Love And Contract

Love And Contract
Brayen Dan Edgar



Sinar matahari pagi menembus jendela, perlahan Devita mulai membuka matanya, menguap dan menggeliat. Tangan Devita mulai meraba kesamping, namun saat dia merasakan ranjangnya sudah kosong, Devita menoleh dan benar saja Brayen sudah berangkat seperti biasa meninggalkannya di pagi hari. Devita bangun dan mengikat asal rambutnya. Saat Devita ingin beranjak dari ranjang pandangan Devita jatuh pada note kecil itu dan mulai membacanya.


*Sayang, maaf aku harus duluan pergi. Hari ini aku ada meeting dengan rekan bisnisku. - Your Husband Brayen*


Devita mengumpat di dalam hati, dia sudah tahu pasti suaminya ini berangkat lebih pagi. Harusnya sejak malam Brayen mengatakan jika akan berangkat lebih pagi. Tapi dia malah tidak mengatakan apapun. Devita beranjak dari ranjangnya, lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi. Lebih baik Devita untuk bersiap pergi ke kampus.


Tiga puluh menit kemudian Devita sudah selesai bersiap - siap. Kini Devita sudah selesai berias dengan memakai celana jeans dan tube top berwarna navy membuatnya jauh lebih seksi dan dewasa. Tidak lupa dengan leather jaket sebagai penyempurna penampilannya. Devita mengambil tas dan juga kunci mobilnya di atas meja rias, lalu dia berjalan meninggalkan kamar menuju ke ruang makan.


"Morning, Devita." sapa Laretta saat melihat Devita berjalan masuk ke dalam ruang makan.


"Morning, Laretta." balas Devita, lalu ia duduk di hadapan Laretta.


Laretta mengerutkan dahinya, dia menatap wajah Devita yang terlihat kesal. "Kau kenapa Devita? Kenapa wajahmu terlihat sangat kesal."


Devita mendesah pelan, "Kakakmu itu, aku sudah mengatakan padanya untuk tidak berangkat lebih awal. Aku tidak suka saat aku bangun dia sudah tidak ada. Seperti sekarang ini. Dia selalu tidak pernah ikut kita untuk sarapan bersama."


Laretta tersenyum. "Mungkin Kakakku sibuk dengan pekerjaannya Devita. Kau tahu, dia adalah pemimpin utama. Daddyku sudah tidak terlalu mengurus perusahaan lagi. Percayalah Devita, Kakakku seperti ini juga demi dirimu."


"Ya kau benar. Hanya terkadang aku kesal dengan Brayen karena dia sering sibuk dengan pekerjaannya." keluh Devita.


"Aku mengerti. Lebih baik kau fokus pada pendidikanmu. Kau sebentar lagi lulus bukan?" kata Laretta yang berusaha untuk menenangkan Devita, dia mengerti tidak mungkin ada Istri yang tidak kesal, jika suaminya terlalu fokus pada pekerjaannya. Hanya Laretta juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada Brayen. Karena memang Brayen memilliki tanggung jawab yang besar di perusahaan.


Devita menghela nafas dalam. "Kau benar, aku akan fokus menyelesaikan masalah kuliahku. Tapi belakangan ini terlalu banyak masalah yang datang. Itu terkadang membuatku tidak bisa fokus pada kuliahku."


"Aku tahu, dan aku rasa kau butuh sedikit untuk meliburkan pikiranmu. Ambillah waktu tiga hari untuk berlibur, Devita. Bukan menghindar dari masalah, tapi lebih tepatnya untuk menenangkan dirimu." kata Laretta yang memberikan saran terbaik untuk Devita. Saat ini Laretta tahu, yang di butuhkan Devita adalah menenangkan pikiran dan tidak terlalu dalam memikirkan masalah.


"Aku rasa aku tidak bisa Laretta, terakhir Ibuku mengatakan padaku, jika dia akan meninggalkan kota B setelah bercerai nanti. Aku tidak tenang jika harus berlibur dan meninggalkan kota B. Setidaknya untuk saat ini, aku harus tetap disini. Aku tidak mau melihat Ibuku sedih seperti kemarin." balas Devita. Bukannya Devita tidak ingin meliburkan diri, tapi pikiran Devita masih tertuju pada Nadia, Ibunya. Devita takut, jika Ibunya nanti mengambil keputusan yang salah.


"Aku paham, aku juga mengerti. Karena tidak ada seorang anak yang tenang ketika melihat Ibunya menangis. Aku paham, karena aku pernah di posisimu, Devita. Hanya saja, kesalahan ada padaku, aku yang sudah membuat Ibuku menangis." ujar Laretta, wajahnya kini berubah muram. Laretta juga pernah ada di posisi itu, tapi dia berbeda. Karena masalah itu timbul, dari dirinya sendiri yang melakukannya.


Devita terdiam, dia juga paham masalah yang sedang di hadapi oleh Laretta. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Laretta. "Jangan di pikirkan, aku yakin Mom Rena pasti akan memaafkanmu. Kau dan Angkasa akan hidup bahagia. Sebentar lagi aku akan memiliki seorang keponakan, bukan? Jadi jaga kesehatanmu baik - baik."


Laretta tersenyum, "Aku harap kedua orang tuaku sungguh bisa memaafkan ku."


"Ya sudah, aku harus berangkat ke kampus Laretta. Hari ini aku ada kelas pagi." pamit Devita, dia langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu, Devita." Laretta berusaha menahan saat Devita ingin melangkah keluar.


Devita menoleh dan menatap lekat Laretta, "Ada apa Laretta?"


"Hem, aku ingin berterima kasih padamu." ucap Laretta.


Devita mengerutkan keningnya. "Berterima kasih untuk apa?"


"Terima kasih, karena kemarin sudah mengizinkan Angkasa untuk masuk. Kau sungguh baik dan selalu membantuku. Kakakku sungguh beruntung memiliki istri seperti dirimu." ujar Laretta tulus. Bagi Laretta, Devita adalah Kakak Ipar yang sangat baik. Selama ini Devita selalu membantunya bahkan Devita satu - satunya orang yang tidak pernah menyalahkan dirinya.


"Tidak perlu berterima kasih, karena Angkasa memang harus bertemu dengan calon istri dan juga anak kalian." balas Devita dengan senyuman yang di wajahnya. "Ya sudah, aku harus berangkat kau tidak perlu khawatir jika Angkasa datang lagi pasti aku akan memberikan izin. Urusan Brayen biar aku yang menanganinya."


Laretta tersenyum dan mengangguk pelan. "Hati - hati, Devita."


Kemudian Devita berjalan meninggalkan ruang makan, meski belakang ini Devita memiliki masalah pribadi. Tapi dia tetap harus memperhatikan Laretta juga. Bagaimanapun Laretta adalah adik iparnya. Brayen memang belum mengetahui jika Devita sudah mengizinkan Angkasa masuk ke dalam rumah. Masalah Brayen akan marah atau tidak, Devita akan berbicara baik - baik pada suaminya itu nanti.


...***...



"Tuan," sapa Albert menghampiri Brayen yang hendak masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin.


"Tuan, ada yang datang mencari Tuan" jawab Albert.


Brayen mengerutkan dahinya. "Siapa yang datang?"


"Edgar Rylan Wilson, dia sudah menunggu di depan. Beliau ingin menemui anda, Tuan." ujar Albert.


Brayen tersenyum sinis. "Ada hal apa anak dari Gelisa Wilson datang menemuiku?"


"Maaf Tuan, tapi dia tidak memberitahu. Dia hanya datang ingin menemui, Tuan." jelas Albert.


Brayen mengangguk singkat. " Persilakan dia untuk masuk ke ruangan ku."


"Baik, Tuan." Albert menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Brayen.


Brayen kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruang kerjanya. Dia berjalan ke kursi kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya. Pikirannya kini memikirkan tujuan dari kedatangan Edgar Rylan Wilson.


Tidak lama kemudian, sosok pria melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen. Mereka saling beradu pandang. Brayen menatap pria itu dan tentu saja Brayen sudah tahu, pria itu adalah Edgar Rylan Wilson karena sebelumnya Albert sudah memberitahunya.



"Maaf menganggu waktumu." ucap Edgar, dia melangkah semakin dekat ke arah Brayen.


Brayen menatap lekat Edgar yang kini duduk di hadapannya. "Ada hal apa yang membuatmu datang menemuiku?"


"Jika aku mengatakan aku menyapamu? Apa kau akan mempercayainya?" balas Edgar.


Brayen tersenyum sinis. "Well, tentu saja aku tidak mempercayainya. Tidak mungkin kau hanya datang untuk menyapaku. Jadi katakan apa tujuanmu datang kesini? Karena aku tidak memiliki banyak waktu."



...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.