu banyak masalah yang aku pikirkan. Aku rasa, aku membutuhkan waktu untuk menyendiri."


"Apa Brayen akan mengizinkanmu, jika kau menginap di rumahku? Aku hanya tidak ingin kalian semakin bertengkar?"


"Aku akan berbicara padanya. Aku yakin dia akan memahamiku."


"Baiklah, tapi apa kau ingin aku jemput?" tawar Olivia.


"Tidak perlu, aku akan bersama dengan sopir kerumahmu nanti." jawab Devita.


Panggilan terputus, Devita sengaja pergi menginap ke rumah Olivia. Paling tidak, dia ingin menenangkan sebentar pikirannya. Devita tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya. Itu kenapa Devita memilih untuk menenangkan waktu untuk sendiri. Jika saja kandungan Devita tidak lemah, sudah pasti Devita akan menyusul kedua orang tuanya ke Kota K.


"Sayang?" Brayen menatap Devita yang sedang duduk di balkon. Brayen mendekat, dia langsung duduk di samping Devita.


Devita mengalihkan pandangannya, dia tersenyum tipis ketika Brayen sudah berada di sampingnya.


"Kenapa kau di sini?" Brayen mengusap kepala istrinya itu, belakangan ini Devita tidak banyak bicara. Brayen selalu lebih dulu memulai percakapan, jika tidak Devita tidak akan bicara.


"Hanya menikmati udara yang ada di sini." jawab Devita datar.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" tawar Brayen.


"Tidak," Devita menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan."


"Brayen?" panggil Devita dengan tatapan lekat menatap Brayen yang duduk di sampingnya.


"Hm? Ada apa?" Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Aku ingin menginap beberapa hari di rumah Olivia?"


"Kau ingin menginap di rumah Olivia?" Brayen sedikit terkejut dengan permintaan istrinya itu.


Devita mengangguk. "Aku ingin menenangkan diriku. Aku berharap kau tidak menghalangiku Brayen."


"Bagaimana, jika aku tidak memperbolehkanmu untuk menginap di rumah Olivia?" Brayen menatap serius Devita.


"Aku hanya butuh waktu sendiri. Terlalu banyak yang aku pikirkan, Brayen." jawab Devita. "Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kandunganku. Jika aku bersama dengan Olivia, aku selalu bahagia. Olivia selalu memiliki cara untuk membuatku tertawa ketika berada di dekatnya."


"Apa aku tidak membahagiakanmu selama ini Devita?" mendengar Devita mengatakan jika dia bahagia ketika berada di sisi Olivia, membuat Brayen terdiam sebentar. Karena selama ini, Brayen sudah berusaha untuk membahagiakan istrinya itu. Meski Brayen menyadari, sikap egoisnya sering melukai istrinya sendiri.


"Bukan itu," balas Devita. "Aku dan Olivia sudah bersahabat sejak kecil. Aku hanya ingin menenangkan diriku di sana."


"Bisa kau katakan padaku? Berapa hari kau akan meninggalkanku?" suara Brayen bertanya dengan serius. Seolah menuntut, dirinya tidak bisa terlalu lama di tinggal oleh istrinya itu.


Devita menatap lurus kedepan. "Aku juga tidak tahu, sekarang kau juga membutuhkan waktu untuk menenangkan emosimu Brayen. Banyak yang harus kau kerjakan. Terlebih masalah Laretta belum selesai."


"Apa kau belum memaafkanku?" Brayen menyentuh tangan Devita, dan meremasnya pelan. "Maafkan aku Devita, sungguh aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku."


"Brayen, bukannya aku tidak memaafkanmu. Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kandunganku," jawab Devita, "Aku mohon kau mengerti. Sama seperti aku yang berusaha untuk memahamimu."


"Aku mengizinkanmu. Tapi aku mohon jangan terlalu lama Devita. Aku tidak sanggup berada jauh darimu." Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan di bibir Istrinya itu. Devita hanya diam dan membiarkan Brayen untuk memagut bibirnya.


"Aku tahu, kau belum memaafkan aku sepenuhnya. Aku akan melakukan apapun demi menebus kesalahanku. Aku salah, sayang. Aku mengakui itu. Tindakanku itu sudah begitu keterlaluan menyiksamu. Aku sungguh menyesal dengan apa yang telah aku lakukan," bisik Brayen tepat di bibir Devita.


Devita tidak bergeming, hanya matanya kembali berkaca-kaca. Sudah kesekian kali, Brayen mengucapkan maaf. Tapi tetap saja, hati Devita masih terluka.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.