Love And Contract

Love And Contract
Hadiah Kecil Dariku



"Pagi," Brayen mengancingkan jasnya, dia menatap Devita yang baru saja membuka matanya. Brayen mendekat dan mengecup kening istrinya.


"Pagi, kau sudah bangun? Ini jam berapa?" tanya Devita dengan suara serak khas baru bangun tidur. Tatapan Devita menatap tubuh suaminya yang sudah terbalut jas formalnya.


"Jam tujuh," jawab Brayen. Dia duduk di tepi ranjang sembari merapihkan rambut istrinya yang menutupi wajah istrinya itu.


Devita menggeser tubuhnya, dia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Brayen. "Jadi, nanti malam kau tidak akan ikut denganku?"


"Tidak," Brayen mengusap rambut istrinya. "Tapi nanti malam aku akan menjemputmu. Aku akan meminta Laretta untuk mengirimkan tempat pesta itu."


"Baiklah, tapi jangan terlambat untuk menjemputku. Karena aku tidak mau menunggu lama." Devita mengerutkan bibirnya, dia tidak suka jika Brayen menjemputnya lama.


"Aku tidak akan terlambat." jawab Brayen. "Ya sudah, aku berangkat sekarang. Berikan pesan padaku, jika kau sudah berangkat ke pesta itu." Brayen mengecup bibir Devita.


"Hati - hati Brayen." balas Devita.


Brayen mengangguk singkat, dia berjalan meninggalkan Devita. Melihat Brayen sudah pergi, Devita bangun dari ranjang dan mengikat asal rambutnya. Devita pun mengambil ponselnya dan menghubungi pelayan untuk mengantarkan sarapan ke kamarnya.


Khususnya untuk pagi ini, Devita tidak ingin sarapan di ruang makan. Seperti biasa, rutinitas Devita sebelum berangkat ke pesta, dia harus melakukan beberapa treatment kecantikan.


...***...


"Mr. Brayen, pembangunan Apartemen di Jepang sangat sukses. Tidak hanya itu, pembangunan di mall pun di respon baik oleh masyarakat. Aku rasa kedepannya kita bisa mengembangkannya di Eropa." ujar Mr. Lee rekan bisnis Brayen memberikan saran.


"Kau benar, aku setuju. Albert akan mengurus semuanya. Aku ingin pembangunan Apartemen dan mall nanti harus berjalan dengan baik. Sama seperti di Jepang dan negara lainnya." balas Brayen.


Mr. Lee mengangguk. "Aku pastikan semuanya berjalan dengan baik."


"Allright, meeting sampai di sini. Kita akan bertemu di pertemuan selanjutnya." tutup Brayen. Mr. Lee menundukkan kepalanya saat Brayen beranjak berdiri. Brayen hanya membalas dengan anggukan singkat di kepalanya.


Kemudian Brayen berjalan keluar dari ruang meeting menuju ke ruang kerjanya. Namun langkah Brayen terhenti ketika melihat Albert sudah berada di depan ruang kerjanya.


"Ada apa Albert?" tanya Brayen dingin.


"Tuan maaf, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, Tuan." jawab Albert.


"Siapa yang ingin bertemu denganku?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Raymond Bautista, dia ingin bertemu dengan anda Tuan." Albert menjawab dengan penuh hati - hati.


Brayen tersenyum sinis. "Raymond Bautista? Keberanian apa yang dia punya, hingga berani menemuiku?"


"Saya yakin, ini ada hubungannya dengan saham perusahaan miliknya yang perlahan


jatuh, Tuan." balas Albert.


"Dia berani mencari masalah denganku, maka dia harus mendapatkan pelajaran dari apa yang dia buat!" Tukas Brayen menekankan.


"Tuan, tapi tidak ada salahnya jika bertemu dengannya," ujar Albert yang memberikan saran.


Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan,"


Brayen melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruang kerjanya. Brayen membiarkan Raymond masuk, dia ingin tahu apa yang di katakan oleh pria itu. Jika sebelumnya Davin datang untuk memohon maaf padanya, mungkin Raymond akan berlutut di hadapannya. Karena Brayen memang sengaja membuat perusahaan Raymond mengalami penurunan saham. Bagi Brayen, itu hanya bagian kecil dari pelajaran yang di berikan olehnya.


...***...


Brayen duduk dengan menyilangkan kakinya, dia menggerakkan gelas sloki di tangannya. "Untuk apa kau datang menemuiku?" suara Brayen bertanya terdengar begitu dingin dan tajam.


Raymond tidak langsung menjawab, dia menuangkan wine di gelas sloki yang kosong yang ada di hadapannya. Kemudian dia mulai menyesap wine itu.


"Apa kau sungguh takut, jika istrimu yang sangat cantik itu akan aku rebut?" Raymond menyandarkan punggungnya di kursi, dia terlihat sangat santai. Namun, tatapannya terus menatap tajam Brayen.


Brayen tersenyum sinis "Takut? Aku yang takut, atau sebenarnya kau yang takut karena akan kehilangan segalanya Raymond Bautista. Lebih baik, kau harus lebih berhati-hati dalam berbicara denganku. Karena hanya dengan aku melakukan panggilan telepon, dan meminta Asistenku untuk membuat perusahaanmu hancur, maka di detik ini juga kau akan kehilangan segalanya."


Brayen menjawab pertanyaan Raymond dengan sarkas. Tersirat penuh dengan ancaman. Sedangkan Raymond, terlihat jelas kemarahan di wajahnya, pria itu mencengkram kuat gelas sloki hingga terlihat kukunya memutih akibat cengkraman kuat di tangannya.


"Kau itu hanya bisa menggunakan kekuasaan sialanmu itu!" Seru Raymond. "Apa yang bisa kau lakukan tanpa kekuasaan di tanganmu? Aku bahkan tidak yakin, kalau istrimu akan tetap memilihmu jika kau kehilangan segalanya!"


Brayen mengangkat bahunya acuh, dia menyesap wine di tangannya. "Aku rasa kau tahu, Mahendra Enterprise sangat tidak mungkin mengalami kebangkrutan. Dan jika istriku hanya memilihku karena posisi yang aku miliki, tidak masalah buatku. Bagiku istriku hanya cukup aku yang tahu, kau hanya orang luar yang tidak pantas menilainya."


"Terserah!" Tukas Raymond. "Aku datang ke sini hanya ingin mengatakan kepadamu untuk menghentikan kegilaanmu itu karena sudah membuat sahamku terus menurun! Caramu melawan musuhmu sangat rendah Brayen Adams Mahendra!"


"Apa? Caraku rendah?" Brayen menaikkan sebelah alisnya. "Aku hanya menggunakan kuasa yang aku miliki, itu hanya salah satu hadiah kecil dariku untukmu Raymond Bautista!"


Rahang Raymond mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Hadiah kecil, ucapan dari Brayen benar - benar membuat kemarahan Raymond semakin mendalam. Bahkan Raymond tidak bisa menahan amarahnya.


"Kau licik sialan! Kau menggunakan kekuasaanmu itu untuk menekan diriku! Kau itu tidak bisa bersaing layaknya seorang pria!" Geram Raymond dengan tatapan begitu tajam ke arah Brayen.


"Licik? Kau mengatakan caraku licik?" Brayen tertawa rendah, dia sungguh sangat mengasihani pria yang ada di hadapannya ini. "Aku itu tidak perlu bersaing denganmu. Karena istriku adalah milikku. Dan apa yang telah menjadi milikku selamanya akan menjadi milikku! Kau lebih baik mencari lawanmu yang sama sepertimu. Jangan mencari lawan yang kau tidak mampu untuk melawannya. Kau bisa lihat sekarang, kau tidak berkutik ketika aku menyerangmu. Aku rasa kau harus menggunakan otakmu dengan baik!"


"Apa yang kau inginkan Brayen Adams Mahendra!" Raymond menggeram penuh dengan amarah. Napasnya memburu, dia mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.