
"Lebih baik kau tidur, kau butuh istirahat," Brayen mengelus lembut pipi Devita.
"Apa kau akan bekerja hari ini?" tanya Devita sambil menatap suaminya itu.
"Nanti kalau kamu sudah beristirahat aku akan ruang kerjaku. Membaca email masuk dari Albert, ada beberapa dokumen yang harus aku periksa," balas Brayen, sambil memberikan kecupan di kening istrinya itu.
Devita pun mengangguk paham, " Brayen, kau juga sudah meminta Ruby untuk mengambil mobilku, kan?"
"Sudah, aku juga sudah meminta Ruby untuk mengambil mobilmu," Brayen menyelipkan rambut istrinya ke belakang daun telinga istrinya itu.
Kemudian Brayen merengkuh bahu Devita, mengajak istrinya untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Sebelum berbaring di ranjang, Devita mengganti pakaiannya dengan gaun yang sederhana yang sering dia kenakan jika berada di rumah.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Brayen.
"Katakan pada pelayan sepertinya aku ingin cheesecake dan lemon tea," merasa belum mengantuk Devita menyadarkan punggungnya di kepala ranjang.
Brayen menundukkan kepalanya dan mengecup singkat bibir Devita. "Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkannya, sekarang aku harus segera ke ruang kerjaku."
Devita mengangguk dan tersenyum. " Ya, Terima kasih,"
Brayen berjalan meninggalkan Devita menuju ke ruang kerjanya. Saat Brayen pergi, tidak lama kemudian terdengar dering ponsel milik Devita. Devita menoleh dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia melihat Olivia yang sedang mengirim pesan kepadanya, Devita menepuk pelan keningnya. Kejadian tadi malam, Devita memang belum sempat menjelaskan pada sahabatnya itu. Tanpa menunggu, dia langsung membuka pesan masuk dari Olivia dan segera membacanya.
Olivia : Devita kau dimana? Bagaimana bisa kau ini kabur saat pesta? Kau pikir kau ini Cinderella? Aku juga sudah melihat Brayen mengejarmu. Kalian jadi bahan pembicaraan hangat. Apa kau tahu, karenamu aku juga harus lari dari incaran para orang - orang yang bertanya tentangmu dan suamimu itu. Sungguh menyusahkan!
Devita terkekeh pelan membaca pesan masuk dari Olivia yang sedang marah - marah padanya.
Devita : Oh my Olivia! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyusahkanmu. Sudah, jangan marah. Nanti malam butik langgananku, akan mengirimkan dua high heels terbaru dari Cristian Louboutin ke rumahmu.
Olivia : Kau ini pandai sekali, Devita! Jika bukan sahabatku, sudah aku datangi rumahmu detik ini juga. Aku akan berteriak di rumahmu, karena kau selalu menyusahkanku!
Devita : Sudah jangan marah - marah aku akan mentraktirmu besok sepuasnya. Aku juga akan meminta Felix untuk berkencan denganmu. Sepupu dari suamiku, juga tampan dan kaya. Kau bukannya menyukai pria yang tampan dan kaya?
Olivia. : Devita, kenapa kau selalu membahas Felix! Dia tidak akan mungkin menyukai anak kecil sepertiku, Sudahlah, jangan membuatku berharap. Aku tidak ingin.
Devita. : Ah, berharap? Rupanya kau sudah mulai menyukainya?
Olivia. : Tidak! Aku tidak menyukainya? Siapa yang mengatakannya? Memangnya aku bicara padamu aku menyukainya? Kau ini jangan bicara yang sembarangan, Devita.
Devita : Kau jangan tidak mengakuinya. Dia itu sangat tampan, nanti kalau kau tidak mengakuinya, akan ada gadis lain yang berusaha mendapatkannya.
Olivia : Aku tidak perduli!
Devita terkekeh, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Devita yakin, jika Olivia juga sebenarnya menyukai Felix. Hanya saja Olivia tidak percaya diri, bagi Olivia dia terlalu muda dan masih anak kecil untuk Felix. Padahal Devita sudah tahu, sejak awal sepertinya Felix menunjukkan ketertarikan pada Olivia. Bahkan jika di lihat Felix dan Olivia sangat cocok. Felix tampan dan Olivia juga cantik.
Untung saja Laretta sudah memiliki Angkasa, jika tidak Devita akan merasa bersalah. Laretta mencinta sepupunya sendiri. Itu yang sangat rumit, hal yang tidak mungkin bukan? Ibunya Felix adalah adik kandung dari Ayahnya Brayen. Mereka tidak mungkin bersama. Tapi Devita tidak akan pernah menyalahkan perasaan Laretta, karena cinta memang tumbuh tanpa di rencanakan. Cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu, terlebih jika sudah merasakan kenyamanan.
Terdengar suara ketukan pintu, membuat Devita menghentikkan lamunannya, Devita melihat ke arah pintu dan langsung memintanya untuk masuk.
"Nyonya," sapa seorang pelayan menundukkan kepalanya saat memasuki kamarnya.
Devita tersenyum, "Ya masuklah,"
Pelayan mendekat ke arah Devita dan memberikan cheesecake dan lemon tea, yang tadi sudah di pesan oleh Devita.
"Nyonya, apa Nyonya ingin sesuatu lagi?" tawar pelayan itu.
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Tidak, aku rasa ini cukup. Terima kasih."
"Baik Nyonya, jika sudah tidak ada lagi, saya permisi," pamit pelayan itu.
"Baik Nyonya," pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari kamar Devita.
Devita menatap cheesecakenya, dengan cepat dia mulai menikmati cheesecakenya. Dia memang sangat menyukai semua jenis cake. Bahkan pertemuannya dengan Brayen, karena dia tidak sengaja menumpahkan red velvet cake ke baju Brayen yang harganya sangat fantastis itu. Jika mengingat itu, Devita selalu tersenyum.
...***...
Di dalam kamar, Laretta duduk di sofa. Dia menatap pemandangan di luar dari balik jendela kamar. Kandungannya kini sudah memasuki minggu kedelapan. Sudah beberapa kali Angkasa datang menemuinya. Tapi, pengawal Brayen dengan cepat langsung mengusir Angkasa.
Laretta juga sudah mendengar David, Daddynya sudah keluar dari rumah sakit.Hanya saja dia belum bisa untuk menemui kedua orang tuanya. Laretta takut, jika dia menemui kedua orang tuanya, akan membuat orang tuanya kembali jatuh sakit.
Rasanya Laretta juga belum sanggup bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia tahu diri, karena dirinya telah begitu melukai kedua orang tuanya. Mengecewakan kedua orang tuanya. Hal ini yang membuat hidup Laretta lebih baik, untuk sementara waktu tidak menemui kedua orang tuanya.
Saat ini Laretta menang tinggal di mansion milik Brayen, tapi itu yang membuat Laretta tidak bebas. Sejak Laretta berada di mansion Brayen ini, dirinya selalu terkurung. Kakaknya itu tidak pernah membiarkan Laretta keluar dari rumah. Brayen hanya mengizinkan Laretta, jika hanya mendatangi dokter kandungan. Itu juga tetap Brayen meminta pengawal untuk menjaga ketat Laretta. Sungguh ini membuat Laretta benar - benar tidak nyaman.
Laretta pun sangat tahu, jika di antara dirinya dan juga Angkasa tidak ada cinta. Karena memang itu terjadi saat mereka berdua sama - sama mabuk. Laretta menyetujui menikah dengan Angkasa, karena dia memang memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Tapi apakah mungkin Brayen memberikan izin? Bahkan hingga detik ini, akses untuk bertemu dengan Angkasa saja Laretta tidak bisa.
Jika boleh memilih, Laretta ingin menikah dengan Felix, namun itu tidak akan mungkin. Selain Felix adalah sepupunya sendiri, Felix juga tidak pernah memandang Laretta sebagai seorang wanita. Felix selalu memandang Laretta sebagai seorang sepupu. Dulu Laretta memang pernah menyatakan perasaannya pada Felix. Saat tahu perasaan Laretta, Felix dengan tegas meminta Laretta untuk melupakan dirinya. Ya, Felix memang mengakui dirinya menyayangi Laretta tapi hanya sebagai sepupunya, tapi tidak lebih dari itu.
Saat Laretta tengah menatap pemandangan di balik jendela kamarnya, terdengar dering ponsel miliknya. Dia menoleh dan mengambil ponselnya yang berada di sampingnya. Laretta menatap layar ponselnya, dia mendesah pelan saat melihat nama Angkasa di layar ponselnya. Kemudian, dia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sebelum kemudian meletakkan ke telinganya
"Hallo?" sapa Laretta saat panggilannya terhubung.
"Laretta, apa aku menganggumu?" tanya Angkasa dari sebrang telepon.
"Tidak. Kau tidak mengangguku. Aku hanya sedang tidak sibuk. Ada apa Angkasa?" tanya Laretta
"Aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Kau baik - baik saja, kan? Lalu bagaimana dengan kandunganmu?"
"Aku baik, pemeriksaan terakhir kandunganku juga sehat Angkasa. Jadi tidak perlu khawatir." jawab Laretta.
"Baguslah, aku senang mendengarnya. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungiku."
"Terima kasih, Angkasa,"
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tanggung jawabku,"
"Laretta, aku ingin bertanya sesuatu padamu?"
"Kau ingin bertanya apa, Angkasa?"
"Apa Kakakmu masih tetap pada pendiriannya?"
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.