
**Hay... hay! Kalian yang mau baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh~ Author maksa nih!!! l😤Kalau komentarnya, bisa nyampe 20 komentar. Besok author bakalan kasih carzy Up.
Happy reading semuanya....🤗**
Brayen membuang napas kasar "Aku tetap tidak bisa menerima Istriku menutupi ini dariku. Dia bahkan menutupi jika dia bertemu dengan pria sialan itu di belakangku," tukas Brayen dingin. Sorot matanya menajam. Tangannya terkepal kuat.
"Tuan, menurut saya pasti Nyonya memiliki alasan tersendiri," jawab Albert yang berusaha menenangkan Brayen.
"Alasan apa hingga dia berani menutupi ini? Jika dia mengatakan dari awal aku akan berusaha untuk mengendalikan amarahku," seru Brayen. Dia berusaha mengendalikan amarahnya.
"Tuan, saya mengerti. Anda pasti kecewa pada Nyonya. Tapi lebih baik anda mendengarkan penjelasan dari Nyonya. Saya yakin Nyonya tidak berniat buruk di belakang anda. Saya bisa melihat Nyonya begitu mencintai anda Tuan," ujar Albert meyakinkan.
"Tetap saja Devita telah membohongiku! Aku tidak akan mudah mempercayai orang yang telah membohongiku. Kau tahu itu Albert!" Seru Brayen. " Aku dan Devita sudah saling berjanji untuk saling terbuka satu sama lain
Tapi kenyataannya dia berani membohongiku!"
"Mungkin Nyonya hanya takut membuat anda salah paham. Saya bisa melihat Nyonya adalah Istri yang setia, Tuan." kata Albert yang kembali meyakinkan.
"Albert, kau keluarlah dan selesaikan pekerjaanmu," perintah Brayen.
Albert menunduk lalu undur diri dari ruang kerja Brayen. Saat ini Brayen masih belum bisa menerima semuanya. Dirinya terlalu kecewa apa yang telah di lakukan oleh Devita.
...***...
Kini Devita tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Devita sudah memutuskan untuk mendatangi perusahaan Brayen. Setidaknya dia akan berusaha untuk menjelaskan. Jika di rumah, Devita takut Brayen akan pulang larut malam dan sengaja menghindar darinya.
Sebenarnya Devita tidak ingin keluar rumah. Tapi hatinya tetap tidak tenang. Devita ingin segera menjelaskan kesalahpahaman ini. Devita tidak ingin masalah ini menjadi berlarut. Jika Devita menunda menjelaskan pada Brayen, itu akan membuat Brayen semakin salah paham dengannya.
Jika Devita menuruti amarahnya. Mungkin Devita akan pergi meninggalkan Brayen. Meski Devita berusaha untuk mengerti keadaan Brayen yang tengah marah. Tapi tetap hati Devita begitu terluka mengingat Brayen berciuman dengan wanita lain.
Tidak hanya itu, bahkan Brayen menuduh Devita berselingkuh. Tidak pernah terpikir oleh Devita dia akan berselingkuh dari Brayen. Perasaannya pada Angkasa benar - benar berkahir.
Devita mencoba untuk mengatur emosinya. Dia berusaha untuk tetap tenang. Meski nanti dia harus berdebat dengan Brayen, itu mungkin lebih baik dari pada hanya diam dan membuat Brayen semakin salah paham.
Mobil Devita sudah tiba di perusahaan milik Brayen. Dia langsung memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil masuk kedalam perusahaan. Di lobby banyak staff yang menyapanya dengan sopan. Ya, karena mereka semua tahu, jika Devita adalah Istri Brayen, seperti biasa Devita membalas mereka dengan senyuman hangat.
Kemudian Devita melangkah masuk kedalam lift pribadi yang sering di pakai oleh Brayen. Hatinya kini mulai cemas, jujur dia takut jika Brayen tidak mau mendengarkan penjelasan darinya. Tapi, setidaknya Devita akan terus berusaha meski Brayen tidak ingin mendengar penjelasannya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Devita berjalan keluar dan menuju ke ruang kerja Brayen.
"Nyonya Devita," sapa Albert saat melihat Devita berjalan mendekat ke ruang kerja Brayen.
"Hi, Albert? Apa kabar?" tanya Devita dengan senyuman ramah di wajahnya.
"Baik Nyonya. Bagaimana dengan anda, Nyonya?"
"Aku juga baik. Apa Brayen ada di dalam?"
"Tidak apa - apa Albert. Aku memang sedang bertengkar dengan Brayen karena salah paham. Aku harus segera meluruskannya. Kau tahu bukan, suamiku itu memiliki emosi yang tidak bisa di kendalikan.
" Saya percaya Nyonya akan bisa menenangkan Tuan,"
Devita tersenyum. " Aku harus menemui suamiku,"
"Silahkan, Nyonya." Albert menundukkan kepalanya. Lalu Devita berjalan ke ruang Brayen. Devita mencoba mengatur dirinya dan berusaha untuk tenang. Setidaknya dia mencoba untuk menjelaskan.
...***...
"Brayen," panggil Devita saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.
Brayen mengalihkan pandangannya, ketika ada yang memanggilnya. Setelah dia melihat Devita di ruang kerjanya. Dia langsung kembali menatap MacBooknya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan suara dingin. Dia sama sekali tidak mau melihat Devita.
Devita tidak memperdulikan ucapan Brayen. Dia berjalan mendekat ke arah Brayen. "Mari kita bicara Brayen. Aku tidak suka, jika kita hanya berdiam dan tidak membahas ini "
"Pulanglah, aku tidak ingin mendengar penjelasan darimu! Bagiku, kau hanya pembohong!"Tukas Brayen tajam.
"Kau ingin memintaku pulang? Tidak ingin mendengarkan penjelasan dariku? Kenapa kau selalu bersikap semaumu, Brayen. Aku ini Istrimu, aku datang kesini karena aku ingin menjelaskan kesalahpahaman di antara kita!" Devita mengatur napasnya. Dia tidak ingin terpancing emosi.
Brayen tersenyum sinis. "Kesalahpahaman apa yang kau maksud? Tentang kau yang masih mencintai pria sialan itu?"
"Aku tidak lagi mencintainya, Brayen! Berapa kali harus aku bilang kalau aku dengan Angkasa sudah tidak ada hubungan apapun. Aku dengannya hanya teman sama kecil?" Jelas Devita dengan tegas.
"Hentikan omong kosong mu, Devita! Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun! Lebih baik kau pergi dari sini!" Tukas Brayen dingin. Kini tatapannya menatap tajam Devita yang sedang berdiri di hadapannya.
"Bukan hanya kau yang tidak ingin berdebat. Aku juga tidak ingin berdebat denganmu, Brayen. Tapi setidaknya kau harus mendengarkan penjelasan dari Istrimu!" Seru Devita.
"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi? Lebih baik kau pulang, aku tidak ingin mendengarkan penjelasan darimu!" Balas Brayen tegas. Sorot matanya begitu tajam ke arah Devita.
"Kalau kau ingin aku pulang, maka aku akan pulang. Tapi sebelum aku pulang, aku harus menjelaskan semuanya padamu. Kau boleh tidak menganggap ku ada di ruangan ini. Aku hanya memintamu mendengar perkataanku. Karena aku hanya menjelaskannya satu kali. Aku tidak akan menjelaskan untuk yang kedua kalinya,". ucap Devita dengan suara yang tenang. Dia benar - benar berusaha untuk mengendalikan emosinya.
Devita menatap dalam mata Brayen, dia tidak perduli Brayen ingin mendengarkan atau tidak. Tapi dia akan tetap menjelaskannya. Sedangkan Brayen terlihat begitu menahan amarahnya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.