Love And Contract

Love And Contract
Setelah Perkelahian



"Felix!" Devita menghunuskan tatapan tajamnya.


"Maaf Devita, aku hanya ingin membalas kesombongan sepupuku ini." Balas Felix seraya mengulum senyumannya. Jujur saja dia tidak menyangka, pria yang menjadi lawan Brayen cukup tangguh. Meski luka di wajah Angkasa lebih banyak daripada Brayen, setidaknya Angkasa mampu bertahan, dan mampu membalas setiap pukulan yang di berikan oleh Brayen. Bahkan Angkasa juga berhasil membuat Brayen tersungkur di lantai.


Brayen dan Angkasa langsung bangkit berdiri. Dengan sisa tenaga yang mereka punya, Brayen memukul Angkasa tanpa ampun. Begitu pun dengan Angkasa, dia berusaha membalas setiap pukulan yang di berikan oleh Brayen.


Hingga perlahan mereka berdua pun mundur, wajah mereka sudah di penuhi luka. Luka Brayen sudah cukup parah tapi tidak sebanding dengan Angkasa, karena luka Angkasa jauh lebih parah dari Brayen.


"Bagaimana? Apa kau masih kurang untuk mengujiku?" Angkasa menyentuh ujung bibirnya yang terus mengeluarkan darah.


Brayen tersenyum sinis. " Kau rupanya cukup mampu untuk membalas setiap pukulanku."


"Kemarin aku mengalah, karena kamu adalah Kakak dari wanita yang mengandung anakku. Sekarang, kau memberikanku kesempatan untuk membalas pukulan. Bukankah itu satu kesempatan emas? Kenapa aku harus menyia-nyiakan kesempatan itu?"seru Angkasa dengan seringai di wajahnya.


"Tidak buruk, Brayen menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Devita melangkah mendekat dan langsung berdiri di hadapan Brayen. " Sudah Brayen, kau sudah terluka. Angkasa juga sudah membuktikan dirinya bisa bertahan. Jangan di lanjutkan lagi. Lukamu harus segera di obati."


Brayen tersenyum tipis. " Aku tidak apa - apa, Devita."


"Tidak apa - apa bagaimana, Brayen! Wajahmu itu sudah penuh dengan darah, kau masih bilang tidak apa - apa! Bagaimana kau ini!" Seru Devita kesal. Kemudian dia menoleh kebelakang menatap Laretta. " Laretta, kau obati Angkasa. Aku akan membawa Brayen masuk ke dalam dan mengobatinya."


Laretta mengangguk, " Ya Devita."


"Brayen, jadi bagaimana? Apa kau akan melepas sahammu di perusahaanku? Lihatlah, wajahmu itu sungguh menyedihkan. Sudah di penuhi dengan luka," Felix terkekeh sengaja meledek sepupunya itu.


"Diam kau! Atau, aku akan menarik semua uangku yang ada di perusahaanmu?"tukas Brayen tajam. Felix mendengus.


"Brayen, sudah!" Devita langsung menarik tangan Brayen dan meninggalkan ruangan itu


Begitupun Laretta yang membawa Angkasa untuk meninggalkan ruangan itu.


Saat Devita dan juga Brayen sudah berada di dalam kamar, Devita meminta Brayen untuk duduk di sofa. Dia mengambil kotak obat yang telah di siapkan oleh pelayan, kemudian dia duduk di samping Brayen dan langsung mengompres luka lebam di wajah suaminya itu dengan sedikit kuat.


"Kenapa kau meminta persyaratan yang tidak masuk akal Brayen!" Devita menekan luka lebam di wajah suaminya dengan sedikit kuat.


"Ah," ringis Brayen kesakitan saat Devita semakin menekan luka lebam di wajahnya.


"Sakit? Jika sudah tahu sakit kenapa kau masih berkelahi seperti ini!" Seru Devita kesal, dia tidak habis berpikir dengan apa yang di pikirkan oleh suaminya ini. Kenapa bisa mengajukan persyaratan seperti itu. Dan hasilnya wajahnya penuh dengan luka.


"Maaf, aku hanya ingin tahu apakah dia bisa melindungi Laretta," jawab Brayen.


Devita mendengus tak suka. " Tapi tidak perlu dengan cara yang seperti ini, Brayen. Aku tidak suka melihatmu seperti ini."


"Maaf sayang," Brayen mengelus lembut pipi Devita.


"Lihatlah sekarang, wajahmu penuh dengan luka. Bagaimana besok, jika kau akan meeting dengan rekan bisnismu? Kenapa kau tidak memikirkan itu!" Cerca Devita yang masih kesal.


Brayen terseyum, dia langsung menarik Devita kedalam pelukannya. " Aku tidak apa - apa. Jika aku meeting dengan rekan bisnisku, aku bisa mengatakan ini adalah sebuah latihan. Tidak masalah, jika aku memiliki luka ini di wajahku, tapi aku sangat yakin, aku masih tetap tampan".


Devita mencebikkan bibirnya, " Siapa yang mengatakan kau masih tampan dengan luka di wajahmu ini!"


Brayen menarik dagu Devita, mencium bibir Istrinya dengan lembut. " Lihat? Aku masih mampu menciummu, meski aku terluka."


Devita mendesah kasar, tatapannya masih menatap kesal Brayen. "Jangan melakukan ini lagi, Brayen. Aku tidak ingin kau terluka seperti ini."


"Maaf, aku tidak akan membuatmu khawatir lagi." Brayen mengecupi puncak kepala istrinya.


Devita mendongakkan kepalanya dari dalam pelukkan Brayen seraya mengelus rahang suaminya. "Lalu, apa kau sudah meloloskan Angkasa? Dia sudah terluka parah olehmu Brayen. Tapi dia juga mampu bertahan."


"Persyaratan pertama dia sudah lolos, dia mampu membalas setiap pukulanku. Aku tidak mempedulikan siapa yang menang dan kalah di antara kami. Aku hanya ingin tahu kemampuannya. Aku ingin pria yang hebat yang bisa melindungi adikku, Laretta." jelas Brayen.


"Aku tahu, kau memang sangat baik, hanya saja, kau itu terkadang sangat menyebalkan." Devita terseyum. "Brayen, kau juga jangan seperti itu pada Felix. Bagaimana pun dia sepupumu."


Brayen membuang napas kasar. "Dia dulu yang memulainya, rasanya aku juga tidak menginginkan dia menjadi sepupuku!"


"Tapi aku juga selalu membantunya ketika dia sedang susah, minggu lalu aku mengirimkan uang 700 juta dollar ke perusahaannya, karena dia sedang membutuhkan tambahan dana, aku selalu membantu sepupuku yang sialan itu!" Seru Brayen.


"Kalian ini selalu bertukar umpatan. Bagaimana kalian ini bisa menjadi sepupu! Dan Kenapa setiap kalian bertemu sudah seperti Tom and Jerry. "


"Sebenarnya aku juga ingin menolaknya, sayang. Aku juga tidak bisa memilih siapa yang menjadi sepupuku. Tetapi jika aku harus memilih di antara Tom and Jerry. Aku lebih suka menjadi Jerry," ucap Brayen datar.


Devita langsung menepuk lengan Brayen "Jangan seperti itu! Sudahlah, lebih baik kau ganti bajumu."


"Ya," Brayen lalu mengecup bibir Devita, lalu beranjak berdiri menuju walk in closet miliknya.


...***...


"Ah," ringis Angkasa merintih kesakitan saat Laretta mengompres luka di wajahnya.


"Apa sakit sekali?" tanya Laretta. Sungguh dia tidak tega melihat keadaan Angkasa. Wajah Angkasa harus di penuhi luka seperti ini.


Angkasa menggeleng pelan "Aku tidak apa - apa. Kau tenang saja, Kakakmu pasti juga merasakan hal yang sama seperti denganku."


"Aku minta maaf atas perbuatan Kakakku, sungguh aku tidak menyangka jika Kakakku akan memberikan persyaratan seperti itu," jawab Laretta, dengan helaan nafas berat.


"Aku rasa, Kakakmu itu hanya ingin melihatmu mendapatkan Pria yang bisa menjagamu. Aku tidak mempermasalahkannya, lagi pula aku mampu bertahan," ucap Angkasa meyakinkan.


"Ya, tapi kalian jadi harus terluka seperti ini." wajah Laretta tampak muram, dia sungguh tidak enak pada Angkasa. Pria itu harus seperti ini karena dirinya.


Angkasa menyentuh tangan Laretta dan menggenggamnya. "Aku tidak apa - apa. Bagi pria, perkelahian seperti ini adalah hal yang biasa,"


"Lukamu bisa sembuh dalam beberapa hari, tapi bagaimana nanti jika kau bertemu dengan keluargamu atau rekan bisnismu?" tanya Laretta yang mencemaskan Angkasa.


Angkasa terseyum tipis. "Keluargaku masih berada di Jepang, mereka akan kembali ke kota B bulan depan. Jadi, kau tenang saja mereka tidak akan melihatku seperti ini."


"Angkasa bisa kita bicara sebentar?" suara Felix berseru dari arah belakang. Membuat Angkasa dan Laretta mengalihkan pandangan mereka.


"Kau ingin bicara denganku?" tanya Angkasa. memastikan.


"Ya" tukas Felix dingin.


"Baiklah, kita bicara di depan." balas Angkasa.


Kemudian Felix dan juga Angkasa sama - sama berpamitan dengan Laretta. Laretta hanya membalas dengan anggukan singkat. Terlihat jelas di mata Laretta, yang bingung kenapa Felix datang menemui Angkasa dan ingin berbicara dengan Angkasa.


...***...


Suara dering ponsel terdengar, Brayen mengalihkan pandangannya menatap ponselnya yang terletak di atas meja. Dia hendak mengabaikannya, namun ponselnya tak kunjung berhenti berdering.


"Brayen, jawablah. Siapa tahu itu penting?" ucap Devita seraya melirik ke arah ponsel Brayen yang terus berdering yang terletak di atas meja.


"Hallo.."


"Brayen, ini aku William. Aku ingin memberitahumu bahwa Elena menghilang dia kabur dari Apartemenku. Apa dia sudah menemuimu?"


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.