Love And Contract

Love And Contract
Berjalan Kaki



"Aku tidak tahu, apakah ada restoran 24 jam di sekitar hotel atau tidak," balas Brayen.


"Ada Brayen," jawab Devita cepat. "Olivia mengatakan kepadaku, kemarin malam dia lapar dan meminta Felix untuk menemaninya makan. Ada restoran yang buka selama 24 jam di sekitar hotel. Kita kesana saja Brayen." sambung Devita.


"Kau ganti pakaianmu dan jangan lupa untuk pakai jaket." Brayen beranjak dari ranjang, dia langsung mengganti pakaiannya. Devita juga langsung beranjak dari ranjang dan mengganti pakaiannya. Karena ini sudah larut malam, Devita lebih memilih memakai celana panjang dan jaket.


"Apa kau sudah siap?" Brayen mengambil dompet dan ponselnya.


Devita mengangguk pelan. "Sudah, tapi nanti kita jalan kaki saja Brayen. Aku tidak ingin naik mobil. Aku juga tidak ingin makan di restoran hotel ini. Kita mencari makan yang ada di luar hotel saja."


"Apa kau itu tidak lelah jika berjalan kaki?" tanya Brayen.


"Tidak Brayen, aku tidak lelah." Devita memeluk lengan Brayen. Kini mereka berjalan meninggalkan kamar.


Dan sesuai permintaan dari Devita, Brayen menemani istrinya berjalan kaki dari hotel menuju ke arah restoran. Awalnya Brayen sudah membujuk istrinya untuk menggunakan mobil, tapi tetap saja Devita ingin berjalan kaki. Jarak hotel ke restoran yang di pilih oleh Devita memang tidak terlalu jauh, hanya saja Brayen tidak ingin istrinya merasa kelelahan.


Brayen dan Devita sudah tiba di restoran. Brayen memesan kursi sudut sebelah kiri. Dan Brayen langsung memesan Rao's Meatball yang istrinya inginkan itu. Sedangkan dirinya hanya memesan kopi espresso. Brayen memang tidak ingin makan. Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan yang sudah di pesan tadi. Setelah makanan sudah di hidangkan di atas meja makan, dengan cepat Devita langsung menikmatinya.


"Hemm, ini sangat enak sekali, Brayen." gumam Devita saat menikmati Rao's Meatball.


Brayen menggelengkan kepalanya, dia mulai menyesap kopi yang tadi dia pesan. Brayen tersenyum tipis, karena melihat belakangan ini Devita memang suka makan. Bahkan Devita sering merasa lapar. Tidak seperti dulu, Istrinya itu selalu mual dan tidak ingin makan apapun.


"Brayen, saat aku kelulusan nanti aku rasa aku akan menunda liburanku dengan Olivia. Sekarang aku sedang hamil, rasanya tidak mungkin jika aku liburan berdua dengannya." kata Devita yang kembali mengingat, dirinya pernah meminta izin pada Brayen untuk memperbolehkannya berlibur berdua dengan Olivia.


"Tanpa kau mengatakan itu padaku, aku juga tidak mungkin membiarkanmu pergi saat kau sedang hamil," balas Brayen.


Devita mendengus, dia lupa suaminya ini sering bersikap berlebihan kepadanya. "Setelah aku melahirkan nanti, apa aku boleh bekerja Brayen?"


"Tidak," jawab Brayen singkat.


Devita berdecak kesal, "Kau ini bagaimana! Katanya kau hanya melarang ku bekerja saat aku sedang hamil! Kenapa setelah aku melahirkan nanti aku masih tetap tidak boleh bekerja!"


"Setelah kau melahirkan, kau masih


harus menyusui Devita. Tidak mungkin kau langsung bekerja. Aku ingin setelah kau melahirkan, lebih baik kau fokus mengurus anak - anak kita nanti. Tanpa kau harus bekerja. Aku mampu untuk menghidupimu!" Kata Brayen menekankan dan tersirat tidak ingin di bantah sedikitpun.


Devita menghela nafas dalam. "Waktu itu kau yang bilang aku harus belajar bisnis! Sekarang kau sendiri yang merubahnya! Kau ini bagaimana!"


"Aku mengatakan itu sebelum kau hamil Devita. Sekarang kau hamil, dan menurutku lebih baik kau itu di rumah dan mengurus anak - anak kita nanti. Kalau kau ingin tetap belajar bisnis, kau bisa datang ke kantor untuk mempelajarinya. Tapi aku tidak ingin pekerjaan kantor membebani pikiranmu," jelas Brayen.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan keluargaku? Aku tidak ingin membuatmu memiliki banyak tanggung jawab Brayen. Aku tahu perusahaan keluargamu saja harus kau urus. Aku tidak ingin menambah pekerjaanmu


dengan mengurus perusahaan keluargaku," ujar Devita.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Semuanya memang sudah menjadi tanggung jawabku. Aku akan mengurusnya dan nanti aku akan menempatkan orang kepercayaanku di sana," balas Brayen.


"Terserah kau saja Brayen," jawab Devita yang mengalah. "Ingat satu hal, aku tidak ingin kau itu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku dan anak kita jauh lebih penting dari semuanya!"


Brayen mengulum senyumannya, lalu mengelus lembut pipi Devita. "Aku bekerja keras seperti ini karena ingin membuatmu dan anak - anak kita nanti akan tetap menjadi yang utama."


"Tapi kau sering pulang malam! Bahkan kau juga sering berangkat ke kantor sebelum aku bangun tidur!" Dengus Devita kesal.


"Aku tidak mungkin membangunkanmu yang masih tertidur pulas Devita." balas Brayen.


"Aku tidak mau tahu! Kau harus tetap membangunkan ku kalau kau ingin berangkat bekerja!" Seru Devita.


Brayen tersenyum tipis. "Ya, aku akan membangunkanmu."


Brayen mengangguk pelan, dia mengeluarkan dompetnya dan meletakkan beberapa lembar dollar di atas meja. Kemudian mereka beranjak, lalu berjalan meninggalkan restoran dan kembali ke hotel.


...***...


Kini Brayen dan juga Devita sudah berada di lobby hotel. Mereka melangkah masuk kedalam lift. Seketika Devita terkejut, saat dirinya dan Brayen hendak melangkah masuk kedalam lift dan dia berpapasan dengan Felix dan Olivia yang keluar dari lift.


"Devita, kau darimana?" tanya Olivia.


"Aku tadi ke restoran terdekat dengan hotel. Aku lapar, ingin makan Rao's Meatball." jawab Devita. "Kau ingin kemana Olivia?"


"Aku ingin mencari Indian Food." balas Olivia.


"Indian Food?" Devita mengernyitkan keningnya.


Olivia mengangguk. "Ya, aku sejak tadi ingin makan Indian Food."


Felix mendesah kesal, "Apa kau tahu Devita? Sahabatmu ini sudah seperti ibu hamil."


"Kau tidak ingin mengantarkan ku!" Seru Felix yang menatap dingin Olivia yang berada di sampingnya.


"Bukan seperti itu sayang," jawab Felix dengan nada membujuk Olivia. "Aku hanya bercanda, aku pasti akan menemanimu."


"Kau memang harus menemaniku!" Ucap Olivia ketus.


Kali ini Felix lebih memilih untuk diam dan mengalah dari Olivia. Pandangan Felix kini ke arah Brayen yang berdiri di samping Devita. "Brayen, kau tadi meninggalkan permainan! Itu artinya kau itu sudah kalah Brayen!"


Brayen langsung melemparkan tatapan dingin pada Felix, "Kau diamlah! Sekali lagi kau bicara aku benar-benar akan menarik uangku!"


Felix mendengus, "Kau ini curang sekali Brayen!"


Devita mengulum senyumannya mendengar perdebatan Felix dan Brayen. "Felix, aku sudah mengantuk. Aku ingin segera kembali ke kamar. Jaga sahabatku baik - baik. Kau harus tahu dia itu makannya sangat banyak."


"Devita!" Seru Olivia.


Felix mengangguk setuju. "Aku sudah tahu, sahabatmu ini terlihat kurus tapi sangat suka sekali makan."


Devita terkekeh pelan, dia langsung memeluk lengan Brayen dan melanjutkan lagi langkahnya masuk kedalam lift.


Sedangkan Olivia, dia kesal dengan Felix. Tanpa menunggu Felix, dia berjalan keluar meninggalkan lobby hotel. Felix menggelengkan kepalanya melihat Olivia yang marah, dengan cepat Felix langsung menyusul Olivia.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.