Love And Contract

Love And Contract
Kau Milikku



"Kenapa kau tidak memberitahuku, jika ulang tahun Olivia di adakan di klub malam? Usia kalian itu masih muda. Lalu kenapa ada Richard di sana?" seru Brayen dengan tatapan tidak suka.


Devita mendengus. "Brayen, aku sudah 20 tahun. Aku pernah mendatangi kub malam juga sebelumnya. Masalah kenapa ada Richard, itu karena Olivia yang mengundang Richard," Jawab Devita.


"Tapi kenapa kau tidak memberitahuku Devita," tukas Brayen dingin.


"Bagaimana aku memberitahumu Brayen, kita habis bertengkar. Kita tidak bicara, kau memilih untuk bersama dengan kekasihmu itu!" Balas Devita yang sengaja menyindir Brayen.


"Jangan menyebutnya kekasihku lagi Devita. Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya," jawab Brayen menekankan.


"Ya, kalian memang harus segera mengakhiri hubungan kalian! Jika tidak. Aku akan meninggalkanmu!" Seru Devita penuh peringatan.


Brayen menarik tangan Devita membawanya masuk ke dalam pelukannya. " Maafkan aku Devita, aku memang sebelumnya tidak tega pada Elena. Tapi hatiku tetap tidak sanggup melihatmu dengan pria lain!"


"Kau pikir hanya kau saja! Aku bahkan lebih sakit hati, suamiku berciuman dengan wanita lain. Dan aku melihatnya secara langsung!" Ucap Devita ketus. Ingatannya kembali mengingat Brayen yang berciuman dengan wanita lain.


"Maaf aku sungguh minta maaf," Brayen menangkup kedua pipi Devita, lalu memberikan kecupan di bibir Istrinya.


Devita tersenyum. Dia mengelus rahang Brayen. "Aku sudah memaafkan mu.Bagaimanapun kalian pernah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Aku mengerti Elena pasti sangat mencintaimu"


"Aku dan Elena tidak di takdirkan untuk bersama. Aku yakin, dia pasti akan bertemu pria yang baik untuk hidupnya," balas Brayen.


Devita mengangguk.


"Tunggu, bagaimana denganmu? Apakah kau masih mengharapkan pria yang bernama Angkasa itu?" seru Brayen dengan tatapan yang tidak suka.


Devi berdecak kesal. " Aku memang pernah mencintai Angkasa. Tapi dia tidak pernah mencariku, bahkan mengirim pesan saja tidak pernah. Dia hanya memintaku untuk menunggunya sampai dia kembali ke kota B. Dan sekarang aku sudah menikah denganmu. Sebenarnya, kau sudah menggantikan posisi Angkasa. Bahkan posisimu jauh lebih di atas Angkasa,"


Brayen tersenyum, " Benarkah? Mungkin karena aku ini jauh lebih tampan darinya," tanya Brayen.


"Kau ini percaya diri sekali! Ya sudahlah aku tarik lagi ucapanku!" Dengus Devita ketus.


"Tidak sayang, kau baru saja mengatakan tapi sudah mau kau tarik lagi ucapanmu," tukas Brayen sembari memberi kecupan singkat di bibir Istrinya.


Devita mengulum senyumannya. " Aku tidak pernah mendengar kau memanggilku dengan sebutan sayang. Biasanya kau selalu memanggilku dengan gadis kecil,"


"Sepertinya aku akan memanggilmu dengan My little wife bagaimana? Itu tidak buruk," tukas Brayen.


"Hentikan Brayen, aku ini bukan anak kecil lagi!" Seru Devita.


Brayen tersenyum, dia mengecup bibir Devita. "Hari ini sepertinya kau tidak perlu ke kantor," ucap Brayen.


"Brayen, Dixon's Group bukan milikmu. Dan aku masih harus bekerja!" Protes Devita kesal.


"Kalau begitu, kau pindah saja ke perusahaanku. Kau bisa magang di perusahaanku," jawab Brayen santai.


"Tidak mau! Aku masih ingin magang di sana!" Tolak Devita. Bukannya tidak ingin magang di perusahaan Brayen. Tapi, dia sudah merasa nyaman di tempat magangnya saat ini.


Brayen membuang napas kasar. "Aku akan membiarkan kamu magang di Dixon's Group, tapi kau harus ingat Devita, kau tidak boleh dekat lagi dengan Richard atau pun William!" Seru Brayen dengan nada penuh penekanan.


Devita mendengus, ," Kau ini bagaimana! William adalah pemilik perusahaan. Bagaimana aku tidak boleh dekat dengannya? Aku dekat hanya sebatas pekerjaan. Lalu Richard? Di adalah temanku. Dia juga tahu, aku ini sudah menikah. Kenapa kau melarangku!"


"Tidak ada pertemanan antara perempuan dan laki - laki,Devita!" Tukas Brayen menekankan.


"Astaga Brayen, jangan berlebihan. Aku berjanji tidak akan macam - macam. Lagi pula sungguh aku hanya berteman dengan Richard. Dia pria yang baik. Aku berdansa dengannya tadi malam itu, karena aku kesal melihatmu berciuman dengan Elena. Kau tahu, dalam hidup ini pertama kalinya aku datang ke klub malam dan berdansa dengan seorang pria. Biasanya aku tidak pernah berdansa!" Balas Devita kesal.


"Aku ingin sekali membunuhnya karena dia telah berani berdansa denganmu!" Seru Brayen, rahangnya mengeras. Dia kesal mendengar Richard adalah pria pertama yang


berdansa dengan Devita.


"Jangan egois Brayen. Aku hanya berdansa dan bukan berciuman. Kau lebih pilih sakit mana aku atau dirimu?" tukas Devita sinis.


Brayen membuang napas kasar " Ya, maafkan aku. Tapi berjanjilah tidak berdansa lagi dengan pria manapun. Jangan pernah mendatangi klub malam lagi tanpa Izin dariku,"


Devita mengangguk. " Aku berjanji, asal kau tidak macam - macam lagi di belakangku!"


"Ya sudah, aku mau mandi."


"Kita mandi bersama."


Belum sempat Devita menjawab, Brayen langsung beranjak dari ranjang dan membopong tubuh Devita gaya bridal menuju kamar mandi. Devita menjerit, dia terkejut karena Brayen membopongnya.


"Astaga, Brayen, aku belum mengiyakan kau sudah menggendongku!" Pekik Devita.


"Kau milikku Devita, aku bebas melakukan apapun." Brayen terus melangkah menuju ke arah kamar mandi.


...***...


Dengan penuh emosi, Elena turun dari mobilnya. Dia masuk ke dalam perusahaan Brayen dan langsung menuju ke ruang kerja Brayen. Elena tidak perduli dengan larangan Brayen. Dia adalah kekasih Brayen, sudah sangat jelas dia berhak atas Brayen. Masalah media yang akan meliput mereka, dia tidak memperdulikannya.


Sejak tadi malam, Brayen tidak menjawab telepon darinya. Bahkan untuk pertama kalinya, Brayen tega membiarkan Elena pulang menggunakan taksi. Ratusan telepon dari Elena di abaikan oleh Brayen.


"Selamat pagi Nona Elena," sapa Jessy, Sekretaris Brayen saat melihat Elena datang.


"Dimana Brayen? Apa dia ada di dalam?" tanya Elena dingin.


"Maaf Nona. Tuan baru saja tiba di kantor. Dia sudah memiliki meeting dengan perusahaan dari Jepang," jawab Jessy.


"Aku akan menunggunya di dalam!" Ucap Elena ketus.


"Nona, saya tidak berani. Lebih baik Nona menunggunya di ruang tunggu saja Nona," kata Jessy dengan sopan.


"Sialan! Kau tidak tahu siapa aku? Hah? Kau pikir kau ini siapa! Kau hanya bawahan yang di bayar oleh kekasihku. Jangan membuatku marah!" Sentak Elena dengan penuh emosi.


"M- maaf Nona, tapi saya hanya tidak berani," jawab Jessy gugup seraya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Elena.


"Ada apa ini ribut - ribut?" tanya Albert yang kini melangkah mendekat ke arah Jessy dan Elena.


"Tuan Albert," sapa Jessy saat melihat Albert mendekat ke arahnya.


"Ada apa Jessy?" tanya Albert pada Jessy.


"Nona Elena ingin bertemu dengan Tuan Brayen. Tapi karena Tuan Brayen sedang meeting, Nona Elena ingin menunggunya di ruang kerja Tuan. Maafkan saya. Saya hanya takut, jika Tuan besar David datang ke perusahaan," jelas Jessy.


"Kau kembalilah bekerja Jessy," tukas Albert dan Jessy mengangguk patuh.


"Nona Elena, maaf Tuan sedang meeting. Apa lebih baik, Nona pulang terlebih dulu? Nanti saya akan sampaikan pada Tuan jika Nona datang," kata Albert yang berusaha membujuk Elena.


"Kau pikir kau siapa? Bisa memerintahku? Beraninya kau!" Seru Elena kesal. Dia melayangkan tatapan tajamnya pada Albert yang berdiri di hadapannya.


"Maaf, saya bukan memerintah Nona, tapi saya hanya menyarankan," jawab Albert sopan.


"Aku tidak mau! Aku akan menunggu kekasihku di ruang kerjanya!" Elena melangkah masuk ke dalam ruang kerja Brayen. Dia tidak memperdulikan larangan dari Albert.


Sedangkan Albert hanya menghela nafas dalam, melihat Elena yang begitu Arrogant.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.