Love And Contract

Love And Contract
Kemarahan Davin



"Aku akan selalu menunggumu." balas Angkasa kemudian Laretta beranjak dari tempat duduknya, dia langsung berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap - siap.


Tidak lama kemudian, Laretta mengganti pakaiannya dengan dress berwarna biru laut. Angkasa menggenggam tangan Laretta, kini mereka berjalan meninggalkan studio lukis milik mereka.


Saat Angkasa dan Laretta baru saja keluar dari studio lukis, langkah mereka berhenti ketika berpapasan dengan Devita.


"Angkasa? Laretta? Kalian ingin pergi?" tanya Devita yang kini berada di hadapan Angkasa dan juga Laretta.


"Ya Devita, aku ingin bertemu dengan Ibunya Angkasa." jawab Laretta.


Devita mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu, salamkan aku untuk Bibi Citra dan Paman Varell."


"Tentu kami akan menyampaikannya," sambung Angkasa.


"Devita, apa tidak apa-apa aku meninggalkanmu?" tanya Laretta yang merasa tidak enak meninggalkan Devita sendirian di mansion.


Devita tersenyum, "Aku juga akan pergi ke salon, karena sudah lama aku tidak ke salon."


"Kau ingin ke salon? Baiklah, selamat menikmati waktumu," balas Laretta.


"Devita, kami pergi dulu. Sampai jumpa." pamit Angkasa pada Devita.


"Hati - hati Angkasa, jaga adik iparku dengan baik," ucap Devita dengan tatapan yang serius.


Angkasa menggangguk. "Aku akan menjaganya seumur hidupku."


" Ah, romantis sekali," komentar Devita. Dia mengulum senyumannya setelah mendengar perkataan dari Angkasa.


Kemudian, Angkasa dan juga Laretta berjalan meninggalkan Devita. Melihat Angkasa dan juga Laretta sudah pergi, Devita memilih untuk kembali ke kamar. Siang nanti Devita akan pergi ke salon. Melakukan treatment kecantikan adalah pilihan yang tepat untuk menghilangkan kebosanan.


...***...


Davin turun dari mobil, dia membanting kasar pintu mobilnya. Dengan penuh amarah, Davin melangkah masuk kedalam ruang keluarganya.


"Raymond!" Suara teriakan Davin menggelegar saat masuk kedalam rumah.


"Davin? Apa - apaan kamu ini? Kenapa kamu berteriak sampai seperti ini?" Suara Rosetta ibunya yang baru saja menuruni tangga, dia sangat terkejut mendengar suara teriakan dari Davin.


"Dimana Raymond, Ma?" seru Davin, wajahnya penuh dengan kemarahan, rahangnya mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Ada masalah apalagi dengan Raymond?" tanya Rosseta dengan nada cemas.


"Putramu itu sudah mencari masalah dengan Brayen Adams Mahendra!" Tukas Davin.


"Brayen Adams Mahendra? Ada apa sebenarnya?" wajah Rosseta semakin panik setelah mendengar perkataan dari Davin.


"Kenapa kau kesini?" Raymond muncul dari depan, dia melayangkan tatapan dingin dan tidak bersahabat ketika melihat Davin.


"Kau muncul juga akhirnya," seru Davin. "Apa kau sudah melihat? Saham perusahaan kita menurun? Ini terjadi karena ulahmu! Aku sudah mengatakan padamu jangan pernah mencari masalah dengan Brayen Adams Mahendra! Kenapa otakmu itu sama sekali tidak bisa mencerna perkataanku dengan baik? Apa kau ini ingin kehilangan segalanya, akibat kebodohanmu itu? Hah?!"


Raymond mengedikkan bahunya acuh. "Kau tenang saja, nanti saham kita juga akan kembali lagi. Tidak perlu terlalu di pikirkan, aku yakin kita tidak mungkin bangkrut."


Davin melangkah maju, dia meraih kerah baju Raymond dan mencengkram kuat kerah baju Raymond. "Kau pikir bisa dengan mudahnya? Dimana letak otakmu Raymond! Kenapa kau kembali jika mencari masalah? Pergi kau! Aku berharap kau tidak perlu datang jika hanya mencari masalah sialan!"


Raymond mendorong tubuh Davin dengan keras, dia mengibaskan pakaiannya seolah terkena noda akibat tangan Davin yang menyentuh kerah bajunya.


"Harusnya kau itu membelaku! Adik macam kau membela orang lain!" Seru Raymond meninggikan suaranya.


"Sejak dulu kau itu tidak pernah berubah, kau itu lemah. Kau terlalu takut dan sering bermain aman, kau itu sangat memalukan!" Tukas Raymond dengan penuh sindiran pada Davin.


Rahang Davin mengeras, dia meraih kerah baju Raymond. Dengan penuh emosi, Davin melayangkan satu pukulan di pelipis Raymond. Tidak perduli dengan luka yang masih ada di wajah Raymond, karena Davin sudah habis kesabaran pada Raymond.


"Astaga, Davin hentikan. Kakakmu itu masih terluka!" Teriak Rosseta dengan kencang.


Namun Davin tidak memperdulikan teriakan dari ibunya, dia terus melayangkan pukulan pada Raymond. Tidak tinggal diam, Raymond juga membalas pukulan dari Davin hingga membuat Davin tersungkur di lantai. Davin bangkit berdiri, dia membalas pukulan dan tendangan dari Raymond.


"Apa - apaan kalian berdua!" Suara Gilbert berseru melihat kedua putranya yang saling berkelahi..


"Davin! Raymond! Hentikan!" Teriak Gilbert menggelegar, hingga membuat Davin juga Raymond menghentikkan perkelahian mereka.


Dengan penuh amarah, Gilbert melangkah maju ke arah Davin dan juga Raymond. "Apa kalian berdua ini sudah kehilangan akal sehat kalian? Kenapa kalian berkelahi seperti orang yang tidak berpendidikan!"


"Jangan salahkan aku! Kau salahkan saja putra kebanggaanmu ini! Dia berani menyerangku!" Seru Raymond tak terima di salahkan.


"Diam kau sialan! Kalau bukan karena kau mengganggu istri dari Brayen Adams Mahendra, aku tidak akan seperti ini padamu!" Balas Davin sengit.


"Istri Brayen? Apa maksudnya ini Davin?" Gilbert melayangkan tatapan dingin pada Davin yang berdiri di hadapannya.


Davin membuang napas kasar. "Putramu yang selalu membuat masalah ini selalu menganggu Devita Mahendra. Istri Brayen, pertunangan ku jadi hancur karena ulah putramu yang selalu membuat masalah."


Seketika raut wajah Gilbert berubah, terlihat jelas wajahnya memerah, dia menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya.


"Raymond!" Teriak Gilbert, "Jadi malam itu kau berkelahi dengan Brayen karena kau sudah menganggu istrinya? Bukan karena kesalahpahaman yang kau maksud? Katakan yang sebenarnya Raymond!"


"Kenapa kalian semua berlebihan sekali? Aku hanya menyapa istri dari Brayen saja. Dia itu wanita yang sangat cantik dan juga baik. Sesuai dengan keinginanku dalam mencari wanita." jawab Raymond dengan santai.


"Raymond Bautista! Dimana letak pikiranmu itu! Apa kau tahu, kau sudah menganggu istri siapa? Apa kau itu tidak bisa mencari musuh yang seimbang denganmu!" Seru Gilbert meninggikan suaranya.


"Pa, kendalikan emosimu. Mungkin maksud Raymond tidak seperti itu." Rosetta mengelus lengan suaminya, berusaha menenangkan suaminya dari kemarahan.


"Diam Ma! Jangan selalu membelanya! Sekarang lihat akibat dari sering kau membelanya, sekarang dia menjadi anak yang pemberontak!" Sentak Gilbert.


Raymond berdecak kesal, terlihat jelas dia tidak suka di sudutkan. "Kenapa semuanya selalu menyalahkanku? Bukankah orang yang sudah menikah bisa bercerai? Kita itu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi bukan? Siapa tahu memang Devita di takdirkan untukku?"


"Kau gila Raymond! Apa kau tidak membaca di media? Kalau Devita itu sedang hamil? Apa kau itu tidak mampu mencari wanita yang belum memiliki suami?" geram Davin. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya. Terlebih di sini ada orang tuannya. Jika tidak, Davin sudah menghajar Kakaknya itu.


"Raymond, besok kau harus menetap tinggal di Las Vegas! Papa tidak ingin kau itu terus - terusan mencari masalah!" Tukas Gilbert.


"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Indonesia! Kenapa aku harus meninggalkan negara ini? Kalian itu terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah!" Balas Raymond yang tidak terima jika harus di minta untuk meninggalkan Indonesia.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.