Love And Contract

Love And Contract
Tidak Ingin Berdebat



"Ada apa, Pa?" tanya Angkasa yang kini sudah tiba di ruang kerja Ayahnya.


"Apa kau sudah bertemu dengan Brayen?" Varell duduk di kursi kerjanya dan menatap Angkasa yang sedang berdiri di hadapannya.


"Brayen masih menutup aksesku bertemu dengannya," jawab Angkasa. "Siang ini, aku ingin bertemu dengan Brayen. Tidak mungkin aku membiarkan masalah ini berlarut. Kandungan Laretta juga sudah semakin membesar. Aku tidak mungkin menunda pernikahanku."


"Sebelum kau bertemu dengan Brayen, lebih baik kau pikirkan rencanamu kedepannya. Papa tahu, Brayen sangat keras. Papa hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu, Angkasa." ujar Varell yang mencemaskan putranya itu.


Angkasa membuang napas kasar. "Sebelumnya aku sudah pernah menghadapi Brayen. Aku sudah tahu, kemungkinan terburuk yang terjadi padaku jika melawannya. Tapi aku tidak mungkin mundur. Sebagai seorang pria, aku tidak akan pernah mundur untuk memperjuangkan anakku dan wanita yang aku cintai. Aku pernah gagal mendapatkan wanita yang aku cintai. Dan aku tidak ingin menginginkan kegagalan itu lagi. Cukup satu kali aku gagal mendapatkan wanita yang aku cintai di masa lalu. Sekarang, aku akan memperjuangkan wanita yang berada di masa depanku. Terlebih wanita itu tengah mengandung anakku."


Varell terdiam mendengarkan perkataan Angkasa, dia memahami dan mengerti apa yang telah di lewati oleh putranya itu. Ya, di masa lalu Angkasa memang tidak mampu mendapatkan wanita yang di inginkannya. Tentu berbeda dengan yang sekarang. Angkasa pasti akan memperjuangkan wanita yang akan menjadi masa depannya. Terlebih wanita itu tengah mengandung anaknya.


"Papa percaya kau mampu melewati ini Angkasa. Papa akan mendukungmu. Papa juga yakin, Brayen masih memiliki hati. Dia pantas marah, karena apa yang sudah di lakukan oleh Alena memang sudah keterlaluan. Tapi lepas dari itu, Papa tahu Brayen hanya menginginkan kebahagiaan untuk Laretta." ujar Varell. " Kau bisa menunjukkan keseriusanmu pada Laretta. Untuk masalah perusahaan, Papa sudah memiliki pilihan lain. Jika sampai, Brayen memang berniat menghancurkan perusahaan kita, Papa akan mengatasi ini. Kau tidak perlu mencemaskan masalah perusahaan."


"Pa, kau tidak perlu memikirkan masalah perusahaan. Karena semuanya akan menjadi tanggung jawabku." balas Angkasa. "Aku yang akan bertanggung jawab, jika terjadi sesuatu pada perusahaan kita. Percayalah, aku akan mengurus semuanya dengan baik. Aku bahkan sudah menyiapkan diri untuk melawan Brayen. Meski aku tahu, sulit bagiku untuk menang darinya."


Varell tersenyum. "Tidak perduli kalah atau menang. Setidaknya, kau telah memperjuangkan wanitamu. Papa yakin, Brayen akan lebih bijaksana dalam menyikapi masalah ini."


...****...


Brayen duduk di kursi kebesarannya. Sembari menyesap wine yang ada di tangannya. Tadi malam, dia memutuskan untuk pulang. Meski Devita tidak tahu, tapi paling tidak dia bisa melihat istrinya.


"Tuan," sapa Albert. Saat melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin tanpa melihat ke arah Albert.


"Maaf Tuan, tetapi di depan ada Angkasa Nakamura, ingin bertemu dengan anda." kata Albert hati - hati.


"Kau sudah tahu bukan? Aku tidak ingin bertemu dengannya? Kenapa kau masih bertanya?" seru Brayen dengan tatapan tajam ke arah Albert.


"M- maaf, Tuan. Tapi Angkasa Nakamura mengancam akan membuat masalah jika anda tidak mau bertemu dengannya." Albert menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.


Brayen membuang napas kasar. "Minta dia untuk masuk, dan katakan padanya aku tidak memiliki banyak waktu!"


"Baik Tuan!" Albert mengangguk patuh, lalu dia mempersilakan Angkasa untuk masuk.


Tidak lama kemudian, Angkasa melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen. Kini Angkasa dan juga Brayen saling melayangkan tatapan dingin satu sama lain. Angkasa mendekat, dia duduk tepat di hadapan Brayen.


"Untuk apa kau datang kesini? Apa pendengaranmu itu sudah tidak lagi berfungsi dengan baik? Aku sudah mengatakan padamu, jangan lagi muncul di hadapanku!" Suara Brayen terdengar begitu dingin dan tajam.


"Aku butuh bicara denganmu Brayen." jawab Angkasa. "Aku tahu, adikku bersalah. Aku bahkan membiarkanmu untuk menghukum adikku. Bahkan keluargaku tidak membantu Alena. Aku menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian. Tapi kenapa kau masih melarangku untuk bertemu dengan Laretta? Adikmu sedang mengandung anakku. Kau suka atau tidak suka, tapi itu adalah kenyataannya."


Brayen tersenyum sinis. "Pria sepertimu tidak pantas menjadi suami adikku. Singkirkan pikiranmu itu untuk menjadi suami dari adikku! Karena kau itu tidak akan pernah pantas!"


"Ya, apa yang kau katakan itu benar. Aku memang tidak pernah pantas untuk Laretta!" Seru Angkasa. "Tapi, aku akan berusaha untuk membahagiakannya. Jika menurutmu aku tidak bisa melindungi Laretta, aku sungguh minta maaf atas kejadian Alena. Aku berjanji padamu, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Aku akan menjadi orang pertama yang berada di depan untuk melindungi Laretta. Aku pastikan kejadian buruk yang menimpa Laretta tidak akan pernah ada."


Angkasa mengatakannya dengan tegas dan meyakinkan Brayen, jika dirinya akan selalu menjaga Laretta dengan baik.


"Kau berani mengucapkan janji di hadapanku?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, "Dan kau pikir aku akan percaya dengan semua perkataanmu?"


"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa percaya padaku?" Angkasa menatap serius Brayen. "Aku akan menuruti segala permintaanmu demi membuktikannya."


Brayen menyesap wine di tangannya. "Well, menuruti keinginanku? Bagaimana kalau aku menginginkan kehancuran adikmu? Apa kau bisa menurutinya?"


Seketika raut wajah Angkasa menegang mendengar perkataan Brayen. Angkasa tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Bahkan Angkasa tidak bergeming dari tempatnya.


Brayen tersenyum mengejek melihat wajah Angkasa. "Aku itu bukan orang yang mudah memaafkan. Dan aku juga bukan orang yang baik. Aku membenci orang yang berani menghina keluargaku. Berurusan denganku sama saja mengantarkan kematian mereka. Adikmu sudah di penjara, tapi bagiku itu belum membuatku puas. Karena aku masih sangat ingat ucapan dari adikmu yang sialan itu yang sudah sangat menghina adikku. Meski adikmu berlutut di hadapanku, aku tidak akan mengampuninya."


"Jik kau ingin membuktikannya itu sangatlah mudah. Aku tidak meminta banyak. Cukup dengan melihat kehancuran adikmu. Sangat mudah bukan?" Brayen melepaskan gelas sloki ke tempat semula, lalu dia mengambil rokok yang ada di hadapannya dan langsung menghidupkan rokoknya.


"Aku ingin bertanya padamu?" balas Angkasa dengan tatapan dingin ke arah Brayen.


"Kau ingin tanya apa lagi?" Brayen menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara.


"Jika posisi itu ada padamu? Apa yang akan kau lakukan? Adikmu menghina wanitamu, dan Kakak dari wanitamu menginginkan kehancuran dari adikmu sendiri? Apa kau bisa melakukan itu Brayen Adams Mahendra? Meski kau tahu adikmu sudah kau biarkan menderita di dalam penjara. Tapi kenyataannya Kakak dari wanitamu masih belum puas?" Angkasa membalikkan pertanyaan ini pada Brayen.


Brayen menyeringai. "Kau membalikkan keadaan itu padaku?" pertanyaan yang cukup cerdas.


"Jika posisi itu ada padaku, maka aku harus siap menerimanya. Satu hal lagi yang harus kau tahu, adikku itu tidak akan pernah melakukan hal yang sama seperti adikmu. Tidak akan pernah!" Balas Brayen dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Angkasa mengangguk. "Kehancuran apa yang kau inginkan untuk adikku Brayen Adams Mahendra? Kau ingin membuatnya kehilangan masa depannya?"


Brayen mengedikkan bahunya acuh. "Mungkin itu salah satunya, tapi selebihnya aku masih menginginkan lebih dari itu. Bagaimana? Apa kau sanggup? Jika kau itu tidak sanggup lebih baik kau itu mundur, dan jangan lagi berharap kau bisa menjadi suami dari adikku!"


Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia menyambar kunci mobilnya. Lalu berjalan meninggalkan Angkasa yang masih tidak bergeming. Perkataan Brayen membuat Angkasa tidak mampu mengeluarkan kata-kata.


...***...


Devita duduk di sofa empuk di kamarnya sembari menonton film kesukaannya. Tidak ada lagi yang dilakukan oleh Devita selain bersantai di rumah. Mendekati hari kelulusannya Devita tidak pernah tampak bahagia. Jika dulu Devita selalu menunggu hari kelulusannya, kali ini berbeda. Pikiran Devita begitu kacau dalam beberapa hari ini.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seketika Devita terkejut melihat Brayen melangkah masuk kedalam kamar. Dengan cepat Devita langsung beranjak dari tempat duduknya, di melangkah mendekat ke arah suaminya itu.


"Brayen? Kau sudah pulang?" Devita tersenyum bahagia melihat Brayen kini sudah berada di hadapannya.


"Ya," jawab Brayen singkat.


"Brayen, kau masih marah padaku?" cicit Devita.


Brayen tidak menjawab, dia memilih untuk melepaskan dasi dan juga jasnya. Devita hendak membantu, tapi Devita mengurungkan niatnya. Devita melihat wajah suaminya yang masih terlihat jelas raut kemarahannya.


Saat Brayen akan melangkah masuk menuju kamar mandi, Devita langsung menahan lengan Brayen. Hingga membuat langkah Brayen terhenti.


"Ada apa Devita?" suara Brayen terdengar begitu dingin.


"Maafkan aku Brayen." kata Devita lirih. "Sampai kapan kau akan mendiamkan aku seperti ini? Kau sungguh sangat menyiksaku?"


Brayen membalikkan tubuhnya di menatap lekat wajah Devita. "Apa menjadi istriku kau masih tidak memahami sifatku, Devita?"


Devita mendongakkan wajahnya dengan matanya yang berkaca-kaca, dia membalas tatapan Brayen. "Iya! Aku itu tidak memahamimu! Aku hanya tidak bisa kau diamkan aku seperti ini! Sudah berapa lama kau mendiamkanku Brayen! Kau itu tidak pulang selama tiga minggu! Kenapa kau mendiamkanku selama ini! Kenapa Brayen! Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Aku tahu mungkin kau sulit untuk mempercayainya, tapi dalam sebuah hubungan kepercayaan itu sangat penting Brayen! Meski aku telah mengecewakanmu, tapi kenapa kau tidak melihat alasan aku harus terpaksa menutupinya darimu? Kenapa kau tidak melihat itu?"


Brayen membuang napas kasar. "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu Devita. Lebih baik kau itu beristirahat."


Brayen mengambil kembali jasnya yang terletak di atas sofa, dia langsung membalikkan tubuhnya dan hendak keluar dari kamar. Namun Devita menahan lengan Brayen, hingga membuat Brayen dengan terpaksa menghentikan langkahnya.


"Kita harus bicara Brayen! Berhenti menghindar dariku! Jika kau takut melukai hatiku dengan perkataanmu, maka kau boleh mengatakan apapun. Meski itu melukai hatiku sekalipun!" Seru Devita.


"Apa kau tidak mendengar aku berkata tadi, bahwa aku tidak ingin berdebat denganmu Devita Smith?" geram Brayen terlihat jelas. Brayen berusaha untuk mengendalikan emosinya.


"Maka aku yang ingin berdebat denganmu Brayen!" Balas Devita yang tidak mau kalah.


Brayen menyingkirkan tangan Devita di lengannya, dan memilih melanjutkan lagi langkahnya.


"Aku masih ingin berbicara denganmu Brayen Adams Mahendra!" Seru Devita meninggikan suaranya.


"Akhh!" Devita meringis kesakitan menyentuh perutnya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.