Love And Contract

Love And Contract
Hasil Tes DNA



"Apa kau berniat memiliki anak dalam waktu dekat?" tanya Devita dengan hati - hati. Dia langsung sedikit menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Brayen, setelah menanyakan pertanyaan itu.


Brayen mengulum senyumannya. Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Memangnya kau tidak ingin kita memiliki anak dalam waktu dekat?"


"Aku bukannya tidak ingin, Brayen. Tapi tahun depan aku sudah lulus kuliah. Jika aku memiliki anak sekarang itu artinya aku akan menunda kuliahku," jawab Devita dengan suara pelan.


Brayen menarik dagu Devita. Dia tidak menginginkan Istrinya itu terus menunduk. "Aku sudah melihat nilaimu, Devita. Kau salah satu mahasiswi dengan nilai yang terbaik. Harusnya dengan kemampuan yang kamu miliki dalam waktu enam bulan, kau sudah bisa lulus kuliah, tidak harus menunggu hingga satu tahun,"


"Aku hanya ragu dengan kemampuanku, Brayen. Apakah aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan cepat?" gumam Devita. Terlihat jelas wajahnya tampak ragu.Meski dia tahu, nilainya cukup memuaskan. Tapi dia tetap tidak yakin bisa menyelesaikan kuliahnya kurang dari satu tahun ini.


"Kenapa kau ragu dengan kemampuan yang kau miliki? Aku sudah melihat nilaimu sangat bagus. Bahkan dengan kemampuan yang kau miliki, kau bisa mengelola dengan baik perusahaan keluargamu," Brayen menyelipkan rambut Devita ke daun telinganya.


"Aku tahu usiamu masih terlalu muda untuk mengandung. Tapi usiaku sudah cukup untuk memiliki anak Devita. Aku yakin, kau bisa lulus kuliah dalam waktu enam bulan. Aku sangat percaya dengan kemampuanmu. Walaupun aku sedikit meragukan kemampuanmu karena sikap ceroboh mu. Tapi entah kenapa aku sangat yakin kau akan lulus lebih cepat." Brayen melanjutkan perkataannya seraya mengulumkan senyumannya.


Devita mencubit lengan Brayen. " Kau selalu mengatakan aku ceroboh! Menyebalkan sekali!" Cebik Devita kesal.


"Meskipun aku tahu kau ini ceroboh. Tapi aku sangat menyukai segala sifatmu," Brayen menangkup kedua pipi Devita dia memberikan kecupan bertubi - bertubi di bibir Istrinya itu.


"Sudah, jangan merayuku Brayen!" Devita mendengus, dia mengerutkan bibirnya.


Dia kembali memberikan ciuman di bibir Devita, dia ******* lembut bibir ranum Istrinya itu. " Jadi, apa yang ku putuskan? Aku tidak akan memaksamu sayang?" tanya Brayen.


Devita mendesah pelan, " Aku akan berusaha lulus kuliah dalam waktu kurang dari satu tahun. Dan untuk anak, lebih baik kita tidak menundanya. Aku juga lelah Mommy Rena dan Mama Nadia selalu bertanya kepadaku kapan aku hamil. Memangnya hamil itu seperti membuat kue?"


Brayen memeluk erat tubuh Devita. Mencium ceruk leher Devita. Aroma tubuh Devita sudah menjadi candu baginya. Aroma yang sangat lembut dan menyejukkan. " Kita akan membuatnya lebih banyak nanti," bisik Brayen di telinga Devita.


"Brayen! Kenapa kau berbicara seperti itu! Aku masih kecil Brayen! Dan aku masih belum pantas mendengarkan ucapanmu itu!" Seru Devita kesal.


Brayen terkekeh, " Kau sudah bukan anak kecil lagi, sayang. Kita bahkan sudah melakukannya lebih dari satu kali,"


Devita langsung menutup mulut Brayen dengan tangannya. " Apa yang kau katakan ini , Brayen! Astaga, kenapa kau berbicara seperti ini!"


Brayen menarik tangan Devita, lalu mengecup punggung tangannya. " Kau tahu kenapa aku begitu menyukaimu?"


"Tidak," Devita menggelengkan kepalanya.


"Aku begitu menyukai segala sifatmu yang polos. Aku menyukai sifatmu yang ceroboh. Berada di sisimu membuatku selalu bahagia. Aku benar - benar beruntung bisa memilikimu, Devita." jawab Brayen sambil mengelus lembut pipi Devita. Tatapannya tidak lepas menatap manik mata Istrinya itu.


Devita tersenyum mendengar ucapan Brayen. Dia langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya dan menjawab. " Aku juga sangat beruntung memilikimu." Dia mengecup dengan lembut bibir Brayen. Mendapatkan ciuman dari Devita. Brayen menyambar bibir Devita, ******* dan mencecapi bibir Istrinya itu.


Kemudian Devita mulai membuka mulutnya, membiarkan lidah Brayen mengabsen rongga mulutnya. Bibir mereka saling berpagutan satu sama lain. Brayen mulai menyelipkan tangannya ke dalam baju Devita, meremas gundukan kembar di dada Devita hingga membuat Devita melenguh.


Tanpa mereka sadari, sudah sejak tadi suara ketukan pintu ruang kerja Brayen berbunyi.


Ceklek.


Brayen menghentikkan ciumannya saat menyadari Albert sudah membuka pintu ruang kerjanya.


"M... maafkan saya, Tuan." ucap Albert langsung menundukkan kepalanya. Sungguh, Devita sangat malu karena Albert melihat dirinya sedang berada di pangkuan Brayen dan berciuman dengan Brayen.


Saat Devita hendak bangun, tangan Brayen menahan pinggang Devita. Menahan, agar Devita tetap berada di pangkuannya.


"Ada apa Albert?" tanya Brayen dingin.


"Katakan Albert, aku sudah menunggunya. Biarkan Istriku mendengar semuanya," tukas Brayen dingin. Dia sengaja tetap menahan Devita, dia ingin Istrinya itu juga mendengarkan hasil dari Tes DNA itu.


"Tuan, sebelumnya saya sudah curiga. Nona Elena akan menukar hasil Tes DNA itu. Saya berpura - pura untuk tidak mengetahui rencananya. Nona Elena tidak menyadari, anak buah anda selalu mengikuti pergerakan Nona Elena. Hingga saya menemukan Nona Elena sudah menukar hasil test itu, saya sudah lebih dulu mengambil hasil test yang asli. Dan dia berpikir jika saya memiliki hasil tes yang sudah dia tukar. Untuk saat ini saya memang membiarkannya berpikir demikian. Saya menunggu perintah dari Tuan terlebih dahulu," ujar Albert yang menceritakan semuanya.


Brayen tersenyum sinis. "Kerja bagus Albert, sekarang berikan hasil tesnya padaku,"


Albert menundukkan kepalanya, lalu dia memberikan hasil tes itu pada Brayen. Tanpa menunggu lama Brayen langsung membuka amplop putih yang di berikan oleh Albert. Dia membaca kertas yang tertera hasil test DNA. Seketika senyum di bibirnya terukir, ketika melihat hasil tes itu.


Sedangkan Devita yang sejak tadi penasaran, terlebih Brayen hanya tersenyum tanpa berkata apapun dan dengan cepat, Devita mengambil hasil tes DNA itu dari tangan Brayen dan segera membacanya. Wajah Devita tersenyum haru, dia bisa bernafas dengan lega ketika hasil tes DNA itu menunjukkan negatif. Itu artinya, anak yang di kandung Elena bukanlah anak Brayen.


"Aku sudah sangat yakin dia bukan anakku!" Tukas Brayen dingin.


"Saya juga demikian, Tuan. Saya yakin anak ada di dalam kandungan Nona Elena bukan anak anda," jawab Albert.


Brayen menyeringai. "Dia tidak pantas untuk mengandung anakku. Kedepannya jika Elena datang ke kantorku, kau bisa langsung mengusirnya tanpa harus bertanya padaku,"


"Baik Tuan,"


"Kau juga harus bereskan media yang meliputku berkelahi dengan William. Aku tidak ingin Daddyku sampai mendengar ini," tukas Brayen.


Albert mengangguk patuh, "Baik Tuan, saya akan segera mengurusnya,"


"Kau boleh pergi sekarang Albert. Aku ingin menikmati hariku dengan Istriku,"


Albert menundukkan kepalanya, lalu langsung pamit undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.


Brayen mengeratkan pelukannya pada Devita " Kau sudah melihat hasilnya bukan? Itu bukan anakku. Aku sudah yakin, itu bukan anakku. Anakku hanya boleh lahir dari rahimmu,"


Devita mengelus rahang Brayen. " Aku tahu, aku akan selalu percaya padamu,"


Hingga kemudian Brayen mendekatkan bibirnya pada telinga Devita dan berbisik, " Itu artinya kau harus memberikan hadiah padaku,"


"Hadiah? Memangnya hadiah apa yang kau inginkan?" tanya Devita sambil mengerutkan keningnya menatap bingung Brayen.


"Kau akan tahu," tiba - tiba Brayen beranjak dari tempat duduknya. Devita terkesiap ketika Brayen beranjak dari tempat duduknya dan langsung membopong dirinya.


"Brayen, kau mau apa? Kenapa kau menggendongku? Aku bisa jalan sendiri." Devita menggerutu saat Brayen menggendong dirinya. Tanpa memperdulikan ucapan Devita. Brayen langsung membopong Devita masuk kedalam kamar.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.