
**Hai... hai para readerku, yuk jangan pelit - pelit kasih tombol likenya buat author😁 Seperti biasa jangan lupa juga kasih sajen vote dan hadiah 🌷 atau ☕.
Author juga minta tolong dong penuhi isi kolom komentarnya..
Salam kehaluan😂😂😂
Happy Reading....🤗**
"Baiklah, lalu bagaimana kerja sama dengan Ayahku?" Devita kembali bertanya sambil menatap lekat Brayen.
"Sepertinya kau sendiri yang harus berbicara dengan Ayahmu. Terakhir, dia mengatakan padaku, meeting nanti kau harus ikut dengannya. Dia ingin kau belajar memimpin perusahaan," jawab Brayen datar.
Devita mendengus, "Bagaimana bisa aku memimpin perusahaan? Usiaku masih 20 tahun. Bahkan aku saja belum lulus kuliah!"
"Kau jangan mencari alasan Devita! Dulu, aku juga memimpin perusahaanku sebelum aku lulus kuliah,"
"Kau ini sama saja dengan Ayahku!" Cebik Devita kesal. Dia mengerutkan bibirnya.
Brayen tersenyum, dia menarik dagu Devita dan mencium dan ******* lembut bibir Istrinya itu. " Aku harus berangkat sekarang." Dia beranjak dari tempat duduknya.
"Aku juga," Devita bangkit berdiri, dia langsung memeluk lengan Brayen berjalan meninggalkan kamar.
Saat tiba di bawah, mereka menuju ke mobil masing - masing. Brayen masuk kedalam Bugatti Veyron miliknya sedangkan Devita masuk kedalam mobil Lamborghini Veneno miliknya.
Devita dan Brayen memang tidak memakai sopir, terkadang yang sering memakai sopir adalah Brayen. Berbeda dengan Devita. Ia tidak suka bersama dengan sopir. Menurut Devita, ia jauh lebih nyaman pergi sendiri.
...***...
Devita mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Dia memasang earphone ingin menghubungi Felix. Harusnya sudah dari kemarin dia menghubungi Felix, tetapi selalu saja lupa. Devita mencari nomor Felix yang telah diberikan oleh Albert, kemudian dia langsung menggeser tombol hijau untuk melakukan panggilan.
"Hallo Felix?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.
"Ya, kau siapa?" tanya Felix dari sebrang telepon.
"Felix, ini aku Devita,"
"Devita? Keberuntungan datang padaku di pagi hari. Ternyata Kakak Iparku yang cantik menghubungiku,"
"Kau ini sudah menggodaku di pagi hari, aku meneleponmu ingin mengajakmu makan siang bersama. Aku membelikan sesuatu untukmu saat aku menemani Brayen ke Berlin,"
"Kau sungguh baik, tentu saja aku tidak akan menolaknya. Kita makan siang dimana?"
"Aku akan mengirimkan pesan padamu tempatnya,"
"Baiklah. Tapi, apakah kau akan membawa temanmu yang cantik itu?"
Kening Devita berkerut dalam, mendengar ucapan Felix, " Maksudmu Olivia?"
"Ah, namanya Olivia, aku pernah berkenalan dengannya saat pernikahanmu, apakah kau akan mengajaknya?"
Devita tertawa rendah. "Kau menyukai Olivia?"
"Tidak, aku hanya tertarik dengan wajah asianya yang sangat cantik?"
"Dia memang sepertiku keturunan Kanada dan Indonesia, dia juga teman kecilku saat aku tinggal di Kanada,"
"Pantas saja. Jadi apa kau nanti akan membawanya?"
" Well, jika kau ingin aku membawanya maka aku akan membawanya,"
"Great. Sampai bertemu nanti Kakak Ipar,"
"Oke, see you,"
Devita menutup panggilan teleponnya. Kini mobil Devita sudah tiba di perusahaan tempatnya magang. Devita memarkirkan mobilnya, dan melangkah masuk kedalam perusahan. Devita tersenyum mengingat ternyata Felix menyukai Olivia sahabatnya. Lagi pula Felix sangat tampan sangat cocok untuk Olivia.
...***...
...***...
"Albert," panggil Brayen saat dia menerima kopi yang di berikan oleh Albert.
"Ya Tuan," jawab Albert menundukkan kepalanya.
"Apa pendapatmu tentang Elena?" Brayen bertanya dengan tatapan yang begitu serius pada Albert.
"Maaf Tuan?" Albert mengerutkan keningnya dia tidak mengerti apa yang di tanyakan oleh Brayen.
"Aku ingin mendengar pendapatmu tentang Elena, katakan sesuai dengan pemikiran mu. Tidak perlu takut karena aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Elena dan aku lebih memilih Devita," jelas Brayen menegaskan.
Seketika senyum di bibir Albert terukir ketika mendengar ucapan Brayen, kemudian dia menjawab, "Maaf, jika saya berani mengatakan pendapat saya ini Tuan, menurut saya Nona Elena adalah wanita yang ambisius, dia memiliki sifat arrogant, beberapa kali Nona Elena tidak memperlakukan karyawan anda dengan baik. Nona Elena selalu memandang rendah setiap orang. Terutama jika hanya karyawan. Tuan, Nona Elena juga sering menghamburkan uang anda. Saya sering melihat puluhan juta dollar hanya di habiskan dalam waktu dua hari."
"Saya tahu, mungkin uang bukanlah hal yang penting untuk anda. Tuan, saya juga tahu anda begitu mudahnya mendapatkan uang. Tapi ini berbeda, jika kita memiliki wanita yang tidak menghargai uang, bagaimana kedepannya? Maaf jika sampai terjadi sesuatu pada perusahaan anda, apa dia sanggup berada di sisi anda? Saya rasa tidak mungkin,"
"Tetapi berbeda dengan Nyonya, Istri anda memiliki sifat yang sangat lembut dan baik hati. Dia bahkan tidak pernah menyombongkan diri. Nyonya selalu berbagi kepada siapapun. Hatinya sangat baik, dia benar-benar menunjukkan kebaikannya pada semua orang. Nyonya Devita bukan hanya sekedar cantik, tapi memiliki sifat yang membuat orang kagum atas dirinya." Albert melanjutkan perkataannya dengan hati - hati.
Brayen menghela nafas dalam, ketika mendengar ucapan Albert. Dia terdiam sesaat
mendengar Albert tentang sikap Elena. Ya, Brayen memang sangat beruntung memiliki Devita yang berhati baik dan lembut. Hingga kemudian Brayen kembali bertanya, "Bagaimana berita mengenai Elena? Apa menurutmu semua itu benar?"
"Tuan, sebenarnya beberapa pengusaha Milan yang pernah saya temui mereka sering bertanya tentang hubungan anda dengan Nona Elena. Meskipun mereka tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi saya tahu sebenarnya Nona Elena bermain di belakang anda Tuan. Maaf, jika saya sudah berani mengatakan ini Tuan," ucap Albert seraya menundukkan kepalanya
"Tadi malam, aku bertemu dengan Felix, dia memberikanku bukti - bukti foto Elena bersama dengan pria lain. Di foto itu Elena berciuman dan berpelukan dengan pria lain, sebelumnya aku datang ke Apartemen Elena, dia memintaku datang. Dia memberikanku hasil test, dia hamil. Kandungannya sudah tiga bulan. Elena mengatakan jika dia hamil anakku," kata Brayen dengan helaan nafas berat.
"Apa Tuan percaya apa yang di katakan oleh Nona Elena?" tanya Albert hati - hati.
"Awalnya tentu saja aku percaya, tetapi setelah Felix mengirimkan ku bukti foto kemarin aku mulai ragu. Aku selama ini tidak pernah mempercayai berita di media tentangnya," jawab Brayen dingin. "Aku ingin kau selidiki tentang foto itu. Dan aku ingin kau selidiki tentang semua kehidupan Elena,"
Albert menganguk patuh, "Baik Tuan. Saya akan menyelediki semuanya dengan baik."
"Berikan aku informasi tentang Elena Minggu ini. Aku tidak ingin ini di dengar oleh Devita," balas Brayen.
"Baik Tuan," Albert menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Brayen.
Tatapan Brayen, kini menatap bingkai fotonya dan Devita yang ada di atas meja kerjanya. Dia mengambil foto itu, terlihat wajah Devita yang begitu cantik.
Brayen menyadari jika Devita memang berbeda dengan Elena. Istrinya itu memang wanita yang bukan hanya cantik, dia sangat lemah lembut dan bersikap baik pada semua orang. Sedangkan Elena, wanita itu selalu bersikap arrogant dan selalu merendahkan orang lain. Ya, Brayen tahu tentang sifat Elena. Berkali - kali Felix selalu mengingatkan dirinya, tapi Brayen tidak pernah mendengarkan. Dan kini dia menyadari hanya Devita, wanita yang paling tepat di hidupnya. Dia bersyukur, dia menikah dan memiliki istri sebaik Devita.
...***...
Devita melirik arlojinya, kini sudah hampir pukul jam dua belas siang. Hari ini dia memiliki janji dengan Felix. Beruntung Devita memilih restauran yang tidak terlalu jauh jaraknya dari Dixon's Group.
Tatapan Devita kini melihat ke arah Olivia. Sahabatnya itu masih berkutat dengan laptop. Padahal biasanya jika makan siang sudah tiba Olivia lah yang paling antusias.
"Olivia kau masih sibuk?" tanya Devita sambil menatap Olivia.
Olivia mengalihkan pandangannya menatap Devita. "Ya, Devita. Hari ini banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan."
"Apa kau tidak lapar?" kening Devita berkerut dalam.
Olivia langsung menghentikan pekerjaannya, ketika mendengar ucapan Devita. "Sekarang ini jam berapa?"
"Sudah tiba waktunya makan siang," jawab Devita.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.