
Panggilan terputus, mau tidak mau Brayen harus menemui Elena. Jika tidak, itu sama saja akan menambah masalah baru. Brayen menyambar kunci mobilnya, lalu berlari ke luar kamar menuju mobilnya.
Setibanya dia ke Apartemen yang dia beli untuk Elena. Apartemen untuk kelas menengah ini sebenarnya sudah cukup mewah. Lokasinya jauh dari mansion milik Brayen yang di tempati bersama Devita. Albert memang sengaja membeli Apartemen ini, karena lokasinya sangat jauh dari mansion milik Brayen.
Brayen menuju ke Apartemen milik Elena yang terletak di lantai dua puluh. Dia langsung menekan password Apartemen milik Elena. Dia sangat tahu kebiasaan Elena, password Apartemennya selalu tanggal anniversary dengannya.
"Brayen, kau datang!" Seru Elena dengan senyum bahagia saat melihat Brayen datang. Dia langsung berlari ke arah Brayen dan memeluk erat Brayen.
"Ya," jawab Brayen singkat. Kemudian mereka duduk di sofa.
"Brayen, kenapa kau membelikanku Apartemen yang sederhana seperti ini? Kau tahu kan, aku sangat suka Apartemenku yang ada di Milan. Kenapa kau membelikanku Apartemen yang sederhana seperti ini." ucap Elena, menilai Apartemennya yang sekarang menurutnya terlalu sederhana. Padahal menurut Brayen, Apartemen ini sudah cukup mewah. Namun Elena tetap tidak suka.
"Elena, kau tahu. Jika aku membelikan Apartemen mewah, banyak yang akan melihatku. Aku tidak ingin ada pemberitaan media jika aku memiliki wanita lain. Kau harus ingat sekarang statusku sudah memiliki seorang Istri," kata Brayen dengan nada penuh penekanan.
"Aku sangat benci saat kau mengatakan kau memiliki Istri!" Bentak Elena.
Brayen membuang napas kasar. " Elena, kau harus menerima kenyataan ini. Aku tidak bisa untuk tidak menuruti keinginan orang tuaku."
"Segeralah bercerai dengannya. Aku tidak ingin berbagi dirimu dengan wanita lain!" Tukas Elena.
"Semuanya tidak bisa langsung Elena. Aku membutuhkan waktu untuk bercerai dengannya. Ini tidak mudah seperti yang kau pikirkan. Aku juga harus memikirkan perasaan kedua orang tuaku," jelas Brayen.
Elena menyandarkan kepalanya di bahu Brayen. " Kau tidak jatuh cinta padanya kan? Aku sudah melihat di internet putri dari Edwin Smith sangat cantik dan dia masih muda. Kau tidak jatuh cinta padanya kan?"
"Tidak Elena. Lupakanlah dan jangan bicara yang tidak - tidak," balas Brayen yang menanggapi Elena.
Elena menjauhkan wajahnya, dia menatap lekat manik mata Brayen. "Apa kau mencintaiku Brayen?"
"Ya, aku mencintaimu," jawab Brayen datar.
Elena tersenyum menang saat mendengar Brayen sangat mencintainya. Dia langsung mengalungkan tangannya di leher Brayen. Kemudian mencium dan ******* bibir Brayen. Elena langsung menghentikan ciumannya karena Brayen tidak membalas ciumannya.
"Kenapa kau tidak membalas ciumanku?" seru Elena.
"Aku sedang lelah, Elena?" Brayen melepaskan pelukan Elena.
"Saat di Milan, meski kau lelah kau tak henti menciumku. Bahkan kita sering melakukan lebih dari ciuman," balas Elena. " Sekarang aku mau kau membalas ciumanku!" Ucap Elena.
Elena kembali menciumnya. Perlahan Brayen memejamkan matanya dan membalas ciuman Elena. Tidak hanya itu, Elena menyentuh tangan Brayen dan mengantarkannya ke gundukan kembar miliknya. Dia ingin agar Brayen menyentuhnya.
Brayen langsung melepaskan ciumannya, dan segera menarik tangannya. Brayen mengumpat di dalam hati. Selama berciuman dengan Elena, dia memejamkan mata dan membayangkan itu adalah Devita . Ini sungguh gila, kenapa dirinya seperti ini. Bahkan dia tidak bisa mencium Elena saat dia membuka matanya, dia membayangkan wajah Devita. Rasanya sungguh berbeda, bibir Devita begitu manis. Brayen sangat menyukai bibir ranum Devita. Sedangkan dengan Elena, tidak merasakan apapun.
"Kenapa kau menciumku hanya sebentar?" Elena merengut. Dia menatap kesal Brayen. Bisanya Brayen selalu menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Tapi malam ini Brayen seperti enggan menyentuhnya.
"Aku hanya lelah Elena," balas Brayen
"Kau sungguh berubah Brayen!" Seru Elena.
"Sudahlah Elena, jangan berlebihan. Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," tukas Brayen.
"Ada apa?" Elena mengerutkan keningnya.
"Aku ingin kau tidak datang ke perusahaanku. Aku tidak ingin ada media yang memberitakan tentang kita. Daddyku juga sering datang ke perusahaan. Aku tidak ingin Daddyku melihat kita," jelas Brayen.
"Brayen, saat di Milan aku bebas datang di kantormu!" Balas Elena yang tak terima.
"Jangan samakan Milan dengan Kota B! Aku sudah mengatakan berkali - kali padamu. Di kota B ini adalah tempat tinggal seluruh anggota keluargaku!" Tukas Brayen menekankan.
"Sampai kapan kita menjalin hubungan diam - diam seperti ini Brayen? Usiaku bukan lagi usia gadis remaja," jawab Elena dengan tatapan kecewa pada Brayen.
Brayen membuang napas kasar. "Jika memang kau masih menginginkan bersama denganku. Maka kau harus menghadapi semua ini. Karena kenyataannya hubungan kita tidak mudah. Kau mengerti itu Elena,"
"Tidak bisa Elena, Devita di rumah sedang menungguku,"
"Bisakah kau melupakannya? Aku ini kekasihmu Brayen. Aku sudah menjalin hubungan denganmu selama empat tahun. Kau saja selalu memakai pengaman, jika kau tidak memakai pengaman mungkin sekarang kau sudah menjadi seorang Ayah!" Seru Elena.
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Sudah berapa bulan kita tidak bertemu. Kau juga tidak datang ke Milan. Saat aku tiba di kota B aku mendengar kau sudah memiliki seorang Istri. Apa kau mengerti perasaanku?" kata Elina lirih, air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Hatinya begitu sakit dan sesak dengan semua kenyataan ini.
Brayen menghapus air mata Elina dengan jemarinya. Dia sungguh tidak tega pada kekasihnya. "Maafkan aku Elena, ini terlalu rumit. Aku berharap ini tidak pernah terjadi lagi. Tapi Tuhan berkehendak lain pada hubungan kita,"
"Aku takut Brayen, aku takut kau meninggalkan aku. Aku bukan siapa - siapa. Aku hanya gadis yang lahir dari keluarga yang sederhana. Aku bukan seperti Istrimu. Bagaimana kalau suatu saat kau berpaling dariku. Aku sudah melihatnya di internet dia sangat cantik. Aku takut," ucap Elena dengan Isak tangisnya.
Brayen menarik tangan Elena dan memeluk erat tubuh Elina. " Maafkan aku, telah melukaimu Elena. Aku sungguh minta maaf. Jangan katakan seperti itu lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Elena mendongak dari dalam pelukan Brayen. Dan menatap wajah Brayen, " Kau berjanji padaku tidak akan meninggalkan aku? Kau berjanji?"
Brayen mengangguk, " Ya, aku berjanji,"
...***...
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar Devita, perlahan Devita membuka kedua matanya. Dia mengerjap lalu mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Devita baru mengingat, dia tertidur di kamar tamu. Devita mengikat rambutnya asal. Dia beranjak dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnya.
Devita melangkah menuju kamarnya dan Brayen. Saat dia masuk, dia sudah tidak melihat Brayen. Devita memilih untuk segera mandi.
"Syukurlah dia sudah ke kantor," gumam Devita ketika Brayen sudah tidak ada di kamar.
Setelah Devita selesai mandi , dan mengganti pakaiannya. Devita langsung menuju ke ruang makan suasana hatinya masih sangat buruk. Tapi sebisa mungkin, Devita berusaha untuk melupakan semuanya.
Saat tiba di ruang makan, seperti biasa pelayan mengantarkan sandwich tuna dan susu kacang untuknya.
"Apa Brayen sudah berangkat ke kantor?" tanya Devita pada pelayan yang berdiri di hadapannya.
"Tuan tidak pulang dari kemarin malam, Nyonya," jawab pelayan itu.
"Tidak pulang sejak kemarin malam?" Devita mengerutkan keningnya. "Apa kau tahu, pergi kemana dia?"
"Saya tidak tahu Nyonya, Tuan tidak mengatakan apapun," jawab pelayan itu.
Devita mengangguk, " Baiklah, terima kasih. Kau lanjutkan pekerjaanmu,"
"Saya permisi Nyonya," pelayan ini menundukkan kepalanya, lalu undur diri hadapan Devita.
"Apa Brayen menemui kekasihnya?" batin Devita.
Devita mengumpat di dalam hati. Kenapa dia harus memikirkan kemana Brayen pergi. Bukankah dia tidak berhak mengaturnya? Setelah selesai sarapan, Devita berjalan keluar dan mengambil kunci mobil miliknya. Dia sudah melihat dia atas nakas, sudah ada kunci mobil miliknya. Itu artinya Brayen sudah meminta Albert untuk mengantarkan mobil Devita.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.