Love And Contract

Love And Contract
Bukan Salah Devita!



Edwin tertegun mendengar pertanyaan dari Devita. Bahkan dia rasanya sangat berat mendengar pertanyaan ini. Dia takut jawabannya akan melukai perasaan putri yang sangat di cintainya.


"Kenapa Papa diam? Aku tidak akan terluka. Aku hanya ingin mendengar langsung dari Papa." kata Devita yang meyakinkan dirinya tidak akan terluka.


Helaan nafas berat dari Edwin, ia bahkan tidak sanggup untuk mengatakan ini. Karena memang tidak ada yang tidak senang ketika memiliki anak. Tapi jika Edwin mengatakannya yang sebenarnya, pasti akan ada yang terluka.


"Devita, tidak ada laki - laki di dunia ini yang tidak senang saat dirinya telah memiliki anak." ujar Edwin yang lebih memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. " Tapi Devita, percayalah dalam hidup Papa nama mu tetap yang menjadi utama. Papa sangat menyayangimu, Devita. Papa tidak akan pernah melukai hatimu."


Devita tersenyum miris. "Aku mengerti sekarang, dimana kedua anak Papa yang kembar itu? Apa mereka juga berada di Kota B?"


"Papa juga belum tahu, Devita. Papa belum bertemu dengan mereka." jawab Edwin.


"Jadi Papa ingin bertemu dengan mereka?" tukas Devita dengan senyuman sinis. Meski dia tahu, Ayahnya memiliki anak dari wanita lain bukan karena perselingkuhan. Tapi Devita sudah membayangkan bagaimana sakitnya melihat itu.


"Ti- Tida..."


"Cukup Pa!" Potong Devita cepat, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan menatap lekat Ayahnya. " Aku tidak bisa melarang Papa untuk bertemu dengan anak Papa dari wanita itu. Aku hanya ingin meminta Papa untuk memikirkan perasaan Mama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, saat ini aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Kenyataan ini begitu berat aku terima. Sama halnya dengan Mama. Mama membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Lebih baik kita semua menenangkan diri kita masing-masing. Aku berharap Papa dan Mama bisa memutuskannya dengan bijaksana."


Devita berjalan meninggalkan Edwin, hatinya begitu sakit dan sesak. Ia tahu, kenapa alasan Ibunya memilih untuk bercerai. Karena kenyataan ini akan sulit di terima oleh wanita manapun.


Edwin menatap nanar putrinya yang berjalan meninggalkannya. Perasaannya bergemuruh, bahkan ia tidak tahu harus melakukan apa. Karena kenyataannya Edwin pun juga terkejut dengan ini semua.


...***...


Di dalam mobil, Devita duduk terdiam. Sejak pembicaraannya dengan Edwin dia lebih memilih untuk pulang. Saat ini, Devita tidak tahu harus bersikap seperti apa. kenyataan ini terlalu menyakitkan baginya. Bahkan sejak tadi Devita lebih memilih untuk diam.


Devita meminta Nadia, Ibunya untuk menenangkan diri. Devita tahu, saat ini Nadia sulit untuk menerima semua ini. Tetapi Devita tidak ingin Ibunya mengambil sebuah keputusan yang akan di sesali di masa depan. Sebenarnya tadi Nadia, ingin pergi meninggalkan rumah, tapi dengan tegas Devita melarangnya. Devita juga sudah mengatakan pada Edwin untuk memberikan ruang bagi Nadia.


Brayen menatap Devita yang sejak tadi memilih diam. Ia tidak ingin bertanya, yang akan membuat istrinya itu menangis. Brayen lebih memilih untuk diam dan membiarkan Devita menyadarkan kepalanya di bahunya.


Brayen mengusap puncak kepala istrinya. "Kau ingin makan sesuatu?"


Devita menggeleng pelan. " Tidak, aku tidak ingin makan apapun."


"Tapi aku lapar, aku ingin makan steak." ucap Brayen yang sengaja membujuk Istrinya. Ia tahu, sejak tadi istrinya tidak makan apapun. Bahkan saat Brayen memaksa Devita untuk makan, dengan tegas Devita menolaknya.


"Aku tidak ingin makan, Brayen." jawab Devita.


"Kau hanya menemaniku." balas Brayen dengan memaksa dan akhirnya Devita pun mengangguk menyetujui keinginan Brayen.


Kini Brayen dan juga Devita sudah tiba di mansion mereka. Mereka turun dari mobil dan langsung melangkah masuk kedalam rumah. Saat bertemu dengan pelayan, Brayen meminta pelayan untuk mengantarkan steak dan pasta kedalam kamar. Brayen juga meminta pelayan untuk membawakan cake yang disukai oleh Devita.


Devita melangkah masuk kedalam kamar, ia memilih untuk duduk di ranjang dan menyadarkan kepalanya di kepala ranjang. Pikiran Devita tidak berhenti memikirkan masalah kedua orangtuanya. Ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa, tapi Devita sangat memahami jika saat ini, Ibunya sedang sangat terluka.


Tidak lama kemudian, pelayan datang membawakan makanan yang sudah di pesan oleh Brayen. Semua makanan yang di pesan oleh Brayen adalah makanan yang di sukai oleh istrinya.


Brayen melangkah mendekat ke arah istrinya yang duduk di ranjang dengan makanan yang tadi sudah di berikan oleh pelayan. Lalu ia duduk di samping Devita.


"Devita, aku ingin makan bersamamu." ucap Brayen, ia sengaja melakukan ini. Karena, jika dia tidak memaksa istrinya dia tetap memilih untuk tidak makan apapun.


"Aku tidak lapar Brayen." jawab Devita.


"Tapi aku lapar dan aku ingin kau menemaniku makan," balas Brayen.


"Aku sudah di sampingmu, Brayen. Jadi, kau makanlah." ucap Devita.


"Dan aku ingin makan bersama dengan istriku." tukas Brayen, ia langsung mengarahkan sendok ke mulut istrinya. Devita ingin menolak, tetapi Brayen menatap tajam Devita dan akhirnya Devita membuka mulutnya memakan makanan yang di berikan oleh Brayen.


"Devita, kau memang memiliki masalah tetapi tidak dengan kau memilih diam dan tidak makan apapun." kata Brayen tegas.


"Maaf." ucap Devita. Ia tahu tindakannya ini salah, dan membuat suaminya khawatir.


Brayen mengusap kepala istrinya. " Aku tidak memintamu untuk menceritakannya sekarang, tapi lebih baik kau makan. Aku tidak suka kau seperti ini."


Devita mengangguk. " Iya Brayen."


...***...


Saat Edwin sedang membuka dokumen di hadapannya, ia terkejut ada sosok wanita yang masuk kedalam ruang kerjanya. Wanita yang sangat ia kenali dan masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Gelisa, apa yang sedang kau lakukan di sini?" seru Edwin, saat melihat Gelisa melangkah masuk kedalam ruang kerjanya.


"Aku ingin berbicara denganmu." tukas Gelisa dingin, ia melangkah mendekat dan duduk di hadapan Edwin.


Edwin membuang napas kasar, " Jangan pernah mendatangi perusahaanku. Istriku bisa melihatnya."


Gelisa tersenyum miris, " Bahkan kau bisa mengatakan itu di depanku, Edwin!"


"Aku tidak ingin membuat istriku salah paham, Gelisa! Mengertilah posisiku." balas Edwin.


"Bahkan jika ini menyangkut putrimu? Devita Mahendra yang menikah dengan pengusaha kaya raya Brayen Adams Mahendra?" tukas Gelisa dengan penuh sindiran.


Edwin menautkan alisnya. "Bagaimana kau bisa tahu tentang, Devita?"


"Devita Mahendra, tidak mungkin aku tidak mengetahui istri dari Brayen Adams Mahendra yang terkenal tidak sekedar kecantikannya. Tetapi sangat baik dan juga ramah. Nama putrimu selalu masuk kedalam majalah" balas Gelisa dingin.


"Kenapa kau membahas putriku? Dia tidak terlibat dalam masalah kita." ujar Edwin.


"Dia memang tidak terlibat. Tapi putrimu Lucia, sangat membenci Devita! Aku datang kesini untuk mengingatkanmu untuk segera menemui Lucia dan melihatnya. Karena aku melihat dengan jelas kebencian Lucia pada putrimu Devita. Aku harap kau mau memikirkan ucapanku, Edwin. Aku harap nantinya tidak ada hal buruk yang akan menimpa putri kesayanganmu itu."


"Apa alasan Lucia membenci Devita? Kesalahan ada padaku. Harusnya dia itu membenciku dan bukan Devita. Ingat Gelisa, kalau sampai terjadi sesuatu pada putriku, aku bersumpah akan menghancurkanmu."


Gelisa tersenyum sinis. " Karena Devita putrimu mendapatkan kasih sayang darimu sepenuhnya. Tidak hanya itu, tetapi Devita sebagai pewaris seluruh harta kekayaanmu."


"Aku tidak pernah tahu, kita


memiliki anak Gelisa!"


"Tapi sekarang aku sudah memberitahumu." tukas Gelisa.


"Kau tidak mengerti. Seluruh hartaku memang harus diberikan kepada Devita. Karena di awal, aku membangun perusahaan ini, Nadia juga ikut andil dalam membesarkan perusahaanku." jelas Edwin. Karena memang sejak awal perusahaan miliknya di bangun bersama dengan Nadia, istrinya. Tidak mungkin Edwin membagi hartanya.


"Terserah kau Edwin, kau sendiri yang harus menjelaskan semuanya pada Lucia. Aku tidak ingin putriku menjadi pendendam, sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu tentang Lucia dan juga Edgar. Tapi Lucia sudah lebih dulu mengetahui tentang mu, aku tidak ingin Lucia semakin membenci putri mu dan melakukan hal yang dapat melukai putri kesayanganmu. Di sini aku hanya memperingatkanmu, Edwin." ujar Gelisa.


"Dan harus aku beritahu padamu aku tidak perduli dengan harta yang kau miliki. Tapi Lucia, dia merasa kau begitu melimpahi Devita dengan segalanya. Kasih sayang,harta dan semua perhatianmu semua hanya untuk Devita."


"Kau tidak mengerti posisiku, Gelisa. Dan aku peringatkan padamu jangan pernah lakukan apapun pada Devita.Ini bukan kesalahan Devita. Brayen selalu melindungi Devita, jika ada yang melukai putriku Devita, aku yakin orang itu pasti akan terluka. Dan bukan hanya Brayen tapi aku juga akan melindungi putriku." balas Edwin dengan penuh penekanan.


Gelisa tersenyum miris, ia mendongakkan wajahnya dan menatap Edwin dengan lekat." Ini yang membuat Lucia semakin membencimu, Edwin! Kau tidak senang mendengar kabar kalau kau telah memiliki anak dariku. Kau sudah membuat Lucia semakin membenci putrimu."


"Sudah aku katakan padamu Gelisa, ini bukan salah Devita! Jadi jangan menguji kesabaranku lagi, Gelisa!" Seru Edwin, ia berusaha untuk menahan amarahnya.


"Aku hanya memberikan peringatan padamu Edwin Smith. Bicaralah pada putrimu, Lucia.Karena bagaimana pun dia adalah putri kandungmu." Gelisa beranjak dari tempat duduknya dan menatap Edwin dengan lekat. "Hanya kau yang bisa menjelaskan ini, Edwin. Aku hanya tidak ingin putriku menjadi seorang pendendam, hanya karena Ayahnya lebih menyayangi putri dari istri sahnya."


Kemudian Gelisa berjalan meninggalkan ruang kerja Edwin. Melihat Gelisa pergi, Edwin hanya terdiam dan memikirkan semua perkataan wanita itu. Gelisa benar, suka atau tidak suka dia telah memiliki anak darinya. Entah kenapa Edwin percaya jika anak itu adalah anaknya. Tetapi meski demikian, Edwin tidak bisa membagi apa yang sudah menjadi milik Devita, putrinya dan Nadia.


Edwin menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya lelah. Terlalu banyak masalah yang datang. Sekarang harus di hadapkan dengan dirinya yang memiliki anak dari wanita lain.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.