
"Apa kita nanti bisa makan siang bersama?" tawar William.
"Tapi-"
"Please, kali ini saja," potong William dengan cepat.
Devita mendesah pelan. Dan berkata, "Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang."
"Terimakasih, Devita,"
Devita menganguk dia langsung meninggalkan ruang kerja William.
Waktunya jam makan siang, dan Devita sudah menyelesaikan pekerjaannya. Hingga detik ini, Devita tidak mengaktifkan ponselnya. Lagi pula untuk apa, Brayen tidak berhak untuk mengatur hidupnya. Brayen juga harus memiliki batasan. Itulah yang Devita pikirkan.
Sesuai janji Devita dan William. Mereka akan makan siang bersama. Devita sudah menunggu di salah satu restoran terdekat Dixon's Group. Untunglah Olivia bisa mengerti, jika Devita akan makan siang bersama dengan William. Devita sudah berada di restoran dan duduk, dia sudah memesan sirloin steak untuknya. Dia juga memesan tenderloin steak untuk William.
Tidak lama kemudian, William yang baru saja tiba di restoran, dia sudah melihat Devita yang duduk di ujung, dia langsung berjalan mendekat ke arah Devita.
"Devita? Apa kau sudah menunggu lama?" William menarik kursi lalu, dia duduk di hadapan Devita.
Devita melihat ke arah William, yang duduk di hadapannya. " Tidak apa - apa William, aku juga baru saja datang,"
"William, aku sudah memesankan makanan untukmu. Jika kau tidak menyukainya, kau bisa memilih lagi," kata Devita.
"Aku tidak pemilih, aku pasti akan menyukai makanan yang sudah kau pilihkan," balas William.
Obrolan mereka terhenti ketika pelayan mengantarkan makanan untuk mereka. William dan Devita kini mulai menikmati makanan yang telah terhidangkan di atas meja.
"Devita, apa kau kesini membawa mobil?" tanya William.
"Aku selalu membawa mobil. Jika aku tidak membawa mobil aku harus naik apa?" jawab Devita yang membuat William tersenyum.
"Waktu itu, Brayen menjemputmu, aku pikir hari ini kau di jemput oleh Brayen lagi." kata William.
Seketika Devita menjadi kesal ketika mendengar nama Brayen. Namun di berusaha tidak menunjukkannya pada William.
"Tidak, Brayen menjemputku waktu itu, karena dia ingin bertemu denganmu," jawab Devita, "Lagi pula, aku sudah terbiasa membawa mobil sendiri."
William menganguk paham. "Apa rencanamu setelah lulus kuliah nanti?" tanya William.
"Sebenarnya aku ingin membuka perusahaan event organizer. Tetapi, sepertinya Brayen memintaku untuk membangun bisnis di bidang properti. Ayahku juga pasti memintaku, untuk meneruskan bisnis keluarga. Aku tidak memiliki pilihan lain, karena aku memang adalah anak tunggal. Mau tidak mau aku harus menuruti keinginan kedua orang tuaku." jawab Devita. Dia memang tidak memiliki pilihan. Sebagai anak tunggal, dia pasti harus menuruti keinginan orang tuanya.
William menaikan sebelah alisnya. Menatap lekat manik mata Devita. " Kau bahagia, menuruti keinginan orang tuamu?" tanya William.
Devita tersenyum, " Aku yakin setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku tahu, orang tuaku juga menginginkan yang terbaik untuk hidupku," jawab Devita.
"Orang tuamu pasti sangat bangga memilikimu. Kau sangat berbeda dengan wanita yang pernah aku kenal. Aku tidak melihat kesombongan di dirimu. Bahkan kini, perusahaan keluargamu yang sudah hebat pun, kau tetap rendah hati," ucap William dengan tatapan kagum ke arah Devita.
"Tidak, kau terlalu berlebihan. Aku tidak seperti itu, lagi pula, aku tidak memiliki alasan untuk sombong. Aku tidak memiliki apapun, William. Jika hanya menyombongkan hasil orang tuaku. Aku hanya akan memalukan nama Ayahku yang sudah bekerja dengan keras. Lalu, jika menyombongkan milik Brayen, aku hanya akan membuat Brayen malu saja. Aku masih kuliah, banyak hal yang belum aku capai." jelas Devita. Dia memang tidak memiliki apapun untuk di sombong kan. Karena semuanya bukan miliknya.
"Aku yakin, banyak pria yang menyukaimu. Banyak pria yang menginginkanmu menjadi kekasihnya," balas William.
"Kau belum pernah memiliki seorang kekasih?" tanya William menatap tak percaya ke arah Devita. Bagaimana mungkin gadis secantik Devita belum memiliki kekasih. Padahal dia sangat yakin, banyak pria yang menyukai dan mengharapkan Devita menjadi kekasihnya.
Devita menggelengkan kepalanya, dan berkata, " Aku tidak pernah memiliki kekasih karena kedua orang tuaku yang selalu melarangnya."
"Orang tuamu, melarang mu memiliki kekasih, tapi orang tuamu langsung menjodohkanmu dengan Brayen," balas William yang tak mengerti.
Devita mengulum senyumannya dan berkata, " Kau benar, mungkin karena menurut orang tuaku Brayen adalah pria yang baik. Dia juga berasal dari keluarga yang baik. Ayah Brayen dan Ayahku sudah lama bersahabat. Mungkin, jika aku memiliki seorang Kakak. Mereka, akan menjodohkan Brayen pada Kakakku. Tapi, karena aku anak tunggal, jadi aku yang jodohkan oleh Brayen.
"Lalu, apa selama ini Brayen mencintaimu?" tanya William dengan menatap serius Devita.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Devita balik tanpa menjawab pertanyaan William.
"Tidak apa, aku hanya bertanya," jawab Brayen.
"Brayen sangat baik, dia menjalankan kewajibannya menjadi suamiku. Dia mencukupi segala kebutuhanku, dan membelikan semua yang aku inginkan. Meskipun terkadang terlalu berlebihan. Tapi, aku menghargai itu," balas Devita. "Tapi jika kau bertanya Brayen mencintaiku, jawabannya aku tidak tahu. Kami hanya menjalani saja, kedepannya bagaimana, aku juga tidak tahu." lanjut Devita. Dia tidak akan mungkin menceritakan pada William tentang perjanjiannya. Hanya saja dia lebih memilih menjalani semuanya dengan air yang mengalir.
William menganguk paham dan berkata, "Ya, cinta memang bisa tumbuh seiring berjalannya waktu,"
"William, sepertinya aku harus masuk duluan ke kantor. Pasti Olivia sudah mencari ku," dia melihat arlojinya, kini sudah pukul tiga sore. Itu artinya dia sudah menghabiskan waktu makan siang terlalu lama. Devita tidak enak pada karyawan yang lainnya.
"Kau tidak ingin masuk bersamaku?" tawar William.
"Tidak, aku akan masuk ke kantor lebih dulu darimu," jawab Devita. "Aku juga tidak ingin orang lain memikirkan hal yang tidak - tidak tentang kita."
"Baiklah, aku mengerti," jawab William.
"Kalau begitu, aku duluan." ucap Devita.
William tersenyum, dan berkata " Hati - hati Devita,"
Devita mengangguk samar, dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Brayen.
"Andai saja, aku bertemu terlebih dahulu denganmu Devita, aku pastikan saat itu kau sudah menjadi milikku," gumam William saat melihat Devita sudah hilang dari pandangannya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.