
Suara interkom masuk dari sekretaris Brayen, membuat Felix langsung menghentikan lamunannya. Ketika interkom masuk terus berdering, dia langsung menekan tombol penerima, kemudian menjawab dingin. "Ada apa? Aku sudah katakan jangan menggangguku, bilang pada Brayen. Aku ingin bersantai."
"M-Maaf Tuan Felix tapi ada tamu yang datang?" sang sekretaris menjawab dengan gugup.
Felix membuang napas kasar, dia masih berada di perusahaan milik Brayen dan masih belum kembali ke perusahaannya. Dengan malas Felix berkata. "Siapa yang mencariku? Jika dia tidak memiliki janji, lebih baik minta dia untuk kembali lagi besok."
"Felix Jordy Mahendra, kenapa lama sekali memintaku masuk? Apa kau ini mau aku pulang lagi dan tidak bertemu denganmu?" suara teriakan begitu keras, membuat Felix tersentak.
"Raisa! Kenapa kau tidak bilang jika kekasihku yang datang? Jika kekasihku datang kau tidak perlu meminta izin padaku!" Seru Felix kesal.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu jika Nona Olivia Roberto adalah kekasih anda." suara Raisa terdengar begitu gugup dan ketakutan.
"Persilahkan kekasihku untuk masuk!" Felix menekan tombol mengakhiri panggilan. Dia mengumpat di dalam hati bagaimana bisa sekertaris dari Brayen tidak mengetahui Olivia adalah kekasihnya? Padahal di media, berita tentang Felix memiliki kekasih asal negara K, baru - baru menjadikannya di halaman terdepan setelah berita Brayen dan Devita.
"Apa kau tidak memberitahu sekretarismu siapa - siapa saja yang boleh masuk dan tidak boleh masuk?" suara Olivia berseru saat memasuki ruang kerja Felix. Dia mendekat, lalu duduk di hadapan Felix. Terlihat jelas wajah kesal Olivia, karena sebelumnya dia tidak di perbolehkan masuk kedalam ruang kerja Felix.
Felix meringis, dia beranjak dari tempat duduknya lalu menarik kursi dan duduk lebih dekat dengan Olivia. "Maaf sayang, karena Raisa itu bukan sekertarisku. Dia sekretaris Brayen. Kau tahu kan, ini perusahaan Brayen. Tentu jika aku di perusahaanku, seluruh staffku mengetahui dirimu."
Olivia mencebik, dia menatap kesal Felix. "Apa sekretaris Brayen tidak pernah membaca berita tentang hubungan kita? Terakhir begitu banyak pemberitaan kau dan aku. Sampai-sampai rumahku di kelilingi oleh paparazzi yang ingin memotret diriku."
"Aku juga tidak tahu, kenapa Raisa tidak melihat berita tentang kita." Felix mengecup kening Olivia. "Sudah, jangan marah. Katakan padaku, ada apa kau datang kesini, sayang?"
Olivia mendesah pelan. "Ponselmu tidak aktif, sayang. Dan aku menghubungi asistenmu dia bilang kau berada di perusahaan Brayen. Kenapa hari ini kau ke perusahaan Brayen? Padahal kau mengatakan padaku akan libur selama satu minggu."
"Maaf sayang, aku terpaksa ke kantor. Karena hari ini Mahendra Enterprise memiliki meeting dengan Wilson Grup, dia memintaku untuk menggantikannya." jelas Felix.
"Kau pasti senang kan bisa meeting dengan Ivana Wilson!" Tukas Olivia yang sengaja menyindir. "Wanita cantik dan seksi seperti Ivana Wilson, tidak mungkin kau tolak bukan? Tentu, kau akan menerima jika meeting dengan Ivana Wilson."
Felix membuang napas kasar, dia menyeret kursi Olivia hingga membuatnya begitu dekat dengannya. "Kau salah sayang. Tujuanku adalah demi perusahaan. Aku murni melakukan ini karena aku bagian dari Mahendra Enterprise. Lepas dari itu, ada hal lain yang ingin aku pastikan tentang Ivana Wilson."
"Hal lain?" Olivia mengerutkan keningnya, menatap bingung Felix. "Hal lain apa maksudmu?"
Felix menyandarkan punggungnya di kursi. "Aku ingin pastikan apa benar aku mengenal Ivana Wilson. Aku seperti mengenalnya. Aku berusaha untuk mengingat, tapi hingga detik ini, aku masih belum bisa mengingat siapa Ivana Wilson."
Olivia berdecak pelan. "Aku sudah bilang padamu, jika Ivana Wilson mengenalmu pasti di awal pertama kalian bertemu, pasti dia sudah lebih dulu menyapa dirimu."
"Ini berbeda sayang, sepanjang meeting berlangsung. Aku mendengar suara alami Ivana Wilson. Terkadang dia menutupi suaranya dengan cara yang menunjukkan dirinya anggun dan berkelas. Tapi ada beberapa suara alaminya muncul. Dan aku sangat yakin pernah mendengar suara itu." Felix berkata dengan yakin.
"Atau mungkin Ivana Wilson teman masa kecilmu?" tebak Olivia.
Felix menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Aku sudah membaca profil Ivana Wilson, usia dia hanya berbeda satu tahun di bawah Brayen. Dan artinya usia dia di atasku dua tahun. Seingatku, aku tidak memiliki teman semasa kecil dengan usia yang lebih tua dariku."
"Mungkin hanya perasaanmu saja, Felix." balas Olivia yang mulai malas. Pasalnya, sejak beberapa hari ini yang lalu, Felix selalu yakin pernah mengenal Ivana Wilson.
"Awalnya aku berpikir demikian." jawab Felix. "Tapi, meeting hari ini membuatku sangat yakin, aku mengenalnya."
"Apa sejak kecil, kau selalu bersama dengan Brayen?" tanya Olivia dengan tatapan serius ke arah Felix.
"Kau ambil master di negara S? Bukannya kau menyelesaikan mastermu di Cambridge?" Olivia menautkan alisnya.
"Setelah aku menyelesaikan pendidikanku di Cambridge, aku juga memilih menyelesaikan Master Of Science Cyber Security And Management di negara S." jawab Felix.
"Felix, kau tidak sedang membohongiku, kan?" Olivia menatap tak percaya. Bagaimana tidak? Dia sendiri bingung melewati satu jurusan. Kenapa Felix begitu mudah mendapat gelar master di usianya yang terbilang sangat muda ini? Pikir Olivia.
Felix tersenyum, pandangannya kini menatap lekat manik mata Olivia. "Aku lulus SMA saat usiaku 16 tahun. Sejak kecil, orang tuaku selalu memintaku untuk menjadi orang yang cerdas. Tidak bisa di pungkiri, aku sering belajar bersama dengan Brayen. Tapi meski aku fokus dengan pendidikanku, aku masih sering menikmati waktuku untukku bersenang-senang. Tidak dengan Brayen, yang lebih banyak menikmati waktunya dengan belajar."
"Kau sangat hebat Felix!" Seru Olivia dengan bangga. "Aku sekarang paham, rupanya pria dari keluarga Mahendra, bukan hanya tampan dan kaya saja. Tapi mereka juga sangat cerdas!"
Felix mengulum senyumannya mendengar ucapan dari Olivia yang memuji dirinya.
"Felix." panggil Olivia.
"Ya?" Felix menatap lekat Olivia yang duduk di hadapannya.
"Apa mungkin Ivana Wilson teman masa kecil Brayen? Atau mungkin Ivana Wilson adalah mantan kekasihmu?" Olivia menyipitkan matanya menatap penuh selidik.
Felix berdecak kesal. "Brayen tidak memiliki teman wanita. Dia itu tidak pernah menyukai memiliki teman wanita. Baginya, tidak ada pertemanan antara wanita dan pria. Dan tidak mungkin Ivana Wilson adalah mantan kekasihku! Aku memang memiliki banyak mantan kekasih, tapi tidak mungkin aku melupakan mantan - mantan kekasihku, Olivia Roberto!"
"Jadi sampai sekarang, kau tidak bisa melupakan mantan kekasih mu?" Olivia melipat tangannya di depan dada, dia menatap kesal ke arah Felix.
Sedangkan Felix hanya mengumpat di dalam hati, di merutuki mulutnya yang salah bicara. Jika seperti ini, sama saja mencari masalah dengan Olivia.
"Aku tidak pernah mengingat siapapun yang menjadi masa laluku, Olivia. Jika aku mengingat Ivana Wilson, artinya dia membekas di ingatanku. Tapi bukan sebagai orang yang aku cintai di masa lalu. Apa kau percaya padaku?"
Olivia tersenyum, dia mengelus rahang Felix. "Ya, aku percaya padamu. Sekarang lebih baik kita makan siang. Dan nanti setelah selesai makan siang kau bisa menemui Brayen."
"Ya, lebih baik kita makan siang." Felix dan Karin kemudian berjalan meninggalkan ruangannya.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.