
Devita dan juga Laretta kini sudah tiba di mansion Selena. Acara ulang tahun Selena di rayakan di mansionnya. Devita menatap mansion yang cukup mewah dengan warna abu - abu membuat mansion itu terlihat classy.
Devita dan juga Laretta turun dari mobil, mereka melangkah masuk kedalam mansion itu. Devita menatap banyak para tamu undangan yang menatap dirinya dan juga Laretta saat masuk ke dalam. Sebenarnya, Devita merasa jika menjadi pusat perhatian. Beruntung selama masuk kedalam, Laretta selalu memeluk dirinya. Itu membuat Devita merasa jauh lebih nyaman.
"Devita? Laretta? Kalian sudah datang?" seru Selena saat melihat Devita dan juga Laretta
"Selamat ulang tahun Selena..."
Devita tersenyum, dia langsung memeluk erat Selena. Begitu pun juga dengan Laretta yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk Selena.
"Selena, ini hadiah dariku. Semoga kau menyukainya." Devita memberikan sebuah kotak kecil dan memberikannya kepada Selena.
"Oh Astaga, Devita terima kasih. Kau sudah datang saja aku sudah sangat senang." Selena mengambil kotak itu, dia langsung membuka kotak itu. Seketika senyum di bibir Selena merekah menatap sebuah anting berlian yang sangat indah.
"Devita, terima kasih. Ini sungguh sangat cantik," ucap Selena dengan senyuman di wajahnya.
"Sama - sama Selena. Aku senang jika kau juga menyukainya." balas Devita.
"Selena, ini dariku. Aku harap kau juga menyukainya," Laretta juga menyerahkan sebuah kotak di tangannya pada Selena.
"Laretta, harusnya kau itu tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan ini." Selena mengambil kotak itu, dan dia langsung membuka kotak itu. Selena pun kembali tersenyum saat melihat sebuah gelang berukiran namanya. "Terima kasih, Laretta. gelang ini sungguh sangat cantik."
"Sama - sama Selena, aku senang jika kau menyukainya juga," balas Laretta. "Devita, Selena aku permisi ke toilet sebentar."
"Toilet ada di sana Laretta." tunjuk Selena ke arah toilet yang letaknya di ujung ruangan.
"Apa kau ingin aku temani Laretta?" tawar Devita.
"Tidak usah Devita, aku bisa sendiri."
"Baiklah, hati - hati."
Laretta kini berjalan meninggalkan Devita dan Selena.
"Apa kau ingin minum Devita?" Selena menawarkan wine ketika pelayan mengantarkan minuman padanya.
"Tidak Selena, aku tidak minum beralkohol. Karena aku sedang hamil." tolak Devita dengan lembut.
"Kau hamil?" Selena sedikit terkejut ketika mendengar Devita hamil.
"Ya, aku sedang hamil."
"Selamat Devita, jadi kau hamil bersamaan dengan Laretta?"
"Kau tahu Laretta sedang hamil?"
"Perut Laretta sudah membesar, aku sudah melihatnya. Aku juga mendapatkan kabar dari teman Laretta yang ada Korea, dia mengatakan jika Laretta sedang hamil. Itu kenapa Laretta pindah ke Indonesia."
Devita mengangguk paham. "Ya, aku hamil bersamaan dengannya. Tapi usia kandungan Laretta sudah memasuki bulan ke lima. Sedangkan aku masih baru tiga bulan."
"Beruntungnya kau dan Laretta sebentar lagi akan segera memiliki anak. Kalian juga memilki pasangan yang mencinta kalian." balas Selena dengan sorot mata yang menerawang ke depan.
"Apa kau belum menikah Selena?" tanya Devita hati - hati.
"Belum, mungkin belum ada yang mau dengan wanita sepertiku." Selena menjawab sembari menyesap wine yang ada di tangannya.
"Kau cantik, Selena. Tidak mungkin ada pria yang menolakmu," jawab Devita dengan tatapan yang lembut.
Selena tersenyum tipis. "Ada, ada satu pria yang menolakku. Dan pria itu tidak mungkin aku dapatkan. Aku hanya bisa bermimpi jika mendapatkankan nya."
Devita terdiam sesaat, setelah mendengar perkataan dari Selena. Entah kenapa Devita sudah tahu pria yang di maksud Selena. Jika bukan karena Laretta yang menceritakan padanya, mungkin Devita tidak tahu. Tapi Devita menatap dengan jelas wajah kecewa
"Selena, pria bukan hanya satu. Aku yakin, Tuhan akan mengirimkan pria yang terbaik untukmu," ujar Devita.
Selena menghela nafas dalam. "Ya, semoga saja itu benar Devita."
"Devita, bolehkah aku bertanya tentangmu dengan Brayen?" tanya Selena menatap Devita dengan serius.
"Apa yang ingin kau tanyakan tentangku dan juga Brayen?" tanya Devita.
"Maaf sebelumnya, jika aku berani bertanya tentang ini. Hanya saja aku ingin tahu," balas Selena.
"Dulu yang aku tahu, ketika Brayen berpisah dengan Veronica, dia menjalin hubungan asmara dengan artis asal Italia Elena Davidson. Aku hanya sedikit terkejut dia menikah denganmu, karena aku belum pernah mendengar kabar tentang dirimu dan Brayen. Aku memang pernah mendengar Brayen menikah, hanya saja waktu itu aku di London. Aku tidak terlalu mengikuti pemberitaan tentang Brayen."
"Aku dan Brayen di jodohkan, kami tidak pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya." jawab Devita. "Tapi meski kami di jodohkan, pada akhirnya kami saling mencintai. Hubunganku dengan Brayen dulu sangat rumit, namun kita berhasil melewati semuanya. Hingga pada akhirnya, aku dan Brayen saling jatuh cinta.
Selena kembali menyesap winenya, pandangannya menatap lurus ke depan. "Kau sungguh beruntung memiliki Brayen. Dia pria yang sangat setia pada wanitanya. Tidak hanya itu, tampan dan juga hebat. Aku bahkan belum menemukan pria yang sempurna seperti Brayen."
Devita tersenyum, "Setiap orang punya kelemahan, Selena. Aku yakin, kau juga akan menemukan pria yang baik di hidupmu. Kau cantik dan anggun. Pasti kau akan mendapatkan pria yang baik di hidupmu."
"Ya, aku sungguh mengharapkan itu menjadi kenyataan. Aku sering bertemu dengan pria, tapi kenyataannya mereka sering mempermainkan perasaanku," ujar Selena. "Pada akhirnya, mereka hadir di hidupku hanya memberikan luka. Itu alasan aku tidak menginginkan pria di hidupku saat ini. Karena ada satu pria yang masih aku sukai sejak dulu, tapi pria itu tidak bisa aku gapai."
Devita mengelus lengan Selena. "Jangan pernah menyerah Selena. Takdir akan mempertemukanmu dengan pria yang baik."
"Hey, apa aku melewatkan sesuatu?" suara Laretta yang kini sudah berada di hadapan Devita dan juga Selena.
"Kau sudah selesai?" tanya Devita dan Laretta mengangguk pelan.
"Laretta, meski kau sedang hamil. Kau terlihat sangat cantik. Bahkan tubuhmu masih sangat indah," komentar Selena saat Laretta sudah berada di hadapannya.
"Kau tahu, aku hamil?" Laretta sedikit terkejut. Pasalnya dia belum mengatakan apapun pada Selena tentang kehamilannya.
"Perutmu sudah membesar Laretta, tidak mungkin aku tidak tahu." balas Selena. "Aku juga tahu kabar terakhir dari teman - temanmu yang ada di Korea. Mereka memberikan kabar kalau kau sedang hamil."
"Kau benar, aku sedang hamil. Pasti terlihat jelas jika tubuhku ini sangat gemuk," kata Laretta.
"No, kau sangat cantik. Kau tahu? Aku sangat menyukai wanita hamil. Mereka menunjukkan aura kecantikannya dengan tubuhnya yang berisi, dan perutnya yang membuncit," ujar Selena. "Aku berharap suatu hari nanti, aku bisa di berikan kesempatan untuk mengandung. Karena menjadi seorang ibu adalah impian semua orang."
Laretta tersenyum, "Suatu saat kau pasti akan menjadi seorang Ibu sangat yang baik. Aku bisa melihat itu dari wajahmu."
"Sudah cukup memujiku, lebih baik kita masuk kedalam. Banyak teman - temanku mereka sudah sejak tadi melihat kalian berdua. Aku yakin mereka ingin berkenalan dengan kalian," ujar Selena.
Kini Selena membawa Devita dan Laretta berkumpul dengan teman - temannya. Devita tersenyum canggung, dia tidak bisa di kenalkan dengan banyak orang seperti ini. Biasanya Devita hanya selalu bersama dengan Olivia sejak dulu. Devita berusaha mengulas senyuman hangat, meski Devita terlihat tidak nyaman berada bersama dengan mereka.
"Ladies, maaf aku terlambat." suara seorang perempuan saat memasuki ruangan para wanita berkumpul.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.