Love And Contract

Love And Contract
Rasa Penasaran Felix Dan Laporan Albert



Brayen menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, dia memejamkan matanya lelah. Beberapa hari kedepan dia akan di sibukkan dengan proyek kerjasamanya dengan Wilson Grup. Beruntung Devita selalu mengerti dirinya. Meski terkadang Devita kesal karena Brayen pulang larut malam, tapi Devita tidak pernah mengeluh. Devita lebih banyak mengerti dengan segala tanggung jawab yang di miliki oleh Brayen.


"Brayen," panggil Felix dengan cukup keras. Dia langsung menerobos masuk ke ruangan kerja Brayen.


Brayen membuka matanya, dia sedikit terkejut. Ketika melihat Felix kini berdiri di hadapannya. "Ada apa kau masih di sini? Kenapa kau masih belum pulang?"


Felix tidak langsung menjawab, dia menarik kursi lalu duduk di hadapan Brayen dan langsung menyilangkan kakinya. "Dimana Devita? Bukannya hari ini, kau membawa Devita?"


"Aku sudah meminta Albert, untuk mengantarkan istriku pulang." jawab Brayen datar.


Felix mengangguk, dia menatap serius ke arah Brayen. "Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?"


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Brayen mengerutkan keningnya.


"Ini tentang Ivana Wilson." tukas Felix.


"Ivana Wilson? Apa yang ingin kau tanyakan?" kali ini Brayen menatap serius ke arah Felix.


"Aku seperti pernah mengenal Ivana Wilson?" ujar Felix.


"Apa maksudmu?" Brayen kembali tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Felix.


Felix mendesah kasar, "Pertama kali aku bertemu dengannya, aku seperti pernah mengenal Ivana Wilson? Wajahnya tidak asing bagiku. Dan tepatnya hari ini, saat aku menggantikanmu meeting dengan Ivana Wilson, aku menyadari. Aku tidak mungkin salah. Aku mengingat suara itu. Selama ini, Ivana Wilson selalu berbicara dengan keanggunan bahasa yang terlihat begitu berkelas. Tapi saat dia meeting denganku tadi pagi, tanpa sengaja aku mendengar suara Ivana yang terlihat begitu rapuh. Meski berkali - kali dia telah menutupi, tapi aku sangat mengingat dengan jelas suara itu."


"Mungkin dia salah satu wanita yang pernah menemanimu." balas Brayen dengan nada tersirat yang menyindir. "Bukannya, selama ini kau selalu memiliki banyak sekali wanita yang selalu mengelilingimu?"


Felix mengumpat pelan, dia melayangkan tatapan dingin pada Brayen. "Sialan kau Brayen! Aku tidak mungkin mengingat, jika dia hanya sekedar wanita yang pernah menemaniku minum, atau hanya sekedar wanita untukku bersenang - senang. Ini berbeda. Aku sangat yakin, aku mengenalnya. Tapi sekarang aku berusaha untuk mengingatnya, tetap saja aku belum bisa mengingatnya."


"Tujuanku menemuimu, aku hanya ingin bertanya apakah kau pernah merasa mengenal Ivana Wilson?" Felix kembali melanjutkan perkataannya, dia sengaja bertanya ini. Setidaknya, dia berharap Brayen merasa seperti apa yang dia rasakan.


"Kau sangat tahu, kita itu baru mengenal Ivana Wilson itu satu bulan yang lalu." tukas Brayen dingin.


Felix berdecak pelan, dan dia langsung menyambar botol wine yang ada di hadapannya lalu menuangkannya ke gelas sloki yang kosong. "Apa kau yakin? Aku merasa ini ada kaitannya denganmu? Belakang ini, Ivana Wilson sering mengatakannya padaku, dia selalu membaca artikel tentang dirimu dan juga Devita."


"Membaca artikel tentang diriku dan juga Devita?" Brayen menautkan alisnya. "Untuk apa dia membaca artikel tentang diriku dan juga Devita?" suara Brayen terdengar begitu dingin. Tersirat nada ketidaksukaan di wajahnya. Ketika Felix mengatakan jika Ivana Wilson membaca artikel dirinya dan Devita.


Felix mengedikkan bahunya. "Dia mengatakan dia hanya suka membaca artikel tentang kehidupanmu dan juga istrimu."


"Lupakan! Aku tidak ingin membahas wanita itu!" Seru Brayen. "Aku juga tidak mengenal wanita itu, lebih baik kau lupakan. Tidak perlu lagi membahas Ivana Wilson. Aku baru mengenal Ivana Wilson karena proyek kerjasama dengan Mahendra Enterprise"


Felix terdiam sejenak. Dia kembali menyesap winenya. Kemudian suara ketukan pintu terdengar, membuat Felix dan Brayen mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk. Brayen langsung menginterupsi untuk masuk.


"Tuan Brayen, Tuan Felix." sapa Albert, saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.


Felix mengangguk singkat. Membalas sapaan Brayen.


"Ada apa?" suara Albert bertanya begitu dingin pada Albert yang berdiri di hadapannya.


"Maaf menganggu, Tuan. Tapi saya ingin melaporkan tentang mobil hitam yang kemarin mengikuti anda." kata Albert dengan kepala yang masih menunduk.


"Cepat katakan padaku, siapa yang sudah mengikutiku?" Brayen melayangkan tatapan dingin. Dia segera mendesak Albert untuk segera memberitahunya.


"Tuan, saya sudah membuka CCTV. Plat nomor yang mengikuti anda itu palsu. Dan terekam CCTV, orang yang mengendarai mobilnya adalah seorang pria. Tapi orang itu menggunakan masker, kaca mata dan topi. Dari hasil CCTV yang saya buka, dia telah mengikuti mobil anda, ketika anda keluar dari mansion. Dan saya sangat yakin, orang itu sengaja mengikuti anda, Tuan." Albert menjelaskan semua hasil yang telah dia dapatkan.


Namun, ketika Albert mengatakan itu terlihat wajah Brayen yang terlihat begitu marah. Rahang Brayen begitu mengetat. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Dengan sorotan mata yang tajam.


Brayen membuang napas kasar. "Kemarin, saat aku dan Devita ke rumah orang tuaku, ada yang mengikuti mobilku."


"Kenapa kemarin kau tidak mengatakan apapun?" seru Felix kesal. "Kau bahkan terlihat baik - baik saja kemarin. Apa kau ini sudah tidak lagi menganggapku sepupumu!"


Brayen melayangkan tatapan dingin ke arah Felix. "Diamlah kau Felix! Kau jangan berlebihan! Aku bisa menjaga diriku dan juga istriku!"


Felix berdecak, dia membalas tatapan Brayen dengan tajam. "Kenapa kau pergi tanpa pengawalmu? Seharusnya kau selalu membawa pengawalmu. Kau sangat tahu, kita ini memiliki banyak sekali musuh dalam dunia bisnis. Sejak dulu, bukannya Paman David selalu meminta kita untuk pergi dengan pengawal? Kenapa kau tidak membawa pengawalmu?"


"Aku sedang tidak ingin. Karena Devita selalu tidak nyaman jika di ikuti oleh pengawal. Istriku itu tidak suka, jika semuanya berlebihan. Meski Devita selalu menurutiku jika aku bersama dengan pengawal, tapi aku hanya ingin membuat istriku, jauh lebih nyaman." tukas Brayen dingin.


Felix mendengus. "Kali ini, kau tidak bisa hanya diam. Ini demi keselamatanmu dan juga istrimu. Terlebih, istrimu itu sedang mengandung Brayen! Dan jika Paman David sampai mendengar ini, aku yakin dia akan mengerahkan seluruh anak buahnya, pada orang yang berani membututi mu!"


"Jangan katakan apapun pada Daddyku! Kesehatannya beberapa hari ini menurun! Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri!" Tukas Brayen dengan tatapan yang penuh peringatan pada Felix.


Felix membuang napas kasar, dia memilih untuk diam dan tidak menjawab perkataan Brayen.


"Tuan Brayen, maaf ada hal yang perting yang ingin saya sampaikan lagi." sambung Albert.


"Katakan."


"Ini tentang nomor telepon yang menganggu Nyonya Devita." ucap Albert hati - hati.


Brayen langsung melayangkan tatapan dingin. Kemarahannya semakin bertambah. Belum selesai orang yang berani membututinya, kini di tambah dengan orang yang menganggu istrinya. Begitu pun dengan Felix, dia langsung menatap serius ke arah Albert.


"Cepat katakan! Siapa orang yang berani mengganggu istriku!" Desak Brayen.


"Tuan, nomor telepon ini berhasil saya lacak dari GPS berada di kota B. Tapi untuk lokasi tepatnya, saya belum bisa memastikan. Karena setiap jamnya, lokasi pemilik nomor itu selalu berganti. Saya merasa aneh sejak awal. Saya yakin, pemilik nomor ini sangatlah cerdas. Terbukti, dia mampu membuat lokasi pemilik ponsel ini berubah setiap jamnya," jelas Albert.


Felix tersenyum sinis. "Well, ada yang bermain dengan mengacau titik GPS? Berikan nomor itu padaku. Maka, aku akan melihat seberapa kehebatan yang mereka punya."


Albert mengangguk patuh. "Baik Tuan Felix."


Brayen mengumpat pelan, rahangnya mengetat. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Kali ini, tidak akan ada kesabaran baginya. Jika sudah menyangkut tentang istrinya, Brayen tidak akan tinggal diam.


Felix menyesap wine yang ada di tangannya, dia tersenyum tipis ke arah Brayen. "Aku rasa, orang yang membuntutimu dan orang yang menganggu Devita, adalah orang yang sama. Mereka mengantarkan sendiri kematiannya."


Brayen menyeringai, "Ya, kau benar mereka sudah begitu berani mengangguku dan juga istriku. Itu sama artinya dengan mereka, mengantarkan sendiri kematiannya."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.