Love And Contract

Love And Contract
Kehamilan Devita Dan Kecurigaan Albert



Brayen menatap Devita yang masih memejamkan matanya. Brayen sudah memerintahkan Dokter untuk memindahkan istrinya ke ruang ICU VVIP. Kondisi istrinya masih belum sadarkan diri. Bahkan Brayen tidak mampu melihat istrinya terluka. Kepala yang di perban membuat Brayen terus menyalahkan dirinya. Dia merasa gagal untuk melindungi Istrinya itu.


Brayen duduk di tepi ranjang dia terus menatap istrinya yang masih memejamkan mata. Dia sungguh sangat menyesal karena tadi malam telah mendiamkan Devita. Kini tangan Brayen mengelus dengan lembut perut Devita. Matanya mulai memanas, air mata keluar dari sudut matanya. Dia sangat tersiksa melihat keadaan istrinya saat ini.


Brayen mengecup kening istrinya, dia mengelus dengan lembut pipi Devita. Wajah istrinya kini terlihat begitu pucat. " Sayang, bangunlah, aku tidak bisa melihatmu seperti ini."


"Cepatlah bangun, Sayang. Kau harus kuat demi anak kita." Brayen terus mengelus dengan lembut pipi Devita. Dia menatap penuh harap agar istrinya bisa membuka matanya. " Terima kasih Devita, kau telah memberikanku hal terindah yang belum pernah aku miliki." Brayen kembali mengecup kening istrinya.


"Devita putriku!" Nadia dan Edwin berlari masuk kedalam ruang rawat Devita. Brayen menoleh dan bangun saat melihat mertuanya datang.


"Brayen, apa yang terjadi dengan putriku?" suara Nadia terdengar lirih, air matanya terus berlinang. Dia tidak sanggup lagi untuk melihat keadaan putrinya saat ini. Edwin terus memeluk istrinya dan berusaha untuk menenangkan Istrinya.


"Aku belum tahu, Ma. Aku belum mendapatkan laporan dari Albert sepenuhnya. Sekarang aku sedang menunggu Albert, untuk menyelediki semuanya." raut wajah Brayen begitu muram. Dia terus merasa bersalah karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik


Edwin melangkah mendekat ke arah Brayen. Menepuk pelan bahu menantunya. Saat ini, Edwin sangat tahu jika Brayen merasa bersalah. "Putriku pasti akan baik - baik saja, Brayen. Putriku sangat kuat. Percayalah, aku sangat mengenal putriku dengan baik."


"Devita sedang hamil dan usia kandungannya masih tiga minggu. Aku berjanji setelah ini akan menjaga Istriku dengan baik. Maafkan aku, Pa," Brayen terus menatap istrinya. Edwin tersenyum, kini dia tahu kenapa menantunya itu terus merasakan rasa bersalah. "Selamat, kau akan menjadi seorang Ayah. Jagalah putriku dengan baik." pinta Edwin.


Nadia berusaha untuk menahan air matanya, terlebih saat mengetahui putrinya kini tengah mengandung. Nadia duduk di tepi ranjang, dia terus mengelus dengan lembut rambut panjang putrinya. " Bangun sayang, ini Mama. Mama sudah mendengarnya, kau akan menjadi seorang Ibu. Mama tahu, kau pasti kuat sayang."


"Tuan Brayen," sapa Albert menunduk, lalu melangkah masuk kedalam ruang rawat Devita.


"Tuan Edwin, Nyonya Nadia." sapa Albert,saat tiba di ruangan itu ternyata tidak hanya ada Brayen. Edwin mengangguk singkat. Nadia berusaha tersenyum ramah meski matanya memerah.


"Ada apa, Albert?" tanya Brayen dingin.


"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." jawab Albert.


"Kita bicara di luar," tukas Brayen.


Albert mengangguk patuh, lalu berjalan meninggalkan ruangan.


"Ma, Pa. Aku harus bicara dengan Albert." Brayen berpamitan pada kedua mertuanya. Pergilah, son. Papa dan Mama akan menjaga Devita."


Brayen kini lebih tenang, karena istrinya di jaga oleh mertuanya. Brayen membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan ruang rawat Devita. Sebenarnya, meski mertuanya menjaga istrinya. Hati Brayen tidak sepenuhnya tenang. Dia terus merasa khawatir.


...***...


"Ada apa Albert?" tanya Brayen yang kini sudah ada di hadapan Asistennya itu.


"Tuan, saya sudah memeriksa CCTV di lokasi kejadian Nyonya tertabrak. Saya juga sudah menyalinnya. Apa Tuan ingin melihat langsung?" tanya Albert hati - hati.


"Aku juga ingin melihatnya!" Suara Felix dari arah belakang membuat Brayen dan Albert bersama menoleh. Felix mendekat ke arah Brayen dan juga Albert. " Kita lihat itu bersama Brayen, aku harus membalas perbuatan orang yang telah melukai Olivia!" Tukas Felix dingin.


Rahang Brayen mengeras, dia mengepalkan tangannya dengan kuat, sepanjang melihat CCTV itu. Terlihat jelas, mobil pickup dengan kecepatan penuh ke arah Devita. Olivia mendorong tubuh Devita dan berusaha untuk menyelamatkan istrinya. Brayen memejamkan matanya sesaat, saat melihat istrinya terlempar.


Napas Felix memburu setelah melihat rekaman CCTV itu. Olivia berusaha untuk menyelamatkan Devita. Di sisi lain, Felix sangat senang jika Devita selamat. Tapi kondisi Olivia jauh lebih parah. Bahkan rasanya Felix tidak bisa mengatakan semuanya pada Olivia.


"Dimana sopir yang menabrak istriku!" Seru Brayen menggeram dan menahan amarahnya, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Jika orang yang sudah menabrak istrinya berada di hadapannya sudah pasti Brayen akan membunuhnya di detik ini juga.


"Sopir truk itu sudah mati bunuh diri, Tuan. Dia berhasil selamat, tapi saat polisi berusaha menangkapnya dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan minum racun," jawab Albert, dia masih terus menunduk tidak berani menatap Brayen.


Brayen membuang napas kasar. " Lalu apa yang kau dapatkan? Karena dari CCTV itu sudah terlihat jelas bahwa mobil pickup itu sengaja untuk menabrak istriku!"


"Tuan, saya berjanji akan menemukan pelaku yang sebenarnya. Hingga detik ini saya masih terus menyelidikinya, Tuan." balas Albert. "Tapi ada satu nama yang saya curigai, Tuan. Hanya saja, saya belum menemukan bukti yang lengkap."


"Siapa yang kau curigai!" Kali ini Felix yang lebih dulu menyela ucapan Brayen. Dia sudah tidak bisa lagi menunggu. Felix ingin segera menemui orang yang melukai Olivia.


"Ini berhubungan dengan Gelisa Wilson yang memberikan berita, jika Tuan Brayen melakukan pencucian uang. Gelisa Wilson, sudah berada di kantor polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Setelah penangkapan Gelisa Wilson, saya berusaha untuk mencari keberadaan Lucia dan juga Edgar. Jika Edgar saya sudah mendapatkan informasi jika Edgar Rylan Wilson sedang bertemu dengan pengacara untuk membantu Gelisa. Sedangkan Lucia, hingga detik ini saya belum bisa menemukan keberadaan Lucia. Di hari kejadian Nyonya tertabrak, Lucia tidak berada di rumahnya bahkan tidak ada di butiknya." Albert berusaha menjelaskan dari apa yang telah di curigai. Meski dirinya belum mendapatkan bukti yang lengkap.


Rahang Brayen mengetat, dia mengepalkan tangannya. Napasnya memburu, amarahnya memuncak kala mendengar penjelasan dari Albert yang mencurigai anak dari Gelisa Wilson. Wanita yang berani mencari masalah dengannya. "Temukan Lucia secepatnya! Seret dia di hadapanku! Jika dia yang melakukan semua ini, aku pastikan bukan hanya karirnya yang hancur tapi hidupnya juga aku pastikan hancur!" Seru Brayen menggeram, dia tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Temukan wanita itu Albert! Asistenku akan membantumu. Kali ini aku akan menghabisi wanita yang telah merusak kehidupan Olivia! Aku bersumpah setiap air mata yang di keluarkan oleh Olivia nanti, aku akan membalasnya!" Tukas Felix tajam


"Saya akan segera menemukannya, Tuan." Albert menunduk lalu undur diri dari hadapan Brayen dan juga Felix.


"Brayen, biarkan aku ikut dalam menyiksa wanita yang telah merusak hidup Olivia.


Meski Lucia adalah adik dari temanku, aku tidak perduli. Karena wanita itu telah merusak hidup Olivia! Aku akan membalasnya dengan tanganku sendiri!" Felix menggeram dengan sorot mata yang tajam.


"Bukan hanya dirimu, aku juga akan menghancurkan wanita itu. Wanita itu telah berani melukai istriku! Bahkan anakku hampir terluka karena wanita itu! Dia akan mendapatkan balasan karena telah berani melukai istriku!" Brayen berseru dengan penuh kemarahan dia akan membalas dan membuat Lucia Wilson merasakan penderitaan.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.