
Brayen mengulum senyumannya, dia menarik tangan Devita membawanya masuk kedalam pelukannya. "Aku akan meminta pelayan untuk membawakan steak untukmu. "Brayen mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya, lalu menghubungi pelayan untuk membawa makanan kedalam kamar.
Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang di pesan oleh Brayen. Tidak hanya steak tapi Brayen juga meminta pelayan membawakan cake. Mengingat istrinya itu pencinta segala jenis cake.
Ketika makanan sudah terhidang di atas meja, tanpa menunggu lama Devita langsung menikmati makanan yang sudah tersedia itu. Belakangan terakhir, nafsu makan Devita semakin bertambah.
"Brayen, kau tidak makan?" tanya Devita yang melihat suaminya hanya meminum kopi.
"Aku sudah makan tadi, sayang" jawab Brayen.
Devita mengangguk samar. "Brayen, kemarin Olivia menghubungiku. Dia bilang, setelah kelulusan kita nanti dia akan kembali Kanada."
"Jadi, dia akan meninggalkan Indonesia?" Brayen meletakkan gelas yang berisi kopi itu di atas meja. Tangannya menyelipkan rambut Devita ke belakang telinga istrinya itu.
"Tidak," Devita menggelengkan kepalanya. "Olivia bilang hanya satu atau dua bulan saja di Kanada. Tapi-"
"Tapi?" Brayen mengerutkan keningnya. "Tapi apa sayang?"
"Tapi sebenarnya aku juga ingin pulang ke Kanada. Aku sudah lama tidak kembali kesana Brayen. Sejak aku lulus SMA aku sudah tidak lagi mengunjungi Kanada." Ujar Devita. "Apa kau mengizinkanku, jika aku meminta untuk pergi ke Kanada?"
"Kau sedang hamil muda, sayang. Kandunganmu juga masih lemah" Brayen mengelus lembut rambut panjang istrinya. "Kanada cukup jauh. Terlebih orang tuamu sedang di kota K. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita."
Devita mendengus. "Tidak sekarang Brayen. Kandunganku juga masih tiga bulan. Maksudku ketika kandunganku memasuki bulan kelima aku ingin pergi ke Kanada. Aku merindukan sekolahku. Aku juga merindukan teman - temanku yang ada di sana. Dulu, saat aku ingin pergi ke Kanada orang tuaku melarangnya. Mereka bilang, aku harus fokus pada kuliahku. Tapi kenyataannya aku di jodohkan denganmu. Semua rencanaku pun berubah. Terlebih sekarang aku hamil. Ruang gerakku semakin terbatas."
Devita mengerutkan bibirnya, dia mengatakannya dengan nada yang kesal. Devita bahagia menikah dengan Brayen dan memiliki anak, tapi Devita masih mengingat segala mimpinya yang hingga detik ini belum bisa terwujud.
"Apa kau menyesali kehamilanmu?" Brayen menatap serius ke arah Devita, menunggu istrinya itu menjawab.
Devita menghela nafas dalam, dia beranjak dari tempat duduknya lalu duduk di atas pangkuan Brayen. Dia mengelus lembut rahang Brayen. "Menikah denganmu dan mengandung anakmu adalah hal yang paling indah. Aku mencintaimu dan juga anak kita. Aku tidak ingin kau salah paham, sayang. Aku hanya merindukan negara di mana aku di besarkan sejak kecil. Aku lahir di sana, aku sungguh ingin kesana. Tapi, kalau kau tidak memperbolehkanku, aku tidak akan pernah marah. Aku akan menurut padamu."
Brayen tersenyum tipis, dia membenarkan posisi Devita yang sedang duduk di pangkuannya agar lebih nyaman. Dia merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya. Kemudian dia menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu. "Aku akan bertanya pada dokter, jika kondisimu memungkinkan kita akan mengujungi Kanada."
Devita memeluk leher Brayen, dia memberikan banyak kecupan di rahang suaminya. "Terima kasih, sayang."
"Ya sudah, lebih baik kau beristirahat. Aku harus mandi." jawab Brayen.
Devita mengangguk patuh. "Ya setelah kenyang aku mengantuk."
Tanpa menjawab lagi, Brayen beranjak dari tempat duduknya. Devita memekik terkejut, saat Brayen dengan mudahnya membopong dirinya. Brayen berjalan menuju ke arah ranjang, dia membaringkan tubuh Devita di atas ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu dan memberikan kecupan di kening Devita. Setelah itu, Devita melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar mandi.
Melihat Brayen sudah pergi, Devita memilih untuk memejamkan matanya.
...***...
Keesokan harinya, Devita sudah bangun lebih awal. Seperti biasa dia menyiapkan pakaian yang akan di pakai Brayen. Pilih Devita jatuh pada jas berwarna silver. Jas ini, dia yang beli ketika tengah berlibur di Las Vegas.
Brayen yang melangkah masuk kedalam walk in closet, dia mendapati istrinya yang tengah memilih arloji untuknya. Dia melangkah mendekat dan langsung memeluk Devita dari belakang.
"Brayen! Kau mengejutkanku!" Tukas Devita. Dai terkejut ketika ada yang memeluknya dari belakang.
"Morning." Brayen mengecupi leher Devita. "Jika ada yang memelukmu seperti ini, itu pasti aku sayang."
Devita mendesah pelan, dia membalikkan tubuhnya dan menghadap Brayen. "Ya, i know. Tapi kau tetap mengejutkanku. Aku sedang memilih arloji yang akan kau pakai hari ini."
"Pilihankan aku jeans dan kemeja saja. Hari ini aku tidak akan ke kantor." jawab Brayen sambil memberikan kecupan singkat di bibir istrinya itu.
"Kita akan kerumah kedua orang tuaku." jawab Brayen dengan santai.
"Kita? Maksudmu aku juga ikut?" tunjuk Devita pada dirinya sendiri.
Brayen menarik dagu Devita, menggigit kecil bibir ranum istrinya itu. Devita merintih kesakitan ketika Brayen mengigit bibirnya.
"Sakit Brayen!" Keluh Devita kesal.
"Salahmu sendiri, kenapa bertanya seperti itu. Tentu aku akan membawamu.Kau istriku. Sejak aku menikah denganmu, aku tidak pernah pergi kerumah keluargaku hanya sendiri." tukas Brayen.
Devita terkekeh dia mengelus rahang Brayen. "Baiklah, aku akan bersiap - siap. Setelah itu kita kan sarapan di bawah. Kasihan Laretta sendirian."
Brayen mengangguk. "Ya, cepatlah bersiap."
Devita melangkah menuju ke arah wardrobe, dia memilihkan pakaian untuk Brayen. Setelah selesai memilihkan pakaian untuk Brayen, dia langsung mengganti pakaiannya dengan dress berwarna mustard tanpa lengan. Devita membuka koleksi sepatu heelsnya, dia mendesah pelan sudah lama sekali dirinya tidak memakai heels.
Saat Devita hendak menyentuh Christian Louboutin. Terdengar suara Brayen menegurnya memberikan peringatan. Devita mencebik kesal, padahal dia hanya memegang sepatu heelsnya saja tidak boleh. Brayen sangat berlebihan!
Devita akhirnya mengambil flat shoes bermodel Joy Ballerina dari brand Louis Vuitton. Lalu dia langsung memakainya. Setelah selesai berias, Devita melangkah menghampiri kearah Brayen yang kini sudah rapih dengan jeans dan kemeja yang berwarna navy yang begitu pas di tubuh tegapnya.
"Sudah selesai?" Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* dengan lembut bibir Istrinya itu. "Kenapa kau sangat cantik, hm?"
"Jangan merayu!" Cebik Devita.
"Aku bicara fakta sayang." bisik Brayen tepat di depan bibir Devita. "Aku rasa tidak ingin kerumah orang tuaku. Aku ingin mengurungmu di sini."
"Kau ini!" Devita memukul lengan Brayen. "Katakan padaku, ada apa kau kerumah kedua orang tuamu sepagi ini?"
"Kita kedatangan tamu di sana." Brayen mengelus lembut pipi Devita. "Jadi kita harus datang, karena nanti kita akan bertemu dengan seseorang."
"Tamu?" ulang Devita. "Siapa yang datang? Keluarga jauhmu? Apakah Paman Austin atau Paman Abian yang akan berkunjung."
"Bukan, nanti kau akan tahu." jawab Brayen. "Lebih baik kita sarapan sekarang, anakku pasti sudah lapar."
Devita mengulum senyumannya. "Benar Daddy, anakmu ini sudah sangat lapar."
Brayen mengusap rambut Devita, dia langsung memeluk bahu Devita berjalan meninggalkan kamar menuju ruang makan.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.