
"Ouh ya Laretta, apa kau sudah membahas tentang pernikahanmu dengan Angkasa? Seingatku orang tua Angkasa berada di Jepang. Kapan Angkasa akan mengenalkan mu pada orang tuanya?" tanya Devita ingin tahu.
"Belum, aku juga belum membahas tentang pernikahanku. Karena sudah beberapa hari ini Angkasa sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi terakhir yang aku dengar, orang tuanya Angkasa akan kembali ke kota B minggu depan." jawab Laretta.
"Bagus kalau begitu. Aku yakin, orang tua Angkasa pasti akan sangat menyukaimu."
"Hem.. Devita, apa sebelumnya kau itu pernah bertemu langsung dengan orang tua dari Angkasa?"
"Sudah, aku itu teman masa kecil Angkasa. Dan tentu saja aku sudah pernah bertemu dengan keluarga Angkasa."
"Ah iya, kau benar. Kau itu teman masa kecilnya. Tidak mungkin tidak pernah bertemu dengan keluarga Angkasa."
"Ada apa Laretta, apa kau itu sedang mencemaskan sesuatu?" tanya Devita sambil menatap Laretta yang terlihat gusar.
"Aku hanya takut, jika orang tua Angkasa tidak akan menyukaiku. Terlebih, aku ini sedang hamil. Aku juga takut mereka akan berpikir jika aku yang sudah menjebak Angkasa."
Devita melangkah mendekat ke arah Laretta, kemudian dia mengelus lengan Laretta dengan memberikan ketenangan pada adik iparnya itu. Devita tahu, pasti Laretta akan merasakan perasaan yang sama seperti ini.
"Laretta, kau salah. Aku yakin orang tua Angkasa pasti akan menyukaimu. Aku memang pernah bertemu dengan orang tua Angkasa, meski tidak terlalu sering, tapi aku tahu kedua orang tua Angkasa adalah orang yang baik. Lagi pula mereka itu harusnya bangga memiliki menantu sepertimu. Cantik, cerdas dan memiliki segala. Tidak mungkin mereka akan menolak seorang Laretta Gissel Mahendra bukan?" Devita mengulum senyumannya, sedikit menggoda -adik iparnya itu.
"Kau ini sungguh berlebihan Devita! Aku sungguh hanya wanita biasa. Keberuntungan ada padaku karena aku memiliki Kakak yang hebat. Kak Brayen, bisa mengurus perusahaan dengan sangat baik. Hingga membuat perusahaanku bisa berada di titik saat ini," jelas Laretta.
"Sudah jangan di pikirkan Laretta, aku yakin orang tua Angkasa akan menyukaimu," balas Devita. "Lebih baik kita makan pasta dan steak. Aku rasa aku sangat lapar. Apa kau menemaniku?"
Laretta tersenyum, "Ya, aku juga sangat lapar? Kita bisa makan sepuasnya. Kau sekarang merasakan sepertiku. Ibu hamil pasti sering merasa kelaparan. Dan aku sudah tidak pernah perduli lagi dengan timbanganku yang selalu naik itu."
Devita terkekeh pelan, "Kau benar, Laretta. Sekarang, aku juga tidak perduli lagi dengan berat badanku."
Laretta langsung memeluk lengan Devita berjalan menuju ke ruang makan.Sebelumnya Devita juga sudah meminta Chef Della untuk menyiapkan makanan. Padahal, Devita baru saja selesai makan dengan Olivia. Tapi entah kenapa ketika sampai di rumah Devita merasa lapar lagi. Beruntung Devita memiliki adik ipar yang juga sedang hamil. Mereka bisa saling berbagi tentang masa kehamilan.
...***...
Malam semakin larut, kini Devita tengah tertidur pulas. Hujan turun begitu deras, membuat Devita terlelap dari tidurnya. Cuaca yang begitu mendukung, membuat Devita enggan untuk membuka matanya.
Brayen melangkah masuk kedalam kamar, dia mendapati istrinya itu sudah tertidur pulas. Brayen melirik dinding kini sudah pukul sebelas malam. Sebenarnya Brayen ingin berbicara dengan istrinya itu. Tapi tidak mungkin Brayen menganggu istrinya yang tertidur pulas.
Brayen mendekat ke arah ranjang, dia mulai melepaskan dasi dan juga jasnya. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Melihat Devita yang tertidur pulas seperti ini, membuat Brayen sedikit meredakan amarahnya. Brayen pun melangkah menuju ke arah kamar mandi, dia ingin langsung membersihkan diri.
Suara gemericik air, membuat Devita terbangun dari tidurnya dan mulai membuka matanya. Devita menggeliat dan menguap. Dia melihat ke arah sofa sudah ada jas dan dasi suaminya. Devita beranjak dari ranjangnya, dia mengambil jas dan dasi Brayen dan meletakkannya di pakaian kotor.
"Brayen sedang mandi," gumam Devita, Devita saat ini masih mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Setelah meletakkan jas dan dasi suaminya di tempat pakaian kotor, Devita kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.
Lima belas menit kemudian, Brayen baru saja selesai mandi. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan celana training berwarna abu - abu dan kaos putih polos. Kemudian dia melangkah menuju ke arah ranjang. Melihat istrinya sudah membuka mata, Brayen sedikit terkejut namun dia tidak menunjukkannya, Brayen pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Brayen, kau sudah makan?" tanya Devita saat Brayen sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Sudah," jawab Brayen dingin. Dia langsung memejamkan matanya.
Devita mengerutkan dahinya, menatap bingung ke arah suaminya. "Brayen, kau kenapa?"
"Aku lelah, ingin beristirahat. Tidurlah. Ini sudah malam " Brayen langsung membaringkan tubuhnya. Untuk pertama kali Brayen tidur memunggungi Devita.
Devita menatap punggung Brayen. Tidak biasanya Brayen tidur memunggungi dirinya. Bahkan Brayen tidak mencium dan memeluk dirinya. Devita merapatkan tubuhnya pada punggung suaminya. Dia tetap memeluk punggung Brayen dari belakang. Hingga kemudian, Devita mulai memejamkan matanya tertidur pulas.
...***...
Devita melihat ke arah jam dinding, sekarang masih jam tujuh pagi. Pandangan Devita kini beralih ke atas nakas, mencari note yang biasanya di tinggalkan oleh Brayen, jika suaminya itu sudah lebih dulu berangkat. Namun, ketika Devita mencari note yang biasa di berikan oleh Brayen, dia tidak menemukan apapun. Tidak biasanya Brayen itu seperti ini. Devita mendesah pelan lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Tidak lama kemudian, setelah Devita selesai mandi dan mengganti pakaiannya dia langsung berjalan menuju ke ruang makan. Berharap Brayen masih berada di sana.
"Morning Devita," sapa Laretta, saat melihat Devita masuk kedalam ruang makan.
"Morning," balas Devita. Dia duduk di hadapan Devita, dan langsung menikmati beef cheese omlete yang sudah di siapkan oleh pelayan.
"Ada apa, Devita?" tanya Laretta menautkan alisnya, melihat Devita yang terlihat kesal pada pagi hari ini.
"Apa Brayen sudah berangkat?" Devita balik bertanya dengan nada kesal.
"Sudah, tadi pagi Kakakku sudah berangkat." jawab Laretta. "Apa dia tidak berpamitan denganmu?"
"Tidak," jawab Devita singkat.
"Ah, mungkin karena Kakakku itu tidak ingin menganggu tidurmu, Devita. Jadi dia tidak tega membangunkanmu."
"Bukannya tidak tega, tetapi dia sudah mendiamkan aku sejak tadi malam."
"Memangnya kau melakukan sesuatu yang membuatnya menjadi marah?"
Devita mendengus kesal. "Aku tidak melakukan apapun, bahkan aku juga tidak tahu kenapa Brayen mendiamkan aku!"
"Mungkin saja karena Kakakku itu sangat lelah bekerja. Sebentar lagi dia juga tidak akan mendiamkanmu. Aku tahu, dia pasti tidak akan mendiamkanmu begitu lama." ujar Laretta.
"Semoga saja, Laretta. Terkadang Kakakmu itu seperti anak kecil," Devita mencibir dan Laretta pun terkekeh pelan.
"Ya sudah, aku harus berangkat sekarang. Aku masih harus bertemu dengan dosenku. Ada yang ingin aku tanyakan padanya." Devita mengambil susu kacang dan meneguknya.
Laretta pun mengangguk, "Hati - hati Devita, jangan lupa nanti siang kau itu harus menemaniku ke mall bersama dengan Olivia."
"Kau tenang saja, aku mengingatnya." balas Devita, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Laretta menuju ke arah mobil dan seperti biasa sopirnya sudah berada di depan dan menyambut dirinya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.