
Di ruang meeting, Brayen duduk di ruang kebesarannya. Pandangannya menatap Mr. Lee dan Mr. Nicholas yang tengah membahas proyek kerjasama. Kali ini Brayen juga mewakili Smith Company. Brayen tidak mungkin membiarkan Devita yang tengah hamil, harus mengambil tanggung jawab perusahaan.
"Tuan Brayen, saya rasa proyek kerjasama dengan Smith Company bisa segera kita laksanakan." Nicholas mengambil dokumen yang berada di atas meja dan mulai memeriksa dokumen tersebut. "Tuan maaf, saya ingin bertanya untuk memastikan. Jadi apa Nona Devita Smith sudah tidak lagi ikut dalam proyek ini? Mengingat terakhir kali Nona Devita Smith ikut meeting dengan kita. Saya juga sudah mendapatkan informasi jika Nona Smith akan mengambil alih Smith Company."
"Istriku sedang hamil," jawab Brayen. "Kedepannya untuk urusan Smith Company akan menjadi urusanku. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mengatakannya kepada Albert. Aku tidak ingin merasa terbebani dengan masalah perusahaan."
"Baik Tuan Brayen, kedepannya saya akan langsung menghubungi anda," balas Nicholas. "Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan istri anda,"
Brayen mengangguk singkat, "Allright, meeting bisa kita lanjutkan besok," tutup Brayen. Nicholas dan Mr. Lee mengangguk singkat. Kemudian Brayen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar meninggalkan ruang meeting.
Brayen melirik arlojinya, kini sudah pukul dua siang. Harusnya Devita itu sudah pulang ke rumah. Brayen melanjutkan kembali langkahnya menuju ke ruang kerja.
"Tuan Brayen," sapa Albert, hingga membuat Brayen menghentikkan langkahnya.
Brayen membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Albert. "Ada apa?"
"Ada yang ingin saya sampaikan, tuan." jawab Albert.
"Apa yang ingin kau sampaikan, Albert" Brayen mengernyitkan dahinya.
"Ini tentang Richard Alexander Dixon, Tuan."
"Richard Alexander Dixon?" kening Brayen berkerut dalam, saat mendengar Albert ingin membahas tentang Richard Alexander Dixon. "Kenapa kau tiba - tiba berbicara tentang Richard Alexander Dixon?"
"Ada hal penting tentang dirinya, Tuan?"
"Kita bicara di dalam." Brayen melanjutkan langkahnya, masuk kedalam ruang kerja . Albert pun mengikutinya dari belakang.
"Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kau sampaikan?" Brayen bertanya dengan tersirat nada mendesak. Kini dia sudah berada di ruang kerja. Dan duduk di kursi kerjanya, Brayen pun menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya.
"Saya ingin menunjukkan sebuah video pada anda, Tuan," Albert menyerahkan Ipad yang ada di tangannya dan memberikannya pada Brayen.
Brayen menerima iPad dari Albert, dan mulai melihat video yang ada di ada iPad itu. Brayen menatap lekat video itu. Seketika tatapan Brayen berubah menjadi tatapan dingin setelah melihat wartawan yang meliput tentang Richard Alexander Dixon. Terlebih ketika wartawan mengatakan jika Richard Alexander Dixon masih menyimpan perasaan pada wanita yang memiliki darah Indonesia.
Rahang Brayen mengetat, dia tentu tahu, bagaimana Richard dengan Devita, istrinya. Hingga kemudian, Brayen mengembalikan iPad milik Albert.
"Siapa yang di maksud wanita yang di sukai oleh Richard?" suara Brayen terdengar begitu dingin tersirat nada kemarahan tertahan.
"Tuan Brayen, beberapa hari lalu saya sudah mendapatkan informasi. Beberapa media dari Berlin selama ini mengikuti pergerakan dari Richard Alexander Dixon saat terakhir Richard Alexander Dixon meninggalkan kota B, dia datang menemui Nyonya Devita. Dan di sana Richard berpamitan serta mengungkapkan perasaannya pada Nyonya Devita." ucap Albert yang menjelaskan dengan hati - hati. Dia tidak ingin Brayen marah. Namun, terlambat saat Albert melirik ke arah Brayen. Tersirat tatapan marah.
"Beraninya pria itu mengungkapkan perasaannya pada istriku!" Brayen menggeram, dia mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat.
"Tuan maaf, tapi mungkin Richard Alexander Dixon hanya mengungkapkan perasaannya saja," Albert berusaha untuk menenangkan Brayen. "Saya yakin, Nyonya Devita juga hanya menganggap Richard Alexander Dixon sebagai teman dan tidak lebih."
Brayen membuang napas kasar, "Tapi istriku tidak pernah mengatakan apapun tentang Richard Alexander Dixon!"
"Dengan tidak memberitahuku, itu yang semakin membuatku marah!" Seru Brayen dengan penuh emosi.
"Tuan, di media juga menceritakan jika Tuan Richard Alexander Dixon akan menikah. Saya rasa Richard Alexander Dixon memang sudah melupakan Nyonya." balas Brayen.
"Itu tidak menjadi jaminan! Aku tidak tahu! Selama dia masih memiliki darah yang sama seperti William Dixon, mereka hanya orang yang sama!" Brayen mengepalkan tangannya dengan kuat. Sorot tajam penuh dengan kemarahan.
"Tuan maaf, lebih baik Tuan itu menenangkan diri. Hari ini, Tuan Brayen masih memiliki jadwal meeting dengan perusahaan asal Rusia. Kita tidak mungkin membatalkan meeting ini, Tuan." ucap Albert yang kembali mengingatkan, jika Brayen masih memiliki pekerjaan yang menunggu.
Brayen memejamkan matanya singkat. Mengumpat di dalam hati, dia ingin sekali langsung pulang menemui istrinya. Tapi tidak mungkin. Pekerjaannya kali ini tidak bisa di tinggal. Terlebih sekarang, Brayen juga fokus pada Smith Company. Karena saat Devita berada di rumah sakit Brayen sudah banyak meninggalkan pekerjaannya dan meninggalkannya pada Albert.
"Kau keluarlah, Albert. Dan berikan aku waktu selam tiga puluh menit untuk beristirahat. Dan jangan menganggu ku selama tiga puluh menit ke depan," tukas Brayen.
Albert pun mengangguk patuh, kemudian dia undur diri dari hadapan Brayen. Melihat Albert sudah pergi, Brayen menyandarkan punggungnya di kursi. Memejamkan mata lelah. Pikiran Brayen memang tidak berhenti memikirkan pemberitaan di media. Meski Brayen juga tahu, Devita dan Richard hanyalah sebatas teman. Tapi Brayen tidak suka jika Devita tidak pernah menceritakan padanya.
...***...
Devita turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam rumah. Hari ini, Devita pulang lebih awal, karena memang dia sudah tidak lagi memiliki mata kuliah. Kini Devita hanya tinggal menunggu hari kelulusannya.
"Devita," panggil Laretta saat melihat Devita berjalan kedalam rumah.
Devita menoleh dan melihat ke arah Laretta. "Ada apa Laretta?"
"Hem... begini, rencananya besok aku ingin pergi berbelanja. Apa kau mau menemaniku? Aku juga ingin agar kau mengajak Olivia juga." jawab Laretta.
Devita tersenyum. "Tentu saja aku itu mau menemanimu, Laretta. Aku juga sudah lama sekali tidak berbelanja. Dan untuk Olivia kau tenang saja. Aku akan mengirim pesan pada Olivia untuk pergi bersama dengan kita."
"Great! Aku sangat senang mendengarnya." balas Laretta.
"Ouh ya Laretta, apa kau sudah membahas tentang pernikahanmu dengan Angkasa? Seingatku orang tua Angkasa berada di Jepang. Kapan Angkasa akan mengenalkan mu pada orang tuanya?"
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.