Love And Contract

Love And Contract
Tidak Percaya



"Devita, sepertinya kau harus segera menghubungi Brayen," tukas Olivia dia berusaha untuk tenang dan tidak takut.


Devita menganggukkan kepalanya, dia langsung mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi Brayen. Namun, Brayen tidak menjawabnya. Devita baru mengingat, Brayen berangkat lebih awal, karena ada meeting pagi.


"Olivia, Brayen tidak mengangkat teleponku. Lebih baik kita menghubungi polisi," kata Devita dengan wajah cemas dan ketakutan.


Olivia mengangguk setuju, "Kau benar, lebih baik kita menghubungi polisi."


Devita kembali mengambil ponselnya dan hendak menghubungi polisi. Seketika, saat Devita hendak menghubungi polisi, pandangan Devita menatap tiga mobil yang berwarna hitam kini menghadang di depan mobil mereka.


"Olivia, siapa mereka." Devita meremas kuat ponselnya, dia menatap enam orang yang berbaju hitam mendekat ke arah mereka.


"A-Aku tidak tahu, mereka siapa." wajah Olivia sampai takut dan cemas. Sebisa mungkin, dia berusaha untuk tenang, Olivia hendak memundurkan mobilnya. Namun, ketika Olivia ingin memutar balik mobilnya, dua mobil tepat di belakang mobil Olivia, menghalanginya.


"D- Devita, mobil kita di kelilingi oleh mobil lain. Kita tidak bisa keluar." Olivia menelan salivanya susah payah, wajahnya semakin ketakutan.


"Olivia, lebih baik kau bersembunyi. Jangan sampai kau keluar." Devita mengatur napasnya, berusaha untuk tenang.


"Kau gila! Sampai mati pun aku tidak akan bersembunyi hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri! Tidak! Lebih baik jika kita celaka, maka kita akan celaka bersama!" Seru Olivia.


"Tidak bisa! Aku akan baik - baik saja! Brayen pasti bisa menemukanku nanti!" Balas Devita.


Olivia menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak! Aku tidak akan menyelamatkan nyawaku sendiri!"


"Aku harus menghubungi Felix!" Olivia mengambil ponselnya, dan mulai menghubungi Felix. Namun, berkali-kali Olivia menghubungi Felix, tidak ada jawaban dari kekasihnya itu.


"Nyonya Devita Mahendra! Keluar sekarang, atau kami akan mendobrak pintu mobilmu!" Seru suara seorang pria dari luar mobil, suaranya begitu keras dan menggelegar.


"Olivia, tidak ada pilihan lainnya. Aku akan keluar dan kau cepat melarikan Olivia. Aku mohon kau mendengarkan perkataanku, Olivia. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu!" Tukas Devita menekankan.


"Tidak Devita! Apa kau ini tidak bisa mendengarku? Aku lebih memilih celaka dari pada aku harus meninggalkanmu!" Balas Olivia.


Brakkk.


Pintu berhasil terbuka, pria itu langsung menyeret Devita dengan keras. Devita berusaha untuk meronta, namun saat Devita terus memberontak, sebuah sapu tangan menutupi hidungnya. Perlahan mata Devita mulai memberat. Tepat di saat tubuh Devita ambruk, pria itu langsung membopong tubuh Devita.


"Devita!" Teriak Olivia begitu keras, melihat Devita sudah tidak sadarkan diri.


...***...


Felix melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melihat sebuah note yang ada di tangannya yang tertulis alamat pribadi Ivana Wilson yang tidak di ketahui oleh publik. Rasa penasaran Felix, membuatnya mencari tahu tentang Ivana Wilson. Felix sangat yakin, dia mengenal Ivana. Tidak hanya itu, Felix juga sering melihat Ivana berusaha untuk menutupi kesedihan di wajahnya. Terlebih, pernyataan Ivana yang selalu membaca artikel tentang Brayen dan Devita, membuat keyakinan Felix kini semakin bertambah.


Tidak lama kemudian, mobil Felix mulai memasuki Apartemen yang sesuai dengan alamat yang ada di note itu. Setelah memarkirkan mobilnya, Felix melangkah masuk kedalam. Felix menatap Apartemen milik Ivana Wilson, berada di lantai tertinggi. Lantai 68, di lantai Apartemen tertinggi ini hanya di tempati oleh Ivana.


Saat tiba di lantai 68, Felix mengedarkan pandangannya. Suasana Apartemen itu begitu sepi. Ketika Felix melihat anak buah Ivana yang tengah berkeliling, dengan cepat Felix langsung bersembunyi di balik dinding. Dia mengumpat pelan merutuki dirinya tidak melakukan persiapan. Felix mengepalkan tangannya dengan kuat, dia tidak menyangka, jika Ivana Wilson menjaga Apartemennya begitu ketat.


Sejenak Felix masih belum bergerak, dia melirik dari balik dinding, anak buah Ivana yang ada di hadapannya berjumlah tiga orang. Jika saja Felix memilki persiapan, sudah sejak tadi dia akan menyerang. Tapi tidak mungkin, jika sekarang dia langsung menyerang. Felix sangat yakin, pasti di depannya masih ada anak buah Ivana Wilson yang lainnya.


Hingga kemudian, Felix memberanikan diri. Dia langsung memukul tengkuk leher ketiga anak buah Ivana, hingga membuatnya pingsan tidak sadarkan diri. Ketika anak buah Ivana yang lain menghampirinya. Felix pun langsung bersembunyi, dia berlari menerobos masuk ke Apartemen milik Ivana.


Felix menatap foto Brayen sejak kuliah hingga sekarang. Felix menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihatnya ini. Foto Brayen sangat banyak. Hampir seluruh ruangannya di penuhi dengan foto Brayen.


"Wanita itu sepertinya sudah gila!" Tukas Felix. Tatapannya terus menatap sekelilingnya. Felix melihat foto Brayen yang tengah bermain badminton. Ketika kuliah dulu. Namun, sesaat Felix terdiam. Dia memikirkan bagaimana Ivana bisa memiliki foto Brayen saat kuliah?


"Ada orang di dalam?" Felix bersuara cukup keras.


"Ya! Tolong aku!" Suara wanita itu kembali berteriak.


"Kau mundur, aku akan mendobrak pintu ini." seru Felix.


Kemudian, Felix menendang dengan keras pintu itu. Hingga akhirnya terbuka. Felix mendekat dia menatap wanita yang terlihat begitu pucat dan ketakutan.


"F- Felix Jordy Mahendra?" suara wanita itu bergetar menyebut nama Felix. Terlihat jelas di wajahnya begit takut.


"Kau mengenalku?" Felix melangkah mendekat ke wanita itu. "Jangan takut, aku tidak akan melukaimu. Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Felix, katakan pada Brayen. Devita dalam bahaya! Aku mohon, katakan pada Brayen sekarang juga!" Wanita itu begitu gugup, dia menggigit bibir bawahnya dan tidak berani melihat Felix.


"Siapa namamu? Bagaimana kau bisa mengenalku dan juga Brayen?" tanya Felix sambil menatap serius ke arah wanita itu. Dia tidak mengerti bagaimana wanita itu mengenal dirinya dan juga Brayen?


"Monika, Aku Monika Taylor. Kau pasti tidak mengingatku, kan?" kata Monika.


"Ya, aku tidak mengingatmu. Dan apa hubunganmu dengan Ivana Wilson? Kenapa kau bisa terkurung di sini?" tanya Felix dengan tatapan yang tak lepas dari wanita yang ada di hadapannya.


"Apa kau masih mengingat seorang gadis bernama Beatrice?" tanya Monika tanpa menjawab pertanyaan dari Felix.


"Beatrice?" ulang Felix, sambil mengerutkan keningnya. "Siapa Beatrice? Aku tidak mengenalnya?"


"Beatrice, seorang gadis yang begitu menyukai Brayen. Dia kuliah di Harvard sama seperti Brayen. Sejak dulu, Brayen tidak pernah mau meliriknya. Tapi setiap hadiah yang di berikan oleh Beatrice, Brayen selalu menghargai hadihnya." ujar Monika.


"Kau ingat, gadis yang bertubuh gemuk dan berkacamata tebal? Gadis yang pernah mencoba bunuh diri, ketika Brayen tidak pernah membalas perasaannya. Saat Beatrice ingin bunuh diri, kau datang dan menahan Beatrice. Kau menyelamatkan Beatrice, dan memberikan nasihat pada Beatrice, untuk tetap menjalani hidupnya." Monika melanjutkan perkataannya, seketika membuat Felix terdiam.


"Aku mengingatnya! Gadis berambut merah, yang ingin bunuh diri karena Brayen tidak menyukainya!" Seru Felix. "Aku mengingat gadis itu, lalu apa hubungan gadis itu? Kenapa kau membahas gadis itu?" Felix menatap bingung Monika, dia tidak mengerti kenapa wanita yang ada di hadapannya membahas tentang Beatrice.


"Beatrice Ivana Wilson, gadis yang kau selamatkan dan gadis yang ingin mengakhiri hidupnya karena tidak bisa mendapatkan Brayen. Ivana telah merubah penampilannya hingga membuat dirinya begitu sempurna seperti sekarang. Dan Ivana telah membuang nama depannya. Tentu, kau pasti tidak mengingat Beatrice, karena sekarang penampilannya telah berubah." jelas Monika yang sontak membuat wajah Felix terkejut.


"Jadi, Beatrice adalah Ivana?" Felix menatap tak percaya. Pikirannya masih bertanya - tanya. Rasanya tidak mungkin gadis yang pernah dia selamatkan, adalah Ivana Wilson. Felix masih mengingat dengan jelas, gadis itu begitu putus asa ketika Brayen tidak menerimanya.


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.