Love And Contract

Love And Contract
Tidak Menyerah



Dua bulan Kemudian...


Kabar tentang pernikahan William dengan Selena sudah di ketahui oleh publik. Dua minggu setelah William melamar Selena, mereka melangsungkan pernikahan di Berlin. Sayangnya, Brayen dan Devita tidak bisa hadir ke sana. Karena kandungan Devita yang sudah semakin membesar. Hanya hitungan hari, Devita akan melahirkan. Itu yang membuat Devita dan juga Brayen tidak mungkin hadir dalam pernikahan William dan juga Selena. Meski kecewa karena tidak bisa hadir, tapi Devita turut bahagia akhirnya Selena bisa menemukan pria yang tepat di hidupnya. Ya, bagi Devita, William adalah pria yang tepat untuk Selena.


Di samping itu Devita sedang mengkhawatirkan keadaan Olivia. Setelah dia mendengar perkataan dari Olivia beberapa hari yang lalu yang mengatakan jika Felix sudah berselingkuh dan Olivia juga melihat sendiri jika Felix sudah tidur dengan wanita lain. Saat ini yang Devita pikirkan adalah bagaimana dengan keadaan Olivia. Dia juga tidak mampu membayangkan jika dia berada di posisi Olivia. Tidak akan ada wanita yang tidak terluka melihat pria yang dia cintai tidur dengan wanita lain. Devita juga sudah berusaha untuk menghubungi Olivia, tapi sahabatnya itu masih tidak mau menjawab telepon darinya.


Saat Devita sedang melamun, tiba - tiba ada sesuatu yang muncul di benaknya. Dengan cepat Devita langsung mengambil ponselnya dan mencari nomor kontak Brayen. Dan menghubungi suaminya itu.


"Brayen?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Ya sayang, ada apa?" tanya Brayen dari sebrang telepon.


"Brayen, apa hadiah untuk William dan juga Selena sudah kau kirim?"


"Sudah, aku sudah meminta Albert untuk mengirimkannya."


"Baiklah, aku pikir kau itu lupa?"


"Tidak mungkin, aku melupakan permintaanmu, Mrs. Mahendra."


Devita mengulum senyumannya. "Apa hari ini kau akan pulang terlambat."


"Aku tidak tahu, tapi akan aku usahakan untuk pulang lebih awal. Jika aku pulang terlambat, kau tidurlah lebih dulu. Jangan menungguku. Tidur malam tidak baik untuk kandunganmu, Devita."


"Brayen, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu lagi?" ucap Devita dengan suara yang pelan.


"Ada apa sayang?"


"Ini tentang masalah Olivia dan Felix. Kau pasti sudah tahu kan? Apa Felix sudah memberi kabar tentang Olivia? Beberapa hari ini aku sudah berusaha untuk menghubungi Olivia, tapi dia tidak menjawabku. Tadi pagi dia mengirimkan pesan padaku, dia bilang ingin menenangkan waktu untuk sendiri. Apa Felix belum berhasil mendapatkan maaf dari Olivia?" tanya Devita.


"Aku belum bertemu dengan Felix," jawab Brayen. "Nanti, aku akan menemuinya. Sekarang, kau tidak perlu memikirkan apapun."


"Tapi kau harus membantu Felix. Aku tidak ingin mereka berpisah. Jujur, tidak akan ada wanita yang bisa menerima itu, Brayen. Tapi aku tidak ingin Felix berpisah dengan Olivia. Olivia adalah wanita yang sangat baik. Dia wanita yang tepat bersanding dengan Felix." kata Devita.


"Aku akan berusaha untuk membantunya, tapi biarkan untuk saat ini, Felix yang berusaha. Sekarang lebih baik kau tidur."


"Baiklah, tapi jangan lupa jaga kesehatanmu, Brayen. Jangan lupa untuk makan. Pekerjaanmu sangat penting, tapi kesehatanmu juga penting."


"Ya, sayang. Ya sudah, aku tutup dulu. Aku memiliki meeting dengan Mr. Lee."


Panggil tertutup Devita meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Terdengar suara ketukan pintu, membuat Devita langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menginterupsi untuk masuk.


"Nyonya," sapa seorang pelayan saat melangkah mendekat ke arah Devita.


"Ada apa?" tanya Devita saat pelayan itu berdiri di hadapannya.


"Maaf, Nyonya saya menganggu. Tapi di depan ada Tuan Felix yang ingin bertemu dengan Nyonya." jawab sang pelayan.


Devita menggangguk. "Aku akan turun."


Kemudian Devita beranjak berdiri. Dia melangkah meninggalkan kamar bersama dengan pelayan yang mengikutinya dari belakang. Sebelumnya, pelayan mengatakan pada Devita, Felix menunggu di taman. Devita langsung berjalan ke arah taman.


Saat tiba di taman, tatapan Devita melihat ke Felix, yang tengah menatap rumah kaca yang di penuhi oleh koleksi bunga miliknya. Devita mendekat dan menyapa. "Felix? Kau di sini? Lama tidak melihatmu?"


Felix tersenyum. "Apa aku menggangumu, Devita?"


Tidak Felix aku senang kau datang." Devita duduk di samping Felix. "Apa kau ingin sesuatu. Aku akan meminta pelayan untuk membuatkan sesuatu untukmu."


"Tidak perlu Devita, tadi pelayan sudah memberikanku segelas kopi," jawab Felix. "Bagaimana kabarmu, Devita? Kandunganmu sudah semakin membesar?"


Devita menggangguk, dia mengusap perut buncitnya itu. "Ya, hanya sebentar lagi anakku akan lahir. Aku dan Brayen sudah tidak sabar


bertemu dengannya. Nanti, kalau Brayen sibuk jadi aku tidak kesepian lagi."


Felix kembali tersenyum, dia mengusap pelan perut buncit Devita. "Kau dan Brayen sudah memilih nama untuk bayi kalian?"


Felix mengangguk. "Aku yakin, Brayen telah menyiapkan yang terbaik untukmu dan juga anak kalian nanti."


"Ya, aku juga yakin itu." balas Devita. "Hm, Felix bagaimana kabarmu? Aku dengar, kau belakangan ini di sibukkan dengan perusahaan."


"Hanya dengan bekerja, itu adalah salah satu caraku untuk melupakan Olivia." jawab Felix dengan pandangan lurus kedepan. Sesaat, Felix memejamkan matanya kala hembusan angin menyentuh kulitnya.


Devita terdiam ketika mendengar ucapan Felix. Kemudian dia mengelus lengan Felix. "Apa ini artinya kau menyerah, Felix? Kau tidak ingin lagi memperjuangkan, Oliva?"


"Bukannya aku tidak ingin, Devita. Tapi dia mengatakan padaku, jika aku mencintainya. Aku harus melepasnya. Padahal, aku sudah berusaha menjelaskan padanya, kalau saat itu aku sudah di jebak oleh rekan bisnisku tapi Olivia tetap tidak mempercayaiku." balas Felix yang melihat ke arah Devita. "Aku ingin bertanya padamu, Devita. Bagaimana, jika hal itu terjadi padamu?"


Devita menarik nafas dalam, dia menghembuskan perlahan. "Pertanyaan yang sebenarnya sangat sulit untuk di jawab. Karena itu sangat menyakitkan Felix. Aku pernah mengatakan pada Olivia, aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar jika itu terjadi padaku. Tapi, perasaan cintaku pada Brayen jauh lebih besar dari rasa marahku. Aku tidak bisa sedetikpun jauh dari Brayen. Aku juga tidak bisa hidup tanpanya."


Felix tersenyum, "Brayen sungguh beruntung memilikimu yang begitu mencintainya. Mungkin Olivia lebih memilih untuk hidup tanpaku. Aku tidak bisa lagi memaksanya, Devita."


"Kau salah Felix, aku mengenal sifat Olivia dengan baik. Dia akan luluh jika kau terus berjuang mendapatkannya. Aku tahu, Olivia butuh waktu yang lama untuk melupakan semuanya. Tapi jika kau ingin berusaha dan berjuang mendapatkan Olivia, lebih baik kau kembali berusaha, Felix."Devita menepuk pelan bahu Felix, dia memberikan semangat pada Felix agar tidak menyerah.


"Tidak apa, mungkin Olivia masih belum mau memaafkan aku Devita?" Tatapan Felix kini berubah menjadi muram. "Aku hanya takut, dia membenciku karena aku tidak berhenti mengejarnya."


"Felix, sebenarnya kau jauh lebih tahu, Olivia. Selama ini, apa dia menunjukkan perasaan cintanya yang besar padamu? Jika iya, artinya dia mencintaimu, Felix." jawab Devita dengan tatapan yang lembut ke arah Felix.


Felix terdiam sesaat mendengar perkataan Devita. Pikirannya kini hanya di penuhi tentang Olivia. Hingga kemudian dia menjawab, "Terima kasih, Devita. Aku akan berusaha."


"Karena para wanita, akan selalu luluh ketika pria yang di cintainya, terus berjuang mendapatkan maaf darinya," balas Devita dengan senyuman hangat pada Felix.


"Aku harus pulang Devita." Felix tersenyum seraya memeluk Devita. Kemudian dia berjalan meninggalkan Devita, dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


...***...


"Devita," panggil Brayen ketika masuk kedalam kamar. Tatapannya kini menatap istrinya yang tengah tertidur. Namun, saat Brayen mendekati Devita, dia merasakan tubuh Devita yang terus bergerak gusar.


"Sayang?" Brayen menghapus kening Devita yang di penuhi dengan keringat.


"Akh, Brayen sakit...." Devita membuka matanya, tubuhnya kini di penuhi dengan keringat. Tangannya memeluk erat perutnya.


"Sayang? Kau sakit? Aku panggilkan dokter sekarang?" wajah Brayen langsung berubah panik dan cemas mendengar rintihan istrinya itu.


"Brayen, sepertinya anak kita akan lahir." Devita mencengkram kuat baju Brayen. "Sakit, Brayen..... ini sakit sekali!" Jeritnya dengan wajah yang kian pucat.


"Anak kita lahir? Tapi dokter bilang beberapa hari lagi...." Brayen semakin cemas, terlebih mendengar istrinya mengatakan akan segera melahirkan.


"Brayen, ini sakit.." Devita kembali menjerit dengan keras.


Tanpa menunggu lama, Brayen langsung membopong tubuh Devita berjalan meninggalkan kamarnya. Suara jeritan Devita membuat para penjaga berhamburan menghampiri Devita dan juga Brayen.


"Cepat siapkan mobil! Karena istriku akan segera melahirkan!" Seru Brayen.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.