Love And Contract

Love And Contract
Menuruti Keinginan Devita



Terdengar suara ketukan pintu, Devita dan Brayen mengalihkan pandangannya ke arah pintu, kemudian Brayen menginterupsi untuk masuk.


"Tuan, Nyonya." sapa seorang pelayan yang melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin. Devita hendak beranjak, tapi Brayen menahan pinggang Devita.


"Maaf Tuan Brayen saya menganggu. Tapi dokter Keira sudah datang, dan Nona Laretta menyuruh saya untuk memanggil Nyonya." jawab pelayan itu.


Devita tersenyum, "Aku nanti akan keluar."


"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi." pelayan itu menunduk, lalu undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.


"Kita kesana Brayen. Dokter Keira sudah datang." Devita beranjak dan terpaksa Brayen menuruti keinginan Istrinya itu. Kini mereka berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.


...***...


"Nyonya Devita, Tuan Brayen..." sapa dokter Keira, saat melihat Brayen dan juga Devita melangkah ke arahnya.


"Hi dokter Keira." balas Devita.


"Devita, dokter Keira tadi sudah memeriksaku dan dokter Keira juga mengatakan jika kandunganku sehat. Sekarang tinggal dirimu yang di periksa," ujar Laretta dengan senyuman bahagia di wajahnya


"Baiklah, kalau begitu kita periksa di dalam." Devita dan juga Keira melangkah masuk kedalam ruangan. Brayen mengikuti Devita dan Keira masuk kedalam ruangan. Memang Brayen sudah menyiapkan ruangan khusus untuk Devita dan juga Laretta jika dokter datang kerumahnya untuk memeriksa istri dan juga adiknya."


Tidak lama kemudian, Devita di periksa dan melakukan USG. Brayen terus melihat ke arah monitor. Janinnya masih sangat kecil, dan kandungan Devita memang masih muda. Itu kenapa Brayen masih merasa tidak bisa tenang jika harus pergi berlibur. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Brayen membantu Devita turun dari ranjang.


"Bagaimana dengan kandungan, istriku?" Brayen langsung bertanya sebelum dokter Keira menjelaskan.


"Tuan Brayen, kandungan Nyonya Devita sangat sehat. Saat ini kandungan Nyonya memasuki minggu ke enam. Nyonya Devita sepertinya rajin mengkonsumsi vitamin dan penguat kandungan." jelas dokter Keira.


"Lalu, apakah tidak masalah jika aku melakukan penerbangan jauh?" tanya Devita yang sudah tidak sabar. Namun Brayen langsung melemparkan tatapan dingin pada Devita yang mengajukan pertanyaan itu.


"Nyonya Devita, usia kandungannya masih memasuki trimester pertama, memang seharusnya harus menunggu sampai Nyonya Devita memasuki trimester kedua baru bisa melakukan penerbangan jauh. Tapi saya melihat kandungan Nyonya Devita bisa saja untuk melakukan penerbangan jauh, asalkan Tuan Brayen mempersiapkan kenyamanan untuk Nyonya." jawab dokter Keira.


"Itu saja, jadi kau tidak bisa pergi Devita." tukas Brayen dingin.


Devita mendengus tidak suka. "Brayen, jangan seperti itu. Dokter Keira sudah mengatakan jika kandungku itu sehat."


Brayen membuang napas kasar, dia ingin sekali menolak permintaan istrinya. Tapi jika dia menolak, Devita pasti akan terus merajuk padanya. Brayen sangat mengenal istrinya itu. Devita tidak akan berhenti meminta sebelum mendapatkannya.


"Dokter Keira, aku akan berlibur dengan istriku dan juga keluargaku. Jadi kau, aku tugaskan untuk merawat istriku dan adikku. Mereka berdua sedang hamil. Kau harus ikut denganku, dan aku ingatkan padamu. Aku membawamu, itu artinya kau harus menjamin keselamatan dan kesehatan kandungan dari istri dan juga adikku!" Brayen mengatakan dengan tegas dan tatapannya menatap dingin dokter Keira.


Seketika senyum di wajah Devita terukir. Devita langsung memeluk erat Brayen. "Kau memang yang terbaik Brayen. Aku sangat mencintaimu suamiku."


Dokter Keira mengulum senyumannya melihat Devita yang terlihat begitu seperti anak kecil. Dokter Keira menatap lekat Brayen dan menjawab. "Baik Tuan, saya pasti akan bekerja sebaik mungkin. Dan saya tidak akan mengecewakan anda."


Brayen memasang wajah datar. Bahkan saat Devita memeluknya dia hanya tersenyum tipis. Brayen dan juga Devita beranjak. Lalu mereka berjalan keluar ruangan. Begitu pun dengan Dokter Keira yang langsung pamit undur diri.


"Bagaimana Devita? Apa Dokter Keira memperbolehkan mu untuk pergi berlibur?" Laretta langsung bertanya saat melihat Devita berjalan keluar.


"Ya Laretta, Dokter Keira memperbolehkan ku!" Seru Devita, dia langsung berjalan cepat ke arah Laretta dan memeluk erat adik Iparnya itu.


"Perhatikan langkahmu Devita!" Seru Brayen menggeram melihat Devita yang berjalan cepat ke arah Laretta.


Devita tersenyum lebar, "Maaf Brayen, tenang saja anak kita sangat kuat."


Brayen tidak menjawab, dia tetap memasang wajah datar dan dingin. Brayen melangkah mendekat ke arah Devita dan juga Laretta. Brayen mengecup kening Devita dan juga Laretta, dan langsung berjalan menuju ke ruang kerjanya.


"Angkasa, jadi kau itu harus meluangkan waktumu untukku. Aku juga tidak ingin mendengar alasan jika kau itu sibuk." Laretta mengalihkan pandangannya menatap lekat Angkasa.


"Laretta ... Angkasa..., aku harus segera kembali ke kamar. Aku ingin memberikan kabar pada Olivia kalau kita akan ikut berlibur ke Las Vegas." seru Devita.


"Salamkan juga untuk Olivia. Aku juga sudah tidak sabar." balas Laretta yang juga antusias menyambut liburannya.


Kemudian Devita berjalan meninggalkan Angkasa dan juga Laretta. Devita pun langsung masuk kedalam kamar. Dengan cepat Devita pun langsung mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan segera menghubungi Olivia.


"Olivia?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Devita? Ada apa?" tanya Olivia dari sebrang telepon.


"Aku ingin memberitahumu sesuatu, Olivia!" Seru Devita berseru bahagia.


"Ada apa Devita? Bukankah tadi kau bilang mau membujuk Brayen?"


"Yess, bukan hanya membujuk. Tapi aku juga sudah di periksa oleh dokter."


"Really? Lalu bagaimana hasilnya Devita? Apa Dokter sudah memperbolehkan mu untuk pergi berlibur?"


"Hasilnya aku dan juga Laretta di perbolehkan untuk pergi berlibur! Olivia, akhirnya kita bisa pergi berlibur bersama."


"Great! Kalau begitu kita akan mempersiapkan liburan yang sangat mengagumkkan."


"Ya kau tenang saja. Aku juga yakin, Brayen pasti akan menyiapkannya dengan sempurna."


"Tapi suamimu itu benar-benar memperbolehkanmu untuk pergi berlibur?" tanya Olivia ingin memastikan.


Devita mendesah pelan. "Awalnya memang Brayen tidak memperbolehkan ku. Tapi setelah aku membujuknya dia memperbolehkan ku untuk ikut berlibur. Hanya saja nanti Brayen akan membawa dokter kandungan untuk mengawasiku dan juga Laretta."


Terdengar tawa pelan Olivia dari balik teleponnya, "Brayen memang suami yang terbaik. Kau sungguh beruntung memiliki suami yang seperti Brayen. Dia selalu menuruti apapun keinginanmu. Sungguh, hidupmu sekarang benar-benar sempurna, Devita."


"CK! Kau ini berlebihan sekali. Kau juga memiliki kehidupan yang sempurna Olivia. Felix sangat baik, tampan dan juga memilki karir yang hebat."


"Ya,ya kau benar. Aku juga beruntung memiliki Felix. Ya sudah aku tutup dulu, karena aku sedang membuat kue untuk Felix."


"Kau membuat kue untuk Felix? Kita ini sudah bersahabat sejak kecil. Dan kau, tidak pernah membuatkan kue untukku!"


"Nanti aku akan membuatkan kue untukmu, sudah yaaa..."


Panggilan terputus Devita mendengus kesal, Karena selama ini, Olivia tidak pernah membuatkan kue untuk dirinya. Lalu kenapa hanya dengan Felix saja, Olivia membuatkan kue? Benar - benar membuat Devita iri. Padahal dirinya sudah bersahabat dengan Olivia sejak kecil.


Devita meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mengikat asal. rambutnya. Kemudian Devita berjalan menuju ke arah kamar mandi. Berendam adalah hal yang paling Devita sukai. Selain membuat tubuhnya jauh lebih rileks, berendam dengan aroma madu dan juga milk membuat kulitnya menjadi lebih halus.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.