Love And Contract

Love And Contract
Terungkap



Keesokan hari, Devita sudah berada di kampus. Kemarin Devita memang meminta izin pada Brayen untuk menginap di rumah orang tuanya. Alasannya, tentu saja karena Devita sangat merindukan kedua orangtuanya. Bahkan saat tadi malam, Devita tidur bersama kedua orang tuanya. Dulu saat Devita belum menikah, ia sering tidur bersama dengan kedua orang tuanya. Meski Devita sudah beranjak dewasa, tapi bagi kedua orang tua Devita masih tetap putri kecil mereka. Terlebih Devita adalah anak tunggal.


Beruntungnya pakaian Devita masih berada di rumah kedua orang tuanya. Devita memang tidak banyak membawa pakaian. Jadi saat Devita menginap di rumah kedua orang tuanya, ia masih memiliki pakaian di kamarnya.


Saat menikah Brayen memang sudah menyiapkan seluruh kebutuhan Devita. Bukan hanya Brayen, tapi Rena Ibu mertuanya juga selalu memberikan barang untuk Devita.


Kini Devita sudah menyelesaikan mata kuliahnya di pagi hari. Hari ini, Devita memang memiliki kelas di jam tujuh pagi. Itu kenapa Devita lebih bisa bersantai. Karena di kelas berikutnya ada di jam satu siang. Devita duduk di taman sambil menunggu Olivia yang masih berada di dalam kelas. Ada mata kuliah yang harus di ulang oleh Olivia. Itu kenapa mereka tidak bisa bersama.


Devita duduk di kamar sambil membaca novel romance kesukaannya. Sudah sejak beberapa hari yang lalu, Devita belum tamat membaca novel ini. Jika sudah rumah, Devita selalu bersama dengan Laretta. Di malam hari, Devita biasanya tidur lebih awal. Kesempatan Devita membaca novel ini hanya ketika dia berada di kampus.


Saat Devita tengah membaca Novel terdengar dering ponsel miliknya. Devita mendengus kesal, selalu saja ada yang menganggunya ketika dia sedang bersantai seperti ini. Devita mengambil ponselnya di dalam tas, ia melihat ke layar ponsel tertera nama Brayen yang mengirimkan pesan padanya. Devita langsung menepuk keningnya. Dia lupa belum memberikan kabar pada Brayen, jika dia sudah sampai kampus.


Brayen : Kau dimana? Kenapa tidak memberi kabar padaku?


Devita : Aku sudah di kampus. Maaf, tadi aku ada kelas pagi. Jadi aku terburu - buru.


Brayen : Lain kali kau harus memberi kabar padaku.


Devita : Ya maaf Brayen. Tadi aku terburu - buru.


Brayen : Ya sudah, jam berapa nanti kau pulang ke rumah?


Devita : Jam tiga sore, aku pulang seperti biasa.


Brayen : Pulang dari kampus, kau langsung ke kantorku.


Devita : Bagaimana dengan Laretta? Dia pasti akan kesepian jika aku tidak pulang cepat.


Brayen : Hari ini Laretta tidak ada di rumah.


Devita : Laretta pergi kemana?


Brayen : Sudah nanti kau akan tahu, pulang dari kuliah kau langsung ke kantorku. Sopirku akan menjemputmu.


Devita : Baiklah, nanti aku akan kekantor mu.


Devita mendengus kesal seperti biasa Brayen tidak pernah menerima penolakan. Jika Brayen sudah meminta maka harus segera di turuti. Benar - benar menyebalkan. Devita menyimpan kembali ponselnya di dalam tas. Ia memilih untuk membaca novel, karena sudah sejak kemarin selalu saja ada yang menganggunya.


...***...


"Tuan," sapa Kenrick, berjalan masuk kedalam ruang kerja William.


"Jika kau masih belum bisa menemukan keberadaan Elena,maka lebih baik kau jangan muncul di hadapanku." tukas William dingin.


"Tuan, tapi ini benar - benar sangat penting Tuan," ujar Kenrick.


"Apa yang ingin kau katakan, Ken?" tanya William dingin.


"Saya sudah mencari data sepupu Nona Elena, dia bernama Ruby Eddyson Silva dan baru saja pindah dari Italia. Sekarang dia tinggal di kota B. Tapi maaf Tuan, beberapa anak buah kita tidak sengaja menemukan keberadaan Ruby. Saat mereka mengikuti Ruby, mereka memberi tahu pada saya jika Ruby masuk ke dalam rumah Brayen Adams Mahendra," ujar Kenrick.


"Apa kau bilang? Brayen Adams Mahendra? Apa kau tidak salah? Bagaimana bisa sepupu Elena bisa masuk dengan mudah ke rumah Brayen." tukas William.


"Bagaimana mungkin dengan penjagaan seperti itu, orang Brayen bisa melakukan kesalahan," tukas William.


"Tuan, saya juga sudah mendapatkan data tentang Ruby. Dia salah satu lulusan terbaik di Oxford university. Dia juga hebat dalam bidang teknologi, tidak hanya itu, Ruby juga pernah mencuri data di perusahaan terakhir dia bekerja. Dengan kemampuan yang di miliki oleh Ruby, saya rasa salah satu orang Brayen Adams Mahendra sudah tertipu olehnya, Tuan." ujar Kenrick.


Tanpa menunggu William langsung beranjak dari kursi kerjanya. Ia mengambil kunci mobil dan langsung berlari keluar ruang kerjanya.


...***...


"Tuan Brayen," Albert menerobos masuk kedalam ruang kerja Brayen dengan sangat tergesa - gesa.


"Ada apa? Kau sudah menemukan data tentang Ruby?" tanya Brayen dingin.


"Tuan, apa Nyonya Devita dan Nona Laretta sudah di pastikan tidak ada di rumah?" tanya Albert dengan suara yang begitu takut dan cemas.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?" tukas Brayen.


"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang Ruby. Tidak hanya itu, saya juga sudah mendapatkan informasi dari Freddy, salah satu pengawal yang saya minta untuk mengawasi Ruby. Freddy mengatakan jika saat Ruby sedang membuat kue yang Nyonya minta. Tapi saat Freddy meletakkan CCTV tersembunyi di dapur, Ruby memasukkan sesuatu di kue tersebut, Tuan" ujar Albert


"Maksudmu apa, Albert! Katakan yang jelas!" Seru Brayen, ia menatap Albert yang terus menunduk.


"Tuan, mohon ampuni atas kesalahan-kesalahan saya, Tuan. Sertifikat yang Ruby berikan ternyata palsu. Dia ternyata mampu memberikan sertifikat yang menyerupai aslinya, Tuan. Saya juga sudah memeriksanya, Tuan. Dan saya juga memeriksa CCTV sepertinya dia telah meretas CCTV di rumah, Tuan. Karena ada beberapa bagian yang telah hilang di menit berikutnya," jelas Alberlt masih terus menunduk.


"Katakan padaku siapa Ruby! Kenapa dia berani melakukan itu! Dan kau Albert, sudah berapa lama kau bekerja denganku! Tapi kau bisa melakukan sebuah kesalahan seperti ini!" Sentak Brayen dengan nada tinggi. Ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia terus menatap tajam Albert yang berdiri di hadapannya.


"M..maafkan saya Tuan. Tapi saya mendapatkan data mengenai Ruby, dia adalah sepupu dari Elena. Kemarin pengawal mengatakan Ruby membawa seorang wanita dan wajahnya di tutupi oleh selendang. Tuan, saya rasa Ruby membawa Elena ke rumah Tuan. Saya yakin, mereka mempunyai rencana untuk mencelakai Nyonya. Itu kenapa Ruby berusaha mengambil hati Nyonya." jelas Albert gugup.


Rahang Brayen mengeras, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Sorot matanya tajam penuh dengan amarah. " Sialan! Elena berani bermain denganku!" Seru Brayen dengan penuh emosi.


"Biarkan Ruby dan juga Elena menjalankan permainannya. Aku ingin tahu, apa yang mereka rencanakan. Terus awasi Ruby. Beritahu semua pengawal untuk tidak memakan makanan atau minuman dari Ruby. Mereka telah bermain maka mereka sendiri yang akan tahu akibatnya dari permainannya!" Tukas Brayen, tajam.


"Dan kau Albert, ini adalah kesalahan terakhir mu. Kau masih beruntung mengetahui ini sebelum mereka mengetahui ini sebelum mereka melukai istriku. Maka sudah ku pastikan kau akan mati bersama dengan mereka!" Seru Brayen.


"B...Baik Tuan. Saya tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi," jawab Albert, ia menelan salivanya susah payah mendengar ancaman dari Brayen.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.