Love And Contract

Love And Contract
Brayen Dan Gelisa



Brayen melajukkan mobil Bugatti Veyron miliknya dengan kecepatan sedang menuju ke Wilson Company. Tujuan Brayen tentu saja ingin bertemu dengan pemilik Wilson Company. Rasanya Brayen sangat suka jika ada orang yang bermain - main dengannya. Kini mobil milik Brayen memasuki parkiran Wilson Company. Brayen turun dari mobil, dia langsung melangkah masuk kedalam lobby perusahaan.


Hari ini, Brayen datang ke Wilson Company. Tentu saja karena Brayen sudah tidak sabar bertemu dengan Gelisa Wilson.


Brayen melirik arloji kini sudah pukul satu siang. Brayen melangkah masuk menuju receptionist. Sudah sejak tadi orang di lobby tidak berhenti menatap Brayen. Bagaimana tidak, Brayen terlihat begitu dingin dan angkuh melangkah masuk kedalam perusahaan itu.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang receptionist dengan suara yang lembut dan ramah.


"Aku ingin bertemu dengan Gelisa Wilson." jawab Brayen dingin.


"Maaf Tuan. Tapi apa Tuan sudah membuat janji dengan Nyonya Gelisa Wilson?" tanya receptionist itu dengan sopan.


"Tidak, katakan saja padanya Brayen Adams Mahendra datang mencarinya." tukas Brayen.


"Baik Tuan, mohon di tunggu." jawab receptionist itu. Kemudian ia mulai melakukan panggilan telepon.


Tidak lama kemudian setelah receptionist itu melakukan panggilan telepon, dia langsung kembali menghadap ke arah Brayen yang masih menunggu.


"Tuan Brayen, maaf telah membuat anda menunggu. Ruang kerja Nyonya Gelisa berada di lantai 30 Tuan?" ucap receptionist itu dan menundukkan kepalanya. Kemudian memberikan kartu akses gedung pada Brayen.


Brayen mengangguk dan menerima kartu akses gedung, lalu ia berjalan menuju ke arah lift. Brayen memang tidak pernah membuat janji jika bertemu dengan siapapun. Bagi Brayen, mereka tidak akan pernah menolak jika dirinya ingin bertemu seperti saat ini. Brayen sudah tahu jika Gelisa Wilson tidak mungkin berani menolak dirinya.


Ting.


Pintu lift terbuka, Brayen melangkah keluar dari dalam lift. Ia menatap seorang wanita di meja sekretaris sudah berdiri saat dirinya melangkah mendekat.


"Selamat siang, Tuan Brayen. Perkenalkan saya Amel sekretaris dari Nyonya Gelisa Wilson. Beliau sudah menunggu kedatangan Tuan." kata wanita yang bernama Amel itu dengan suara yang lembut dan sopan. " Mari Tuan, saya antar." lanjutnya.


Brayen mengangguk, lalu berjalan mengikuti Amel. Brayen masuk kedalam ruang kerja Gelisa Wilson, benar saja wanita itu langsung berdiri menyambut Brayen dengan senyuman ramah di wajahnya saat Brayen berjalan masuk kedalam ruang kerja wanita itu.


"Tuan Brayen, welcome to our company." sapa Gelisa dengan senyuman di wajahnya.


Brayen tidak menjawab, ia lebih memilih melangkah mendekat ke arah Gelisa. "Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendengar sambutanmu." tukas Brayen dingin.


Gelisa tetap mengulas senyuman di wajahnya, " Baik, kalau begitu kita langsung berbicara Brayen Adams Mahendra."


Gelisa menuju ke arah lemari minuman, dia mengambil botol wine dengan dua gelas sloki lalu menuangkannya. "Memulai sebuah percakapan dengan minum wine, aku rasa bisa mencairkan suasana," kata Gelisa, dia memberikan gelas sloki berisikan wine pada Brayen.


Brayen tersenyum sinis. " Alright, sepertinya itu tidak buruk."


"Kalau begitu ada hal apa seorang Brayen Adams Mahendra mendatangi kantorku?" tanya Gelisa, sambil menyesap wine yang ada di tangannya.


Brayen menggerakkan gelas sloki itu berirama, dan tidak menoleh ke arah Gelisa. "Aku rasa kau tahu maksud tujuan ku datang, tanpa harus memberitahumu."


Gelisa mengedikkan bahunya, seolah tidak mengerti tujuan dari Brayen Adams Mahendra mendatangi perusahaan miliknya. "Sayangnya memang aku tidak tahu tujuanmu datang ke kantorku."


"Well, jangan berpura - pura tidak tahu kedatanganku. Karena aku tidak bisa dengan mudahnya di tipu." tukas Brayen.


Gelisa tersenyum miring. "Ah, aku tahu. Apa ini karena Ayah mertuamu Edwin Smith? Pria yang menjadi Ayah dari kedua anakku?"


"Jadi bisa kau menjelaskan apa yang kau inginkan Brayen Adams Mahendra?" Gelisa bertanya dengan anggun. Dia kembali menyesap wine yang berada di tangannya.


"Apa tujuanmu kembali ke Indonesia? Untuk mendapatkan pengakuan dari Ayah mertuaku?" tukas Brayen dengan penuh sindiran.


Gelisa tertawa sinis. "Pengakuan? Pengakuan apa yang kau maksud? Pengakuan dia adalah Ayah dari kedua anakku? "


"Aku rasa kau tahu bukan, sekarang Ayah mertuaku berada jauh di atasmu. Dulu saat dia masih bersamamu dia hanya pemuda miskin yang tidak memiliki apapun." balas Brayen dingin.


"Dan sayangnya memang aku tidak pernah perduli dengan harta yang di miliki oleh Ayah mertuamu itu." tukas Gelisa dengan penuh penekanan.


Brayen menganggukan kepalanya seolah mempercayai semua perkataan Gelisa kepadanya, lalu dia menyesap wine yang berada di tangannya. Sejak tadi Brayen hanya menggerakkan gelas sloki di tangannya. "Jadi, kau tidak memperdulikan harta yang di miliki oleh Ayah mertuaku?" balas Brayen dengan seringai di wajahnya.


"Ya, aku tidak memperdulikannya. Come on Brayen Adams Mahendra, kau lihat suamiku yang telah meninggal itu, dia sudah memberikan perusahaan ini padaku. Untuk apa aku harus mengharapkan harta dari Ayah mertuamu?" ujar Gelisa dengan senyuman sinis.


"Jika seperti itu, harusnya putrimu Lucia tidak mendatangi Istriku. Aku dengar putrimu mengatakan kehidupan Istriku sangat sempurna. Apa putrimu memiliki perasaan iri pada istriku, karena istriku memiliki segalanya?" kata Brayen, dia menatap lekat Gelisa yang berdiri di hadapannya.


"Putriku iri karena istrimu mendapatkan kasih sayang, perhatian dan segalanya dari Ayahnya. Sedangkan putriku tidak mendapatkan apapun dari Edwin, meski hanya kasih sayang atau perhatian setelah Edwin tahu dia memiliki anak dariku dia juga tetap tidak memberikannya. Bahkan Edwin masih tidak juga bertemu dengan anakku." jelas Gelisa.


Brayen menaikkan sebelah alisnya. " Jadi, yang kau inginkan adalah Ayah mertuaku menemui anakmu? Rasanya kau tahu bukan, banyak media yang kini membahas tentang Ayah mertuaku. Rasanya itu sulit, karena jika Ayah mertuaku menemui anakmu. Itu akan membuat nama baik yang selama ini dia jaga bisa hancur karena pemberitaan buruk media."


Gelisa tertawa. "Nama baik? Sungguh mengesankan jika seorang Edwin Smith lebih memilih nama baik dari pada harus menemui kedua anak kembarnya. Edgar dan Lucia berhak bertemu dengan Ayah kandung mereka. Meski Edwin Smith tidak menyukai takdir dimana dia memiliki anak denganku tapi dia tidak bisa mengelak dengan kenyataan itu."


"Apa kau menyukai takdir dimana kau memiliki anak dari seorang Edwin Smith?" suara Brayen bertanya dengan penuh sindiran.


"Apa yang ingin kau dengar? Karena aku menyukai atau tidak tetap saja takdir sudah memberikanku anak dari Edwin Smith." jawab Gelisa dengan senyuman sinis di wajahnya.


Brayen menganggukan kepalanya, dia melangkah mendekat ke arah Gelisa. Kini jarak di antara mereka begitu dekat. "Bermain api itu terkadang membuat kita tidak mudah bosan. Tapi kau harus tahu, ketika kau bermain dengan api maka kau harus siap jika dirimu terbakar. Dan aku disini untuk mengingatkanmu satu hal, aku bisa dengan mudahnya menghancurkanmu. Siapapun yang sudah bermain api denganku. Maka aku ingatkan padamu Gelisa Wilson, kau harus tahu siapa lawanmu. Jangan membuat sebuah kesalahan yang akan kau sesali seumur hidupmu."


Brayen meletakkan gelas sloki di atas meja, dengan seringai di wajahnya dia menatap Gelisa lalu dia berjalan meninggalkan ruang kerja Gelisa.


Rahang Gelisa mengeras, dia mengepalkan tangannya dengan kuat mendengar ucapan dari Brayen. Gelisa terus menatap Brayen, hingga pria itu hilang dari pandangan Gelisa.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.