
Pagi itu, cuaca begitu cerah. Devita duduk di sofa sembari menatap keluar jendela. Dia melihat mobil Brayen yang mulai meninggalkan halaman parkir mansion. Hari ini Brayen memang berangkat lebih awal. Bahkan Brayen tidak sarapan di rumah. Beruntung, Devita bangun lebih awal jadi dia masih bisa menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.
Terdengar suara ketukan pintu, Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu.Dia langsung menginterupsi untuk masuk.
"Nyonya," sapa pelayan menundukkan kepalanya, saat melangkah masuk ke dalam sembari membawa nampan berisikan sarapan untuk Devita. Kemudian pelayan itu meletakkan sarapan yang telah di bawa itu ke atas meja.
"Apa Laretta sudah berangkat?" tanya Devita sambil menatap pelayan yang berdiri di hadapannya.
"Sudah Nyonya, Nona Laretta sudah berangkat." jawab pelayan itu.
"Baiklah, terima kasih." balas Devita.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." pelayan itu menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Devita.
Devita menatap pancakes dan susu kacang yang sudah terhidangkan di atas meja. Pagi ini, Laretta di sibukkan dengan persiapan pernikahan. Itu yang membuat Devita memilih untuk sarapan di kamar. Kalau boleh jujur, Devita merasa sedikit kesepian. Karena Laretta kini sudah semakin sibuk dengan persiapan pernikahannya yang hanya tinggal menghitung hari. Sedangkan Brayen d sibukkan dengan banyaknya pekerjaan. Terlebih, Brayen harus mengurus dua perusahaan sekaligus.
Devita mengambil sendok dia langsung menikmati sarapannya. Jika Laretta tidak ada, Brayen tidak sarapan di rumah, dan biasanya Devita lebih memilih untuk sarapan di kamar.
Saat Devita tengah menikmati sarapannya, terdengar suara sering ponsel. Devita meletakkan sendok di tangannya ke tempat semula. Lalu dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia menatap ke layar tertera nama Olivia. Devita langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan di telinganya.
"Ya Olivia?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita? Apa kau sudah bangun?" tanya Olivia dari sebrang telepon.
Devita mendengus. "Kalau aku belum bangun tidur, aku tidak mungkin menjawab teleponmu, Olivia?"
Olivia terkekeh dari balik teleponnya. "Aku menghubungimu, untuk menanyakan apa hari ini kita jadi fitting gaun untuk pernikahan Laretta nanti?"
"Viona akan datang jam sepuluh pagi nanti. Kau jangan seperti waktu itu datang terlambat."
"Tenang saja. Satu jam lagi dari sekarang aku pasti sudah ada di rumahmu. Aku sekarang sudah bersiap - siap."
"Baiklah, kalau begitu sampai nanti."
Panggilan tertutup. Devita meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Hari ini Brayen memang meminta desainer untuk datang kerumahnya untuk mempersiapkan gaun untuknya di pernikahan Laretta
Setelah selesai sarapan, Devita memilih untuk pergi ke taman melihat bunga - bunga yang indah yang tumbuh di tamannya.
...***...
Devita duduk di taman dan menatap bunga - bunga yang tumbuh begitu indah di tamannya. Devita memejamkan matanya sebentar, ketika merasakan hembusan angin menyentuh kulitnya.
Devita mengambil teh yang berada di hadapannya. Lalu menyesap teh itu. Kini Devita harus membiasakan diri. Nantinya saat Laretta menikah, adik iparnya itu tidak akan tinggal lagi bersamanya.
"Devita," panggil Olivia yang baru saja tiba. Dia melangkah mendekat ke arah Devita yang sedang duduk di taman.
Devita mengalihkan pandangannya, dia menatap Olivia yang sedang berjalan ke arahnya. "Kau sudah datang?"
Devita mengulum senyumannya. "Baguslah, kalau kau sudah datang lebih awal."
"Tapi tadi sebelum aku berangkat, Felix membuatku kesal." Olivia menghela nafas dalam. "Hampir saja karena aku kesal dengan Felix, membuatku ingin membatalkan datang hari ini."
"Ada apa lagi? Kau bertengkar karena apa?" tanya Devita sambil menyesap kembali tehnya.
"Felix tidak ingin, jika aku terlalu lama kembali ke Kanada." ujar Olivia. "Dia ingin, cukup dia saja yang membantu untuk mengurus perusahaan keluargaku. Dia tidak ingin aku terlalu lama di Kanada. Padahal, aku hanya kembali satu atau dua bulan. Dia itu sungguh berlebihan."
"Lalu? Kenapa kau tidak menerima saja bantuan dari Felix?" kata Devita sambil menatap lekat Olivia yang duduk di sampingnya. "Menurutku, jika Felix ingin membantumu tidak masalah, bukan? Kau terima saja, itu malah akan meringankan pikiranmu dari masalah perusahaan."
Olivia mendengus. "Aku tidak mungkin menerimanya begitu saja. Kau tahu, Felix selama ini selalu banyak membelikanku banyak barang. Aku tidak ingin membuat diriku terlalu banyak tergantung padanya. Aku harus berusaha dengan diriku sendiri, Devita. Aku berbeda denganmu. Kau sudah menikah dan memang kau adalah tanggung jawab dari Brayen. Dan kau memang sudah seharusnya bergantung pada Brayen. Tidak sepertiku, aku masih belum ingin menikah. Artinya, aku harus berusaha untuk mandiri. Aku tidak ingin terlalu mengandalkan Felix dalam hidupku."
"Apa yang kau katakan itu benar, Olivia." jawab Devita. "Tapi, kau tahu sendiri bukan? Jika Felix sangat mencintaimu. Felix tidak akan tinggal diam jika kau memiliki masalah. Jadi tidak ada salahnya bergantung pada Felix."
"Nyonya Devita, maaf mengganggu Nyonya." seorang pelayan mendekat ke arah Devita. Membuat Devita dan Olivia menghentikkan percakapan mereka.
"Nona Viona, designer yang di minta Tuan Brayen sudah menunggu di depan, Nyonya." jawab pelayan itu.
Devita tersenyum. "Aku akan segera ke sana. Bawakan minuman untuknya."
"Baik Nyonya." pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Devita.
"Olivia, designer sudah datang. Kita kesana sekarang." kata Devita.
Olivia menggangguk setuju
Kemudian Olivia dan juga Devita beranjak dari tempat duduknya, lalu mereka berjalan meninggalkan taman dan segera menemui desainer itu.
...***...
"Nyonya Devita, Nona Olivia..." sapa Viona saat melihat Devita dan juga Olivia.
"Hai Viona." balas Olivia.
"Maaf, membuatmu menunggu lama." kata Devita dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Tidak Nyonya. Saya juga baru datang." jawab Viona. "Mari Nyonya, saya tunjukkan gaun yang saya bawa hari ini."
Devita mengangguk. "Ya, tunjukkan padaku gaunnya."
Viona pun langsung menggerakkan tangannya. Memberikan isyarat untuk asistennya. Membawakan gaun yang telah dia bawa. Tidak lama kemudian, asistennya membawakan gaun - gaun yang indah ke hadapan Olivia dan Devita.
Devita dan Olivia langsung memilih gaun mereka. Pilihan Olivia jatuh pada gaun yang berwarna merah, gaun yang Olivia pilih memang sangat seksi. Gaun yang bahkan nyaris membuat punggungnya terlihat semua. Di bagian di depan dada begitu rendah. Sedangkan, Devita melirik ke arah Olivia yang memilih gaun seksi, ada sedikit iri. Selain hamil, Brayen pasti tidak akan pernah memperbolehkannya untuk memakai gaun yang di pilih oleh Olivia itu.
"Viona, bisa pilihkan gaun untukku? Gaun yang ukurannya besar di bagian perut. Aku tidak suka dengan gaun yang pas di bagian tubuhku. Kehamilanku sudah membesar." kata Devita yang sengaja meminta Viona untuk memilihkannya.
"Saya rasa, ini adalah gaun yang tepat untuk Nyonya." Viona menunjukkan sebuah gaun yang berwarna navy, dengan bagian atas bermodel x- straps. Gaun ini tidak terlalu seksi, namun terlihat sangat elegan.
"Aku rasa itu bagus," jawab Devita. "Ya sudah, aku mau itu."
"Baik Nyonya." balas Viona.
Setelah selesai memilih gaun, Devita meminta pelayan untuk membawakan gaun yang dia pilih ke dalam walk in closetnya. Tidak lama kemudian, Viona berpamitan untuk pulang.
"Devita, lebih baik kita menonton film drama " kata Olivia saat melihat Viona sudah pergi.
"Aku juga ingin menonton film drama, kita ke kamarku sekarang." jawab Devita.
Olivia mengangguk, lalu dia memeluk lengan Devita dan berjalan menuju ke arah kamar. Devita bersyukur Olivia belum kembali ke Kanada. Paling tidak, ketika Laretta dan Angkasa menikah, Olivia bisa datang ke pesta pernikahan Laretta.
...*************...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.