
Sinar matahari pagi menembus jendela, menyentuh kulit wajah Devita. Perlahan Devita mulai membuka matanya, dia menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Devita melihat kesamping, Brayen sudah tidak ada. Mengingat hari ini Devita akan memeriksa kandungannya dan setelah itu pergi ke rumah mertuanya. Karena ibu mertuanya juga mengundang Felix dan Olivia datang kesana, dia yakin suaminya itu sekarang sedang berada di ruang kerjanya. Devita beranjak dari tempat tidurnya, dia mengikat asal rambutnya lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Setelah Devita selesai mandi, dia langsung berjalan menuju ke arah walk in closet. Devita membuka wardrobe yang tertata gaun - gaun indah miliknya. Pilihan Devita jatuh pada dress yang berwarna kuning dengan tali spaghetti. Devita mengganti pakaiannya dengan gaun yang dia pilih dia tadi. Lalu memoles wajahnya dengan make up tipis. Tidak lama kemudian, setelah Devita selesai berias dia langsung berjalan keluar dari walk in closetnya. Saat Devita baru saja keluar dari walk in closetnya, langkahnya terhenti saat melihat suaminya sudah duduk di sofa sambil membaca koran.
"Brayen? Kau darimana?" Devita mendekat, dia langsung duduk di samping Brayen.
Brayen mengalihkan pandangannya, dia tersenyum ketika melihat istrinya sudah duduk di sampingnya. Dia meletakkan korannya di atas meja, lalu memberikan kecupan kening Devita. "Albert menghubungiku. Aku tidak ingin kau terganggu. Jadi aku menjawabnya di luar."
Devita mendesah pelan. "Bukannya hari ini kau tidak akan pergi ke kantor? Kenapa Albert masih menghubungimu dan membahas tentang pekerjaan?"
"Albert hanya menanyakan beberapa hal tentang perjanjian kerja sama Mahendra Enterprise dengan Wilson Grup." jawab Brayen sembari memberikan kecupan singkat di bibir Istrinya.
Devita mengangguk pelan.
"Kau makanlah, aku sudah meminta pelayan untuk membawakan sandwich tuna dan susu untukmu," balas Brayen. "Aku ingin mengganti pakaianku, setelah ini kita berangkat ke rumah sakit."
"Pakaianmu sudah aku siapkan." jawab Devita.
"Ya," Brayen mengecup kening Devita, dia beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan menuju ke arah walk in closet miliknya.
Melihat Brayen sudah berjalan menuju ke arah walk in closetnya, Devita langsung mengambil sandwich tuna yang sudah terhidang di atas meja dan menikmati sandwich tuna itu.
"Apa kau sudah selesai sarapan, sayang?" tanya Brayen setelah selesai mengganti pakaiannya.
"Sudah."
"Lebih baik kita berangkat ke rumah sakit. sekarang. Setelah itu kita pergi ke rumah Mommy. Mommyku pasti sudah menunggu kita."
Devita mengangguk, "Ya kau benar. Mommy Rena pasti kesal jika menunggu lama."
Kemudian Devita beranjak dari tempat duduknya dan Brayen mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja, lalu dia memeluk bahu Devita berjalan meninggalkan kamar.
...***...
Setibanya di rumah sakit, Devita tidak memerlukan pendaftaran atau mengantri karena Brayen adalah pemegang saham terbesar di rumah sakit ini. Tentu Devita mendapatkan pelayanan khusus. Brayen menggenggam tangan Devita, melangkah masuk kedalam ruangan dokter.
"Selamat pagi Nyonya Devita dan Tuan Brayen." sapa Dokter Keira.
Devita tersenyum. "Pagi Dokter."
Brayen membalas sapaan sang Dokter dengan anggukan singkat di kepalanya. "Mari Nyonya Devita silahkan berbaring." kata Dokter Keira.
Kemudian Brayen membantu Devita untuk berbaring. Dokter langsung mengoleskan jel ke perut Devita. Tatapan Brayen teralih pada layar monitor, yang berada di hadapannya. Bayinya kini sudah terlihat sangat jelas. Tanpa sadar Brayen mengulas senyuman tipis di wajahnya.
"Nyonya Devita, kandungan anda sudah memasuki minggu ke dua puluh satu. Bayi anda sangat sehat dan kuat. Jenis kelaminnya pun sudah terlihat." kata Dokter Keira.
"Apa jenis kelaminnya Dokter?" tanya Devita yang penasaran. Tangan Brayen terus menggenggam tangan Devita.
"Selamat Nyonya dan Tuan, bayi kalian laki - laki." jawab Dokter Keira.
Devita tersenyum. "Brayen, it's a baby boy!"
Brayen tersenyum dia langsung mengecup kening Devita.
"Saya akan memberikan vitamin untuk Nyonya dan untuk makanan, Nyonya bisa lebih banyak mengkonsumsi protein dan sayuran." kata Dokter Keira memberikan saran.
Devita menggangguk. "Ya Dokter, aku pasti akan memperhatikan asupan makan yang aku makan."
...***...
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah ibu mertuanya Devita melihat ke arah luar jendela. Saat Devita melihat ke luar jendela, pandangan Devita teralih pada sebuah mobil yang berwarna hitam yang berada di tepat di belakang mobilnya. Devita mengerutkan keningnya, dia melihat mobil itu terus mengikuti mobilnya.
"Brayen," panggil Devita, dia menatap Brayen yang tengah fokus mengendarai mobilnya.
Brayen melihat sebentar ke arah Devita, lalu kembali menatap kedepan. "Ada apa sayang?"
"Apa kau lihat? Di belakang ada mobil hitam yang sepertinya sedang mengikuti kita." kata Devita. Tatapannya, melihat ke arah spion untuk kembali memastikan mobil yang mengikutinya itu.
Brayen mengalihkan pandangannya ke arah spion, dia menatap mobil hitam yang berada tepat di belakang mobilnya. Brayen menginjak gas, menambah kecepatan hingga membuat Devita memekik terkejut saat Brayen melajukkan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Brayen, kenapa kau mengebut?" seru Devita.
"Aku ingin melihatnya. Jika dia benar mengikuti kita, maka di akan mengejar." jawab Brayen tatapannya tetap melirik ke arah spion, dia terus mengawasi mobil hitam itu.
Dia membelokkan mobilnya, dia semakin menambah kecepatan. Devita mengatur napasnya, ketika Brayen melajukkan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Brayen, mobil itu sudah tidak ada. Mungkin dia memang hanya kebetulan berada di belakang mobil kita." Devita terus menatap spion mobil, memastikan mobil yang mengikutinya sudah tidak ada.
Devita mengangguk. "Semoga saja mobil itu memang tidak mengikut kita."
Brayen membuang napas kasar. " Seharusnya tadi aku membawa anak buahku. Jika saja tadi aku membawa anak buahku, sudah pasti mobil hitam itu tertangkap!"
Devita tersenyum. "Sudah Brayen, mungkin dia memang tidak mengikuti kita."
Brayen mengusap pelan rambut Devita. Brayen memilih untuk diam dan tidak lagi menjawab. Dia tidak ingin membuat istrinya mencemaskan sesuatu. Lebih baik baginya untuk menyelidiki ini tanpa sepengetahuan Devita.
...***...
Mobil Brayen mulai memasuki mansion milik keluarganya. Setelah memarkirkan mobil, Brayen dan Devita turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke arah ruang keluarga.
"Devita sayang?" seru Rena saat melihat Devita dan juga Brayen berada di ambang pintu.
"Akhirnya kalian datang juga." tukas David.
"Mommy maaf kami terlambat." kata Devita yang merasa tidak enak. Terlebih di ruang keluarga sudah berkumpul semuanya. Ada Felix dan Olivia yang sudah datang. Serta mertuanya dan hanya kurang Angkasa dan Laretta saja yang kini tengah berbulan madu.
"Tidak sayang kau tidak perlu meminta maaf." Rena mendekat, dia langsung memeluk erat Devita.
"Brayen, apa kau tidak ingin memeluk Mommymu?" seru Rena dengan tatapan dingin ke arah Brayen.
Brayen menghela nafas kasar, dia tidak langsung menjawab ucapan ibunya. Namun, dia langsung memeluk dan memberikan kecupan di kening ibunya. David tersenyum, dia juga memeluk Brayen dan juga Devita. Kemudian Brayen dan Devita duduk di sofa tepat di hadapan Felix dan Olivia.
"Devita, kau terlihat sangat cantik. Apakah ini pesona seorang ibu hamil." kata Felix sambil mengambil tirasamu cake yang ada di atas meja.
"Felix!" Tukas Brayen memberikan peringatan pada Felix untuk tidak menggoda istrinya.
Felix terkekeh. "Kau ini berlebihan sekali Brayen. Kau tahu aku sudah memiliki Olivia di hidupku."
Devita dan Olivia yang menatap Brayen dan Felix mengulum senyumannya. Tidak perlu heran, karena Felix sering menggoda Devita. Dan tentu itu membuat Brayen marah pada sepupunya.
"Mom, hari ini, aku dan Brayen baru saja memeriksa kandunganku?" ucap Devita.
"Benarkah." ucap Olivia antusias
"Laki - laki atau perempuan, sayang?" tanya Rena dia menatap penasaran ke arah Devita.
"Laki - laki. Sebenarnya aku ingin perempuan. Tapi tidak apa - apa anak laki - laki bisa menjagaku."
Felix menggangguk setuju. "Kau benar Devita, anak laki - laki bisa menjagamu."
Pandangan Rena, kini teralih pada Olivia yang duduk di samping Felix. "Olivia, jadi kapan kau berangkat ke Kanada?"
"Minggu depan Bibi?" jawab Olivia. "Minggu depan aku sudah kembali ke Kanada."
"Apa kau akan menetap lama di Kanada?" tanya Rena kembali.
"Tidak Bibi mungkin hanya dua bulan. Tapi semua tergantung Felix." balas Olivia dengan helaan nafas berat.
"Kenapa tergantung Felix? Apa dia melarangmu?" Rena tersenyum ke arah Olivia.
"Bukan melarang saja Bibi. Tapi Felix terlalu banyak mengatur hidupku!" Tukas Olivia dengan nada kesal melirik ke arah Felix.
Devita terkekeh geli. "Kau sekarang tahu rasanya Olivia? Bukannya selama ini, kau selalu mengatakan aku begitu beruntung karena memiliki Brayen? Kau harus tahu, yang kau katakan beruntung itu harus penuh dengan aturan. Termasuk Felix yang mengatur hidupmu."
Rena mengulum senyumannya. "Para pria yang lahir di keluarga Mahendra memang cenderung sering mengatur pasangan mereka."
Sedangkan Para pria dari keluarga Mahendra hanya diam dan mendengarkan obrolan para wanita yang ada di sampingnya.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.