
Devita sangat kecewa kenapa Brayen tidak mempercayai dirinya. Bagaimana jika hubungan bisa terjalin jika salah satunya tidak percaya. Itu artinya Brayen tidak pernah tahu bagaimana perasaan Devita kepadanya. Selama ini sama saja dengan Brayen tidak pernah percaya dengan perasaan Devita padanya. Berkali - kali Devita mengatakan jika hanya ada Brayen di hatinya. Tapi ternyata Brayen tidak sepenuhnya mempercayai dirinya.
Sepertinya Devita memang membutuhkan waktu untuk menyendiri. Menenangkan pikirannya dari semua masalah yang ada. Tidak hanya itu, dia juga harus memikirkan kembali hubungannya dengan Brayen. Rasanya tidak mungkin hubungan terjalin, jika salah satunya tidak saling percaya. Pilihan Devita sudah tepat, pergi menghindar. Meski hanya untuk beberapa hari. Lagi pula Brayen juga tidak ingin berbicara dengannya. Terakhir Brayen mengatakan padanya sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan.
Terdengar bell berbunyi. Devita mengerutkan keningnya saat mendengar bell berbunyi. "Aku tidak memesan makanan siapa yang datang?" gumam Devita.
Tidak menunggu lama Devira beranjak dari ranjang, lalu melangkah ke arah pintu dan langsung membuka pintu. Seketika Devita terdiam, saat melihat sosok pria yang ada di hadapannya. Namun dengan cepat Devita menutup pintunya. Tapi nyatanya, pria itu sudah lebih dulu menahan pintu.
"Apa yang kau inginkan, Brayen! Pergilah!" Seru Devita.
Brayen mendorong tubuh Devita masuk kedalam kamar, lalu menutup pintu kamar hotel dengan kakinya.
"Kita harus berbicara. Devita, aku ingin berbicara tidak seperti ini." Brayen mendekat, namun Devita langsung mundur.
"Bicara? Apa tidak terbalik? Bukankah kau yang tidak ingin berbicara denganku? Kenapa kau datang sekarang?" Devita menatap dingin Brayen. Terlihat dirinya berusaha untuk mengendalikan emosinya.
"Aku ingin kita membicarakan ini, Devita. Maafkan aku, sayang," ucap Brayen dengan penuh penyesalan.
"Lebih baik kau pulang sekarang, Brayen. Aku sudah mengatakan tadi di kantormu, aku hanya membahas denganmu satu kali. Tidak untuk kedua kali. Aku mohon kau pulang," ucap Devita dengan suara tenang. Bukan ingin mengusir Brayen, tapi saat ini dirinya membutuhkan waktu untuk sendiri.
Brayen menatap dalam mata Devita. "Aku ingin kita membahas ini, Devita. Aku tidak ingin kita bertengkar. Maafkan aku, Devita." suara Brayen terdengar begitu parau.
Devita mundur dan menjauh dari Brayen. Matanya sudah berkaca-kaca, dia sudah berusaha untuk tidak meneteskan air matanya. "Brayen, aku tidak ingin membahas apapun. Pulanglah kerumah kita harus menenangkan diri kita masing-masing."
"Tidak Devita, aku tidak bisa! Aku tidak mau meninggalkanmu di sini. Kalau aku pulang, kau juga harus pulang. Kita harus pulang bersama!" Tukas Brayen tegas. Tatapannya terus menatap lekat Devita, yang kini menjauh darinya.
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Tidak bisa, aku masih membutuhkan waktu sendiri. Aku tidak bisa di paksa, Brayen. Semuanya terlalu menyakitkan. Kita membutuhkan waktu untuk memikirkan ini semua dengan baik, Brayen. Kita tidak bisa bersatu jika tidak ada kepercayaan,"
"Devita, aku bersumpah. Aku bukan tidak ingin mempercayaimu. Aku hanya terlalu takut kau meninggalkanku. Aku takut kau kembali pada pria di masa lalumu. Aku takut kau berpaling dariku," kata Brayen dengan suara yang parau. Dia menundukkan kepalanya. Dirinya memang terlalu takut kehilangan Devita, dia tahu cara yang dia lakukan itu salah hingga melukai perasaan istrinya.
Devita terdiam sesaat, dia menatap Brayen yang terlihat begitu menyesal. Namun, hatinya begitu terluka dengan semua ini. Hingga kemudian Devita menjawab dengan tegas. "Brayen, aku sudah memikirkan ini. Kita memang membutuhkan waktu untuk berpikir. Aku tidak ingin membahas masalah tentang kita, tapi aku ingin kita berpisah untuk sementara. Aku ingin mayakinkan hatiku."
Mendengar ucapan Devita, sontak membuat Brayen terkejut. " Apa maksudmu, Devita!"
"Kita membutuhkan waktu untuk sama - sama memikirkan ini. Aku sama sekali tidak ingin pulang kerumah. Aku membutuhkan ruang tersendiri untuk aku memikirkan semuanya. Jadi, lebih baik kau pulang sekarang, Brayen. Aku tidak ingin membahas apapun denganmu." suara Devita terdengar tegas.
"Jika kau tetap memaksa, maka aku akan mengurus surat perceraian kita, Brayen. Tidak ada lagi yang bisa di pertahankan dalam hubungan kita. Semuanya harus sesukamu, dan aku harus menuruti setiap keinginanmu. Aku harus menentukan pilihanku. Jadi, jika kau tetap memaksaku, mungkin berpisah yang sesungguhnya adalah hal yang terbaik untuk kita!" Seru Devita matanya semakin berkaca - kaca setelah mengatakan ini. Dia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya di depan Brayen. Hatinya begitu sakit dan sesak mengingat semuanya.
Kini Brayen dan Devita saling menatap dalam satu sama lainnya. Bahkan, mereka saling terdiam setelah Devita mengucapkan perkataan itu. Bagai tersambar petir, Brayen bahkan tidak mampu untuk berkata - kata.
"Apa maksudmu, Devita?" tanya Brayen yang terlihat begitu panik, mendengar ucapan Devita.
"Brayen, aku sudah mengatakan kepadamu. I need space dan please give me. Jangan melarangku untuk saat ini. Aku tidak bisa menurutimu untuk saat ini, Brayen. Banyak hal yang harus aku pikirkan baik - baik tentang kita. Aku membutuhkan waktu," jelas Devita dengan suara yang tenang. Terlihat kesedihan begitu dalam di wajahnya.
"Aku tahu aku salah, Devita. Tapi tidak menghukumku dengan cara seperti ini," ucap Brayen dengan suara yang lemah. Dia terus menatap dalam mata Devita yang sudah terlihat memerah. Dia tahu, istrinya kini mencoba untuk menahan diri agar tidak menangis. Setiap Brayen melangkah untuk maju tapi Devita memilih untuk mundur dan menjauh dari Brayen.
Perlahan air mata Devita membasahi pipinya, dengan cepat dia langsung menghapusnya. "Aku tidak menghukummu, Brayen. Aku hanya ingin menenangkan diri. Aku membutuhkan ruang waktuku menyendiri untuk menerima semuanya. Meskipun kau mengatakan sekarang kau menyesal dan juga kau meminta maaf atas semuanya, itu tetap tidak bisa membuatku melupakan semuanya dengan mudah,"
"Hatiku terlalu terluka, aku tidak mungkin mudah untuk melupakan semuanya, Brayen. Aku terlalu sakit jika mengingat semuanya. Kau tidak berada di posisiku. Tapi mungkin kau bisa membayangkan ketika berada di posisiku, bagaimana bisa kau menerima semuanya," lanjutnya dengan suara yang bergetar. Devita berusaha keras untuk tidak meneteskan air mata. Namun, sia - sia. Karena air matanya terus berlinang membasahi pipinya.
"Devita aku bersumpah, jika kau membahas tentang wanita itu, Demi Tuhan, aku mabuk dan aku tidak mengingat apapun tentang wanita itu, Devita. Ya, aku akui aku mengingat dia mengantarkan aku pulang, tapi setelah itu aku sudah tidak mengingatnya lagi," Brayen mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Akibat mabuk dia benar - benar tidak ingat apa yang dia lakukan. Bahkan dia tidak tahu, jika dirinya berciuman dengan wanita lain di depan istrinya sendiri.
Devita menggeleng pelan dan tersenyum getir. " Lebih baik, kau pulang Brayen. Seperti yang aku katakan tadi. Aku ingin membutuhkan waktu untuk menyendiri. Banyak hal yang harus kita pikirkan masing-masing. Kau, lebih baik pulang,"
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.