
"Tuan Brayen," sapa Albert menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.
"Ada apa Albert?" tanya Brayen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar MacBooknya.
"Tuan maaf, saya hanya mengingatkan jika Tuan ada meeting satu jam lagi dengan Mr. Nicholas dan Mr. Lee." jawab Albert.
"Ya, aku mengingatnya." jawab Brayen dingin.
"Baik Tuan," kalau begitu saya permisi." pamit Albert.
"Tunggu Albert," Brayen mengalihkan pandangannya dan langsung menahan Albert yang hendak meninggalkan ruang kerjanya.
Albert pun menghentikkan langkahnya, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya kembali. "Ya Tuan? Apa anda membutuhkan sesuatu, Tuan?"
"Aku ingin kau mencarikan Asisten pribadi untuk istriku," tukas Brayen. "Tapi ingat, kau jangan mengulangi kesalahan yang sama. Kau harus mencari asisten pribadi yang terbaik untuk istriku. Kedepannya, aku ingin dia selalu menemani istriku kemanapun istriku pergi."
"Baik Tuan, saya pasti akan mencarikan yang terbaik untuk Nyonya," jawab Albert.
Brayen mengangguk singkat, "Kau boleh pergi sekarang, dan kerjakan pekerjaanmu."
Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.
Melihat Albert yang sudah pergi, Brayen menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan matanya singkat. Tadi pagi dia pergi tanpa membangunkan istrinya. Brayen memang sudah berjanji untuk membangunkan Devita, ketika dia ingin berangkat ke kantor. Tapi Brayen tidak pernah tega membangunkan istrinya jika masih tertidur pulas.
Hingga kemudian, Brayen mengambil ponselnya dan dia langsung menghubungi Devita. Brayen mengerutkan keningnya, ketika menghubungi Devita tapi tidak di jawab oleh istrinya. Satu, dua, hingga lima kali Brayen menghubungi tapi tidak ada jawaban darinya. Brayen menatap ke layar, kini dia mencari kontak Laretta. Tidak ada pilihan lain, karena Laretta masih tinggal di rumahnya, pasti Laretta tahu dimana Devita.
"Laretta?" sapa Brayen saat panggilannya terhubung.
"Ya Kak? Ada apa?" jawab Laretta dari sebrang telepon.
"Kau dimana?"
"Aku di rumah? Kenapa Kak?"
"Apa kau sedang bersama dengan Devita?"
"Devita? Aku sedang di studio lukisku. Memangnya ada apa, Kak?"
"Devita tidak menjawab telepon dariku. Apa kau bisa melihatnya apa yang sedang di lakukan oleh Devita?"
"Ya, nanti aku akan melihatnya."
"Beri kabar, jika kau sudah melihat Devita. Setelah ini, aku ada meeting. Aku tutup dulu."
"Iya, Kak."
Panggilan pun tertutup, Brayen kembali meletakkan ponselnya yang berada di atas meja. Dia masih memiliki waktu sebentar sebelum meeting. Brayen memilih untuk menyandarkan punggungnya lagi dan memejamkan matanya sebentar. Sejak pulang dari Las Vegas, banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan.
...***...
"Devita!" Laretta memekik bahagia, dia langsung meluk erat Devita yang tengah duduk di sampingnya.
"Ada apa Laretta?" tanya Devita mengerutkan keningnya.
"Tadi yang menghubungi Kak Brayen." jawab Laretta antusias. "Dia itu tadi menanyakanmu. Rupanya Kakakku itu selalu panik, jika kau tidak menjawab telepon darinya. Itu sangat bagus, bukan? Rencana kita berhasil di awal. Jadi selanjutnya kau harus mendiamkan Kakakku seperti yang aku bilang tadi."
"Kau tidak perlu mencemaskan itu, Devita." balas Laretta. "Aku akan meminta bantuan ke Angkasa untuk menghapus beberapa bagian CCTV yang sudah terekam ada diriku."
"Angkasa bisa melakukan itu?" Devita sedikit terkejut mendengar ucapan dari Laretta.
"Ya, dia itu sangat hebat. Dulu ketika Kak Brayen sangat membenci dirinya. Angkasa itu sebenarnya selalu datang diam - diam setelah menghapus CCTV yang berada di depan kamarku." ujar Laretta.
Devita mengagguk pelan. "Beruntung, tidak ada pencuri yang sehebat Angkasa. Jika ada pencuri yang sehebat Angkasa yang mampu meretas CCTV milik Brayen. Aku sangat yakin, barang - barangku akan banyak yang hilang."
Laretta terkekeh kecil, "Kau benar, beruntung tidak ada pencuri yang sehebat Angkasa. Dan bukan hanya dirimu saja yang kehilangan barang-barang kesayanganmu, Devita. Tapi aku juga bisa kehilangan koleksi perhiasanku"
Devita mengulum senyumannya. "Ya sudah, lebih baik kita itu berenang. Karena aku sudah lama tidak berenang."
"Aku setuju, aku juga sudah lama tidak berenang." balas Laretta.
Kemudian Devita dan juga Laretta beranjak dari tempat duduk mereka. Laretta lebih dulu meninggalkan kamar Devita, karena dia harus mengambil pakaian renangnya. Sedangkan Devita, dia itu berjalan menuju ke arah walk in closet untuk mengambil pakaian renangnya setelah itu, Devita langsung berjalan keluar dari kamar menuju ke arah kolam renang.
...***...
Devita menatap cermin, memoles wajahnya dengan moisturizer. Devita kemudian mengalihkan pandangannya menatap jam dinding yang kini sudah pukul sepuluh malam, tapi Brayen belum juga pulang. Seperti yang di katakan Brayen, malam ini suaminya itu akan pulang terlambat. Devita ingin sekali langsung tidur, tapi entah kenapa dia belum mengantuk. Mungkin ini karena tadi siang dirinya itu sudah tidur. Itu kenapa di malam hari Devita belum mengantuk.
Devita berjalan menuju ke arah ranjang, dia langsung duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Devita pun mengambil ponselnya. Dan sudah lama rasanya Devita tidak membuka sosial media. Devita menatap ke layar, dan senyum di bibirnya terukir melihat foto SMA Devita bersama dengan Olivia. Selama ini, foto - foto di sosial media milik Devita hanya ada foto dengan kedua orang tuanya atau dengan Olivia. Karena memang sejak dulu Devita begitu dekat dengan kedua orang tuanya dan juga Olivia sahabatnya.
Tanpa Devita sadari, Brayen sudah sejak tadi berada di ambang pintu menatap Devita yang tengah fokus pada ponsel yang ada di tangannya. Brayen kemudian melangkah masuk kedalam kamar, tatapannya itu tidak hentinya menatap istrinya yang sedang sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya.
"Kau sedang apa Devita?" Suara Brayen menyapa membuat Devita terkesiap. Devita menatap Brayen yang berjalan mendekat ke arahnya, tanpa menjawab Devita meletakkan kembali ponselnya di tempat yang semula. kemudian Devita langsung beranjak, dan dia langsung membantu Brayen melepaskan jas dan dasi suaminya itu. Dan sesuai dengan perjanjiannya dengan Laretta. Devita harus mendiamkan Brayen malam ini. Dan malam ini, Devita menyambut suaminya dengan senyuman yang tidak ramah seperti biasanya.
"Aku bertanya Devita, kau sedang apa?" Brayen menatap Devita yang tengah membantunya membuka dasi.
"Aku hanya membuka ponsel," jawab Devita datar tanpa melihat ke arah Brayen.
"Kau kenapa sayang?" Brayen mengerutkan keningnya, dia langsung menarik dagu istrinya. "Kau marah, jika aku pulang terlambat? Maaf, setelah kita pulang dari liburan, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Lebih baik kau itu mandi, dan aku akan menyiapkan pakaian untukmu." Devita melangkah menjauh, dia meletakkan jas dan dasi suaminya di tempat kotor.
Brayen menatap bingung Devita yang terlihat dingin dan tidak menyambutnya pulang. Tidak biasanya Devita seperti ini. Brayen, tidak ingin berdebat dan dia memilih untuk berjalan ke arah kamar mandi.
Melihat Brayen yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Devita pun akhirnya mendesah lega. Dan Devita sebenarnya tidak tega mendiamkan suaminya itu, tapi dia rasa mendiamkan sesekali bukanlah hal yang salah.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.