
"Kau sudah pernah bertemu dengan Veronica?" tanya William memastikan.
Devita mengangguk. "Ya, saat itu aku sedang bulan madu dengan Brayen ke Turkey. Dan aku tidak sengaja bertemu dengan Veronica. Waktu itu, aku tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju Veronica."
"Dunia begitu sempit." balas William seraya tersenyum tipis. "Apa Veronica mengatakan seseorang padamu?"
"Veronica sudah menikah, aku melihatnya dengan suaminya. Brayen juga pernah menceritakanku sedikit tentang siapa Veronica. Tapi, Brayen tidak terlalu menceritakan tentang Veronica. Brayen tidak pernah suka jika membahas tentang masa lalunya. Lagi pula, Brayen sudah menikah denganku. Aku yakin, Brayen sudah tidak memperdulikan tentang Veronica." jelas Devita dengan suara tenang dan penuh dengan ketegasan.
William kembali tersenyum. "Kau benar Devita, Brayen tidak pernah menyukai membahas tentang masa lalunya. Aku tahu, dia juga telah memiliki kehidupan yang sempurna denganmu."
"Semua orang punya masa lalu, William dan aku yakin kau juga pasti memiliki masa lalu. Seperti contoh, masa lalumu yang tidak memiliki hubungan baik dengan Brayen. Dan hingga detik ini kau dan Brayen masih saling membenci. Aku jujur sungguh tidak tahu apa alasanmu dan Brayen masih saling membenci. Aku melihatmu orang yang baik William. Tapi, aku adalah seorang istri. Aku harus selalu menuruti perkataan Brayen. Dan tentu, aku harus selalu membela Brayen."
Devita beranjak dari tempat duduknya, lalu menatap ke ke arah William yang duduk di hadapannya. "Maafkan aku William, aku harus pergi. Aku tidak bisa terlalu lama. Aku takut Brayen akan marah padaku. Senang bertemu denganmu dan semoga harimu menyenangkan, William."
William mengangguk. "Ya Devita, aku mengerti. Aku juga senang bertemu denganmu."
Kemudian Devita berjalan meninggalkan William. Dia tidak bisa berlama - lama. Jika Brayen melihat, pasti suaminya itu akan salah paham. Sedangkan Devita, masih belum menelepon Brayen, memberitahu padanya, bahwa dia bertemu dengan William. Bukan tidak ingin, tapi Devita memilih untuk menceritakannya ketika sudah ada di rumah nanti.
...***...
Devita kini sedang menatap keluar jendela kamarnya, dia melihat arlojinya kini sudah pukul sepuluh malam, tapi Brayen masih juga belum pulang. Setelah bertemu dengan William, jujur Devita merasa tidak tenang. Devita melihat dari tatapan William, pria itu tidak menunjukkan rasa kebenciannya pada Brayen.
Tatapan Devita kini teralih, menatap sebuah mobil yang memasuki parkiran mansionnya. Devita tersenyum melihat mobil Brayen masuk kedalam parkiran mansion, dia langsung beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan kamar. Dia ingin segera menemui suaminya itu.
Saat di depan rumah, Devita sudah melihat Brayen turun dari mobil. Dengan cepat, Devita berjalan mendekat ke arah Brayen. Dia langsung memeluk erat tubuh Brayen.
"Maaf, karena tadi pagi aku tidak mengantarmu." Brayen membalas pelukan Devita, dia mengusap punggung istrinya dan memberikan kecupan di puncak kepala Devita.
"Brayen?" Devita mendongakkan wajahnya dari dalam pelukan Brayen, dan menatap lekat manik mata suaminya.
"Ada apa?" jawab Brayen sambil mengecup hidung Devita.
"Mandilah dulu, kau pasti sangat lelah." Devita memberikan kecupan di rahang Brayen.
Brayen memeluk bahu Devita, dan langsung berjalan masuk menuju ke arah kamar mereka.
...***...
Setelah Brayen selesai mandi, dan mengganti pakaiannya. Dia dan Devita menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh pelayan. Seperti biasa, Brayen lebih memilih makan malam di kamar mereka. Sejak Laretta pindah, Brayen sangat jarang makan di ruang makan.
"Brayen, ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu?" tanya Devita saat Brayen sudah menyelesaikan makan malamnya. Karena Devita sudah berjanji tidak akan menutupi sesuatu apapun dari Brayen.
"Ada apa, sayang?" Brayen mengelus pipi Devita dengan lembut.
"Tadi sopir kita menabrak mobil," kata Devita dengan suara pelan dan hati-hati.
Seketika raut wajah Brayen langsung berubah. Tatapannya menghunus dingin ke arah Devita ketika Devita mengatakan sopirnya menabrak mobil. "Apa terjadi sesuatu padamu?" Brayen langsung bertanya dengan nada cemas.
"Aku baik - baik saja, Brayen." jawab Devita berusaha untuk menenangkan suaminya itu.
Brayen menarik tangan Devita, dan membawanya kedalam pelukannya. Dia memberikan kecupan di puncak kepala Devita. "Maaf sayang, maaf karena sudah meninggalkanmu. Besok, aku akan mencarikan sopir yang baru."
Brayen menghela nafas kasar. "Apa kau sudah mengganti kerugian pemilik mobil itu?"
Devita mengangguk dia mengelus rahang Brayen. "Sudah, aku sudah mengganti kerugian nya. Meski awalnya sang pemilik mobil tidak ingin. Tapi aku memaksa untuk mengganti kerusakan mobilnya. Tapi Brayen, ada hal ingin aku katakan padamu?"
"Ada apa?" Brayen menautkan alisnya, dia menatap manik mata Devita.
"Ini tentang pemilik mobil yang sudah di tabrak oleh sopir kita. Kau mengenal pemilik mobil itu." kata Devita hati - hati.
"Aku mengenalnya? Siapa?" kali ini Brayen menatap Devita begitu serius.
"Sebelumnya aku minta maaf, Brayen. Aku yakin kau akan sangat marah padaku." Devita menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.
"Ada apa Devita? Kenapa aku harus marah padamu?" Brayen menarik dagu Devita, dia menatap istrinya itu.
"Pemilik mobil itu adalah William Dixon." jawab Devita dengan suara yang pelan.
Brayen memejamkan matanya singkat, dia mengepalkan sebelah tangannya. Jika saja dia tidak pergi meeting pagi. Pasti Devita tidak perlu lagi bertemu dengan William.
"Lalu? Apa yang dia katakan padamu?" tanya Brayen dingin.
"Dia menyapaku. Ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan padaku," jawab Devita.
"Kau berbicara dengannya? Dan kau baru mengatakannya padaku?" seru Brayen.
Devita mendesah pelan. "Aku memiliki alasan kenapa aku berbicara dengan William?"
"Apa alasanmu untuk berbicara dengannya? Kau tidak enak menolaknya? Maksudmu itu, Devita?" Brayen berkata dengan nada dingin dan penuh geraman kemarahan.
"Bisakah kau memberitahuku, kenapa kau sangat membenci William? Kau bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku," balas Devita dengan helaan nafas berat.
"Kau tahu Devita, sejak dulu aku dan William tidak memiliki hubungan yang baik!" Seru Brayen. Tatapannya menghunus tajam ke arah Devita. Dia menahan diri untuk meluapkan amarahnya.
"Aku mengerti Brayen. Tapi bisakah kau jelaskan padaku, kenapa kau sangat membenci William? Apa kau membencinya karena Veronica? Karena kau berpikir, jika William sudah mengambil Veronica darimu? Dan setelah kau tahu kenyataannya, Beatrice yang sudah menjebak William dan Veronica, kau masih juga membenci William. Aku hanya ingin tahu, apa itu alasanmu membenci William?" Devita bertanya dengan suara yang tenang namun penuh dengan ketegasan.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.