
Brayen membuka pintu kamar dia melangkah masuk kedalam kamar. Brayen tersenyum melihat istrinya duduk di sofa dan menonton film. Bahkan istrinya itu tidak menyadari jika dia sudah pulang.
"Apa film yang kau lihat itu lebih bagus sampai tidak menyadari suamimu itu sudah pulang?" suara Brayen berseru saat mendekat ke arah Devita.
Devita sedikit terkejut melihat Brayen yang sudah pulang. Dia memang terlalu fokus melihat film kesukaannya. "Kau sudah pulang?" balas Devita.
"Ya, maaf aku pulang terlambat. Tadi aku banyak membahas kerja sama dengan client ku," Brayen duduk di samping istrinya.
"Kau ini lama sekali! Sebelumnya kau mengatakan hanya pergi tidak sampai dua jam, tapi sekarang kau sudah kembali setelah lebih dari empat jam. Kenapa tidak sekalian dua puluh empat jam saja!" Devita mencibir kesal.
Brayen mengulum senyumannya, dia menarik tangan Devita dan membawanya ke dalam pelukannya. "Aku tidak mungkin pergi terlalu lama, karena aku pasti akan merindukan istriku."
"Cerdas sekali merayuku!" Devita mendengus.
Brayen menarik dagu istrinya. Mendekatkan bibirnya pada bibir Devita dan ********** dengan lembut. "Aku tidak suka merayu sayang,"
Devita mendesah pelan, "Sudahlah, aku ingin istirahat."
"Ya, kau istirahatlah." jawab Brayen. "Aku akan mandi lebih dulu."
Devita dan Brayen beranjak. Devita berjalan menuju ke arah ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya. Sedangkan Brayen, berjalan menuju ke arah kamar mandi. Sebelum Devita memejamkan mata, dia melirik ke arah jam dinding kini sudah pukul sembilan malam. Devita menarik selimutnya, hingga kemudian perlahan Devita mulai memejamkan matanya.
...***...
Pagi hari, Devita sudah bersiap menuju ke bandara. Devita menatap cermin memastikan penampilannya hari ini. Mini dress berwarna mustard di padukan dengan leather jaket membuat penampilan Devita terlihat cantik dan anggun. Kemudian Devita berjalan keluar dari walk in closet dan menatap Brayen yang tengah sibuk dengan Ipad. Devita melangkah mendekat ke arah Brayen.
"Brayen," panggil Devita. "Apa kau masih sibuk?"
Brayen mengalihkan pandangannya menatap Devita, yang berada di hadapannya. "Kau sudah siap?"
"Sudah, apa barang - barangku sudah di bawa semuanya?" tanya Devita balik.
"Aku sudah meminta pelayan untuk membawa barang - barang kita," jawab Brayen "Lebih baik kita berangkat sekarang."
Devita mengangguk setuju dan mengambil tasnya lalu memeluk lengan Brayen. Kini mereka berjalan meninggalkan kamar.
Saat Devita dan Brayen tiba di depan, mereka melihat Laretta yang juga baru saja keluar.
"Laretta, apa nanti Angkasa akan menjemputmu?" tanya Devita.
"Tidak Devita," jawab Laretta. "Aku sudah meminta Angkasa untuk menungguku di bandara saja. Aku tidak ingin menyusahkannya harus menjemputku."
"Itu memang tangung jawabnya!" Tukas Brayen dingin.
"Brayen," tegur Devita pelan.
Tidak lama kemudian, mobil sport mulai memasuki halaman parkir. Angkasa turun dari mobil dan mulai mendekat ke arah Laretta.
Kening Laretta berkerut dalam. "Angkasa? Kau disini? Bukankah aku sudah bilang kau duluan saja pergi ke bandara?"
"Aku tidak mungkin tidak menjemputmu?"jawab Angkasa.
Devita tersenyum. "Laretta, lebih baik kau berangkat saja bersama dengan Angkasa. Nanti aku dan Brayen akan menyusul."
"Tapi-"
"Angkasa sudah menjemputmu, Laretta. Dan tidak mungkin juga kan kau membiarkan Angkasa untuk berangkat sendiri." Devita langsung memotong ucapan Laretta.
Laretta mendesah pelan. "Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu dengan Angkasa."
"Devita, Brayen sampai bertemu di bandara." pamit Angkasa. Devita mengangguk dan tersenyum.
"Jaga adikku!" Peringat Brayen dengan memberikan tatapan tajam ke arah Angkasa.
"Kau tenang saja Brayen, aku akan menjaga adikmu seumur hidupku." Angkasa tersenyum tipis.
Devita dan Laretta mengulum senyuman mereka. Laretta dan Angkasa langsung masuk kedalam mobil. Begitu pun dengan Brayen dan juga Devita yang masuk kedalam mobil. Kini mobil mereka keluar beriringan meninggalkan halaman parkir.
...***...
"Devita, Laretta." sapa Olivia.
"Olivia? Aku pikir kau sudah tiba dari tadi?" balas Laretta.
Olivia mendengus kesal. "Ini semua karena Felix. Dia bangun terlambat. Beruntung tidak telat, jika tidak pasti akan ketinggalan."
"Kita itu menggunakan private jet milik sepupuku. Tidak mungkin ketinggalan, Olivia." sambung Felix tak terima selalu di salahkan.
"Jika kau terlambat, aku pasti akan meninggalkanmu. Aku tidak suka menunggu." tukas Brayen dingin.
"CK! Kau ini, aku yakin kau itu tidak bisa meninggalkan sepupumu ini." seru Felix dengan yakin.
Devita menggeleng pelan, dan tersenyum. "Sudah, lebih baik kita masuk sekarang."
"Kau benar, lebih baik kita masuk sekarang." balas Felix.
Devita memeluk lengan Brayen, lalu berjalan masuk kedalam. Begitu pun dengan Laretta yang memeluk lengan Angkasa. Dan juga Olivia yang langsung memeluk lengan Felix dan menyusul Devita.
Devita melirik ketika ada kilatan kamera yang memotret dirinya dan Brayen. Menjadi istri dari Brayen Adams Mahendra membuat Devita terbiasa dengan paparazzi yang ingin meliput kehidupannya dengan suaminya. Sesekali Devita membalas mereka dengan senyuman yang tipis di wajahnya. Pada orang yang memotret dirinya dan juga Brayen.
Saat masuk Devita dan Brayen memasuki pesawat, Devita tersenyum melihat Capt. Mark yang sudah menyambutnya. Tentu saja Devita mengingat siapa saja pilot pribadi suaminya itu. Terakhir saat ke Turkey, Devita masih mengingat ketika Brayen kesal pada Devita karena Devita memuji Capt. Mark
Devita dan Brayen memilih kursi yang berada di sebelah kanan, Sedangkan Felix dan Olivia berada di sebelah kiri. Angkasa dan juga Laretta memilih kursi yang tidak jauh dari tempat duduk Devita dan juga Brayen.
Terdengar suara pilot yang kini sudah memberikan interuksi pesawat yang akan segera take off.
Lima belas menit setelah pesawat take off, Pramugari mengantarkan wine untuk Brayen, Felix dan juga Angkasa.
Sedangkan para wanita, Brayen meminta pramugari untuk mengantarkan makanan utama. Beberapa hari ini, Devita memang memiliki porsi makan yang bertambah. Bahkan Devita juga jarang mual.
Devita beranjak berdiri, dia lebih memilih untuk duduk bersama dengan Olivia dan juga Laretta saat pramugari mengantarkan beberapa jenis menu utama termasuk dessert.
"Devita, apa kau sudah membawa pakaian renang? Apa kau nanti akan memakai biki-" ucapan Olivia terpotong saat Devita membekap mulut Olivia dengan tangannya.
"Ssst, nanti Brayen dengar." bisik Devita sesekali dia melirik ke arah Brayen yang tengah berbicara dengan Felix.
"Kalian ini membahas apa?" Laretta menautkan alisnya menatap Olivia dan juga Devita.
"Kami sedang membahas tentang pakaian renang," jawab Olivia sambil berbisik dengan suara yang pelan.
Laretta terkekeh geli, "Devita pasti takut tidak di perbolehkan kakakku untuk memakai bikini."
"Ssst, Laretta. Pelankan suaramu" tegur Devita.
"Ya sudah, kita lihat saja nanti," balas Olivia. "Oh ya Laretta, apa kau itu pernah berlibur ke Las Vegas?"
"Sudah," jawab Laretta. "Aku terakhir pergi ke Las Vegas sekitar dua atau tiga tahun yang lalu bersama dengan teman kuliahku dulu."
Devita mendesah pelan, "Daddy David begitu baik memperbolehkanmu. Tidak seperti Ayahku yang terlalu banyak melarang diriku."
"Kau salah Devita," balas Laretta. "Lebih tepatnya, dulu aku sering menentang keinginan Daddyku. Aku tidak suka terlibat dalam perusahaan. Aku lebih memilih menjadi seorang pelukis. Saat Daddyku memintaku untuk kuliah bisnis, aku lebih memilih untuk kuliah seni."
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.