
Hari ini adalah hari yang di nantikan oleh Laretta dan juga Angkasa. Segala persiapan pernikahan sudah di rancang dengan begitu sempurna. Brayen khusus meminta wedding organizer yang dulunya di pakai ketika menikah dengan Devita untuk mengurus pernikahan Laretta dan juga Angkasa.
Kini Devita tengah menatap gaun yang dia pilih kemarin. Gaun berwarna navy yang telah di siapkan oleh Viona sangat menawan. Tidak terlalu seksi namun gaun ini terlihat begitu berkelas.
Tidak ingin membuat Brayen menunggu lama, Devita langsung mengganti pakaiannya dengan gaun itu. Kemudian, memoles wajahnya dengan menggunakan make up tipis. Devita menggulung rambut pirangnya ke atas dengan jepitan mutiara yang sengaja dia pasang untuk memperindah tatanan rambutnya.
Brayen yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, di terus memperhatikan istrinya yang tengah berias. Setelah melihat istrinya telah selesai berias, Brayen langsung mendekat ke arah Devita.
"Kau itu selalu cantik, sayang" Brayen mengecup ceruk leher Devita. Tanpa di duga, belum sempat Devita menjawab Brayen sudah memasangkan kalung berlian A Heritage in Bloom.
Devita membulatkan matanya ketika Brayen memasangkan kalung berlian di lehernya. Tangan Devita mulai menyentuh kalung berlian yang di pasangkan oleh suaminya itu. Seketika wajah Devita berubah menatap kalung berlian yang kini sudah terpasang di lehernya.
Devita menelan salivanya susah payah. Bagaimana tidak? A Heritage in Bloom menjadi salah satu kalung berlian termahal. Devita sangat tahu, kalung ini di desain oleh ahli pahat berlian asal China bernama Wallace Chan. Kalung ini memiliki ornamen kupu - kupu sebagai tanda cinta dan kelelawar sebagai tanda keberuntungan pemiliknya.
"B_Brayen kalung ini?" Devita tidak mampu lagi untuk berkata - kata. Dia tahu dirinya begitu mencintai perhiasan berlian. Tapi, Devita tidak mungkin membeli kalung seperti ini. Karena harganya yang terlalu mahal, dia tidak ingin terlalu membebani suaminya. Meski Devita tahu, Brayen pasti akan selalu menuruti keinginan dirinya. Namun, tetap saja Devita tidak bisa melakukan itu.
Brayen membalikkan tubuh Devita, dia menatap lekat manik mata istrinya. Kemudian dia mengelus lembut pipi istrinya. "Aku sudah menduga, kalung ini akan sangat cantik saat kau memakainya, sayang."
"Brayen, kenapa kau membelikanku kalung? Aku sudah banyak memiliki kalung berlian." ujar Devita. "Dan kalung yang kau beli ini terlalu mahal Brayen. Aku tidak mungkin menerima kalung yang semahal ini."
"Tidak ada kata mahal untuk istriku." jawab Brayen menekankan. "Aku membelikanmu kalung ini, karena kau belum memiliki jenis kalung yang seperti ini."
Devita mendesah pelan. "Tapi kalung yang kau beli itu terlalu mahal Brayen. Aku pernah melihat kalung ini dengan harga yang begitu fantastis. Kau itu terlalu membuang uangmu Brayen."
"Aku tidak pernah membuang uang, Sayang." Brayen mengelus lembut pipi Devita. "Semua yang aku lakukan hanya demi membahagiakan istriku."
"Tapi ini terlalu mahal Brayen." Devita menghela nafas panjang. Bahkan Devita tidak menginginkan kalung ini. Tapi Devita lebih memilih untuk mempergunakan uangnya dengan bijaksana. Dia sangat tahu, suaminya itu selalu mampu membelikan apapun untukny. Hanya saja, Devita lebih memilih untuk menggunakan uang dengan baik demi masa depan anak - anaknya nanti. Namun tidak mungkin suaminya itu menuruti dirinya. Karena bagi Brayen, dia sangat mampu untuk menghidupi Istri dan anaknya. Brayen selalu memastikan, jika anak dan istrinya tidak akan pernah merasa kekurangan.
Brayen memeluk pinggang Devita, merapatkan tubuhnya pada tubuh Istrinya. "Jangan lagi membahas tentang harga yang mahal padaku, Sayang. Karena aku selalu memberikan apapun padamu. Selama ini, aku bekerja keras, memang hanya untuk dirimu dan juga anak - anak kita nanti. Aku akan memastikan kalian akan memiliki kehidupan yang sempurna. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian kekurangan meski hanya sedikit."
Devita tersenyum hangat. Dia mengelus dengan lembut rahang suaminya, lalu memberikan kecupan di rahang suaminya itu. "Terima kasih, selalu membuatku bahagia selalu ada di sisimu. Aku sangat mencintaimu, dengan caramu yang mencintaiku."
Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu. "Kewajibanku adalah membahagiakanmu. Melihatmu tersenyum adalah tempat tujuanku."
Devita kembali tersenyum, dia menempelkan hidungnya ke hidung Brayen, lalu menggeseknya pelan. "Lebih baik kita segera menemui Laretta. Aku ingin melihatnya."
Brayen menggangguk. "Ya, kita kesana."
"Tunggu." Devita menahan tangan Brayen, ketika suaminya itu ingin berjalan meninggalkan ruangan.
"Ada apa, sayang?" Brayen menatap manik mata Devita.
"Aku harus merapikan dasimu." Devita langsung merapihkan dasi Brayen. Tubuh suaminya itu begitu sempurna dengan Tuxedo berwarna hitam, yang memperlihatkan dada bidang dan otot lengan yang sangat indah.
"Kau sangat tampan." puji Devita, sembari menepuk pelan dada bidang Brayen.
Brayen tersenyum, karena selama ini sangat jarang jika istrinya itu memuji dirinya secara langsung. Brayen menarik dagu Devita, memberikan ******* kecil di bibir istrinya. "Kau juga sangat cantik."
Devita membalas senyuman suaminya, tatapannya menatap lembut suaminya itu. Kemudian dia memeluk lengan Brayen dan berjalan meninggalkan ruang rias itu menuju ke ruang rias Laretta.
Saat Brayen dan Devita berada di lantai bawah, mereka berpapasan dengan Olivia dan juga Felix yang baru saja tiba. Devita menatap penampilan Olivia yang sungguh sangat seksi dan menawan dengan balutan gaun yang berwarna merah. Make Up blod Olivia, membuat wanita itu terlihat sangat seksi.
"Devita, kau cantik sekali." Olivia menatap kagum ke arah Devita. "Astaga Devita, kau memiliki kalung A Heritage in Bloom. Kalung dengan harga yang sangat fantastis itu."
"Kau juga sangat cantik dan juga seksi Olivia." jawab Devita. "Ya, kalung ini di berikan oleh Brayen."
"Kau sungguh Nyonya Mahendra! Kau mampu memilki kalung yang termahal ini!" Seru Olivia dengan tatapan kagum dan tak percaya.
"Jangan berlebihan!" Balas Devita.
"Olivia, aku akan membelikan kalung termahal untukmu," sambung Felix yang tak terima.
Olivia mencebik, "Kau ini berlebihan sekali. Aku hanya memuji Devita saja. Sudahlah lebih baik kita itu menemui Laretta."
Devita menggelengkan kepalanya dan tersenyum dan mendengar perdebatan Olivia dan juga Felix. Kemudian, Devita dan juga Brayen melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruang rias Laretta. Begitu pun dengan Olivia dan Felix yang juga mengikuti Brayen dan juga Devita.
...***...
Kini Laretta mematut cermin, dirinya baru saja selesai di rias. Gaun pengantin yang dia pakai hari ini, sukses membuat perutnya nyaris tidak terlihat. Gaun yang longgar di bagian perut, memang sengaja Laretta pilih. Tujuan Laretta memilih gaun ini bukan karena ingin menutupi kehamilannya. Tapi karena dia ingin merasa nyaman, kini kehamilannya sudah memasuki bulan yang kelima, perutnya sudah membuncit. Itu yang membuat Laretta untuk memilih gaun pengantin yang longgar di bagian perutnya.
"Nona Laretta, anda terlihat sangat cantik." puji Viona sang desainer yang sebelumnya membantu Laretta, memakai gaun pengantinnya.
Laretta tersenyum. "Apa aku tidak terlihat gemuk? Aku sungguh tidak percaya diri. Kehamilanku ini, membuat berat badanku naik menjadi lima kilogram."
"Kau itu sungguh berlebihan Viona " balas Laretta. "Tapi, aku berharap apa yang kau katakan itu benar. Angkasa akan menyukai penampilanku."
"Saya yakin, Tuan Angkasa pasti akan menyukai penampilan anda," jawab Viona dengan senyum hangat di wajahnya.
"Laretta?" panggil Devita yang sudah berdiri di ambang pintu bersama dengan Brayen. Dia memeluk lengan Brayen, melangkah mendekat ke arah Laretta. Bersamaan dengan Olivia dan Felix yang juga ikut masuk kedalam ruangan.
"Devita? Olivia? Kalian cantik sekali." kata Laretta dengan tatapan yang kagum melihat penampilan Devita dan juga Olivia hari ini.
Devita tersenyum. "Kau juga sangat cantik Laretta."
"Ya, Devita memang benar. Penampilanmu itu sungguh sangat mengagumkan," sambung Olivia.
"Akhirnya aku bisa melihatmu menikah dengan Angkasa." kata Felix sambil mengelus lembut pipi Laretta.
"Terima kasih Felix," balas Laretta. "Aku juga mendoakan yang terbaik untukmu dan juga Olivia."
Felix tersenyum. "Terima kasih."
"Kak, apa kau tidak ingin memuji penampilanku?" kata Laretta mengerutkan bibirnya menatap Brayen.
"Tanpa harus memujimu, kau adalah adikku. Kau memang sudah terlahir menjadi wanita yang sempurna," tukas Brayen.
Laretta tersenyum hangat. "Kau juga Kakakku, kau lahir menjadi pria yang sangat tampan."
Brayen tidak menjawab, dia mengelus pelan pipi adiknya itu.
"Sayang, apa kau itu sudah siap?" David kini melangkah masuk kedalam ruangan. Dia melangkah mendekat ke arah putrinya. "Sudah waktunya upacara pernikahanmu."
"Ya, Dad. Aku sudah siap." jawab Laretta.
David mengulurkan tangan ke arah putrinya. Laretta langsung menyambut uluran tangan dari David. Kemudian, mereka semua kini mulai berjalan meninggalkan ruangan menuju ke tempat acara berlangsung.
...***...
Laretta tampak gugup, dia mengeratkan tangannya yang memeluk lengan Ayahnya saat memasuki ballroom hotel. Kilatan kamera memenuhi ballroom hotel ketika Laretta dan juga Ayahnya memasuki ballroom hotel. Sama seperti pernikahan Brayen dan juga Devita, pernikahan Angkasa dan juga Laretta tidak lepas dari sorotan para media.
Laretta mengatur napasnya, dan berusaha untuk tenang. Meski tidak bisa di pungkiri, jika dirinya itu begitu gugup. David melirik sedikit ke arah Laretta, dia memberikan ketenangan pada putrinya. Pandangan Laretta kini melihat ke arah Angkasa yang terlihat begitu tampan dengan Tuxedo berwarna putih. Sesaat Laretta dan Angkasa saling menatap satu sama lainnya. Terlihat senyuman di bibir Angkasa terukir ketika melihat ke arah Laretta. Angkasa begitu terpana melihat kecantikan yang terpancar di wajah Laretta.
...***...
Angkasa baru saja telah menyelesaikan kalimat akad, hanya dengan satu tarikan napas. suaranya terdengar lantang seolah tidak ada keraguan dihatinya.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!"
"Alhamdulilah.."
Angkasa menghembuskan nafas panjang ia tersenyum begitu tipis ketika merasakan hatinya begitu lega.
"Selamat Nak, sekarang kamu sudah resmi menjadi suami Laretta. Jagalah putriku, bahagiakan putriku, dan sayangi dia sepenuh hatimu." kata David dengan tatapan yang tak lepas menatap Angkasa.
Angkasa tersenyum, lalu mengangguk samar. "Aku akan menjaga dan membahagiakan putrimu."
Angkasa tersenyum, dan menatap penuh kasih sayang ke arah Laretta. Kini wanita yang ada di hadapannya telah resmi menjadi istrinya. Kemudian Angkasa memaikan cincin pernikahan di jari manis Laretta dan begitu pun dengan Laretta, dia memakaikan pada jari manis Angkasa. Kemudian Angkasa mencium kening Laretta.
Sura tepuk tangan memenuhi ballroom hotel. Kilatan kamera tidak berhenti memotret Angkasa dan juga Laretta sepanjang upacara. pernikahan.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.