Love And Contract

Love And Contract
Aku Tidak Tahu



"Aku sudah tahu, Devita? Anak buahku memberitahukan kejadian yang terjadi di restauran saat suamimu mengungkap semuanya." kata Edgar terdengar helaan nafas berat dari balik telepon.


"Restaurant?" Devita semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Edgar.


"Ya, saat itu Ibuku menyusul Ayahmu yang sedang meeting. Ibuku juga membawa Lucia. Lalu saat Ibuku memperkenalkan Lucia, suamimu itu muncul dan mengungkap semuanya. Termasuk memberikan hasil Tes DNA." ucap Edgar yang menjelaskan semua kejadian yang terjadi di restoran.


Devita menarik napas dalam. "Lalu, apa yang kau inginkan, Edgar?"


"Maaf, jujur aku sangat malu dengan apa yang sudah di lakukan oleh Ibuku. Tapi aku sangat mengenal siapa Ibuku. Dia berbohong jika dia memiliki dendam dan ingin membalas seseorang. Aku yakin, Ibuku memiliki sesuatu hal yang dia sembunyikan hingga dia menipu keluargamu, Devita."


"Edgar, aku memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Ayahku dan juga Ibumu. Tapi Edgar, aku tidak ingin membahas masa lalu. Aku juga sudah memaafkan Ibumu, asalkan ibumu tidak lagi menganggu keluargaku."


"Aku sungguh minta maaf, atas apa yang telah Ibuku lakukan pada keluargamu. Aku berjanji tidak akan membiarkan Ibuku mengganggu lagi keluargamu."


"Terima kasih, Edgar. Semoga harimu menyenangkan."


"Ya, kau juga Devita. Semoga harimu menyenangkan."


Panggilan tertutup, Devita meletakkan ponselnya di atas nakas. Devita merasa kasihan pada Edgar karena sikap dari Gelisa yang sangat buruk. Di mata Devita, Edgar adalah pria yang baik. Devita melanjutkan kembali langkahnya masuk ke dalam kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian, Devita keluar dari kamar mandi. Dia mengganti pakaiannya dengan dress yang sederhana berwarna kuning. Dia mengikat rambutnya menjadi poni tali. Lalu melangkah keluar dari kamar. Pagi tadi Brayen sudah lebih dulu berangkat, tapi Brayen membangunkan Devita saat Brayen ingin berangkat. Setidaknya itu lebih baik, daripada Devita hanya membaca note dari suaminya.


Devita berjalan menuju ke studio lukis Laretta. Tadi, saat Devita masih di dalam kamar, dia meminta pelayan untuk membawakan sandwich dan juga susu kacang ke studio lukis Laretta. Pagi ini, karena hujan membuat Devita terlambat bangun.


"Laretta?" panggil Devita pelan, saat masuk kedalam studio lukis milik Laretta.


Laretta menghentikkan melukis, lalu menoleh ke suara yang memanggilnya. "Devita? Kau sudah bangun?"


Devita tersenyum, dia melangkah mendekat ke arah Laretta dan duduk di samping Laretta. "Maaf, hari ini aku bangun terlambat. Cuaca hujan membuatku bermalas-malasan hari ini."


"Tidak masalah Devita, hujan memang sering membuat orang terlambat untuk bangun." balas Laretta.


"Kau benar!" Pandangan Devita kini tertuju pada sandwich dan susu kacang yang sudah tersedia di atas meja. " Apa ini pesanan yang aku minta?" tanya Devita.


Laretta mengangguk. " Ya, tadi sebelum kau tiba, pelayan sudah lebih dulu mengantarkannya."


"Baiklah," Devita mengambil sandwichnya dan mulai menikmati sandwich isi yang ada di tangannya itu.


"Kau tidak makan?" tanya Devita, dia menatap lekat Laretta.


"Aku sudah makan tadi, sekarang aku masih merasa sangat kenyang." kata Laretta, sebelumnya memang Laretta sudah lebih dulu breakfast. Meski hujan deras, tetapi Laretta selalu bangun pagi. Karena memang di pagi hari, Laretta selalu olahraga terlebih dulu.


"Aku sungguh malu karena bangun kesiangan," balas Devita yang merasa tidak enak karena Laretta selalu bangun lebih awal.


"Tidak perlu, Devita. Menurutku, itu adalah hal yang biasa karena cuacanya begitu mendukung." jawab Laretta. " Hemm... Devita bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


Devita menautkan alisnya. "Apa yang ingin kau tanyakan?"


Devita mendesah pelan, " Sebelum aku menjawab, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Laretta?"


"Kau ingin bertanya apa, Devita?" Laretta menatap lekat Devita yang duduk di sampingnya.


"Apa kau masih mencintai Felix? Maaf, sungguh aku minta maaf jika aku bertanya ini. Tapi aku hanya ingin memastikan. Jika kau tidak ingin menjawabnya tidak masalah Laretta. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab pertanyaanku." Kata Devita yang tidak enak. Bagaimanapun dia tidak akan memaksa Laretta untuk menjawab pertanyaan itu.


Laretta tersenyum hangat. " Aku juga tidak tahu, apakah aku masih mencintai Felix atau tidak. Karena saat ini, aku tidak mengerti dengan perasaanku. Di satu sisi aku sangat senang akhirnya Felix bisa menemukan wanita yang baik- baik. Tapi di sisi lain, aku memang sedikit merasakan terluka ketika Felix begitu mengejar Olivia. Aku tahu, aku tidak boleh merasakan ini ketika aku sudah memiliki pria lain yang akan menjadi suamiku. Namun percayalah Devita, kehadiran Angkasa di hidupku benar - benar membantuku melupakan sosok Felix."


"Mungkin aku masih membutuhkan waktu untuk melupakan Felix. Tidak masalah bagiku, untuk merasakan perasaan ini Devita. Karena memang aku yakin, suatu saat perasaan ini akan hilang semua. Aku berharap bisa sepenuhnya mencintai Angkasa di masa depan. Aku melihat Angkasa adalah pria yang baik dan juga tulus. Aku beruntung memilikinya di hidupku."


Devita menyentuh tangan Laretta dengan lembut. Devita senang mendengar ucapan Laretta. "Aku tahu, kau akan memiliki kehidupan yang sangat sempurna dengan Angkasa. Kalian pasangan yang sangat serasi. Kau cantik dan Angkasa juga tampan."


"Sama sepertimu Devita. Kau dan Kakakku juga pasangan yang sangat serasi. Bukan hanya serasi tapi kalian adalah pasangan yang sempurna." ujar Laretta mengulum senyumannya.


Devita mencebik, " Kau ini berlebihan sekali."


Devita terdiam sebentar, lalu dia kembali menatap lekat Laretta. " Hemm, Laretta. Kalau kau ingin tahu tentang Olivia. Sebenarnya aku tahu jika dia juga menyukai Felix. Tapi dia memang belum mengakuinya. Dan apa aku tahu? Olivia memberikan dua syarat kepada Felix." Devita berusaha menjelaskan tentang Olivia.


Laretta mengernyitkan keningnya. " Syarat apa?"


Devita mendengus. "Olivia meminta Felix untuk bertemu dengan Tuan Muda Alvaro dan meminta Felix untuk memberikan bunga berwarna biru dan juga hijau. Kalau kau tanya kenapa Olivia meminta bunga itu. Jawabanku tidak tahu Laretta. Aku juga tidak mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Olivia."


Laretta tersentak. " Maksudmu Kak Alvaro Samudera? Dan bunga mawar biru dan hijau? Kau tidak bercanda kan Devita?"


"Kau benar dia itu Alvaro Samudera. Aku tahu kau pasti juga akan terkejut. Karena aku juga terkejut dengan apa yang di minta oleh sahabatku itu. Pikirannya di penuhi dengan games. Mungkin itu kenapa permintaannya sangat aneh." tukas Devita kesal. Hingga detik ini, dia tidak habis pikir apa yang di lakukan oleh Olivia. Sahabatnya itu, meminta sebuah syarat yang diluar dugaannya.


Laretta terkekeh pelan. " Semoga Felix bisa mendapatkannya, aku akan mendukung sepupu ku menjalin hubungan dengan Olivia."


Devita membuang napas kasar. " Jika Felix tidak menemukan bunga yang di cari oleh Olivia. Aku bersumpah akan mewarnai bunga mawar putih dengan cat berwarna biru dan juga hijau dan memberikannya pada Olivia."


"Tenang Devita, aku juga akan membantumu jika Felix tidak bisa menemukan bunga itu." balas Laretta yang masih terkekeh geli mengingat syarat dari Olivia.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.