Love And Contract

Love And Contract
Siapa Pria itu?



Laretta menatap bunga - bunga yang kini bertumbuh sangat cantik. Devita memang sangat suka jika tamannya di penuhi oleh semua jenis bunga yang sangat indah. Angin berhembus dengan begitu menyejukkan. Cuaca di kota B cerah, sehari - hari Laretta lebih banyak menghabiskan banyak waktunya di taman atau studio lukisnya. Sudah beberapa hari ini Devita tidak bisa bersama dengan dirinya, Laretta mengerti saat ini Devita sedang banyak masalah.


Kandungannya kini sudah memasuki usia ke lima belas minggu. Perut Laretta sudah semakin terlihat membesar. Terkadang Laretta masih tidak mempercayai jika dirinya kini sudah mengandung. Laretta tidak pernah menyesali keadaan dimana dia harus mengandung anak dari Angkasa.


"Kenapa kau sendirian?" suara bariton menyapa Laretta membuat Laretta terkesiap, Laretta langsung menoleh ke sumber suara itu dan tersenyum melihat sosok yang sangat dia kenali melangkah mendekat ke arahnya. " Angkasa? Kenapa kau bisa ada disini?" sapa Laretta.


Angkasa melangkah mendekat dan duduk di samping Laretta. "Sudah lama tidak bertemu denganmu. Kau semakin cantik, Laretta."


Laretta tersenyum mendengar pujian dari Angkasa. "Sejak kapan seorang Angkasa Nakamura pandai merayu?"


"Mungkin sejak kau mengandung anakku, wajahmu terlihat semakin begitu cantik." ujar Angkasa dengan tulus.


Laretta menggeleng pelan. "Cerdas sekali mulutmu itu, Tuan Angkasa."


Angkasa tersenyum. " Bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Angkasa, pandangannya kini turun menatap perut Laretta yang sudah terlihat membesar.


"Baik, dia sangat baik. Dia tumbuh dengan sangat sehat," jawab Laretta, tangannya mengelus dengan lembut perutnya.


Angkasa tersenyum, lalu ia mengulurkan tangannya dan mengelus perut Laretta. "Aku sudah tidak sabar melihat dia lahir."


"Aku juga demikian, aku sudah tidak sabar memeluk dan menciumnya." balas Laretta dengan tatapan yang lembut pada Angkasa.


"Laretta, kenapa kau sendirian di sini?" tanya Angkasa.


"Biasanya, Angkasa selalu menemaniku. Tapi dia sedang mengalami masalah. Jadi, beberapa hari ini Devita lebih sering menyendiri." ujar Laretta.


Angkasa mengerutkan dahinya. " Masalah apa?"


"Kedua orang tuanya ingin bercerai. Aku tidak tahu alasannya. Tapi, aku hanya mendengar ini ketika Devita menangis. Aku tidak ingin bertanya karena aku takut akan membuatnya bersedih." jelas Laretta. Ia lebih memilih diam dan tidak menanyakan masalah Devita.


"Belum ada pemberitaan di media mengenai perceraian kedua orang tua Devita. Semoga itu hanya karena salah paham." balas Angkasa.


"Ya, aku berharap demikian," jawab Laretta.


" Angkasa, kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Sedangkan penjagaan di luar begitu ketat?" tanya Laretta ia sedikit terkejut, melihat Angkasa datang melihatnya. Meski ini bukan yang pertama kali, tetapi kenapa Angkasa bisa dengan mudahnya masuk.


Angkasa tersenyum. "Aku bisa dengan mudahnya sebelumnya masuk di tengah malam. Apa sulitnya sekarang masuk?"


"Jangan bercanda Angkasa. Kakakku bisa membunuhmu, jika kau selalu masuk diam - diam seperti ini." kata Laretta mengingatkan.


"Tenanglah, Nyonya di rumah ini sudah memberikanku akses untuk menemuimu." jawab Angkasa.


"Tunggu, maksudmu Devita?" tanya Laretta yang tidak percaya.


"Benar, sebelumnya aku menghubungi Devita. Aku memintanya untuk mengizinkanku masuk karena aku ingin bertemu denganmu, lalu Devita meminta anak buah dari Kakakmu itu untuk membiarkan ku masuk. Beruntung Devita tidak seperti Kakakmu itu" ujar Angkasa. Sebelumnya Angkasa sudah meminta izin dari Devita untuk menemui Laretta.


"Devita memberikan izin padamu? Kau tidak bercanda kan?" tanya Laretta.


"Apa sulit mempercayai jika Devita memberikan izin padaku?" tukas Angkasa.


"Bukan itu maksudku, aku hanya bertanya." balas Laretta.


"Devita tidak seperti Brayen. Pasti Devita akan membantuku untuk bertemu denganmu." ujar Angkasa.


"Ya, kau benar. Devita sangat baik. Kakakku begitu beruntung memilikinya." kata Laretta dengan senyuman di wajahnya.


"Angkasa, lebih baik kita dalam. Aku membuat pudding, semoga kau menyukainya." ajak Laretta dan Angkasa mengangguk setuju. Kemudian mereka beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan taman.


...***...


Devita dan Olivia berjalan keluar dari kampus. Mereka baru saja menyelesaikan mata kuliahnya. Awalnya Devita ingin langsung pulang ke rumah tetapi Olivia menahannya. Olivia ingin menghabiskan waktu sebentar dengan Devita. Beruntung Devita menyetujui permintaan dari Olivia.


"Tapi jangan terlalu lama Olivia. Aku ingin segera pulang." jawab Devita. Ingin sekali Devita menolaknya, tapi tidak mungkin karena sahabatnya itu pasti akan terus memaksa dirinya.


"Ya, ya, Devita. Tenang saja, aku tidak akan lama." ujar Olivia, ia langsung memeluk lengan Devita dan mengajak Devita berjalan meninggalkan loby kampus.


Saat Devita dan Olivia berjalan, seketika langkah mereka terhenti. Devita menghela nafas dalam dan tersenyum saat melihat Felix berdiri di depan dengan masih terbalut oleh jas.


Felix tersenyum, dia langsung melangkah mendekat kearah Olivia dan Devita. Devita membalas senyuman Felix. Sedangkan Olivia, wajah Olivia menunjukkan ketidaksukaan jika Felix datang menghampirinya.


"Apa kabar Devita?" sapa Felix.


"Seperti yang kau lihat aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Devita.


"Aku juga baik. Aku ingin mengajak kalian makan bersama." ujar Felix.


"Lebih baik kau mengajak Olivia. Aku ingin sekali segera kembali pulang ke rumah." balas Devita.


"Aku tidak mau!" Olivia langsung menolak dengan tegas, kali ini dia tidak boleh untuk di paksa lagi. Olivia akan menolaknya jika Felix tetap memaksa.


"Aku tidak meminta persetujuan darimu, Olivia Roberto." balas Felix.


Olivia mencebik, "Lihat saja kalau kau berani menculikku lagi. Maka aku akan segera menghubungi Ayahku. Aku pastikan kau akan di jebloskan kedalam penjara."


Devita membuang napas kasar, kepalanya sakit mendengar perdebatan sahabatnya ini. "Olivia, sudah lebih baik kau ikut dengan Felix," tukas Devita.


"Tidak Devita, aku tidak mau!" Kata Olivia dengan tegas.


"Lupakan Devita, Olivia pasti tidak akan menolakku." balas Felix.


"Kau yakin tidak mau ikut, Devita?" tanya Felix lagi.


"Tidak Felix. Lebih baik aku pulang. Aku ingin beristirahat di rumah." jawab Devita. Saat ini, Devita memang lebih memilih untuk beristirahat di rumah. Pikirannya masih belum bisa untuk berpikir jernih.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi duluan." Felix langsung menarik lengan Olivia, dengan cepat Olivia menepis tangan Felix. Namun Felix semakin mencengkram kuat tangan Olivia. " Kau mau aku gendong lagi?" tukas Felix dengan penuh ancaman.


Olivia mengumpat di dalam hati, mau tidak mau dia harus mengakui Felix. Tidak mungkin Olivia membiarkan dirinya di gendong lagi oleh Felix. Sudah cukup gosip yang terdengar di telinganya.


Devita menggeleng - gelengkan kepalanya. Padahal Devita sudah berkali - kali mengingatkan Olivia. Tapi rupanya sahabatnya itu sangat keras kepala. Devita melanjutkan lagi langkahnya menuju ke arah parkiran mobil. Setelah pulang nanti, Devita ingin berendam dengan sabun aroma madu dan milk.


"Devita Smith." suara bariton memanggil Devita dengan cukup keras, saat Devita ingin masuk ke dalam mobil. Devita membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


Devita mengerutkan dahinya, saat melihat pria dengan sosok tubuh tegap dan wajah yang harus Devita akui pria itu sangat tampan. Devita terus menatap pria itu, berusaha untuk mengenali siapa pria yang melangkah mendekat ke arahnya. Namun, berkali - kali Devita mengamati pria itu dia tetap tidak mengingat siapa pria yang melangkah mendekat ke arahnya ini.


"Maaf, kau siapa?" tanya Devita, saat pria itu kini berada di hadapannya. Devita sangat yakin, jika dirinya belum pernah bertemu dengan pria yang ada di hadapannya ini.


"Apa kabar Devita? Apa aku menganggumu?" tanya pria itu dengan suara yang ramah.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.