
"Hem. Brayen, ini jadi kita tidur berdua di ranjang?" tanya Devita yang gugup dan tidak berani menatap Brayen.
"Apa kau mau tidur di lantai?" tanya Brayen sinis.
"Aku ini seorang perempuan! Bagaimana kau memintaku untuk tidur di lantai!" Ketus Devita tanpa memperdulikan Brayen, dia langsung membaringkan tubuhnya di samping Brayen.
"Kau tidurlah, aku masih banyak hal yang harus di kerjakan," tukas Brayen dingin.
"Brayen, aku ingin bertanya?" tanya Devita.
"Ada apa lagi?"
"Kenapa Mom Rena membelikanku banyak sekali lingerie? Aku tidak pernah memakai lingerie dalam hidupku. Itu sama saja dengan tidak memakai baju!" Gerutu Devita yang membuat Brayen mengulum senyumannya.
"Mommy ku tahu ini malam pertama kita. Biarkan saja, nanti aku akan menyuruh orang untuk membelikan gaun tidur untukmu." balas Brayen.
"Tapi jangan yang kekurangan bahan!" Seru Devita kesal.
"Lagi pula kau ini kurang berisi! Meskipun kau memakai pakaian sexy sekalipun, aku tidak akan tertarik!" Tukas Brayen, tanpa melihat ke arah Devita.
"Kata siapa aku kurang berisi? Kau ini menyebalkan! Sudah, aku mau tidur!" Cebik Devita kesal. Dia langsung menarik guling dan tidur membelakangi Brayen.
...***...
Cuaca pagi hari begitu cerah. Devita sudah lebih dulu terbangun. Hari ini adalah hari pertama Devita menjadi seorang Istri. Tidak hanya itu, tapi hari ini juga adalah hari pertama Devita Magang di Dixon's Group. Devita memang sengaja memilih untuk langsung magang setelah menikah. Lagi pula, Brayen juga tidak mengambil cuti. Brayen tetap bekerja setelah menikah. Jadi, tidak masalah bagi Devita untuk tidak mengambil libur.
Devita berjalan menuju ke walk in closet. Dia memilih untuk memakai mini dress berwana mustrad lengan pendek yang di padukan dengan flat shoes merk Gucci, yang sudah pasti semua barang - barang Devita sudah pasti branded stuff karena memang Rena membelikan banyak sekali barang - barang merk ternama dunia.
Setelah berias, Devita berjalan menuju ke ruang makan. Pelayan sudah menyiapkan untuk Devita dan juga Brayen. Tak lama Devita tiba di ruang makan, Brayen juga sudah siap untuk berangkat ke kantor.
"Pagi," sapa Devita saat masuk ke dalam ruang makan, lalu duduk di samping Brayen.
"Aku dengar, hari ini pertama kau magang?" tanya Brayen langsung tanpa menjawab sapaan dari Devita.
"Ya kau benar," jawab Devita singkat.
Brayen kini mengalihkan pandangannya. Kini dia menatap lekat Devita dan beratanya " Kau magang di mana?"
"Di Dixon's Group," jawab Devita santai.
Brayen langsung meletakkan sarapannnya dan kini menatap tajam ke arah Devita. "Kenapa kau harus magang di Dixon's Group?" tanya Brayen dengan dingin.
"Karena aku ingin, lagian perusahaan Dixon's Group adalah perusahaan yang cukup besar, jadi tidak masalah kan kalau aku magang di sana," balas Devita sambil menikmati daging sandwich miliknya.
"Kenapa kau tidak magang di perusahaan keluargamu atau perusahaanku saja?" tanya Brayen dengan nada yang tidak suka ketika mendengar Devita magang di Dixon's Group.
"Pertama aku ingin berusaha sendiri. Aku tidak ingin mengandalkan nama Smith di belakang namaku. Kau tahu, Ayahku saja bekerja keras dari bawah, aku tidak mau seenaknya menikmati hasil yang susah payah dia mendapatkannya. Dan yang kedua, jika aku magang di perusahaanmu, harusnya semua karyawan sudah tahu bukan jika aku adalah Istrimu. Bagaimana aku bisa berkembang, jika mereka saja pasti akan takut denganku, karena aku Istrimu." Devita menjelaskan alasan kenapa dia tidak ingin magang di perusahaan keluarganya atau pun Suaminya.
"Dan yang terakhir, kita akan selalu bertengkar, Brayen. Bayangkan saja, kita sering bertemu saja kita selalu berdebat apalagi kita satu kantor," lanjut Devita yang mengingatkan mereka jika mereka sering bertengkar jika bertemu.
"Kau benar! Tapi jangan di Dixon's Group!" Tukas Brayen dingin.
"Di perjanjian bukankah sudah tertulis? Jika kau harus menurutiku Devita Smith?" Kini Brayen semakin menatap tajam ke arah Devita.
Devita mendengus kesal mendengar ucapan dari Brayen "Come on Brayen, i am not a kids anymore! Biarkan aku membentuk masa depanku, dan berikan aku alasan pasti kenapa kau melarangku untuk magang di Dixon's Group?" tanya Devita balik.
Brayen membuang napas kasar, " Alright, aku akan memberi izin padamu di Dixon's Group. Tapi, jika aku tahu kau terlibat skandal, aku akan menghabisimu dengan tanganku." desis Brayen penuh dengan peringatan.
Devita memutar bola matanya malas, "Tenanglah, aku ingat apapun yang kau katakan dan kau juga jangan sampai ada skandal. Jangan hanya kau bisa mengancamku saja!" Ketus Devita.
"Aku tidak tertarik untuk terlibat skandal dalam pernikahan ini. Kau tenang saja!" Balas Brayen dengan dingin.
"Devita ambil ini," Brayen menyerahkan JP Morgan Case Palladium Card dan Garuda Express Centurion Card pada Devita. Mata Devita membulat sempurna mendapatkan dua kartu unlimeted, "Brayen, ini untuk apa?" tanya Devita.
"Karena kau Istriku, aku bertanggung jawab sepenuhnya atas segala keperluanmu. Dan ingat, meskipun kau menyandang status sebagai Istri, kau tidak berhak mencampuri urusanku." jelas Brayen.
Devita menerima dan menyimpan dua kartu itu dan berkata, "Tenang saja, aku juga tidak akan mencampuri urusanmu dan kau pun jangan mencampuri urusanku."
"Satu lagi, terima kasih untuk kartunya." ucap Devita dan Brayen pun mengangguk singkat.
"Aku berangkat. Mobilmu sudah ketinggalan jaman, kau pakai mobil Lamborghini Veneno. Itu cocok untukmu." balas Brayen, kemudian dia berjalan meninggalkan Devita.
"Dia itu menyebalkan! Tetapi selalu memberikan apapun untukku," gumam Devita.Dia mengambil kunci mobil dan tas, lalau berjalan menuju mobil.
...***...
Devita baru saja tiba di Dixon's Group. Dia langsung memarkirkan mobilnya. Saat Devita turun dari mobil, terdengar suara teriakan seorang perempuan yang memanggil namanya.
"Devita," suara teriakan memanggil nama Devita, kembali terdengar.
Devita membalikkan tubuhnya, dia menatap ke arah Olivia tengah berlari menghampirinya. "Olivia, kau ini seperti di hutan saja!" Balas Devita ketus.
Olivia terkekeh pelan. Kemudian pandangan Olivia menatap mobil yang di pakai oleh sahabatnya itu. " Devita ini mobil Lamborghini keluaran terbaru. Apa kau tahu? Ini sangat mahal." Ucap Olivia, tidak henti menatap mobil yang di pakai oleh Devita hari ini.
"Ini mobil Brayen. Dia meminta aku untuk memakai mobil ini, dan aku di larang untuk memakai mobil yang lama," jawab Devita.
Olivia mengulum senyumannya. " Kau sangat beruntung Devita, suamimu itu sangat hebat."
Devita mendengus kesal dan berkata, " Sudahlah, lebih baik kita masuk ke dalam."
...******...
Episodenya udah Author buat panjang, sekarang bantu Author untuk VOTE dan jangan lupa sehabis baca langsung LIKE sertakan KOMENTAR positifnya juga ya, Author sangat berterima kasih dengan komentar - komentar kalian yang sudah buat Author bersemangat.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.