
Dering ponsel membuat Brayen terbangun. Brayen membuka matanya, ia mengambil ponselnya di atas nakas. Melihat ke layar ponsel tertera nama Albert, asistennya tengah menghubunginya. Brayen menoleh kesamping, istrinya masih tertidur pulas akibat ulahnya. Brayen mengecup bahu istrinya, lalu beranjak dan memakai pakaiannya kembali yang tergeletak di lantai.
Brayen berjalan menjauh dari Devita, ia tidak ingin membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas. Brayen menekan tombol penerima dan langsung menempelkan ponselnya ke telinganya.
"Ada apa Albert?" suara Brayen bertanya saat panggilannya terhubung.
"Tuan, maaf saya mengaggu Tuan. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan." ujar Albert dari sebrang telepon.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Brayen.
"Ini mengenai Tuan Edwin, saya sudah mendapatkan informasi yang Tuan inginkan." jawab Albert.
"Katakan, aku ingin tahu semuanya." balas Brayen.
"Tuan Edwin memiliki mantan kekasih bernama Gelisa Wilson, suami dari Gelisa bernama Valdis Wilson, dan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Gelisa memiliki tiga orang anak, dari yang saya dapat. Gelisa memiliki anak kembar bernama Edgar Rylan Wilson dan Lucia Wilson, tapi mereka bukan anak dari Valdis Wilson. Saya rasa Gelisa datang ke kota B memang sengaja untuk menemui Tuan Edwin dan Gelisa memberitahu jika anak kembarnya adalah anak dari Tuan Edwin." jelas Albert
Brayen membuang napas kasar. " Apa Ayah mertuaku sudah melakukan Tes DNA?"
"Saya rasa belum, Tuan. Tapi saya sendiri belum mengetahui alasan Tuan Edwin tidak langsung melakukan Tes DNA. Mungkin Tuan Edwin memiliki alasan yang tersendiri."
"Bagaimana mungkin, Ayah mertuaku bisa langsung mempercayai anaknya tanpa melakukan Tes DNA?" seru Brayen.
"Tuan maaf, saya rasa Tuan Edwin memiliki alasan tersendiri." jawab Albert.
"Apalagi yang kau ketahui tentang mereka?" tanya Brayen lagi. Ia ingin mengetahui semua masalah yang membuat beban di pikiran Istrinya itu.
"Tuan Edwin, menjalin hubungan dengan Gelisa sudah cukup lama. Mereka berpisah karena dari keluarga Gelisa Wilson tidak menyetujui Tuan Edwin. Saat itu, Tuan Edwin tidak memiliki apapun. Di masa muda Tuan Edwin, dia adalah karyawan biasa di salah satu perusahaan properti di Kanada. Hingga akhirnya terjadi penolakan itu dan Gelisa di jodohkan oleh keluarganya." jelas Albert.
"Sejak Gelisa di jodohkan oleh keluarganya. Tuan Edwin pindah dan menetap di Indonesia, sampai akhirnya Ayah Tuan Edwin meminta Tuan Edwin untuk menikahi Ibu mertua anda. Nyonya Nadia. Tapi Tuan, saya juga mendapatkan informasi, jika Gelisa melarikan diri dari perjodohan itu. Dia juga berusaha untuk mencari Tuan Edwin. Namun, karena Tuan Edwin sudah pindah dan menetap di Indonesia. Gelisa tidak berhasil menemukan Tuan Edwin." lanjut Albert.
"Besok, aku akan bertemu dengan Ayah mertuaku. Kau ambil alih untuk meeting dengan Mr. Lee." perintah Brayen.
"Baik Tuan," jawab Albert.
Brayen memutuskan panggilan teleponnya, lalu kembali melangkah menuju kamar. Ia menatap istrinya yang masih tertidur dengan pulas. Brayen membaringkan tubuhnya di samping istrinya, lalu menarik tangan Istrinya dengan hati - hati dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku tidak suka melihatmu selalu bersedih, Sayang." bisik Brayen. Ia mengecup dengan lembut puncak kepala Istrinya.
...***...
Edwin duduk di kursi kebesarannya dengan punggung yang bersandar. Beberapa hari ini, Nadia Istrinya menjauh darinya. Meski tinggal dalam satu rumah, tetapi Nadia selalu bersikap dingin padanya. Edwin tahu, ini terlalu rumit dan sulit di terima oleh Nadia. Tapi inilah kenyataan yang harus di hadapi.
Edwin memang belum melakukan Tes DNA, alasannya karena Edwin begitu mengenal siapa Gelisa dengan baik. Edwin menjalin hubungan dengan Gelisa sudah cukup lama hingga Edwin memiliki kepercayaan yang besar pada Gelisa. Edwin rasa, Gelisa tidak mungkin membohonginya.
Dan jika memang Edwin telah memiliki anak dari Gelisa, entah dia harus melakukan apa. Edwin sangat yakin, Nadia tidak akan pernah menerima ini. Tidak hanya Nadia, tetapi Devita putrinya juga tidak akan pernah menerima ini.
Terdengar suara ketukan pintu membuat Edwin menghentikkan lamunannya. Edwin menoleh ke arah pintu dan langsung memintanya untuk masuk.
"Tuan," sapa Hardwin, asistennya yang kini sudah melangkah masuk kedalam ruang kerja Edwin.
"Ada apa?" tanya Edwin dingin.
"Maaf Tuan, tetapi di depan ada Tuan Brayen yang ingin bertemu dengan anda," ujar Hardwin.
Edwin mengerutkan dahinya, " Brayen? Maksudmu, menantuku datang?"
Hardwin mengangguk. " Ya Tuan. Menantu anda ingin bertemu dengan anda."
"Jika menantuku yang datang, langsung minta dia untuk masuk kedalam ruang kerjaku. Tidak perlu dia menunggu." ujar Edwin.
Tidak lama kemudian Brayen melangkah masuk kedalam ruang kerja Edwin.
"Pa," sapa Brayen.
"Brayen, kemarilah." ujar Edwin dan Brayen pun mengangguk, lalu berjalan arah Edwin dan duduk di hadapan Edwin.
"Kau sedang tidak sibuk?" tanya Edwin.
"Tidak Pa, aku datang hanya ingin menyapa. Rasanya sudah lama kita tidak berbicara berdua di luar dari pekerjaan." ujar Brayen. Selama ini, Brayen memang sering bertemu dengan Edwin hanya membahas tentang pekerjaan dan kerja sama. Mereka berdua selalu bersikap profesional dan tidak pernah melibatkan masalah pribadi dalam pekerjaan.
Edwin tersenyum, " Apa kau datang kesini untuk bertanya tentang masalah yang terjadi belakangan ini?"
Brayen menyadarkan punggungnya ke kursi dan menatap lekat Edwin. " Maaf, tapi aku datang memang untuk itu. Aku tidak bisa diam melihat Devita selalu bersedih."
Edwin menganggukan kepalanya. Ia tahu, Brayen memang sangat mencintai putrinya. "Papa rasa, kau pasti sudah mengetahui semuanya."
"Ya benar, aku sudah mengetahui semuanya. Tapi aku tidak bertanya pada Devita. Aku tidak ingin membuat istriku semakin bersedih, jika aku bertanya." ujar Brayen.
"Papa tahu, dengan kemampuan yang kau miliki, pasti kau bisa mencari tahu semuanya." balas Edwin.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk ikut campur. Karena ini menganggu istriku maka aku tidak bisa hanya diam saja." kata Brayen.
"Papa mengerti son, kau pasti tidak hanya diam jika menyangkut tentang Devita. Papa sangat mengerti itu." ujar Edwin.
"Kau pasti sudah tahu bukan, bahwa Papa sudah memiliki anak dari mantan kekasih Papa dulu? dan ya, itulah kenyataannya. Mau tidak mau, Papa harus menghadapi semuanya." lanjut Edwin.
Brayen menautkan alisnya. " Apa Papa sudah melakukan Tes DNA, hingga membuat Papa begitu percaya pada wanita itu?"
Edwin membuang napas kasar. " Papa sangat mengenal Gelisa. Kami menjalin hubungan saat Gelisa berusia 17 tahun. Memang Papa belum melakukan Tes DNA tapi Papa merasa yakin, itu adalah anak Papa."
"Bisa berikan aku alasan, kenapa Papa begitu yakin? Karena setiap orang bisa berubah di setiap tahunnya, mengenal lama bukan berarti kita tahu tentang orang tersebut dengan baik." ujar Brayen menegaskan.
Helaan nafas berat kembali terdengar, rasanya masalah inilah terlalu rumit baginya. "Karena Papa adalah pria pertama yang menyentuh Gelisa. Itu kenapa Papa yakin, terlebih dengan usia anak dari Gelisa yang membuat Papa semakin yakin mereka adalah anak kandung Papa." jelas Edwin.
Brayen menganggukkan kepalanya seolah memercayai semuanya, lalu ia kembali menatap lekat Edwin. " Seseorang berusia 17 tahun yang Papa kenal bisa berubah. Meski kenyataannya Papa adalah pria pertama yang menyentuhnya bukan berarti dia tetap menjadi wanita di masa itu. Aku rasa Papa harus memikirkan ini dengan sangat baik. Lakukanlah Tes DNA. Aku tidak ingin Papa nantinya merasa menyesal."
Edwin terdiam mendengarkan ucapan Brayen. Karena memang benar, semua orang akan berubah seiring berjalannya waktu. Terlebih Edwin sudah sangat lama tidak pernah bertemu dengan Gelisa
Brayen beranjak dari tempat duduknya. " Pa, aku pun juga pernah berada di posisimu. Mempercayai wanita di masa lalu dan aku juga sangat mencintai wanita itu. Tapi kenyataannya, wanita itu telah menipuku. Aku pun tidak bermaksud untuk mengajarimu tentang ini. Aku yakin Papa jauh lebih mengerti. Aku hanya tidak ingin Mama Nadia dan juga Devita terluka.
"Aku harus pergi. Aku mohon untuk Papa, agar memikirkannya dengan baik - baik." pamit Brayen, lalu ia berjalan meninggalkan ruang kerja Edwin.
Edwin masih terdiam mengingat semua perkataan menantunya itu. Ia terus menatap punggung Brayen, hingga menghilang dari pandangan Edwin. Edwin tahu, ini akan melukai perasaan istri dan anaknya.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.