
"Brayen, kau ini benar - benar!" Tukas Devita.
"Hem, Brayen dua hari lagi kita akan mengadakan meeting antar perusahaan keluarga ku dengan perusahaanmu. Apa nanti aku berangkat bersama denganmu?" tanya Devita.
"Ya, kita akan berangkat bersama." jawab Brayen.
"Rasanya aneh sekali meeting dengan suami sendiri," ucap Devita.
"Di kantor, kita adalah rekan bisnis sayang, di rumah aku ini adalah suamimu," balas Brayen.
"Ah, jika seperti itu. Di kantor berarti aku bisa berkenalan dengan pria lain?" tanya Devita yang sengaja menggoda suaminya.
Brayen langsung menyentil dahi istrinya. "Pria itu akan mati di tanganku, jika berani mendekati istriku,"
Devita terkekeh, "Kau sendiri yang mengatakan itu?"
"Bukan itu maksudku, sayang. Saat meeting kita akan bertemu dengan yang lainnya, mau tidak mau kau harus menunjukkan sifat yang profesional," jelas Brayen.
"Ya, baiklah. Kau tenang saja Brayen." balas Devita.
"Brayen, tapi aku takut, aku tidak mengerti. Bagaimana jika nanti aku membuat kesalahan?" kata Devita.
Brayen menatap mata Devita dengan lekat. "Kau tidak akan pernah melakukan kesalahan. Aku akan berada di sisimu. Kau bisa mengandalkanku."
Devita terseyum, ia langsung mencium rahang suaminya, " I know, kau pasti akan selalu berada di sisiku."
"Oh iya, Brayen. Orang tuaku masih di London? Kenapa mereka lama sekali?" kata Devita dengan kesal.
"Besok mereka juga sudah tiba di Kota B kau tenang saja, saat kita meeting kau akan bertemu dengan Ayahmu. Dia pasti berada di sana. Dia ingin melihatmu saat meeting nanti," ujar Brayen.
"Kenapa Ayahku tidak menghubungiku! Tapi dia malah memberitahumu. Aku ini kan anaknya." gerutu Devita.
"Aku juga anaknya," balas Brayen.
Devita mendengus, "Ya kau benar, tapi setidaknya Ayah ku harus memberikan kabar untukku."
Brayen mengeratkan pelukannya. "Ayahmu yang memintaku untuk memberitahumu, Devita. Lebih baik kita tidur sekarang. Ini sudah malam." ucap Brayen.
Devita mengangguk. " Ya, baiklah," kemudian Devita mulai memejamkan matanya dalam pelukan suaminya. Berada di dalam pelukan Brayen sungguh membuat Devita sangat nyaman.
...***...
Laretta sedang duduk di balkon, tengah malam dia terbangun. Ia memilih untuk duduk di balkon. Menikmati suasana malam. Laretta sudah lama tidak keluar rumah, ia mulai merasakan jenuh. Tapi ia tidak berani melawan perkataan Brayen. Laretta pun hanya keluar jika ingin pergi mengunjungi dokter. Terkadang, Laretta merindukan kehidupannya saat di Korea dan di Australia. Ya, di sana Laretta menikmati hidupnya dan belajar untuk melupakan Felix.
Kini Felix memiliki gadis yang dia sukai, Laretta tidak akan pernah menghalanginya. Laretta senang jika Felix mendapatkan gadis yang baik untuk hidupnya. Melihat Felix yang sedang mengejar seorang gadis. Laretta semakin menerima kenyataan ini. Meski Laretta belum sepenuhnya mencintai Angkasa.
Hingga detik ini, sebenarnya Laretta masih merasa seperti mimpi. Hamil dengan pria lain, tapi meski demikian, Laretta tetap mencintai anak yang di kandungnya. Terlebih Angkasa adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Setidaknya anak yang di kandung Laretta memiliki seorang Ayah yang baik.
"Kenapa kau ada di disini Laretta? Angin malam tidak bagus untukmu," suara bariton membuat Laretta tersentak.
Laretta pun langsung menoleh ke arah sumber suara itu. "A... Angkasa? Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Laretta gugup.
"Kita masuk kedalam, angin malam tidak bagus untukmu," ucap Angkasa ia membantu Laretta berdiri, lalu mereka masuk kedalam kamar.
"Angkasa, kau menerobos masuk lagi? Kenapa kau selalu melakukan itu, Angkasa?" seru Laretta kesal. Ia hanya takut jika para penjaga yang ada di mansion Brayen akan menangkap Angkasa.
Laretta mendesah pelan. "Ada apa kau datang malam - malam, Angkasa? Besok kau juga harus bekerja, bukan? Apa kau tidak lelah?" tanya Laretta.
"Tidak, beberapa hari kedepan aku akan sangat sibuk. Maaf, jika aku selalu datang malam - malam, Laretta. Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Karena belakangan ini, aku akan fokus pada perusahaanku," ujar Angkasa.
Laretta mengerutkan dahinya. "Kau sedang banyak kerjasama dengan perusahaan luar?" tanya Laretta lagi.
"Ya, ini semua aku lakukan hanya demi untuk mendapatkanmu." jawab Angkasa.
"Mendapatkanku maksudmu apa Angkasa?" tanya Laretta yang tidak mengerti dengan apa yang akan di katakan oleh Angkasa.
"Kakakmu sudah memberikanku persyaratan yang kedua." ujar Angkasa.
"Persyaratan yang kedua? Apa yang dia katakan? Dia tidak akan mengahajarmu lagi bukan?" tanya Laretta. Kali ini, jika Brayen melakukan hal yang tidak waras, dengan tegas Laretta akan menghentikannya.
"Brayen, mengizinkanku untuk mendekatimu. Asalkan aku mampu mengembangkan perusahaanku dengan baik. Dan jika aku gagal, maka aku tidak pantas denganmu." jelas Angkasa.
"Astaga, itu yang Kakakku minta di persyaratan yang selanjutnya?" tanya Laretta.
Angkasa mengangguk, " Ya, tapi aku merasa tertantang. Aku rasa itu adalah hal yang terbaik untuk perusahaanku juga."
"Tapi tetap saja, Kakakku meminta suatu hal yang gila." seru Laretta.
"Percayalah padaku, Laretta. Aku akan berusaha keras, kau tidak perlu khawatir," balas Angkasa.
"Ya, Angkasa aku percaya padamu. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu, Angkasa." ujar Laretta.
Angkasa menatap lekat mata Laretta. " Ada apa Laretta?"
"Kakakku Brayen memang terlihat keras, arrogant, dingin dan mungkin kejam di dunia bisnis. Tapi percayalah, dia sebenarnya sangat baik. Aku harap kau tidak akan sakit hati dengan perkataan Kakakku." ucap Laretta.
Angkasa menyentuh tangan Laretta. " Aku tahu, aku bisa melihatnya. Aku tidak akan pernah sakit hati mendengar perkataan Kakakmu. Karena aku juga memiliki seorang adik perempuan. Aku akan memperlakukannya sama dengan Brayen yang dia lakukan saat ini."
"Baiklah, aku harus pulang sekarang. Ini sudah malam. Kau juga harus beristirahat Laretta." kata Angkasa.
"Hati - hati Angkasa. Aku tidak ingin kau tertangkap oleh para penjaga Kak Brayen." balas Laretta.
"Tidak perlu khawatir, mereka tidak akan pernah mengetahui keberadaanku." ucap Angkasa.
"Aku pergi, dan ingat kau harus jaga kesehatanmu," Angkasa beranjak, lalu ia berlutut di depan Laretta dan mengecup perut Laretta. Melihat tindakan Angkasa seperti ini, benar - benar membuat Laretta tersentuh.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.